SALWA RADIO - Menebar Salam, Menyebar Dakwah
Stay in touch with us:

Apakah Boleh Wanita Hamil atau Menyusui Tidak Berpuasa Di Bulan Ramadhan ?


Ummu Adam Zakariya
Ummu Adam Zakariya
2 weeks ago

โ“Tanya

Apakah wanita yang sedang hamil atau wanita yang sedang menyusui boleh tidak berpuasa di bulan Ramadhan, dan apa konsekwensinya?

โž–โž–โž–

๐Ÿ“ Dijawab Oleh Ustadz Amir As-Soronji, Lc:

Apabila seorang wanita yang sedang hamil merasa khawatir, jika ia berpuasa akan membahayakan janin yang ada dalam kandungannya, atau wanita yang sedang menyusui khawatir jika ia berpuasa akan membuat air susunya menjadi sedikit, atau akan membuat air susunya terhenti dan seterusnya, maka ia boleh tidak berpuasa menurut kesepakatan ulama, berdasarkan sabda Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam:

ุฅูู†ูŽู‘ ุงู„ู„ูŽู‘ู‡ูŽ ุนูŽุฒูŽู‘ ูˆูŽุฌูŽู„ูŽู‘ ูˆูŽุถูŽุนูŽ ุนูŽู†ู’ ุงู„ู’ู…ูุณูŽุงููุฑู ุดูŽุทู’ุฑูŽ ุงู„ุตูŽู‘ู„ูŽุงุฉูุŒ ูˆูŽุนูŽู†ู’ ุงู„ู’ู…ูุณูŽุงููุฑูุŒ ูˆูŽุงู„ู’ุญูŽุงู…ูู„ูุŒ ูˆูŽุงู„ู’ู…ูุฑู’ุถูุนูุŒ ุงู„ุตูŽู‘ูˆู’ู…ูŽ ุฃูŽูˆู’ ุงู„ุตูู‘ูŠูŽุงู…ูŽ.

โ€œSesungguhnya Allah telah mengurangi setengah kewajiban shalat dari musafir, dan tidak mewajibkan puasa bagi musafir, wanita yang sedang hamil, dan wanita yang sedang menyusui.โ€

(H.R Ahmad dalam Musnadnya (no. 19047), Syuโ€™aib al-Arnauth berkata: Hadits Hasan, dan Ibnu Majah dalam Sunannya (no. 1667), Syaikh Al-Albani berkata: Hasan Shahih

Dan wajib bagi mereka membayar fidyah, tidak perlu mengqada puasanya. Diriwayatkan dari Ibnu Abbas radiallahu'anhuma, ia berkata:

ุฑูุฎูู‘ุตูŽ ู„ูู„ุดูŽู‘ูŠู’ุฎู ุงู„ู’ูƒูŽุจููŠุฑูุŒ ูˆูŽุงู„ู’ุนูŽุฌููˆุฒู ุงู„ู’ูƒูŽุจููŠุฑูŽุฉู ููู‰ ุฐูŽู„ููƒูŽ ูˆูŽู‡ูู…ูŽุง ูŠูุทููŠู‚ูŽุงู†ู ุงู„ุตูŽู‘ูˆู’ู…ูŽ ุฃูŽู†ู’ ูŠููู’ุทูุฑูŽุง ุฅูู†ู’ ุดูŽุงุกูŽุงุŒ ูˆูŽูŠูุทู’ุนูู…ูŽุง ู…ูŽูƒูŽุงู†ูŽ ูƒูู„ูู‘ ูŠูŽูˆู’ู…ู ู…ูุณู’ูƒููŠู†ู‹ุงุŒ ุซูู…ูŽู‘ ู†ูุณูุฎูŽ ุฐูŽู„ููƒูŽ ููู‰ ู‡ูŽุฐูู‡ู ุงู„ุขูŠูŽุฉู (ููŽู…ูŽู†ู’ ุดูŽู‡ูุฏูŽ ู…ูู†ู’ูƒูู…ู ุงู„ุดูŽู‘ู‡ู’ุฑูŽ ููŽู„ู’ูŠูŽุตูู…ู’ู‡ู)ุŒ ูˆูŽุซูŽุจูŽุชูŽ ู„ูู„ุดูŽู‘ูŠู’ุฎู ุงู„ู’ูƒูŽุจููŠุฑู ูˆูŽุงู„ู’ุนูŽุฌููˆุฒู ุงู„ู’ูƒูŽุจููŠุฑูŽุฉู : ุฅูุฐูŽุง ูƒูŽุงู†ูŽุง ู„ุงูŽ ูŠูุทููŠู‚ูŽุงู†ู ุงู„ุตูŽู‘ูˆู’ู…ูŽุŒ ูˆูŽุงู„ู’ุญูŽุงู…ูู„ู ูˆูŽุงู„ู’ู…ูุฑู’ุถูุนู ุฅูุฐูŽุง ุฎูŽุงููŽุชูŽุง ุฃูŽูู’ุทูŽุฑูŽุชูŽุงุŒ ูˆูŽุฃูŽุทู’ุนูŽู…ูŽุชูŽุง ู…ูŽูƒูŽุงู†ูŽ ูƒูู„ูู‘ ูŠูŽูˆู’ู…ู ู…ูุณู’ูƒููŠู†ู‹ุง.

