SALWA RADIO - Menebar Salam, Menyebar Dakwah
Stay in touch with us:

Tidur Dalam Tatanan Sunnah


Feby ummu maryam
Feby ummu maryam
7 years ago

TIDUR DALAM TATANAN SUNNAH
Tidur Sebagai Satu Diantara Tanda Kekuasaan
Allah Azza wa Jalla.
Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman.
ﻭﻣﻦ ﺀﺍﻳﺎﺗﻪ ﻣﻨﺎﻣﻜﻢ ﺑﺎﻟﻠﻴﻞ ﻭﺍﻟﻨﻬﺎﺭ ﻭﺍﺑﺘﻐﺂﺅﻛﻢ ﻣﻦ ﻓﻀﻠﻪ ﺇﻥ
ﻓﻲ ﺫﻟﻚ ﻷﻳﺎﺕ ﻟﻘﻮﻡ ﻳﺴﻤﻌﻮﻥ
"Dan diantara tanda-tanda kekuasaanNya adalah
tidurmu diwaktu malam dan siang hari serta
usahamu mencari sebagian dari karuniaNya.
Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-
benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang
mendengarkan". [Ar Rum: 23]
Syaikh Abdur Rahman Bin Nashir As Sa’di berkata
ketika menafsirkan ayat di atas, “Tidur
merupakan satu bentuk dari rahmat Allah
sebagaimana yang Ia firmankan.
ﻭﻣﻦ ﺭﺣﻤﺘﻪ ﺟﻌﻞ ﻟﻜﻢ ﺍﻟﻠﻴﻞ ﻭﺍﻟﻨﻬﺎﺭ ﻟﺘﺴﻜﻨﻮﺍ ﻓﻴﻪ
ﻭﻟﺘﺒﺘﻐﻮﺍ ﻣﻦ ﻓﻀﻠﻪ ﻭﻟﻌﻠﻜﻢ ﺗﺸﻜﺮﻭﻥ
"Dan karena rahmatNya, Dia jadikan untukmu
malam dan siang, supaya kamu beristirahat pada
malam itu dan supaya kamu mencari sebagian
dari karuniaNya (pada siang hari) dan supaya
kamu bersyukur". [Al Qashahs: 73].
Maka berdasarkan konsekwensi dari
kesempurnaan hikmahNya, Ia menjadikan seluruh
aktivitas makhluk berhenti pada suatu waktu
(yakni pada malam hari) agar mereka beristirahat
pada waktu tersebut, dan kemudian mereka
berpencar pada waktu yang lain (yakni pada
siang hari) untuk berusaha mendapatkan
kemashlatan dunia dan akhirat. Hal yang
demikian itu tidak akan sempurna berlangsung
kecuali dengan adanya pergantian siang dan
malam. Dan Dzat Yang Maha Kuasa mengatur
semua itu tanpa bantuan siapapun, Dialah yang
berhak disembah” [1]
Jadi tidak hanya sebagai rutintas semata, tidur
juga merupakan satu wujud dari rahmatNya nan
luas dan kemahakuasanNya yang sempurna.
Padanya tersimpan hikmah dan kemashlahatan
bagi para makhluk. Tidur juga merupakan satu
simbol akan kekuasaanNya untuk
membangkitkan makhluk setelah Ia mematikan
mereka.
Setidaknya tidur memiliki dua manfaat penting ,
sebagaimana yang dituturkan Ibnul Qayyim
rahimahullah dalam Zaadul Maad.
Pertama : Untuk menenangkan dan
mengistirahatkan tubuh setelah beraktivitas.
Sebagaimana firman Allah.
ﻭﺟﻌﻠﻨﺎ ﻧﻮﻣﻜﻢ ﺳﺒﺎﺗﺎ
"Dan Kami jadikan tidurmu untuk istirahat". [An
Naba : 9]
Kedua : Untuk menyempurnakan proses
pencernaan makanan yang telah masuk ke dalam
tubuh. Karena pada waktu tidur, panas alami
badan meresap ke dalam tubuh sehingga
membantu mempercepat proses pencernaaan.
TELADAN RASULULLAH DALAM MASALAH TIDUR
Pola tidur seseorang memiliki kontribusi cukup
penting bagi aktivitasnya secara keseluruhan.
Kebiasaan Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam
