SALWA RADIO - Menebar Salam, Menyebar Dakwah
Stay in touch with us:

Haruskah Bermaaf-maafan Sebelum Ramadhan ?


Ummu Adam Zakariya
Ummu Adam Zakariya
3 years ago

❓ Tanya

Assalammu'alaikum ustadz, mau tanya apakah hadits di bawah ini shahih?

*Hukum minta ma'af sebelum Ramadhan* Ketika Rasulullah sedang berkhotbah pada suatu Sholat Jum'at (dalam bulan Sya'ban), beliau mengatakan Aamin sampai tiga kali, dan para sahabat begitu mendengar Rasulullah mengatakan aamin, terkejut dan spontan mereka ikut mengatakan aamin. Tapi para sahabat bingung, kenapa Rasulullah berkata Aamin sampai tiga kali. Ketika selesai sholat Jum'at para sahabat bertanya kepada Rasulullah, kemudian menjelaskan: "ketika aku sedang berkhotbah, datanglah Malaikat Jibril dan berbisik, hai Rasulullah amin-kan doaku ini", jawab Rasulullah. Do'a Malaikat Jibril adalah sbb: Yaa Allah tolong abaikan puasa ummat Muhammad, apabila sebelum memasuki bulan Ramadhan dia tidak melakukan hal-hal yang berikut: - Tidak memohon ma'af terlebih dahulu kepada kedua orang tuanya (jika masih ada); - Tidak berma'afan terlebih dahulu antara suami isteri; - Tidak berma'afan terlebih dahulu dengan orang-orang sekitarnya. Maka Rasulullahpun Aamin sebanyak 3 kali. (Hadis shahih diriwayatkan oleh Ibnu Khuzaimah, Ahmad, dan Al Baihaqi dari sahabat Abu Hurairah ra.)

☺🌒🌝🌘 *TAK TERASA...!!!*

⭐ 21 hari lagi, Nafas menjadi Tasbih...

⭐ 21 hari lagi, Tidur menjadi Ibadah...

⭐ 21 hari lagi, Doa di ijabah...

⭐ 21 hari lagi, Pahala di lipat gandakan...

⭐ *AKAN TETAPI......*

🙏 itu semua tidak akan terjadi tanpa ma'af tulus & iklas dari hati saudara/i ku...

🙏 izinkan dari lubuk hatiku yang paling dalam, memohon ma'af untuk...

🙏 lisan yang tidak berkenan...

🙏 janji yang terabaikan...

🙏 hati yang berprasangka buruk..

🙏 sikap yang menyakitkan.

⭐ Sehingga kita di beri umur panjang dan barokah...

⭐ Sehingga kita bisa di pertemukan pada bulan Suci Ramadhan...

🙏 *Allahumma baariklanaa fii Rojaba wa Sya'bana wa ballighnaa Romadhoona waghfirlanaa dzunuubanaa...*

Aamiin yaa Robbal Alamiin....

صـلوا على النبي ﴿םבםב ﷺ﴾ اللهم صل وسلم وبارك على سيدنا محمد النبي الأمي وعلى آله وصحبه وسلم تسليماً كثيراً عدد خلقه ورضاء نفسه وزنة عرشه ومداد كلما

➖➖➖

📝 Dijawab Oleh Ustadz Abu Salma Muhammad

Itu dusta... Hadits tsb tidak ada didalam klaimnya sebagian hadits Ibnu Khuzaimah, Ahmad, dll. Hadits tsb adalah hadits _makdzûbah_ (yang dipalsukan).

