SALWA RADIO - Menebar Salam, Menyebar Dakwah
Stay in touch with us:

Perintah nabiShallallahu Alaihiwa Sallam yangdilupakan/ditinggalkan olehumatnya


abumandala
abumandala
8 years ago

Sutrah ( pembatas)
Perintah memasang sutrah ini
yang sangat di tekankan oleh
Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa
sallam, dalil-dalilnya sbb:
1.HR Bukhari, Muslim dan Ibnu
Khuzaimah dengan sanad jayyid
(baik).
Dari Ibnu Umar, bahwa
Rasulullah Shallallahu
‘Alaihi wa Sallam
bersabda:
َﻦْﻳِﺮَﻘْﻟﺍ َﻻ ِّﻞَﺼُﺗ َّﻻِﺇ ﻰَﻟِﺇ ،ٍﺓَﺮْﺘُﺳ
َﻻَﻭ ْﻉَﺪَﺗ ﺍًﺪَﺣَﺃ ُّﺮُﻤَﻳ َﻦْﻴَﺑ َﻚْﻳَﺪَﻳ
ﻰَﺑَﺃ ْﻥِﺈَﻓ ،ُﻪْﻠِﺗﺎَﻘُﺘْﻠَﻓ ُﻪَﻌَﻣ َّﻥِﺈَﻓ
“Janganlah kamu shalat tanpa
memasang sutrah dan
janganlah engkau membiarkan
seseorang lewat
dihadapankamu( tanpa engkau
cegah ), jika dia memaksa terus
lewat didepanmu, lawanlah dia
karena dia ditemani setan” (HR.
Ibnu Khuzaimah dalam Shahih-
nya dan berkata Al-Imam Al-
Albani rahimahullahu dalam
Ashlu Shifah Shalatin Nabi
Shallallahu 'alaihi wa sallam,
1/115: “Sanadnya jayyid.”)
(S)
2.HR Ahmad, Daruqutni dan
thabarani dengan sanad yang
sahih, secara makna Hadits ini
tercantum dalam Bukhari
Muslim dan lain-lain dari
sejumlah sahabat” Beliau
pernah melakukan shalat wajib,
lalu tiba tiba menggenggamkan
tangannya, ketika selesai shalat
para sahabat bertanya “ Wahai
Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa
sallam, apakah ada sesuatu yang
baru dalam shalat?” sabdanya: ”
Tidak tetapi sesungguhnya setan
hendak lewat di hadapanku lalu
aku cekik sampai tanganku
merasa dinginnya mulut setan
itu. Demi Allah, seandainya
saudaraku Nabi Sulaiman tidak
mendahuli aku , niscaya akan
aku ikat setan itu di salah satu
tiang masjid supaya bias dilihat
oleh anak-anak madinah.oleh
karena itu siapa saja dapat
memasang sutrah dihadapanya
sehingga orang lain tidak dapat
melewatinya,lakukanlah
3.Dapat terputus/membatalkan
sholat
ﻰَّﻠَﺻ ﺍَﺫِﺇ ْﻢُﻛُﺪَﺣَﺃ ﻰَﻟِﺇ ٍﺓَﺮْﺘُﺳ
ُﻥْﺪَﻴْﻠَﻓ ﺎَﻟ ﺎَﻬْﻨِﻣ ُﻥﺎَﻄْﻴَّﺸﻟﺍ ْﻊَﻄْﻘَﻳ
ِﻪْﻴَﻠَﻋ ُﻪَﺗﺎَﻠَﺻ
“Jika salah seorang
kalian shalat menghadap sutrah
(pembatas) maka hendaklah dia
mendekatinya, niscaya shalatnya
tidak akan diputus oleh syetan.”
(HR. Abu Daud, Kitab Ash
Shalah Bab Ad Dunuwwi min As
Sutrah, Juz. 2, Hal. 349, No
hadits. 596. An Nasa’i, Kitab Al
Qiblah Bab Ad Dunuwwi min As
Sutrah, Juz. 3, Hal. 196, No
hadits. 740. Al Hakim, Al
Mustadrak ‘alash Shahihain,
Juz. 2, Hal. 433, No hadits. 877.
