SALWA RADIO - Menebar Salam, Menyebar Dakwah
Stay in touch with us:

Hukum Arisan dengan Sistem Dikocok


Feby ummu maryam
Feby ummu maryam
8 years ago

Tanya:
السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ ,
saya mau tanya,, hukum arisan yg di kocok itu gimana ya ? Soalnya saya pernah mendengar, katanya klo arisan dikocok itu menyerupai judi, apa benar ya? (⌣˛⌣ ʃƪ)‎​​ (⌣ʃƪ⌣)‎​​ (ʃƪ⌣˛⌣)‎​​ mohoon penjelasannya,. Trima kasih.
Fiona (jakarta) :) wasalamualaikum.

Jawab:
وَعَلَيْكُمُ السَّلاَمُ وَرَحْمَةُ اللّهِ وَبَرَكَاتُهُ
Bismillah. Hukum Arisan itu berbeda-beda tergantung sistem yg berlaku padanya. Jika di dalamnya tidak ada unsur pelanggaran apapun thdp aturan syariat Islam, maka hukumnya mubah (BOLEH). Namun sebaliknya, jika ada unsur judi, riba, kezholiman, dsb, maka hukumnya dilarang (HARAM).

Setau saya, Arisan dengan sistem dikocok, siapa yg namanya keluar ketika dikocok, maka dia yg dapat duluan, yakni dia yg pertama kali menarik sejumlah uang dari semua peserta arisan. Sebagai contoh, Arisan Bulanan dengan jumlah peserta 12 orang, setiap peserta berkewajiban menyetor uang Rp. 1 juta pd stiap bulannya kpd bandar atau ketua panitia arisan. sehingga jumlah uang yg terkumpul pd tiap bulannya adalah 12 juta rupiah. Arisan itu dikocok pada setiap tgl 30 (akhir bulan) atau waktu tertentu yg tlh disepakati bersama, dan siapa yg namanya keluar dia yg dapat. Sistem spt ini berjalan hingga bulan yg ke-12, tanpa ada penambahan atau pengurangan uang yg disetor maupun yg diterima oleh setiap peserta. Maka gambaran arisan semacam ini hukumnya mubah (BOLEH) karena tdk ada unsur pelanggaran apapun thdp aturan syariat Islam.

Dan di sana terdapat beberapa bentuk arisan di tengah masyarakat muslim dengan sistem yg HARAM karena terkandung unsur pelanggaran thdp aturan syariat Islam spt riba, judi, kezholiman, dsb.

Maka dari itu sy katakan, bahwa jawaban ttg hukum suatu permasalahan itu tergantung pada gambaran dan pemahaman seseorang thdp pertanyaan yg diajukan. Sebagaimana disebutkan dalam sebuah kaidah fiqih: "Al-Hukmu 'ala asy-syai far'un 'an tashowwurihi," artinya: "menghukumi suatu perkara itu merupakan cabang dari gambaran thdp perkara itu." Demikian jawaban yg dpt sy sampaikan. Smg dpt dipahami n mnjadi tambahan ilmu yg bermanfaat. Wallahu a'lam bish-showab.

Sumber: Ustadz Washito

Silakan Login untuk menulis komentar.

FORUM TERKAIT

© 2021 - Www.SalamDakwah.Com