SALWA RADIO - Menebar Salam, Menyebar Dakwah
Stay in touch with us:

Hukum Jual Beli Emas, Perak, Kurma, Garam, dll


Ummu Adam Zakariya
Ummu Adam Zakariya
1 month ago

TANYA USTADZ

HUKUM JUAL BELI EMAS, PERAK, KURMA, GARAM, DLL


Bismillah

Assalamualaykum

Afwan mau bertanya,

Hadist
Rasulullah Shalallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “(jual beli) emas dengan emas, perak dengan perak, gandum dengan gandum, sya’ir (gandum kasar) dengan sya’ir, kurma dengan kurma, garam dengan garam, harus sama beratnya dan tunai.”—HR Muslim

Yang saya tangkap emas dan perak harus dibayar tunai dari tangan ke tangan. Apakah berlaku juga dengan kurma, gandum, dan garam?


Jazakillahu khoyron


Jawaban Ustadz Mukhsin Suaidi, Lc, M.E.I حفظه الله

Wa'alaikumussalam wa rahmatullahi wa barakatuhu

وعليكم السلام ورحمة الله وبركاته

Membeli dan membayar emas dan perak dengan uang secara kredit tidaklah diperbolehkan menurut pendapat yang kuat mengingat uang masih satu illat dengan emas dan perak.

Untuk lebih jelasnya silahkan menelaah pertanyaan dan jawaban yang diberikan oleh Komite Tetap Riset Ilmiah dan Fatwa Arab Saudi.

Ada pertanyaan yang ditujukan kepada mereka,

"Terdapat seorang agen yang menjual emas kepada toko-toko perhiasan melalui sistem catatan. Harga yang ditawarkan adalah yang umum berlaku, baik secara kontan atau dengan catatan kredit. Kami membeli semuanya dari orang tersebut dengan pertimbangan bahwa kami dapat membayar setiap minggu sampai lunas. Terkadang periode pembayarannya berlangsung hingga lebih dari dua bulan, padahal kita tahu bahwa harga emas dunia tidak stabil?

Mereka menjawab,

"Jual beli emas dengan perak atau apa yang dihukumi sama dengannya seperti berbagai jenis mata uang tidak diperbolehkan jika tidak diserahterimakan secara langsung.

Ini berdasarkan sabda Nabi Muhammad `Alaihish Shalatu was Salam,

الذَّهَبُ بِالوَرقِ رِباً إلِاَّ هَاء وَهاَء

"Jual beli emas dengan perak adalah riba, kecuali jika kedua belah pihak mengucapkan 'Anda ambil ini dan saya beri itu' (tunai)."
(Muttafaq 'Alaih)

Dan berdasarkan sabda Beliau yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad dan Imam Muslim dari `Ubadah bin ash-Shamit radhiyallahu `anhu,

الذَّهَبَ بِالذَّهَبِ، وَالفِضَّةُ بِالفِضَّةِ، وَالبُرُّ بِالبُرِّ، وَالشَّعِيْرُ بِالشَّعِيْرِ، وَالتَّمْرُ بِالتَّمْرِ، وَالمِلْحُ بِالمِلْحِ، مِثْلاً بِمِثْلٍ، سَوَاءٌ بِسَوَاءٍ، يَدًا بِيَدٍ، فَإِذَا اخْتَلَفَتْ هَذِهِ الأَصْنَافُ، فَبِيْعُوا كَيْفَ شِئْتُمْ، إِذَا كَانَ يَدًا بِيَدٍ

“Jika emas dijual dengan emas, perak dijual dengan perak, jelai dijual dengan jelai, gandum dijual dengan gandum, kurma dijual dengan kurma, dan garam dijual dengan garam, maka jumlah (takaran atau timbangan) harus sama dan dibayar kontan. Jika jenis barang tadi berbeda, maka silakan engkau membarterkannya sesuka kalian, namun harus dilakukan secara kontan (tunai).”
HR. Muslim no.1587

Uang kertas memiliki kedudukan yang setara dengan emas dan perak karena status hukumnya sama sebagai alat pembayaran dan merupakan barang berharga.

Fatawa al-Lajnah ad-Daimah 13/470-471 Pertanyaan Pertama dari Fatwa Nomor:2730

Komoditi riba terbagi menjadi dua kelompok.

1. Kelompok pertama
adalah emas, perak dan yang mengandung illat yang sama dengan komoditi dalam kelompok ini yaitu sebagai alat pembayaran dan merupakan barang berharga.