Katanya: “Hadits ini shahih
sesuai syarat Syaikhain
(Bukhari-Muslim) tetapi
keduanya tidak
meriwayatkannya.” Al
Maktabah Asy Syamilah
Dapat membatalkan shalat jika
dilewati tanpa ada sutrah oleh
perempuan dewasa (salah
satunya dari yang tiga)HR
Muslim,Abu Dawud Dan Ibnu
Khzaimah (1/95/2) “Shalat
seseorang akan Putus(batal)
karena dilewati oleh perempuan,
keledai dan anjing hitam bila di
hadapannya tidak di letakan
pembatas sejenis pelana” dan
juga terdapat di kitab Tahdziru
As-Sajid min Ittikhadzi Al-Quburi
Al Masajid dan Ahkamul Al-jana
Wabida’uha.
4. Rasulullah shalallahu ‘alaihi
wa sallam tidak pernah
membiarkan apapun lewat
didepan sutrahnyah,(sifat sholat
nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam
mina takbiiri ilaa tasliim ka-
annaka tarahaa. Syaikh Al-Bani)
5. Makmum TIdak Perlu Sutrah
Pembahasan di atas
adalah kaitannya dengan shalat
sendiri, dan bagi imam shalat.
Adapun bagi makmum dalam
shalat berjamaah, maka bagi
mereka sutrah imam adalah
sutrah bagi mereka juga. Imam
Ibnu Hajar telah membahasnya
secara detil dalam Fathul Bari-
nya, pada Bab Sutratul Imam
Sutratul Man Khalfahu, Bab:
Sutrah Imam adalah Sutrah
bagi orang di belakangnya.
(Juz. 2, Hal. 237. Al Maktabah
Asy Syamilah)
Tertulis dalam Al Fath:
َﻝﺎَﻗَﻭ ﻦْﺑِﺍ ﺪْﺒَﻋ ّﺮَﺒْﻟﺍ : ﻦْﺑِﺍ ُﺚﻳِﺪَﺣ
ﺱﺎَّﺒَﻋ ﺍَﺬَﻫ ُّﺺُﺨَﻳ ٌﺚﻳِﺪَﺣ ﻲِﺑَﺃ ﺪﻴِﻌَﺳ
" َﻥﺎَﻛ ﺍَﺫِﺇ ْﻢُﻛُﺪَﺣَﺃ ﻲِّﻠَﺼُﻳ ُﻉَﺪَﻳ ﺎَﻠَﻓ
ﺍًﺪَﺣَﺃ ُّﺮُﻤَﻳ َﻦْﻴَﺑ ِﻪْﻳَﺪَﻳ " َّﻥِﺈَﻓ َﻚِﻟَﺫ
ﺹﻮُﺼْﺨَﻣ ِﻡﺎَﻣِﺈْﻟﺎِﺑ ﺩِﺮَﻔْﻨُﻤْﻟﺍَﻭ ،
ﺎَّﻣَﺄَﻓ ُﻡﻮُﻣْﺄَﻤْﻟﺍ ﺎَﻠَﻓ ُﻩُّﺮُﻀَﻳ َّﺮَﻣ ْﻦَﻣ
َﻦْﻴَﺑ ِﻪْﻳَﺪَﻳ ِﺚﻳِﺪَﺤِﻟ ﻦْﺑِﺍ ﺱﺎَّﺒَﻋ
ﺍَﺬَﻫ ، َﻝﺎَﻗ : ﺍَﺬَﻫَﻭ ُﻪُّﻠُﻛ ﺎَﻟ َﻑﺎَﻠِﺧ
َﻦْﻴَﺑ ِﻪﻴِﻓ ِﺀﺎَﻤَﻠُﻌْﻟﺍ
Berkata Ibnu Abdil Bar:
“Hadits Ibnu Abbas ini menjadi
takhsis (pembatas) bagi hadits
Abu Said yang berbunyi ‘Jika
salah seorang kalian shalat maka
janganlah membiarkan seorang
pun lewat di hadapannya,’ sebab
hadits ini dikhususkan untuk
imam dan shalat sendiri . Ada
pun makmum maka tidak ada
yang memudharatkannya siapa
pun yang lewat di hadapannya,
sebagaimana yang ditegaskan
oleh hadits Ibnu Abbas ini.
