SALWA RADIO - Menebar Salam, Menyebar Dakwah
Stay in touch with us:

BEKAL-BEKAL KEIMANAN BAGI PENGUSAHA MUSLIM


Alfi Syahrin Kirana
Alfi Syahrin Kirana
9 years ago

BEKAL-BEKAL KEIMANAN BAGI PENGUSAHA MUSLIM

Oleh: Muhammad Wasitho Abu Fawaz, Lc

Iman dan amal adalah dua perkara prinsip yang saling terikat antara satu dan lainnya sebagaimana ruh dan jasad. Di dalam Al-Qur’an didapatkan lafazh iman yang dikaitkan dengan amal shalih lebih dari 200 kali penyebutan.

Hasan Al-Bashri mendefinisikan iman dengan “Apa yang telah menetap
dalam hati manusia, kemudian dibenarkan dengan perbuatan.”

Al-Auza’i berkata: “Dahulu para ulama salaf (maksudnya para sahabat, pent) tidak membedakan (memisahkan) antara iman dan amal.” (Fathul Bari, karya Ibnu Hajar Al-Asqolani I/5).

Dengan demikian, iman merupakan faktor penting yang akan menggerakkan
semua bentuk aktivitas manusia. Dari sini nampak adanya urgensi untuk menggabungkan antara iman dan amal shalih bagi para pengusaha muslim. Berikut ini kami akan sebutkan beberapa prinsip keimanan yang semestinya diketahui dan diamalkan oleh setiap pengusaha muslim.

Pertama: Menghadirkan Niat yang Baik dalam Bekerja

Niat adalah ruh bagi setiap amal, inti dan pondasinya. Suatu amal akan selalu mengikutinya. Jika niatnya benar, maka amalnya pun benar. Jika rusak niatnya, maka amalnya juga akan rusak. Oleh karena itu Rasulullah bersabda:

إِنَّمَا الأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ ، وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى

“Sesungguhnya amalan itu tergantung pada niatnya. Dan setiap orang akan memperoleh sesuai dengan apa yang ia niatkan.” (HR. Bukhari I/3 no.1, dan Muslim III/1515 no.1907)

Hadits ini tidak terbatas pada masalah ibadah saja, akan tetapi ia juga mencakup bab muamalah dan lainnya. Semua amalan dapat berubah posisinya karena faktor niat, dianggap sebagai ibadah dan amal shalih yang mendekatkan diri kepada Allah atau sebaliknya.

Maka jika seorang muslim bekerja dengan niat mencari rezeki di bidang pendidikan, pertanian, peternakan, perdagangan, industri, kesehatan, ketrampilan atau selainnya, maka aktivitasnya itu akan dinilai sebagai
ibadah. Begitu pula jika tujuannya adalah untuk menjaga diri dari hal-hal yang haram, mencukupkan diri dengan hal-hal yang halal, dan untuk menafkahi keluarganya. Rasulullah bersabda:

إِنَّكَ لَنْ تُنْفِقَ نَفَقَةً تَبْتَغِى بِهَا وَجْهَ اللَّهِ إِلاَّ أُجِرْتَ عَلَيْهَا ، حَتَّى مَا تَجْعَلُ فِى فِى امْرَأَتِكَ

“Sesungguhnya engkau tidaklah memberikan suatu nafkah yang diharapkan dengannya wajah Allah semata melainkan engkau akan diberi pahala atasnya, sampaipun sesuap makanan yang engkau masukkan ke dalam mulut istrimu.” (HR. Bukhari I/30 no.56, dan Muslim III/1250 no.1628, dari
Sa’ad bin Abi Waqqash radhiyallahu anhu).

Oleh karena itu, Islam menganjurkan pengusaha muslim agar memiliki
orientasi yang sama dalam masalah ibadah dan muamalah. Dan hal itu tidak mungkin bisa dilakukan jika ia tidak mengikhlaskan apa yang ia lakukan karena Allah semata, membebaskan diri dari penghambaan terhadap nafsu syahwat, harta, perhiasan, jabatan serta kenikmatan dunia yang lainnya. Rasulullah bersabda:

تَعِسَ عَبْدُ الدِّينَارِ وَعَبْدُ الدِّرْهَمِ وَعَبْدُ الْخَمِيصَةِ ، إِنْ أُعْطِىَ رَضِىَ ، وَإِنْ لَمْ يُعْطَ سَخِطَ

“Celaka para hamba dinar. Celaka para hamba dirham dan hamba pakaian. Jika ia diberi, maka ia merasa lega. Dan jika ia tidak diberi, maka ia menggerutu.”. (HR. Bukhari III/1057 no.2730, dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu)

Kedua: Meyakini Bahwa Harta Milik Allah, Manusia Hanya Diberi Amanah.