2. Kelompok kedua
adalah jenis makanan jelai, gandum, kurma dan garam serta yang dihukumi sama dengannya.

Apabila komoditi kelompok pertama ditukar dengan kelompok kedua maka tidak apa bila dibayar tidak kontan.

Diantara dalilnya adalah perkataan Anas bin Malik radhiyallahu 'anhu,

وَلَقَدْ رَهَنَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ دِرْعًا لَهُ بِالْمَدِينَةِ عِنْدَ يَهُودِيٍّ، وَأَخَذَ مِنْهُ شَعِيرًا لِأَهْلِهِ

"Rasulullah pernah menggadaikan baju perangnya kepada seorang yahudi di Madinah, lalu beliau meminta gandum dari yahudi tersebut untuk diberikan kepada keluarganya.
HR. Bukhari no.2069 dan yang lainnya

Komite Tetap Riset Ilmiah dan Fatwa Arab Saudi pernah ditanya,

"Bolehkah jual beli garam dengan sistem hutang (kredit)?"

Mereka menjawab,

"Jual beli garam dengan garam tidak diperbolehkan kecuali jika sama takarannya dan diserahterimakan secara langsung. Adapun menjual garam dengan jenis barang lain yang menjadi obyek riba seperti gandum, jawawut (barley) dan kurma, maka diperbolehkan tidak sama takarannya namun (penjual dan pembeli) tidak diboleh berpisah sebelum serah terima;
sesuai hadis `Ubadah bin Ash-Shāmit radhiyallahu `anhu dari Nabi Shallallahu `Alaihi wa Sallam, beliau bersabda,

الذَّهَبَ بِالذَّهَبِ، وَالفِضَّةُ بِالفِضَّةِ، وَالبُرُّ بِالبُرِّ، وَالشَّعِيْرُ بِالشَّعِيْرِ، وَالتَّمْرُ بِالتَّمْرِ، وَالمِلْحُ بِالمِلْحِ، مِثْلاً بِمِثْلٍ، سَوَاءٌ بِسَوَاءٍ، يَدًا بِيَدٍ، فَإِذَا اخْتَلَفَتْ هَذِهِ الأَصْنَافُ، فَبِيْعُوا كَيْفَ شِئْتُمْ، إِذَا كَانَ يَدًا بِيَدٍ

"Emas ditukar dengan emas, perak ditukar dengan perak, gandum ditukar dengan gandum, jawawut ditukar dengan jawawut, kurma ditukar dengan kurma, garam ditukar dengan garam, haruslah semisal, sama ukuran atau jumlahnya, dan serah terima secara langsung. Apabila jenis barangnya berbeda, maka juallah sesuai kehendak kalian manakala serah terimanya secara langsung."
(HR. Muslim)

Sedangkan jual beli garam dengan uang, maka hal itu diperbolehkan, baik secara kontan maupun berjangka.

Wabillahittaufiq, wa Shallallahu `ala Nabiyyina Muhammad wa Alihi wa Shahbihi wa Sallam.

Fatawa al-Lajnah ad-Daimah 13/281-282 Pertanyaan Ketiga dari Fatwa Nomor 18937

***

Tanya: Jadi selain emas & perak .. yang lain yang disebutkan di hadits bisa dijual/beli kontan atau berjangka -begitu ya Ustadz? #mohon dikoreksi

Ustadz: Ya, bila beda jenis dan beda illat sebagaimana disebutkan ada dua grup yang berbeda.

 

Tanya: illat pada penjelasan di atas artinya apa ya Ustadz..   

Ustadz: Di kalangan ulama Ushul Fiqh, ‘illat itu diartikan dengan sesuatu yang menjadi 2 pautan hukum. Dengan kata lain, ‘illat itu ialah
sesuatu yang menjadi alasan atau dasar yang melatarbelakang penetapan hukum syara’.

Setiap ketentuan hukum yang diturunkan Allah baik perintah maupun larangan, pasti memiliki alasan-alasan tersendiri, yang disebut dengan ‘illat.

Pengembangan hukum dengan penalaran ta’lili ini, yaitu dengan menggunakan ‘illat ini, yang dalam prakteknya, dapat ditempuh dengan dua cara, yaitu
dengan menggunakan ‘illat qiyasi dan ‘illat tasyri’i.

@WAG Salamdakwah
Khamis 16 Dzulhijjah 1441 / 6 Agustus 2020
______________________________________

http://www.salamdakwah.com/forum/13355-hukum-jual-beli-emas-perak-kurma-garam-dll

Silakan Login untuk menulis komentar.
© 2020 - Www.SalamDakwah.Com