Semua ini tidak ada perselisihan
pendapat di antara para ulama.”
(Ibid)
Hadits Ibnu Abbas yang
dimaksud adalah sebagai
berikut:
ِﻦْﺑﺍ ْﻦَﻋ ٍﺱﺎَّﺒَﻋ َﻝﺎَﻗ
ُﺖْﻠَﺒْﻗَﺃ ﺎًﺒِﻛﺍَﺭ ﻰَﻠَﻋ ٍﻥﺎَﺗَﺃ ﺎَﻧَﺃَﻭ
ٍﺬِﺌَﻣْﻮَﻳ ْﺪَﻗ ُﺕْﺰَﻫﺎَﻧ َﻡﺎَﻠِﺘْﺣﺎِﻟﺍ
ُﻝﻮُﺳَﺭَﻭ ِﻪَّﻠﻟﺍ ﻰَّﻠَﺻ ُﻪَّﻠﻟﺍ ِﻪْﻴَﻠَﻋ
َﻢَّﻠَﺳَﻭ ﻲِّﻠَﺼُﻳ ِﺱﺎَّﻨﻟﺎِﺑ ﻰًﻨِﻤِﺑ
ُﺕْﺭَﺮَﻤَﻓ َﻦْﻴَﺑ ْﻱَﺪَﻳ ِّﻒَّﺼﻟﺍ ُﺖْﻟَﺰَﻨَﻓ
ُﺖْﻠَﺳْﺭَﺄَﻓ َﻥﺎَﺗَﺄْﻟﺍ ُﻊَﺗْﺮَﺗ ُﺖْﻠَﺧَﺩَﻭ
ﻲِﻓ ِّﻒَّﺼﻟﺍ ْﻢَﻠَﻓ ْﺮِﻜْﻨُﻳ َﻚِﻟَﺫ َّﻲَﻠَﻋ
ٌﺪَﺣَﺃ
Dari Ibnu Abbas, dia
berkata: “Aku datang dengan
mengendarai keledai betina, saat
itu aku telah bersih-bersih dari
mimpi basah dan Rasulullah
Shallallahu “Alaihi wa Sallam
shalat di Mina, maka aku lewat di
depan shaf lalu aku turun dari
kendaraan keledai betina, lalu
aku masuk ke shaf dan tak ada
satu pun yang mengingkari
perbuatan itu.” (HR. Muslim,
Kitab Ash Shalah Bab Sutratul
Mushalli, Juz. 3, Hal. 70, No
hadits. 780. Al Maktabah Asy
Syamilah) . Hadits ini
menunjukkan bahwa Ibnu
Abbas berjalan di depan shaf
makmum, dan tidak seorang
pun mencegahnya. Artinya,
larangan melewati (berjalan) di
depan orang shalat, hanya
berlaku jika melewati imam dan
orang yang shalatnya sendiri
menurut keterangan riwayat ini,
melewati di depan makmum
(karena ada keperluan) tidaklah
mengapa. Wallahu A’lam
6. Dosa besar melewati orang
shalat .
HR Bukhari dan Muslimdan
riwayat lainoleh ibnu khuzaimah.
“ Sekiranya orang yang lewat
didepan orang yang sedang
shalat atau betapa besar
dosanya, ia lebih baik berdiri
selama empat puluh didepan
orang itu dari pada melaluinya”
Contoh Sutrah:
Tiang
Tiang yang ada di masjid dapat
dijadikan sebagai sutrah
sebagaimana ditunjukkan
dalam riwayat berikut. Yazid
bin Abi ‘Ubaid berkata, “Adalah
Salamah ibnul Akwa’
radhiyallahu 'anhu memilih
shalat di sisi tiang masjid tempat
menyimpan mushaf. Maka aku
tanyakan kepadanya, ‘Wahai Abu
Muslim, aku melihatmu
menyengaja memilih shalat
disisitiangini.’Beliaumenjawab:
“Aku melihat Nabi Shallallahu
'alaihi wa sallam memilih shalat
di sisinya.” (HR. Al-Bukhari no.