Seorang pengusaha muslim hendaknya meyakini bahwa harta benda adalah
milik Allah, sedangkan manusia hanya diberi amanah. Di samping itu pula, hendaknya ia menyadari betul bahwa harta hanyalah sebagai sarana, bukanlah tujuan.

Dan untuk mendapatkan yang baik, maka menjadi keharusan baginya untuk mencarinya dari sumber yang halal, tidak menahan yang bukan haknya, tidak berbangga-bangga dengan
kepemilikannya serta mengakui anugerah Allah padanya. Hendaklah harta yang dimilikinya bisa mengantarkannya untuk lebih mengenal akhirat dengan tanpa melupakan kenikmatan dunia.

Seorang pengusaha muslim harus menyadari bahwa harta yang ada di
tangannya merupakan titipan dari Allah yang harus ia kelolah dengan baik dan benar sesuai ketentuan Sang Pemilik harta sesungguhnya. Dia adalah Allah, satu-satunya Raja dari segala raja, Pemilik dari segala pemilik. Karena semua harta yang ada padanya akan dimintai pertanggung-jawabannya pada hari kiamat kelak, sebagaimana sabda
Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam:

لاَ تَزُولُ قَدَمَا عَبْدٍ يَوْمَ الْقِيَامَةِ حَتَّى يُسْأَلَ عَنْ عُمْرِهِ فِيمَا أَفْنَاهُ وَعَنْ عِلْمِهِ فِيمَا فَعَلَ وَعَنْ مَالِهِ مِنْ أَيْنَ اكْتَسَبَهُ وَفِيمَا أَنْفَقَهُ وَعَنْ جِسْمِهِ فِيمَا أَبْلاَهُ

“Pada Hari Kiamat nanti kedua kaki seorang hamba tidak akan bergeser
(dari hadapan Allah) sehingga ia dimintai pertanggung-jawaban tentang empat perkara: Usianya untuk apa dihabiskan, jasmaninya untuk apa dipergunakan, hartanya darimana didapatkan dan untuk apa dipergunakan, serta ilmunya untuk apa dipergunakan.” (HR. At-Tirmidzi IV/612 no.2417 dari Abu Barzah Al-Aslami. Syaikh Al-Albani berkata: “Shahih”).

Ketiga: Mengimani Takdir Allah Disertai Sikap Selalu Bersyukur.

Beriman kepada takdir Allah, baik ketentuan yang baik atau yang buruk,
manis atau pahit merupakan pondasi dasar keimanan. Seorang pengusaha
muslim wajib mengimani takdir Allah dengan keimanan yang kokoh, bahwa
semua hal yang terjadi tidaklah akan meleset darinya. Dan semua bentuk
manfaat dan bahaya telah ditetapkan oleh Allah.

Dari Abdullah bin Abbas, dikisahkan bahwa suatu ketika dia naik kendaraan di belakang Rasulullah, dan beliau bersabda:

يَا غُلاَمُ إِنِّى أُعَلِّمُكَ كَلِمَاتٍ احْفَظِ اللَّهَ يَحْفَظْكَ احْفَظِ اللَّهَ تَجِدْهُ تُجَاهَكَ إِذَا سَأَلْتَ فَاسْأَلِ اللَّهَ وَإِذَا اسْتَعَنْتَ فَاسْتَعِنْ بِاللَّهِ وَاعْلَمْ أَنَّ الأُمَّةَ لَوِ اجْتَمَعَتْ عَلَى أَنْ يَنْفَعُوكَ بِشَىْءٍ لَمْ يَنْفَعُوكَ إِلاَّ بِشَىْءٍ قَدْ كَتَبَهُ اللَّهُ لَكَ وَلَوِ اجْتَمَعُوا عَلَى أَنْ يَضُرُّوكَ بِشَىْءٍ لَمْ يَضُرُّوكَ إِلاَّ بِشَىْءٍ قَدْ كَتَبَهُ اللَّهُ عَلَيْكَ رُفِعَتِ الأَقْلاَمُ وَجَفَّتِ الصُّحُفُ