โ€œLaki-laki dan wanita yang sudah tua renta dan sanggup berpuasa diberi dispensasi untuk tidak berpuasa, jika keduanya mau, namun harus memberi makan satu orang miskin setiap hari, dan tidak ada kewajiban qadha atas keduanya.

Kemudian hukum ini dimansukh dengan ayat ini: โ€œBarangsiapa di antara kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, Maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu.โ€ (Q.S Al-Baqarah: 185)

Namun ketentuan ini (dispensasi untuk tidak berpuasa) tetap berlaku untuk laki-laki dan wanita yang sudah tua renta, jika keduanya tidak mampu berpuasa. Demikian juga wanita hamil dan menyusui, jika khawatir (terhadap janin atau dirinya) maka boleh tidak berpuasa, namun harus memberi makan satu orang miskin dalam setiap harinya.โ€

(H.R Al-Baihaqi dalam as-Sunan al-Kubranya (no. 8077)

Dari Ibnu Abbas radiallahu'anhuma, ia berkata:

ุฅูุฐูŽุง ุฎูŽุงููŽุชู ุงู„ุญูŽุงู…ูู„ู ุนูŽู„ูŽู‰ ู†ูŽูู’ุณูู‡ูŽุงุŒ ูˆูŽุงู„ู…ูุฑู’ุถูุนู ุนูŽู„ูŽู‰ ูˆูŽู„ูŽุฏูู‡ูŽุงุŒ ูููŠ ุฑูŽู…ูŽุถูŽุงู†ูŽ ู‚ูŽุงู„ูŽ: ูŠููู’ุทูุฑูŽุงู†ูุŒ ูˆูŽูŠูุทู’ุนูู…ูŽุงู†ู ู…ูŽูƒูŽุงู†ูŽ ูƒูู„ู ูŠูŽูˆู’ู…ู ู…ูุณู’ูƒููŠู’ู†ู‹ุงุŒ ูˆูŽู„ูŽุง ูŠูŽู‚ู’ุถููŠูŽุงู†ู ุตูŽูˆู’ู…ู‹ุง.

โ€œApabila wanita hamil mengkhawatirkan dirinya dan wanita yang menyusui mengkhawatirkan anaknya di bulan Ramadhan, maka boleh bagi keduanya berbuka (tidak berpuasa) dan hendaklah keduanya memberi makan orang miskin sebanyak hari yang ditinggalkan dan tidak perlu mengqadha puasanya.โ€

(Dalam Irwaul Ghalil (IV/19) Syeikh Al-Bani menisbatkan atsar ini kepada At-Thabari (2758), dan beliau berkata: "Sanadnya Shahih" sesuai syarat Muslim. Lihat pula Tafsir at-Thabari (III/170)

Oleh karenanya Ibnu Abbas radiallahu'anhuma pernah menyuruh putrinya yang sedang hamil agar tidak berpuasa, dan mengatakan;

ุฃูŽู†ู’ุชู ุจูู…ูŽู†ู’ุฒูู„ูŽุฉู ุงู„ูƒูŽุจููŠู’ุฑู ู„ุง ูŠูุทููŠู’ู‚ู ุงู„ุตูู‘ูŠูŽุงู…ูŽุŒ ููŽุฃูู’ุทูุฑููŠ ูˆูŽุฃุทู’ุนูู…ููŠ ุนูŽู†ู’ ูƒูŽู„ูู‘ ูŠูŽูˆู’ู…ู ู†ูุตู’ููŽ ุตุงุนู ู…ูู† ุญูู†ู’ุทูŽุฉู.

