SALWA RADIO - Menebar Salam, Menyebar Dakwah
Stay in touch with us:

Fenomena Film Innocence Of Muslim


Feby ummu maryam
Feby ummu maryam
7 years ago

Pertanyaan:
Assalamu’alaikum.
Ustadz, saya mau tanya. Baru-baru ini ada film
kontroversial yang menghina Nabi Muhammad.
Bagaimana seharusnya sikap kita menghadapi hal
ini?
Jazakallahu khairan
Dari: Alan
Jawaban:
Wa’alaikumussalam
Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah,
wa ba’du
Setelah dirilis film Innocence of Muslim, kaum
muslimin menjadi geram. Film ini jelas
merendahkan dan menjatuhkan harga diri
mereka sebagai umat Nabi rahmat, Nabi
Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Fenomena ini selanjutnya diperparah dengan
kejadian pembunuhan Duta Besar AS untuk Libya dan beberapa rekannya.
Ada beberapa catatan penting yang bisa kami
sampaikan dalam menyikapi fenomena semacam ini:
1. Wajib membenci sikap penghinaan kepada
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan pelakunya.
Umat Islam sepakat bahwa menghina Nabi
shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah tindakan
kekafiran. Bahkan mereka sepakat bahwa pelaku tindakan ini wajib dibunuh, meskipun dia bertaubat, dan bahkan meskipun yang menghina itu orang kafir.

