SALWA RADIO - Menebar Salam, Menyebar Dakwah
Stay in touch with us:

Etimologi Fiqih dan Asal-usulnya


Mas Vroh
Mas Vroh
3 years ago

Fikih (Bhs Arab : ﻓﻘﻪ ; transliterasi : Fiqh) yaitu satu diantara bagian pengetahuan dalam syariat Islam yang dengan cara spesial mengulas masalah hukum yang mengatur beragam segi kehidupan manusia, baik kehidupan pribadi, bermasyarakat ataupun kehidupan manusia dengan Tuhannya. Sebagian ulama fikih seperti Imam Abu Hanifah mendeskripsikan fikih sebagai pengetahuan seseorang muslim mengenai keharusan serta haknya sebagai hamba Allah.

Fikih mengulas mengenai langkah bagaimana caranya mengenai melaksanakan ibadah, mengenai prinsip Rukun Islam serta jalinan antar manusia sesuai sama dalil-dalil yang ada dalam Al-Qur'an serta Sunnah. Dalam Islam, ada 4 mazhab dari Sunni, 1 mazhab dari Syiah, serta Khawarij yang pelajari mengenai fikih. Seorang yang telah kuasai pengetahuan fikih dimaksud Fakih.

Etimologi

Dalam bhs Arab, dengan cara harfiah fikih bermakna pemahaman yang mendalam pada satu hal. Sebagian ulama memberi penguraian kalau makna fikih dengan cara terminologi yakni fikih adalah satu pengetahuan yang memahami hukum Islam yang didapat lewat dalil di Al-Qur'an serta Sunnah. Diluar itu fikih adalah pengetahuan yang juga mengulas hukum syar'iyyah serta hubungan dengan kehidupan manusia keseharian, baik itu dalam beribadah ataupun dalam muamalah. Dalam ungkapan lain, seperti diterangkan dalam demikian banyak literatur, kalau fiqh yaitu " al-ilmu bil-ahkam asy-syar'iyyah al-amaliyyah al-muktasab min adillatiha at-tafshiliyyah ", pengetahuan mengenai hukum-hukum syari'ah praktis yang digali dari dalil-dalilnya dengan cara terinci ".

Ada beberapa pengecualian berkaitan pendefinisian ini. Dari " asy-syar'iyyah " (berbentuk syari'at), dikecualikan pengetahuan mengenai hukum-hukum terkecuali syariat, seperti pengetahuan mengenai hukum alam, seperti style gravitasi bumi. Dari " al-amaliyyah " (berbentuk praktis, diamalkan), pengetahuan mengenai hukum-hukum syari'at yang berbentuk kepercayaan atau akidah, pengetahuan mengenai ini di kenal dengan pengetahuan kalam atau pengetahuan tauhid. Dari " at-tafshiliyyah " (berbentuk terinci), pengetahuan mengenai hukum-hukum syari'at yang didapat dari dalil-dalilnya yang " ijmali " (global), umpamanya mengenai sebenarnya kalimat perintah memiliki kandungan muatan keharusan, pengetahuan mengenai ini di kenal dengan pengetahuan ushul fiqh. Jadi permisalan sederhanannya adalah seperti bagaimana tata cara sholat dhuha dilaksanakan.

Saat Nabi Muhammad shalallahu alaihi wa sallam

Saat Nabi Muhammad shalallahu alaihi wa sallam ini dapat dikatakan sebagai periode risalah, lantaran pada bebrapa saat ini agama Islam baru didakwahkan. Pada periode ini, persoalan fikih diserahkan seutuhnya pada Nabi Muhammad shalallahu alaihi wa sallam. Sumber hukum Islam waktu itu yaitu wahyu dari Allah SWT dan pengucapan serta tingkah laku Nabi SAW. Periode Risalah ini bisa dibagi jadi dua sisi, yakni periode Makkah serta periode Madinah. Periode Makkah lebih tertuju pada permasalah akidah, lantaran disinilah agama Islam pertama kalinya disebarkan. Ayat-ayat yang diwahyukan semakin banyak pada permasalahan ketauhidan serta keimanan.

