SALWA RADIO - Menebar Salam, Menyebar Dakwah
Stay in touch with us:

Hukum Makan Kepiting dalam Islam


Dzulfikar Abdul F
Dzulfikar Abdul F
3 years ago

kepiting asam manis.jpg

Kepiting merupakan binatang laut yang dapat dikreasikan menjadi makanan lezat. Namun habitat kepiting yang diduga hidup di dua alam menimbulkan pro dan kontra tentang halal atau haramnya hewan ini untuk dikonsumsi. Terlebih adanya pertentangan pendapat di tengah lingkungan ulama di Indonesia terkait hal tersebut, membuat masyarakat bimbang tentang status hukum memakan kepiting yang masih dipertanyakan kehalalannya.

Ada dua perbedaan pendapat ulama yang menjelaskan tentang perkara ini, yaitu kepiting halal dan haram apabila dimakan. Pendapat yang mengatakan bahwa satwa ini haram dimakan merujuk pada kitab al-Maj’mu’ Syarah al-Muhaddzab. Dalam kitab ini dijelaskan bahwa kepiting dapat hidup di darat dan di air sehingga dikategorikan memiliki habitat dua alam. Mayoritas ulama yang menyatakan haram merujuk pada pendapat ini.

Sementara pemikiran ulama yang menyatakan bahwa kepiting halal dimakan mengacu pada beberapa surat dari Al-Quran. Menanggapi kontroversi yang terjadi di masyarakat, Majelis Ulama Indonesia (MUI) melakukan kajian untuk memastikan halal atau haramnya hewan ini untuk dimakan.

Keputusan MUI yang disetujui pada tahun 2012 lalu memastikan bahwa hukum mengonsumsi kepiting adalah halal. Berdasarkan lembaga ini, kepiting adalah binatang yang tempat tinggalnya di air serta bernafas dengan insang, sehingga tidak dikategorikan hewan yang hidup di dua alam. Memang, binatang itu bisa bertahan di darat, namun waktunya terbatas. Apabila persediaan air habis, maka kepiting tidak bisa bertahan hidup.

MUI juga mengacu pada Surah Al-Maidah: 96 yang artinya “Dihalalkan bagi kalian untuk memburu hewan laut (ketika ihram) dan bangkai hewannya, sebagai kenikmatan bagi kalian dan sebagai (bekal) bagi para musafir (Al-Maidah: 96).

Hal ini juga didukung dengan Hadist Riwayat Abu Hurairah tentang sabda Rasulullah SAW yang menyatakan bahwa "Laut itu airnya suci dan bangkainya halal."

Dalam memastikan halal dan haram, MUI memiliki tiga rujukan diantaranya adanya dalil berupa nash (Al-Quran atau hadis) yang menyebutkan makanan itu halal. Adanya nash yang menyatakan haram. Ketiga, tidak ada nash yang menyebutkan haram atau halal. Makanan yang dinyatakan halal oleh nash, antara lain, binatang laut.

Menurut MUI, kepiting termasuk satwa yang tidak ditegaskan oleh nash mengenai halal atau haramnya. Maka ketentuan hukumnya kembali kepada hukum asal segala sesuatu yang pada dasarnya adalah halal sepanjang tidak menimbulkan dampak buruk bagi jasmani dan rohani.

Penentuan halal ini juga memperhatikan kitab-kitab serta pendapat ulama besar lainnya. Seperti pendapat Imam Al Ramli tentang binatang laut, pendapat Syeikh Muhammad al-Kathib, serta pendapat peneliti yang telah melakukan kajian tentang habitat hidup kepiting.

Hal ini tentu menjadi pedoman bagi umat Islam yang awalnya ragu-ragu dengan hukum memakan satwa ini. Dengan adanya status ini, kini umat islam sudah bisa menikmati rezeki berupa makanan laut lezat yang bisa diolah menjadi menu istimewa. Bagi anda yang belum bisa makan kepiting, bisa baca cara makan kepiting

sumber: http://www.infoyunik.com/2015/07/hidup-di-dua-alam-benarkah-kepiting.html

Silakan Login untuk menulis komentar.

FORUM TERKAIT

© 2019 - Www.SalamDakwah.Com