Dalam Fatwa Islam (no. 22809) dinyatakan:
ﻭﻫﺬﺍ ﺍﻹﺟﻤﺎﻉ ﻗﺪ ﺣﻜﺎﻩ ﻏﻴﺮ ﻭﺍﺣﺪ ﻣﻦ
ﺃﻫﻞ ﺍﻟﻌﻠﻢ ﻛﺎﻹﻣﺎﻡ ﺇﺳﺤﺎﻕ ﺑﻦ ﺭﺍﻫﻮﻳﻪ
ﻭﺍﺑﻦ ﺍﻟﻤﻨﺬﺭ ﻭﺍﻟﻘﺎﺿﻲ ﻋﻴﺎﺽ
ﻭﺍﻟﺨﻄﺎﺑﻲ ﻭﻏﻴﺮﻫﻢ
Pernyataan sepakat bahwa penghina Nabi
shallallahu ‘alaihi wa sallam wajib dibunuh,
disampaikan oleh beberapa ulama, diantaranya:
Imam Ishaq bin Rahuyah, Ibnul Mundzir, al-Qodhi Iyadh, al-Khithabi dan yang lainnya. (Lihat ash- Sharim al-Maslul, 2:13 – 16)
Dalil dari hadis, dari Ali bin Abi Thalib radhiallahu ‘anhu, beliau menceritakan:
ﺃﻥ ﻳﻬﻮﺩﻳﺔ ﻛﺎﻧﺖ ﺗﺸﺘﻢ ﺍﻟﻨﺒﻲ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ
ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﻭﺗﻘﻊ ﻓﻴﻪ ، ﻓﺨﻨﻘﻬﺎ ﺭﺟﻞ
ﺣﺘﻰ ﻣﺎﺗﺖ ، ﻓﺄﺑﻄﻞ ﺭﺳﻮﻝ ﺍﻟﻠﻪ ﺻﻠﻰ
ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﺩﻣﻬﺎ
“Ada seorang wanita Yahudi yang mencela dan
menghina Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Kemudian ada salah seorang yang mencekik
wanita itu sampai mati, dan Nabi shallallahu
‘alaihi wa sallam tidak menuntut darahnya
(artinya tidak diqishah).” (HR. Abu Daud no.
4362).
2. Mengingat tindakan ini adalah bentuk
kriminalitas, pihak yang berwenang memberikan
hukuman adalah pemerintah, dan bukan semua lapisan masyarakat. Dalam Syaikh Abdurrahman al-Barrak mengatakan:
ﻭﺇﻥ ﻛﺎﻥ ﺍﻟﺴﺎﺏ ﻣﻌﺎﻫﺪﺍ ﻛﺎﻟﻨﺼﺮﺍﻧﻲ
ﻛﺎﻥ ﺫﻟﻚ ﻧﻘﻀﺎ ﻟﻌﻬﺪﻩ ﻭﻭﺟﺐ ﻗﺘﻠﻪ ،
ﻭﻟﻜﻦ ﺇﻧﻤﺎ ﻳﺘﻮﻟﻰ ﺫﻟﻚ ﻭﻟﻲ ﺍﻷﻣﺮ
“Jika orang yang mencela Nabi shallallahu ‘alaihi
wa sallam adalah orang kafir yang tidak
memerangi kaum muslimin, seperti orang
Nasrani, maka sikap dia ini berarti telah
membatalkan kesepakatan damai dengannya,
sehingga wajib dibunuh. Akan tetapi, yang
melakukan hal itu adalah pemimpin.” (Fatwa
Islam, no. 14305)
Lebih dari itu, kaum muslimin berada di negara
yang memiliki pemerintahan yang sah. Bertindak sendiri tanpa perintah dari pemerintah, akan
menimbulkan permasalahan baru, yang bisa jadi justru dirinya disalahkan. Padahal, solusi yang ditawarkan dalam Islam, adalah solusi yang tidak menimbulkan masalah baru.
Kita hanya wajib membantahnya, dan membalas celaannya, seperti mendoakan keburukan untuk pelaku, tanpa menimbulkan masalah baru bagi umat Islam.
3. Jaminan dari Allah, orang yang menghina Nabi- Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam pasti celaka. Satu surat paling pendek yang hampir dihafalkan seluruh kaum muslimin. Itulah surat al-Kautsar. Kita membacanya berulang kali, tapi mungkin tanpa perenungan, sehingga terkadang kurang bisa merasakan.
Di akhir surat ini Allah menegaskan :
ﺇﻥ ﺷﺎﻧﺌﻚ ﻫﻮ ﺍﻟﺄﺑﺘﺮ
“Sesungguhnya setiap orang yang membencimu, dialah orang yang terputus dari segala bentuk kebaikan.” (QS. al-Kautsar: 3)
Ayat ini, meskipun turun berkenaan dengan
orang kafir Quraisy yang menghina Nabi
shallallahu ‘alaihi wa sallam, seperti Abu Jahal,
Abu Lahab, al-Ash bin Wail, Uqbah bin Abi Mu’ith, namun hukumnya berlaku umum, bagi setiap manusia yang membenci Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Syaikhul Mufassir (bapak ahli tafsir) mengatakan:
ﺇﻥ ﺍﻟﻠﻪ ﺗﻌﺎﻟﻰ ﺫﻛﺮﻩ ﺃﺧﺒﺮﻩ ﺃﻥ ﻣﺒﻐﺾ
ﺭﺳﻮﻝ ﺍﻟﻠﻪ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﻫﻮ
ﺍﻷﻗﻞ ﺍﻷﺫﻝ ﺍﻟﻤﻨﻘﻄﻊ ﻋﻘﺒﻪ، ﻓﺬﻟﻚ ﺻﻔﺔ
ﻛﻞ ﻣﻦ ﺃﺑﻐﻀﻪ ﻣﻦ ﺍﻟﻨﺎﺱ، ﻭﺇﻥ ﻛﺎﻧﺖ
ﺍﻵﻳﺔ ﻧﺰﻟﺖ ﻓﻲ ﺷﺨﺺ ﻣﻌﻴﻦ
“Sesungguhnya Allah Ta’ala mengabarkan bahwa orang yang membenci Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dialah orang yang lemah, hina, yang terputus keturunannya. Itu merupakan sifat bagi setiap manusia yang membenci beliau. Meskipun ayat ini turun berkenan dengan orang tertentu.” (Tafsir at-Thabari, 12:726)

Dan ini menjadi tanda kenabian beliau, meskipun beliau sudah meninggal. Seolah telah menjadi sunatullah, setiap orang yang menghina Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pasti celaka dunia akhirat. Dzat Sang Kuasa, tidak rela ketika utusan-Nya dilecehkan oleh para cecunguk- cecunguk yang suka menggonggong.