tentang waktu tidur adalah teladan terbaik.
Beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam tidaklah tidur
melampaui batas yang dibutuhkan tubuh, tidak
juga menahan diri untuk beristirahat sesuai
kebutuhan. Inilah prinsip pertengahan yang
Beliau ajarkan. Selaras dengan fitrah manusia.
Jauh dari sikap ifrath (berlebih-lebihan) ataupun
tafrith (mengurangi atau meremehkan).
Beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam biasa tidur
pada awal malam dan bangun pada pertengahan
malam. Pada sebagian riwayat dijelaskan, Beliau
Shallallahu 'alaihi wa sallam tidur berbaring di
atas rusuk kanan Beliau. Terkadang Beliau
Shallallahu 'alaihi wa sallam tidur terlentang
dengan meletakkan salah satu kakinya di atas
yang lain. Sesekali Beliau Shallallahu 'alaihi wa
sallam letakkkan telapak tangannya di bawah pipi
kanan Beliau. Kemudian Beliau Shallallahu 'alaihi
wa sallam berdoa. Satu catatan penting juga,
Beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam tidaklah tidur
dalam kondisi perut penuh berisi makanan.
Diantara doa yang Beliau Shallallahu 'alaihi wa
sallam ajarkan untuk dibaca sebelum tidur adalah
sebagaimana yang tertuang dalam hadits berikut.
ﻋﻦ ﺍﻟﺒﺮﺍﺀ ﺑﻦ ﻋﺎﺯﺏ، ﺃﻥ ﺭﺳﻮﻝ ﺍﻟﻠﻪ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭ ﺳﻠﻢ
ﻗﺎﻝ)) : ﺇﺫﺍ ﺃﺗﻴﺖ ﻣﻀﺠﻌﻚ ﻓﺘﻮﺿﺄ ﻭﺿﻮﺀﻙ ﻟﻠﺼﻼﺓ، ﺛﻢ
ﺍﺿﻄﺠﻊ ﻋﻠﻰ ﺷﻘﻚ ﺍﻷﻳﻤﻦ، ﺛﻢ ﻗﻞ: ﺍﻟﻠﻬﻢ ﺇﻧﻲ ﺍﺳﻠﻤﺖ
ﻧﻔﺴﻲ ﺇﻟﻴﻚ، ﻭﻭﺟﻬﺖ ﻭﺟﻬﻲ ﺇﻟﻴﻚ، ﻭ ﻓﻮﺿﺖ ﺃﻣﺮﻱ ﺇﻟﻴﻚ ﻭ
ﺃﻟﺠﺄﺕ ﻇﻬﺮﻱ ﺇﻟﻴﻚ ﺭﻏﺒﺔ ﻭ ﺭﻫﺒﺔ ﺇﻟﻴﻚ ﻻ ﻣﻠﺠﺄ ﻭ ﻻ ﻣﻨﺠﺎ
ﻣﻨﻚ ﺇﻻ ﺇﻟﻴﻚ ، ﺃﻣﻨﺖ ﺑﻜﺘﺎﺑﻚ ﺍﻟﺬﻱ ﺃﻧﺰﻟﺖ ﻭ ﺑﻨﺒﻴﻚ ﺍﻟﺬﻱ
ﺃﺭﺳﻠﺖ ﻭ ﺍﺟﻌﻠﻬﻦ ﺁﺧﺮ ﻛﻼﻣﻚ ﻓﺈﻥ ﻣﺖ ﻣﻦ ﻟﻴﻠﺘﻚ ﻣﺖ ﻋﻠﻰ
ﺍﻟﻔﻄﺮﺓ ))
"Dari al Barra bin Azib, bahwa Rasululah
bersabda,”Jika engkau hendak menuju
pembaringanmu, maka berwudhulah seperti
engkau berwudhu untuk shalat, kemudian
berbaringlahlah di rusukmu sebelah kanan lalu
ucapkanlah doa:” Ya Allah sesungguhnya aku
menyerahkan jiwaku hanya kepadaMu,
kuhadapkan wajahku kepadaMu, kuserahkan
segala urusanku hanya kepadamu, kusandarkan
punggungku kepadaMu semata, dengan harap
dan cemas kepadaMu, aku beriman kepada kitab
yang Engkau turunkan dan kepada nabi yang
Engkau utus” dan hendaklah engkau jadikan doa
tadi sebagai penutup dari pembicaranmu malam
itu. Maka jika enkau meninggal pada malam itu
niscaya engkau meninggal di atas fitrah” [2]
Berkenaan dengan hadits di atas, Syaikh Salim Al-
Hilali berkomentar,” Lafazh-lafazh doa merupakan
hal yang bersifat tauqifiyah (tidak bisa ditetapkan
kecuali dengan dalil), lafazh tersebut memiliki
kekhususan tersendiri dan rahasia-rahasia yang
tidak dapat dimasuki oleh qiyas. Maka wajib
menjaga lafazh tersebut seperti apa yang datang
