SALWA RADIO - Menebar Salam, Menyebar Dakwah
Stay in touch with us:

Khulu' atau Talak Disaat Hamil


Ummu Adam Zakariya
Ummu Adam Zakariya
2 weeks ago

KHULU' ATAU TALAK DISAAT HAMIL


Assalamu'alaikum,mau bertanya,apakah seorang wanita yang sudah mengajukan khuluq kepada suami nya,dan suami tsb,sudah tanda tangan surat cerai tsb,tapi qodarullah ternyata isteri tsb hamil,apakah isteri tersebut bs rujuk sama suami nya kembali? lalu bagaimana cara rujuk nya ustadz,jazaakallahu khairan


➖Jawaban Ustadz Mukhsin Suaidi, Lc, M.E.I حفظه الله

(Dewan Redaksi salamdakwah.com)

 

Wa'alaikumussalam wa rahmatullahi wa barakatuhu

Syekh Prof. Khalid Al Musyaiqih berikut menerangkan:

طلاق الزّوجة الحامل ليس طلاقاً بدعياً بل هو طلاق شرعي حتى لو جامعتها، لما ثبت في صحيح مسلم أنّ النّبي صلى الله عليه وسلم قال لعبد الله بن عمر لما طلّق امرأته وهي حائض: “راجعها ثم امسكها حتى تطهر، ثم تحيض ثم تطهر ثم طلقها إن شئت طاهراً قبل أن تمسها أو حاملاً” وهذا باتفاق العلماء، وأمّا ما اشتهر عند العوام من أنّ الحامل لا طلاق عليها فهو غير صحيح.

Mentalak istri saat hamil tidak tergolong talak bid’i. Bahkan itu tergolong talak yang syar’i (talak sunni) sampaipun dilakukan setelah suami menyetubuhinya.

Hal ini berdasarkan hadis yang terdapat di Shahih Muslim, bahwa Nabi ﷺ berpesan kepada Abdullah bin Umar saat dia menceraikan istrinya ketika haid,

راجعها ثم امسكها حتى تطهر، ثم تحيض ثم تطهر ثم طلقها إن شئت طاهراً قبل أن تمسها أو حاملاً

“Rujuklah kepada istrimu yang sudah kamu cerai itu. Tetaplah bersamanya sampai dia suci dari haid, lalu haid kembali kemudian suci lagi. Setelah itu silahkan kalau kamu mau mencerainya : bisa saat istri suci sebelum kamu gauli, atau saat dia hamil.”

Bahkan para ulama sepakat, boleh mencerai istri saat kondisinya hamil. Adapun anggapan yang tersebar di tengah masyarakat awam, bahwa wanita hamil tidak sah dicerai, adalah anggapan yang keliru.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah berkata :

“ Maka talak yang muthlaq dan ketentuannya terdapat pada kitab Allah meliputi talak yang dijatuhkan oleh seorang suami dan hal ini tanpa mendapatkan ganti rugi atau imbalan harta, kemudian ada ketentuan di dalamnya masalah rujuk, adapun talak yang mendatangkan imbalan harta maka tidak ada hukum rujuk di dalamnya, dan bukanlah termasuk talak yang muthlak ; akan tetapi ia lebih merupakan tebusan yang seorang perempuan atau istri menebus dirinya dari suaminya, sebagaimana seorang tawanan yang menebus dirinya dari orang yang menawannya, dan tebusan ini bukanlah talak yang dijatuhkan sampai tiga kali, meskipun biasa disebut dengan ; khulu’, fasakh, fida’, as Saraah, al firaaq, at thalaaq, al ibanah atau lain sebagainya dari lafadz-lafadz yang memiliki pengertian yang sama ”.
Dari kitab “ Majmu’ Al Fatawa ” ( 32/306 ).

Atas dasar ini maka apa yang bersumber dari seorang istri disebut khulu’ bukan talak, dan pernikahan wajib untuk dipisahkan antara keduanya.

Kedua : Khulu’ itu dianggap fasakh yaitu memisahkan antara suami dan istri, bukan talak, maka tidak dihitung dari bilangan talak, dan tidak diperbolehkan bagi seorang suami merujuk kembali istrinya kecuali dengan keridhoan pihak istri, maka jika keduanya sama-sama ridho untuk melakukan rujuk ; maka harus melaksanakan akad pernikahan yang baru dengan mahar yang baru yang disepakati oleh keduanya.

Ibnu Abdil Barr berkata :

“ Jumhur Ahli ilmu berpendapat :
Tidak ada lagi peluang untuk menikahinya *kecuali dengan keridhoan darinya,* dengan akad nikah yang baru, dan dengan mahar yang telah disepakati ”.
Dari kitab “ Al Istidzkar ” ( 6/82 ).

Ibnu Rusyd mengatakan :

“ Jumhur Ulama’ berpendapat :
Mereka bersepakat bahwasannya tidak ada rujuk di masa-masa Iddah bagi seorang suami terhadap istri yang menggugat khulu’ dan jumhur ulama’ juga sepakat bahwasannya diperbolehkan bagi suami untuk menikahinya di masa-masa iddahnya dengan syarat mendapatkan keridhoannya ”.
Dari kitab “ Bidayatul Mujtahid ” ( 3/92 ).

Anak atau janin yang saat ini dalam kandungan merupakan anak yang sah secara syari’at, dan ditetapkan jalur nasabnya kepada ayahnya apakah dia berkehendak menerimanya ataupun menolaknya, maka wajib atasnya untuk menanggung nafkahnya dan sekaligus ibunya, dan memberikan jaminan tempat tinggal bagi keduanya selama masa kehamilannya, adapun setelah proses persalinan maka bagi suami atau ayah bekewajiban memberikan nafkah kepada anaknya saja, dan masuk dalam kategori nafkah adalah : biaya persalinan, tempat tinggal, makan dan minum, pakaian, ongkos menyusui dan segala apa yang menjadi kebutuhan sang anak seperti obat-obatan dan lain sebagainya, dan tentu saja nafkah ini diperkirakan sesuai dengan kelayakan dan yang terpenting pula adalah menjaga dan peduli terhadap kondisi istri.

[Dinukil dari beberapa sumber]

@WAG Salamdakwah
Ahad 23 Shafar 1442 / 11 Oktober 2020


_____________________________________

http://www.salamdakwah.com/forum/13482-khulu-atau-talak-disaat-hamil

Silakan Login untuk menulis komentar.
© 2020 - Www.SalamDakwah.Com