Karena lafazh didalam riwayat AHMAD dan IBNU KHUZAIMAH tsb berbeda sekali.. Lafazhnya sbb :

عن أبي هريرة  أن رسول الله صلى الله عليه و سلم رقي المنبر فقال : آمين آمين آمين فقيل له : يارسول الله ما كنت تصنع هذا ؟ ! فقال : قال لي جبريل : أرغم الله أنف عبد أو بعد دخل رمضان فلم يغفر له فقلت : آمين ثم قال : رغم أنف عبد أو بعد أدرك و الديه أو أحدهما لم يدخله الجنة فقلت : آمين ثم قال : رغم أنف عبد أو بعد ذكرت عنده فلم يصل عليك فقلت : آمين  قال الأعظمي : إسناده جيد

“Dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu : Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam naik mimbar lalu bersabda: ‘Amin, Amin, Amin’. Para sahabat bertanya : “Kenapa engkau berkata demikian, wahai Rasulullah?” Kemudian beliau bersabda, “Baru saja Jibril berkata kepadaku: ‘Allah melaknat seorang hamba yang melewati Ramadhan tanpa mendapatkan ampunan’, maka kukatakan, ‘Amin’, kemudian Jibril berkata lagi, ‘Allah melaknat seorang hamba yang mengetahui kedua orang tuanya masih hidup, namun tidak membuatnya masuk Jannah (karena tidak berbakti kepada mereka berdua)’, maka aku berkata: ‘Amin’. Kemudian Jibril berkata lagi. ‘Allah melaknat seorang hambar yang tidak bershalawat ketika disebut namamu’, maka kukatakan, ‘Amin”.”

Hadits di atas shahih

---

MAAF-MAAFAN SEBELUM RAMADHAN ?

〰〰〰〰〰〰〰〰〰〰〰〰〰〰〰

Seputar kebiasaan bermaaf-maafan :

“DALAM  KESEMPATAN MENYAMBUT BULAN RAMADHAN INI SAYA beserta keluarga ingin meminta maaf atas kesalahan-kesalahan yang disengaja maupun yang tidak disengaja” itulah bunyi pesan-pesan yang beredar menjelang bulan Ramadhan.

Meminta maaf itu disyariatkan dalam Islam

🚫 NAMUN MENGKHUSUSKAN HANYA PADA BULAN SYA'BAN ATAU RAMADHAN MAKA ITU TIDAK ADA DALILNYA:

2449 - حَدَّثَنَا آدَمُ بْنُ أَبِي إِيَاسٍ، حَدَّثَنَا ابْنُ أَبِي ذِئْبٍ، حَدَّثَنَا سَعِيدٌ المَقْبُرِيُّ، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ:

«مَنْ كَانَتْ لَهُ مَظْلَمَةٌ لِأَخِيهِ مِنْ عِرْضِهِ أَوْ شَيْءٍ، فَلْيَتَحَلَّلْهُ مِنْهُ اليَوْمَ، قَبْلَ أَنْ لاَ يَكُونَ دِينَارٌ وَلاَ دِرْهَمٌ، إِنْ كَانَ لَهُ عَمَلٌ صَالِحٌ أُخِذَ مِنْهُ بِقَدْرِ مَظْلَمَتِهِ، وَإِنْ لَمْ تَكُنْ لَهُ حَسَنَاتٌ أُخِذَ مِنْ سَيِّئَاتِ صَاحِبِهِ فَحُمِلَ عَلَيْهِ»،

Imam al-Bukhori rahimahullah berkata, Telah menceritakan kepada kami Adam bin Abi Iyas (tsiqah ‘abid, wafat th. 221 H)  telah menceritakan kepada kami Ibnu Abi Dza'bi (Al-Amiry, tsizah Faqih faazhil – terpercaya lagi banyak ilmunya serta punya keutamaan, wafat th. 159 H) telah menceritakan kepada kami Sa'id Al Maqburiy (Sa’id bin Kaisan, tsiqah namun hafalannya berubah 4 tahun sebelum wafatnya th. 120 H) dari Abu Hurairah radliallahu 'anhu (wafat th. 57 H)  berkata; Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Siapa yang pernah melakukan kedzhaliman (baik dengan perkataan ataupun perbuatan) terhadap kehormatan saudaranya atau sesuatu apapun hendaklah dia meminta kehalalannya (berupa pemaafan) pada hari ini (di dunia) sebelum datang hari yang ketika itu tidak bermanfaat lagi dinar dan dirham. (Jika dia enggan untuk melakukannya maka (nanti pada hari kiamat)) bila dia memiliki amal shalih akan diambil darinya sebanyak kezholiman yang pernah dilakukannya (kepada yang didholiminya). Apabila dia tidak memiliki kebaikan lagi maka keburukan saudaranya yang dizholiminya itu akan diambil lalu dibebankan kepadanya". (HR. Bukhari no. 2449)

Kata “اليوم” (hari ini) menunjukkan bahwa meminta maaf itu dapat dilakukan kapan saja, dan yang paling baik adalah meminta maaf dengan SEGERA karena kita tidak tahu kapan ajal menjemput.