dari Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam. Oleh
karena itu ketika Al Barra tersalah
mengucapkan,” ﻭ ﺑﺮﺳﻮﻟﻚ ﺍﻟﺬﻱ ﺃﺭﺳﻠﺖ” Maka Nabi
Shallallahu 'alaihi wa sallam mengoreksinya
dengan berkata,”Bukan begitu [3], ﻭ ﺑﻨﺒﻴﻚ ﺍﻟﺬﻱ
ﺃﺭﺳﻠﺖ ”
Posisi berbaring seperti yang dijelaskan dalam
hadits di atas adalah posisi tidur terbaik yang
sangat bermanfaat bagi tubuh. Karena pada
posisi miring ke kanan, makanan berada dalam
lambung dengan stabil sehingga proses
pencernaan berlangsung lebih efektif.
Adapun tentang posisi tidur yang terlarang,
hadits berikut akan menjelaskan kepada kita.
ﻋﻦ ﻳﻌﻴﺶ ﺑﻦ ﻃﺨﻔﺔ ﺍﻟﻐﻔﺎﺭﻱ ﺭﺿﻲ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻨﻪ ﻗﺎﻝ : ﻗﺎﻝ
ﺃﺑﻲ ﺑﻴﻨﻤﺎ ﺃﻧﺎ ﻣﻀﻄﺠﻊ ﻓﻲ ﺍﻟﻤﺴﺠﺪ ﻋﻠﻰ ﺑﻄﻨﻲ ﺇﺫﺍ ﺭﺟﻞ
ﻳﺤﺮﻛﻨﻲ ﺑﺮﺟﻠﻪ ﻓﻘﺎﻝ )) ﺇﻥ ﻫﺬﻩ ﺿﺠﻌﺔ ﻳﺒﻐﻀﻬﺎ ﺍﻟﻠﻪ(( ﻗﺎﻝ
ﻓﻨﻈﺮﺕ، ﻓﺈﺫﺍ ﺭﺳﻮﻝ ﺍﻟﻠﻪ
"Dari Ya’isy bin Thihfah ia berkata,”Ayahku
berkata,” Ketika aku berbaring (menelungkup) di
atas perutku di dalam masjid, tiba-tiba ada
seseorang yang menggoyangkan tubuhku
dengan kakinya lantas ia berkata,”
Sesungguhnya cara tidur seperti ini dibenci Allah”
Ia berkata,”Akupun melihatnya ternyata orang itu
adalah Rasululullah” [4]
Syaikh Salim Al-Hilali menandaskan dalam
Bahjatun Nazhirin, tidur menelungkup di atas
perut adalah haram hukumnya. Ia juga
merupakan cara tidur ahli neraka.
Dan dalam hadits lain Rasulullah Shallallahu 'alaihi
wa sallam juga melarang kita tidur dengan posisi
sebagian tubuh terkena matahari dan
sebagiannya lagi tidak.
Dari Abi Hurairah Radhiyallahu 'anhu ia berkata,
Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda.
ﺇﺫ ﻛﺎﻥ ﺃﺣﺪﻛﻢ ﻓﻲ ﺍﻟﺸﻤﺲ ﻓﻘﻠﺺ ﻋﻨﻪ ﺍﻟﻈﻞ، ﻓﺼﺎﺭ ﺑﻌﻀﻪ
ﻓﻲ ﺍﻟﺸﻤﺲ ﻭ ﺑﻌﻀﻪ ﻓﻲ ﺍﻟﻈﻞ ﻓﻠﻴﻘﻢ
“Jika salah seorang diantara kalian berada di
bawah matahari, kemudian bayangan beringsut
darinya sehingga sebagian tubuhnya berada di
bawah matahari dan sebagiannya lagi terlindung
bayangan, maka hendaklah dia berdiri
(maksudnya tidak tetap berada di tempat
tersebut)” [5]
Tentang tidur siang, sebagian ulama ada yang
membaginya ke dalam tiga kategori:
Pertama : Tidur siang pada tengah hari saat
matahari bersinar terik. Tidur ini biasa dilakukan
Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam.
Kedua : Tidur pada waktu dhuha. Tidur ini
sebaiknya ditinggalkan, karena membuat kita
malas serta lalai untuk berusaha meraih
kemashlatan dunia dan akhirat
Ketiga : Tidur pada waktu ashar. Ini merupakan
waktu tidur yang paling jelek.
Sebagian salaf juga membenci tidur waktu pagi.
Ibnu Abbas pernah mendapati putranya tidur
pada pagi hari, lantas ia berkata
kepadanya,”Bangunlah, apakah engkau tidur
pada saat rizki dibagikan?”
Oleh karena itu sebaiknya tidur pagi ini