Sesudah pindah, barulah ayat-ayat yang mewahyukan perintah untuk lakukan puasa, zakat serta haji di turunkan dengan cara bertahap. Ayat-ayat ini diwahyukan saat nampak satu persoalan, seperti masalah seseorang wanita yang diceraikan dengan cara sepihak oleh suaminya, serta lalu turun wahyu dalam surat Al-Mujadilah. Pada periode Madinah ini, ijtihad mulai diaplikasikan, meskipun selanjutnya bakal kembali ke wahyu Allah pada Nabi Muhammad saw.

Saat Khulafaur Rasyidin

Saat ini diawali mulai sejak meninggal dunianya Nabi Muhammad saw hingga pada saat berdirinya Dinasti Umayyah ditangan Mu'awiyah bin Abi Sufyan. Sumber fikih pada periode ini dilandasi pada Al-Qur'an serta Sunnah juga ijtihad beberapa teman dekat Nabi Muhammad yang masihlah hidup. Ijtihad dikerjakan ketika satu permasalahan tak diketahui dalilnya dalam nash Al-Qur'an ataupun Hadis. Persoalan yang nampak makin kompleks sesudah banyak macam budaya serta etnis yang masuk kedalam agama Islam.

Pada periode ini, beberapa faqih mulai berbenturan dengan kebiasaan, budaya serta kebiasaan yang ada pada orang-orang Islam saat itu. Saat temukan satu permasalahan, beberapa faqih berupaya mencari jawabannya dari Al-Qur'an. Bila di Al-Qur'an tak diketahui dalil yang pasti, jadi hadis jadi sumber ke-2. Apabila tak ada landasan yang pasti juga di Hadis jadi beberapa faqih ini lakukan ijtihad.

Menurut riset Ibnu Qayyim, tak kurang dari 130 orang faqih dari pria serta wanita memberi fatwa, yang disebut pendapat faqih mengenai hukum.

Saat Awal Perkembangan Fikih

Saat ini berjalan mulai sejak berkuasanya Mu'awiyah bin Abi Sufyan hingga sekitaran era ke-2 Hijriah. Referensi dalam hadapi satu persoalan tetap masih sama yakni dengan Al-Qur'an, Sunnah serta Ijtihad beberapa faqih. Namun, sistem musyawarah beberapa faqih yang membuahkan ijtihad ini kerapkali terhalang dikarenakan oleh menyebar luasnya beberapa ulama di bebrapa lokasi yang diambil oleh Kekhalifahan Islam.

Awalilah nampak perpecahan pada umat Islam jadi tiga kelompok yakni Sunni, Syiah, serta Khawarij. Perpecahan ini punya pengaruh besar pada pengetahuan fikih, lantaran bakal nampak sangat banyak pandangan-pandangan yang tidak sama dari tiap-tiap faqih dari kelompok itu. Saat ini dapat diwarnai dengan timbulnya hadis-hadis palsu yang menyuburkan ketidaksamaan pendapat pada faqih.

Pada saat ini, beberapa faqih seperti Ibnu Mas'ud mulai memakai nalar dalam berijtihad. Ibnu Mas'ud saat itu ada di daerah Iraq yang kebudayaannya tidak sama dengan daerah Hijaz tempat Islam awalannya berawal. Umar bin Khattab pernah memakai pola yang di mana mementingkan kemaslahatan umat dibanding dengan keterikatan bakal arti harfiah dari kitab suci, serta digunakan oleh beberapa faqih termasuk juga Ibnu Mas'ud untuk berikan ijtihad di daerah dimana mereka ada.

Silakan Login untuk menulis komentar.
© 2020 - Www.SalamDakwah.Com