Berikut beberapa bukti sejarah:
Pertama, semua orang yang menghina Nabi
shallallahu ‘alaihi wa sallam dari kalangan kafir
Quraisy, mati dalam kondisi mengenaskan. Abu
Lahab mati dalam keadaan mengidap penyakit
Adasah, badannya mengeluarkan bau yang
sangat busuk. Sampai tidak ada satupun
keluarganya yang mau mendekatinya. Dia
dimandikan dengan disiram air dari jauh. Dan
ketika dikuburkan, orang-orang melempari tanah dan batu ke lubang kuburnya dari jauh. Utbah bin Abu Lahab pernah menarik baju Nabi
shallallahu ‘alaihi wa sallam, kemudian meludahi wajah beliau yang mulia. Akhirnnya di suatu perjalanan, kepalanya diterkam singa, padahal dia sudah berlindung di tengah kerumunan rombongannya. Abu Jahal dipenggal kepalanya oleh Ibnu Masud di kerumunan bangkai orang kafir yang berserakan ketika perang badar, setelah dia dijatuhkan dengan serangan putra Afra dan Muadz bin Amr bin Jauh. Kisah-kisah lainnya, banyak disebutkan di buku- buku sirah.

Kedua, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah
mengirim surat ajakan untuk masuk Islam kepada dua raja yang menguasai dunia ketika itu. Kaisar (raja Romawi) dan Kisra (raja Persia). Keduanya tidak menerima ajakan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, namun dengan sikap yang berbeda. Raja Romawi menghormati surat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan memuliakan orang yang membawa surat itu. Balasannya, kerajaannya tetap utuh, sampai abad 15, kerajaan Romawi masih ada Berbeda dengan raja Persia. Dia merobek-robek surat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan menghina Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Hasilnya, kerajaannya runtuh di zaman Umar bin Khattab. Betapa pendek usianya.

Ketiga, dalam banyak kesempatan, ketika kaum
muslimin hendak menaklukkan musuhnya,
mereka baru berhasil, setelah ada diantara
musuh mereka yang menghina Nabi shallallahu
‘alaihi wa sallam.

Diceritakan Syaikhul Islam:
ﻭﻗﺪ ﻛﺎﻥ ﺍﻟﻤﺴﻠﻤﻮﻥ ﺇﺫﺍ ﺣﺎﺻﺮﻭﺍ ﺃﻫﻞ
ﺣﺼﻦ ﻭﺍﺳﺘﻌﺼﻰ ﻋﻠﻴﻬﻢ ، ﺛﻢ ﺳﻤﻌﻮﻫﻢ
ﻳﻘﻌﻮﻥ ﻓﻲ ﺍﻟﻨﺒﻲ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ
ﻭﺳﻠﻢ ﻭﻳﺴﺒﻮﻧﻪ ، ﻳﺴﺘﺒﺸﺮﻭﻥ ﺑﻘﺮﺏ
ﺍﻟﻔﺘﺢ ، ﺛﻢ ﻣﺎ ﻫﻮ ﺇﻻ ﻭﻗﺖ ﻳﺴﻴﺮ ،
ﻭﻳﺄﺗﻲ ﺍﻟﻠﻪ ﺗﻌﺎﻟﻰ ﺑﺎﻟﻔﺘﺢ ﻣﻦ ﻋﻨﺪﻩ
ﺍﻧﺘﻘﺎﻣﺎ ﻟﺮﺳﻮﻟﻪ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ

“Dulu kaum muslimin, ketika mereka mengepung benteng dan berlindung di benteng, kemudian mendengar mereka mencela kehormatan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan menghina beliau, maka kaum muslimin langsung bergembira dengan dekatnya kemenangan yang akan segera datang. Kemudian terjadilah penaklukan hanya dengan masa penantian yang singkat. Allah memberikan kemenangan, karena murka-Nya, membela utusan-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam.” (ash-Sharim al-Maslul, 116).
Allahu a’lam

Ustadz Ammi Nur Baits
www.KonsultasiSyariah.com

Silakan Login untuk menulis komentar.
© 2019 - Www.SalamDakwah.Com