502 dan Muslim no. 1136)
Tembok
Sebagaimana ditunjukkan dalam
hadits Sahl bin Sa’d As-Sa’idi
radhiyallahu 'anhu yang telah
disebutkan
ketikamembahastentangmendek
atdengansutrah.
Tombak/Tongkat
Ibnu ‘Umar radhiyallahu
'anhuma memberitakan:
“Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa
sallam bila keluar ke tanah
lapang untuk mengerjakan shalat
Id, beliau memerintahkan
pelayannya untuk membawa
tombak lalu ditancapkan di
hadapan beliau. Kemudian
beliau shalat menghadapnya
sementara manusia menjadi
makmum di belakang beliau.
Dan beliau juga melakukan hal
tersebut dalam safarnya.” (HR.
Al-Bukhari no. 494 dan Muslim
no. 1115)
Benda yang tinggi
Boleh menjadikan sesuatu yang
tinggi semisal mu`khiratur rahl
sebagai sutrah. Mu`khiratur rahl
adalah kayu yang berada di
bagian belakang pelana hewan
tunggangan yang dijadikan
sebagai sandaran si penunggang
hewan tersebut. Tingginya
sekitar 2/3 hasta. (Nailul Authar
3/4, Taudhihul Ahkam, 2/64,
Asy-Syarhul Mumti` 1/731)
Aisyah radhiyallahu 'anha
berkata, “Nabi Shallallahu 'alaihi
wa sallam pernah ditanya dalam
Perang Tabuk tentang
tinggisutrahorangyangshalat.
Makabeliaumenjawab:
“Semisalmu’khiraturrahl.”(HR.
Muslimno.1113)
RasulullahShallallahu'
alaihiwasallampernahbersabda:
“Apabila salah seorang dari
kalian meletakkan semisal
mu`khiratur rahl di hadapannya
maka silakan ia shalat dan
janganmemedulikanorangyangle
watdibelakangsutrahnyatersebut.
”(HR.Muslimno.1111)
Tidak Cukupdengan Garis
Adapun sekedar garis di depan
orang yang shalat tidaklah cukup
sebagai sutrah. (Subulus
Salam,1/227) Al-Qarafi
rahimahullahu mengatakan, “Ini
adalah pendapat jumhur
fuqaha.” (Adz-Dzakhirah, 2/154)
Walaupun ada sebagian ahlul
‘ilmi berpandangan garis dapat
dijadikan sebagai sutrah.
Terdapat hadits yang
diriwayatkan oleh Ahmad
(2/255), Abu Dawud (no. 689),
dan Ibnu Hibban (no. 2369) dari
Abu Hurairah radhiyallahu
'anhu:
ﺍَﺫِﺇ ﻰَّﻠَﺻ ْﻢُﻛُﺪَﺣَﺃ ْﻞَﻌْﺠَﻴْﻠَﻓ َﺀﺎَﻘْﻠِﺗ
ِﻪِﻬْﺟَﻭ ،ﺎًﺌْﻴَﺷ ْﻥِﺈَﻓ ْﻢـَﻟ ْﺪِﺠَﻳ
،ﺎًﺌْﻴَﺷ ْﺐَﺼْﻨَﻴْﻠَﻓ ،ﺎًﺼَﻋ ْﻥِﺈَﻓ ْﻢَـﻟ
ْﻦُﻜَﻳ ْﻦِﻣ ﺎًﺼَﻋ َّﻂُﺨَﻴْﻠَﻓ ﺎًّﻄَﺧ َﻻَﻭ
ُﻩُّﺮُﻀَﻳ ﺎَﻣ َﻦْﻴَﺑ َّﺮَﻣ ِﻪْﻳَﺪَﻳ
“Apabila salah seorang dari
kalian shalat, hendaklah ia
menjadikan sesuatu di
hadapannya (sebagai sutrah).