โ€œKamu ini sama kedudukannya dengan orang lanjut usia yang tidak sanggup untuk berpuasa. Oleh karena itu, berbukalah (tidak usah berpuasa), dan berilah makan (orang miskin) setiap hari, sebanyak setengah sha gandum.โ€

(H.R Abdurrazzaq dalam Mushnnafnya (no. 7567)

Dari Ibnu Abbas radiallahu'anhuma, bahwasanya ia pernah melihat istrinya hamil atau menyusui, lalu ia berkata: ุฃูŽู†ู’ุชู ู…ูู†ูŽ ุงู„ูŽู‘ุฐููŠู’ู†ูŽ ู„ุง ูŠูุทููŠู’ู‚ููˆู’ู†ูŽ ุงู„ุตูู‘ูŠูŽุงู…ูŽุŒ ุนูŽู„ูŽูŠู’ูƒู ุงู„ุฌูŽุฒูŽุงุกูŽุŒ ูˆูŽู„ูŽูŠู’ุณูŽ ุนูŽู„ูŽูŠู’ูƒู ุงู„ู‚ูŽุถูŽุงุกู.

โ€œEngkau termasuk orang yang tidak mampu berpuasa, namun engkau harus memberi makan orang miskin dan tidak perlu mengqadha.โ€

(H.R ad-Daruqthni dalam Sunannya (no. 2382) dengan sanad yang dinilainya shahih

Bagaimana mungkin Ibnu Abbas radiallahu'anhuma menetapkan hukum bagi keduanya (wanita hamil dan menyusui), padahal dengan jelas ia mengatakan ayat tersebut telah dimansukh? Tidak diragukan lagi penetapan tersebut berasal dari Sunnah.

(Shahih Fiqh as-Sunnah wa Adillatihi (II/126)

Apalagi posisi Ibnu Abbas radiallahu'anhuma tidak sendiri, namun didukung oleh Abdullah bin Umar radiallahu'anhuma dalam riwayat-riwayat berikut ini: Dari Malik, dari Nafi, bahwasanya Ibnu Umar radiallahu'anhuma pernah ditanya tentang seorang wanita hamil yang khawatir terhadap kandungannya. Maka ia menjawab:

ุชููู’ุทูุฑู ูˆูŽุชูุทู’ุนูู…ู ู…ูŽูƒูŽุงู†ูŽ ูƒูู„ูู‘ ูŠูŽูˆู’ู…ู ู…ูุณู’ูƒููŠู†ู‹ุง ู…ูุฏู‹ู‘ุง ู…ูู†ู’ ุญูู†ู’ุทูŽุฉ ู โ€œWanita tersebut boleh tidak berpuasa, namun ia harus memberi makan satu mud gandum kepada orang miskin setiap hari.โ€

(H.R al-Baihaqi dalam Sunannya (no. 8079) melalui jalan Imam Syafiโ€™i, dan sanadnya shahih

Diriwayatkan pula oleh ad-Daruquthni dan ia menilainya shahih, dari Ibnu Umar radiallahu'anhuma, ia berkata:

ุงู„ุญูŽุงู…ูู„ู ูˆูŽุงู„ู…ูุฑู’ุถูุนู ุชููู’ุทูุฑู ูˆูŽู„ุง ุชูŽู‚ู’ุถููŠ.

โ€œWanita yang hamil dan menyusui boleh tidak berpuasa dan tidak perlu mengqadhaโ€™nya.โ€

(H.R ad-Daruquthni dalam Sunannya (no. 2385)

Diriwayatkan pula dari jalan yang lain, dari Ibnu Umar radiallahu'anhuma:

ุฃู†ูŽู‘ ุงู…ู’ุฑูŽุฃุชูŽู‡ู ุณูŽุฃู„ูŽุชู’ู‡ูุŒ ูˆูŽู‡ููŠูŽ ุญูุจู’ู„ูŽู‰ุŒ ููŽู‚ูŽุงู„ูŽ: ุฃูู’ุทูุฑููŠุŒ ูˆูŽุฃุทู’ุนูู…ููŠ ุนูŽู†ู’ ูƒูู„ู ูŠูŽูˆู’ู…ู ู…ูุณู’ูƒููŠู’ู†ู‹ุง ูˆูŽู„ุง ุชูŽู‚ู’ุถููŠ.