“Wahai anakku, sesungguhnya aku akan mengajarimu beberapa kalimat. Jagalah Allah, maka Dia akan menjagamu. Jika engkau minta sesuatu, maka mintalah kepada Allah. Jika engkau minta tolong, maka minta tolonglah kepada Allah. Ketahuilah, bahwa jika semua umat berkumpul, kemudian mereka ingin memberimu manfaat, maka tidak akan ada manfaat sedikit pun kecuali apa yang telah tetapkan Allah untukmu. Dan jika umat semuanya berkumpul untuk mendatangkan bahaya kepadamu, maka tidak akan ada bahaya kecuali apa yang telah digariskan Allah untukmu. Pena
(pencatat takdir, pent) telah diangkat dan buku catatan telah dikeringkan.”. (HR. At-Titmidzi IV/667 no.2516 dan Ahmad I/307 no.2804, dari Ibnu Abbas radhiyallahu anhuma)

Dengan demikian jika ada keuntungan dalam hartanya, maka seorang pengusaha muslim akan bersyukur. Ia tidak akan bergembira secara berlebihan. Allah berfirman:

لا تَفْرَحْ إِنَّ اللَّهَ لا يُحِبُّ الْفَرِحِينَ

“Janganlah kamu terlalu bangga, sesungguhnya Allah tidak menyukai
orang-orang yang terlalu membanggakan diri.” (QS. Al-Qashash: 76)

Dan jika ia mengalami nasib sebaliknya, maka ia akan tetap sabar, ridha, dan tenang hatinya. Karena ia meyakini bahwa Allah tidaklah menetapkan sesuatu kecuali di dalamnya ada kemaslahatan.

Allah menganugerahkan harta benda pada hamba yang Dia cintai dan hamba yang tidak Dia cintai. Dia juga mempersempit rezeki pada hamba yang Dia cintai dan yang tidak Dia cintai.
Dari Shuhaib radhiyallahu anhu, ia berkata bahwa Rasulullah bersabda:

عَجَبًا لأَمْرِ الْمُؤْمِنِ إِنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ خَيْرٌ وَلَيْسَ ذَاكَ لأَحَدٍ إِلاَّ لِلْمُؤْمِنِ إِنْ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ وَإِنْ أَصَابَتْهُ ضَرَّاءُ صَبَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ

“Sungguh sangat menakjubkan urusan seorang mukmin. Semua urusannya ia
anggap baik. Dan tidak akan terjadi seperti itu kecuali pada seorang mukmin. Jika ia mendapatkan kelapangan, maka ia akan bersyukur. Dan itu yang terbaik baginya. Dan jika ia mengalami musibah, maka ia bersabar. Dan itu yang terbaik baginya.” (HR. Muslim IV/2295 no.2999,
dari Shuhaib radhiyallahu anhu)

Keempat: Selalu Berusaha dan Bekerja untuk Mendapatkan Rezeki disertai
Tawakkal kepada Allah

Seorang pengusaha muslim dituntut untuk mengambil sebab dalam mencari
rezeki dan mengembangkan harta disertai dengan semangat tawakkal
kepada Allah. Allah Dzat yang member rezeki kepada burung-burung setiap pagi dan sorenya, sudah tentu sangat mampu member rezeki kepada manusia. Dialah yang menundukkan segala sesuatu, yang menjalankan segala sesuatu, yang mendatangkan semua sebab di dunia ini. Inilah yang diisyaratkan oleh Rasullullah dalam sebuah haditsnya:

لَوْ أَنَّكُمْ تَوَكَّلْتُمْ عَلَى اللَّهِ حَقَّ تَوَكُّلِهِ لَرَزَقَكُمْ كَمَا يَرْزُقُ الطَّيْرَ تَغْدُو خِمَاصًا وَتَرُوحُ بِطَانًا

“Seandainya kalian bertawakkal kepada Allah dengan sebenar-benar tawakkal, maka pasti kalian akan diberi rezeki sebagaimana burung diberi rezeki, yang berangkat di pagi hari dalam keadaan perut kosong, kemudian kembali di sore hari dalam keadaan kenyang. “ (HR. Tirmidzi IV/573 no.2344, Ibnu Majah II/1394 no.4164 dan Ahmad I/30 no.205, 373, dari Umar bin Khathab. Dan syaikh Al-Albani berkata: “Shahih”)

(BM 5. Bersambung... ) :)

Silakan Login untuk menulis komentar.

FORUM TERKAIT

© 2021 - Www.SalamDakwah.Com