Bila ia tidak mendapatkan
sesuatu hendaklah ia
menancapkan tongkat. Bila tidak
ada tongkat, hendaklah ia
membuat sebuah
garisdantidakmemudaratkannya
apayanglewatdihadapannya.”
Al-Imam Al-Albani
rahimahullahu berkata dalam
Tamamul Minnah, “Hadits ini
sanadnya dhaif tidak shahih.
Walaupun orang-orang yang
disebutkan oleh penulis Fiqhus
Sunnah (Sayyid Sabiq)
menganggapnya shahih. Namun
ulama yang lebih banyak
jumlahnya selain mereka telah
mendhaifkan hadits ini dan
mereka lebih kuat argumennya.
Terlebih lagi adanya perselisihan
dalam riwayat dari Al-Imam
Ahmad rahimahullahu tentang
permasalahan ini.
Al-Hafizh rahimahullahu telah
menukilkan dalam At-Tahdzib
dari Al-Imam Ahmad t, di mana
disebutkan beliau berkata,
“Permasalahan garis yang
digunakan sebagai sutrah,
haditsnya dhaif.”
Sementara dalam At-Talkhish, Al-
Hafizh rahimahullahu
menyebutkan penshahihan
Ahmad sebagaimana dinukilkan
oleh Ibnu Abdil Barr
rahimahullahu dalam Al-Istidzkar
terhadap hadits di atas,
kemudian beliau (Al-Hafizh)
berkata, “Sufyan bin Uyainah,
Asy-Syafi`i, Al-Baghawi
rahimahumullah dan selain
mereka, telah mengisyaratkan
kelemahan hadits ini.”
Dalam At-Tahdzib juga
disebutkan, “Ad-Daraquthni
rahimahullahu berkata, ‘Hadits
ini tidak shahih, tidak tsabit.’ Asy-
Syafi`i rahimahullahu berkata
dalam Sunan Harmalah,
‘Seseorang yang shalat tidak
cukup membuat garis di
depannya untuk dijadikan
sebagai sutrah kecuali bila di
sana ada hadits yang tsabit.’ Al-
Imam Malik rahimahullahu
berkata dalam Al-Mudawwanah,
‘Garis yang digunakan sebagai
sutrah adalah batil.’
Dari kalangan ulama
muta’akhirin yang mendhaifkan
hadits ini adalah Ibnush Shalah,
An-Nawawi, Al-’Iraqi, dan yang
lainnya. Inilah pendapat yang
benar karena hadits ini memiliki
dua illat (penyakit yang
mencacati), yaitu idhthirab dan
jahalah, yang menghalanginya
untuk dihukumi hasan, terlebih
lagi dihukumi shahih.” (Tamamul
Minnah, hal. 300-301)
Al-Qadhi Iyadh rahimahullahu
berdalil dengan hadits
mu`khiratur rahl untuk
menyatakan garis di depan
orang yang shalat tidaklah cukup
sebagai sutrah. (Al-Ikmal lil
Qadhi Iyadh 2/414)
Maaroji ana ambil sebagian
besar dari”Shifatu shalaati an-
Nabiyyi shaallallahu ‘alaihi wa
sallama min at-takbiiri ilaa at-
Tasliimi ka-annaka Taraahaa(Al-
Imam Al-Albani rahimahullahu)
Oleh karena itu saudaraku mari
kita kerjakan apa yang
diperintahkan oleh Rasulullah
Shallallahu'alaihi wasallam
mengenai Sutrah, terutama
dalam mengerjakan shalat
sunnah baik di masjid ataupun
di rumah, dan juga untuk imam
shalat (jamaah yang keduadi
didalam masjid) karena itu
adalah diperintahkan untuk
(Imam)

Silakan Login untuk menulis komentar.

FORUM TERKAIT

© 2020 - Www.SalamDakwah.Com