โ€œBahwasanya istri beliau pernah bertanya kepadanya ketika sedang hamil, maka beliau menjawab: โ€˜Tidak perlu berpuasa, tetapi kamu harus memberi makan satu orang miskin setiap hari, dan tidak perlu mengqadha.โ€

(H.R ad-Daruquthni dalam Sunannya (no. 2388). Sanad hadits ini jayyid, lihat: Irwa al-Ghalil (IV/20) dan Shifah Shaum an-Nabi fii Ramadhan, hal. 84

Adapun dari jalan ketiga masih dari Ibnu Umar radiallahu'anhuma:

ูƒูŽุงู†ูŽุชู’ ุจูู†ู’ุชู ู„ุงุจู’ู†ู ุนูู…ูŽุฑูŽ ุชูŽุญู’ุชูŽ ุฑูŽุฌูู„ ูู…ูู†ู’ ู‚ูุฑูŽูŠู’ุดู ูˆูŽูƒูŽุงู†ูŽุชู’ ุญูŽุงู…ูู„ู‹ุงุŒ ููŽุฃุตูŽุงุจูŽู‡ุง ุนูŽุทูŽุดูŒ ููŠ ุฑูŽู…ูŽุถูŽุงู†ูŽุŒ ููŽุฃู…ูŽุฑูŽู‡ุง ุจู’ู†ู ุนูู…ูŽุฑูŽ ุฃู†ู’ ุชููู’ุทูุฑูŽ ูˆุชูุทู’ุนูู…ูŽ ุนูŽู†ู’ ูƒูŽู„ู ูŠูˆู…ู ู…ูุณู’ูƒููŠู’ู†ู‹ุง.

โ€œSalah seorang puteri Ibnu Umar menjadi istri seorang laki-laki Quraisy, dan ketika hamil ia merasa haus dahaga di siang hari bulan Ramadhan. Lalu Ibnu Umar memerintahkannya untuk berbuka dan (sebagai gantinya) agar memberi makan satu orang miskin setiap hari.โ€

(H.R ad-Daruquthni dalam Sunannya (no. 2389). Syaikh Al-Albani berkata: Sanad hadits ini shahih. Lihat: Irwa al-Ghalil (IV/20)

โœ… Berdasarkan uraian di atas maka pendapat yang mengatakan bahwa wanita hamil dan wanita yang menyusui hukumnya sama dengan orang yang sakit atau musafir, yakni apabila keduanya tidak berpusa maka wajib mengqadha puasanya adalah pendapat yang tertolak. Sebab Al-Qurโ€™an telah menjelaskan makna peniadaan kewajiban puasa bagi orang yang sakit dan musafir:

ููŽู…ูŽู†ู’ ูƒูŽุงู†ูŽ ู…ูู†ู’ูƒูู…ู’ ู…ูŽุฑููŠุถู‹ุง ุฃูŽูˆู’ ุนูŽู„ูŽู‰ ุณูŽููŽุฑู ููŽุนูุฏูŽู‘ุฉูŒ ู…ูู†ู’ ุฃูŽูŠูŽู‘ุงู…ู ุฃูุฎูŽุฑูŽ

โ€œMaka Barangsiapa di antara kamu ada yang sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa) sebanyak hari yang ditinggalkan itu pada hari-hari yang lain.โ€ (Q.S Al-Baqarah: 184)

Al-Qurโ€™an juga menjelaskan makna peniadaan kewajiban puasa bagi orang-orang yang tidak mampu menjalankannya:

ูˆูŽุนูŽู„ูŽู‰ ุงู„ูŽู‘ุฐููŠู†ูŽ ูŠูุทููŠู‚ููˆู†ูŽู‡ู ููุฏู’ูŠูŽุฉูŒ ุทูŽุนูŽุงู…ู ู…ูุณู’ูƒููŠู†ู

โ€œDan wajib bagi orang-orang yang berat menjalankannya (jika mereka tidak berpuasa) membayar fidyah, (yaitu): memberi makan seorang miskin.โ€ (Q.S Al-Baqarah: 184)

Telah sampai kepada anda bahwa wanita hamil dan wanita menyusui termasuk dalam cakupan ayat ini, bahkan ayat ini termasuk yang dikhususkan bagi mereka.

(Shifah Shaum an-Nabi fii Ramadhan, hal. 85)

________________________________

Dipost Ustadz Amir As-Soronji, Lc -hafizhahullah- Sabtu 15 Ramadhan 1438 H / 10 Juni 2017

๐ŸŒ http://www.salamdakwah.com/forum/10830-apakah-boleh-wanita-hamil-atau-menyusui-tidak-berpuasa-di-bulan-ramadhan

Silakan Login untuk menulis komentar.
© 2017 - Www.SalamDakwah.Com