Dari hadits ini jelaslah bahwa Islam mengajarkan untuk meminta maaf, jika kita berbuat kesalahan kepada orang lain.

🚫 Adapun meminta maaf tanpa sebab dan dilakukan kepada semula orang yang ditemui maka itu tidak pernah diajarkan oleh Islam.

Jika ada yang berkata, “Manusia ‘kan tempat salah dan dosa. Mungkin saja kita berbuat salah kepada semua orang tanpa disadari.”

Yang dikatakan itu memang benar, namun apakah serta-merta kita meminta maaf kepada semua orang yang kita temui? Mengapa Shallallahu ’alaihi wa sallam dan para sahabat tidak pernah berbuat demikian? Padahal, mereka adalah orang-orang yang paling khawatir akan dosa. Selain itu, kesalahan yang tidak disengaja atau tidak disadari itu tidak dihitung sebagai dosa di sisi Allah Ta’ala.

✏ Sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam,

إِنَّ اللَّهَ قَدْ تَجَاوَزَ عَنْ أُمَّتِي الْخَطَأَ، وَالنِّسْيَانَ، وَمَا اسْتُكْرِهُوا عَلَيْهِ

Sesungguhnya, Allah telah memaafkan umatku yang berbuat salah karena tidak sengaja, karena lupa, atau karena dipaksa.” (HR Ibnu Majah, no. 2043; dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani dalam Irwaul Ghalil no. 82)

Dengan demikian, orang yang “meminta maaf tanpa sebab” kepada semua orang bisa terjerumus pada sikap ghuluw (berlebihan) dalam beragama. Begitu pula, mengkhususkan suatu waktu untuk meminta maaf dan dikerjakan secara rutin setiap tahun MAKA ITU TIDAK dibenarkan dalam Islam dan bukan TERMASUK ajaran Islam.

✏ Hal lain yang menjadi sisi negatif tradisi semacam ini adalah menunda permintaan maaf terhadap kesalahan yang dilakukan kepada orang lain hingga bulan Ramadan tiba. Beberapa orang, ketika melakukan kesalahan kepada orang lain, tidak langsung minta maaf dan sengaja ditunda sampai momen Ramadan tiba, meskipun harus menunggu selama 11 bulan.

Meski demikian, bagi orang yang memiliki kesalahan bertepatan dengan Sya’ban atau Ramadan, tidak ada larangan memanfaatkan waktu menjelang Ramadan untuk meminta maaf pada bulan ini, kepada orang yang pernah dizaliminya tersebut. Asalkan, ini tidak dijadikan kebiasaan, sehingga menjadi ritual rutin yang dilakukan setiap tahun dan dilakukan tanpa sebab.

✏ Amalan amalan di Bulan Sya'ban tidak ada yang khusus namun dianjurkan kepada kita agar memperbanyak ibadah termasuk puasa, shodaqah, membaca quran dan lain lain

🚫 Mengkhususkan hanya pada Malam Nifsu Sya'ban atau malam setengah bulan Sya'ban untuk beribadah misal sholat dan lain lain maka itu TIDAK ADA CONTOHNYA dari Nabi Shallallahu’alaihi wassalam

Semoga Bermanfaat ....

(Zaki Abu Kayyisa)

_________________________________

WAG Al Wasathiyah Wal I'tidal: Dijawab Ustadz Abu Salma Muhammad -hafizhahullah- Ahad 11 Syaban 1438 H / 7 Mei 2017

🌏 http://www.salamdakwah.com/forum/10748-haruskah-bermaaf-maafan-sebelum-ramadhan

Silakan Login untuk menulis komentar.

FORUM TERKAIT

© 2020 - Www.SalamDakwah.Com