ditinggalkan kecuali karena ada satu alasan yang
menuntut. Karena tidur pagi ini memberikan efek
negatif bagi tubuh berupa tertimbunnya sisa-sisa
makanan di dalam perut yang seharusnya terurai
dengan berolahraga juga menimbulkan berbagai
penyakit.
Di atas telah disinggung bahwa Rasulullah
Shallallahu 'alaihi wa sallam tidur pada awal
malam dan bangun pada pertengahan malam.
Beliau bangun ketika mendengar kokok ayam
jantan dengan memuji Allah dan berdoa.
ﺍﻟﺤﻤﺪ ﺍﻟﻠﻪ ﺍﻟﺬﻱ ﺃﺣﻴﺎﻧﺎ ﺑﻌﺪ ﻣﺎ ﺃﻣﺎﺗﻨﺎ ﻭ ﺇﻟﻴﻪ ﺍﻟﻨﺸﻮﺭ
“Segala puji bagi Allah Yang telah menghidupkan
kami setelah mematikan kami, dan kepadanya
seluruh makhluk kan dibangkitkan” [6]
Lalu Beliau bersiwak kemudian berwudhu dan
shalat. Satu pengaturan yang memberikan hak
bagi fisik serta jiwa manusia sekaligus. Karena
istirahat yang cukup akan memulihkan kekuatan
tubuh dan menopang kita agar dapat beraktivitas
dan beribadah dengan baik. Adapun shalat,
merupakan aktivitas ritual yang akan
memberikan ketenangan bagi jiwa.
Dalam satu hadits Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa
sallam bersabda.
ﻣﻦ ﺗﻌﺎﺭ ﻣﻦ ﺍﻟﻠﻴﻞ ﻓﻘﺎﻝ ﺣﻴﻦ ﻳﺴﺘﻴﻘﻆ: ﻻ ﺇﻟﻪ ﺍﻟﻠﻪ ﻭﺣﺪﻩ ﻻ
ﺷﺮﻳﻚ ﻟﻪ، ﻟﻪ ﺍﻟﻤﻠﻚ ﻭ ﻟﻪ ﺍﻟﺤﻤﺪ ﻳﺤﻴﻲ ﻭ ﻳﻤﻴﺖ،ﺑﻴﺪﻩ ﺍﻟﺨﻴﺮ
ﻭ ﻫﻮ ﻋﻠﻰ ﻛﻞ ﺷﻲﺀ ﻗﺪﻳﺮ، ﺳﺒﺤﺎﻥ ﺍﻟﻠﻪ ﻭ ﺍﻟﺤﻤﺪ ﻟﻠﻪ ﻭﻻ ﺇﻟﻪ
ﺇﻻ ﺍﻟﻠﻪ ﻭ ﺍﻟﻠﻪ ﺃﻛﺒﺮ ﻭ ﻻ ﺣﻮﻝ ﻭ ﻻ ﻗﻮﺓ ﺇﻻ ﺑﺎﻟﻠﻪ، ﺛﻢ ﻗﺎﻝ :
ﺍﻟﻠﻬﻢ ﺍﻏﻔﺮ ﻟﻲ ﺃﻭﺩﻋﺎ ﺍﺳﺘﺠﻴﺐ ﻟﻪ، ﻓﺈﻥ ﻗﺎﻡ ﻓﺘﻮﺿﺄ ﺛﻢ
ﺻﻠﻰ ﻗﺒﻠﺖ ﺻﻼﺗﻪ
“Barangsiapa bangun pada malam hari,
kemudian ia berdoa,” Tiada illah yang berhak
disembah melainkan Allah semata, tiada sekutu
baginya, milikNyalah segala kerajaan dan pujian,
Yang Maha menghidupkan dan mematikan, di
tanganNyalah segenap kebaikan dan Dia Maha
Kuasa atas segala sesuatu. Maha Suci Allah,
segala puji bagiNya dan tiada illah yang berhak
disembah kecuali Allah, Allah Maha Besar, tiada
daya serta upaya melainkan dengan pertolongan
Allah” kemudian setelah itu berdoa,” Ya Allah
ampunilah aku” ataupun doa yang selain itu
niscaya dikabulkan doanya. Kemudian apabila ia
bangkit berwudhu lalu shalat maka akan diterima
shalatnya,”[7]
Sekiranya kita mengkaji lembar-lembar sunnah
niscaya kita kan mendapatkan petunjuk
Rasulullah yang sempurna bagi umatnya. Tidak
akan ada yang mengingkarinya kecuali orang
yang memiliki sifat nifaq dan hasad dalam
hatinya. Beliau telah memberikan teladan
bagaimana kita meraih keridhaan ilahi dalam
setiap detik dari hidup kita, kendati dalam
masalah tidur.
Maka sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk
Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam
.
Wallahu a’lamu bishshawab
Amatullah

Sumber: Almanhaj

Silakan Login untuk menulis komentar.

FORUM TERKAIT

© 2019 - Www.SalamDakwah.Com