SALWA RADIO - Menebar Salam, Menyebar Dakwah
Stay in touch with us:

Talangan Haji: Contoh Nyata Transaksi Riba


Wahjudi irbarianto
Wahjudi irbarianto
8 years ago

Talangan Haji: Contoh Nyata Transaksi Riba



11 Maret 2011 •oleh: Ust. Ammi Nur Baits •



Ketika sedang menunggu shalat berjamaah di salah satu masjid,

tiba-tiba ada seorang jamaah yang menyapa saya, "Mas, daftar haji

untuk tahun ini, baru bisa berangkat 2018. Untuk bisa daftar, cukup

dengan modal 5 jutaan. Nanti, bayar DP 5 jutaan di bank-bank syariah.

Sambil melunasi, kita bayar ujrah sekitar 1,5 juta." Merasa penasaran,

saya balik bertanya, "Kok, malah kita disuruh bayar, kita 'kan yang

naruh uang di bank?" Bapak itu, yang kebetulan pemilik salah satu KBIH

di Yogyakarta, akhirnya melengkapi penjelasannya, "Kita bayar 5 juta,

nanti bank syariah memberikan fasilitas talangan haji sebesar 25 juta.

Ujrah itu sebagai ganti dari biaya talangan haji yang diberikan bank."



Sedikit memahami proses transaksi yang beliau sampaikan, saya pun

menyelai, "Oh ..., itu transaksi riba!" Sang Bapak terheran, "Masak

riba? Itu, pelaksananya bank syariah." Saya mencoba menjelaskan,

"Tapi, hakikatnya 'kan bank meminjamkan uang ke kita untuk pelunasan

biaya haji, dan kita membayar bunga pinjaman ke bank. Itu riba ...."

Sang Bapak masih belum bisa menerima, "Ah, enggak lah .... Masak riba?

Mestinya 'kan sudah direkomendasi dewan syariah yang bertanggung jawab

untuk pelaksanaan transaksi bank syariah." Sesaat sebelum iqamah

dikumandangkan, Sang Bapak mengatakan, “Kalau itu dilarang, terus,

dari mana bank dapat uang?” Sebelum sempat menyempurnakan diskusi,

iqamah dikumandangkan.



Ya, itulah sekilas gambaran pemahaman orang awam terkait dengan

transaksi yang dijalankan oleh bank-bank syariah di tempat kita. Nama

nge-tren "syariah", yang dipampang mengiringi kata "bank", telah

menjadi legitimasi tersendiri bagi semua kegiatan transaksinya. Dengan

nama ini, banyak orang yang menganggap semua transaksi di bank

tersebut telah dijamin seratus 100% halal, la raiba fihi (tanpa ada

keraguan di dalamnya).



Di sisi lain, kesadaran kaum muslimin di tempat kita akan bahaya dan

haramnya riba (baca: bunga bank) banyak mengalami kemajuan. Ini adalah

satu realita yang patut kita banggakan dan kita syukuri. Realita ini

setidaknya telah membuat mereka sedikit selektif dalam melakukan

transaksi keuangan.



Dua fenomena di atas tidaklah membuat bingung para penggiat kegiatan

perbankan. Semenjak munculnya fenomena "bank syariah" dan "BMT", semua

lembaga bank konvensional berduyun-duyun menjelmakan dirinya menjadi

“bank syariah”. Semua berusaha bernaung di bawah legitimasi “syariah”.

Tidak hanya itu; semua istilah yang biasanya digunakan dalam transaksi

bank konvensional, “dipaksa” untuk disesuaikan dengan istilah yang

ber-”bau” syariah.



Terkait dengan hal ini, saya teringat sebuah hadits dari Abu Malik

Al-Asy'ari radhiallahu 'anhu, bahwa Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam

bersabda,



ليشربن ناس من أمتى الخمر يسمونها بغير اسمها

"Sungguh, akan ada sekelompok manusia di kalangan umatku yang meminum

khamar dan mereka menamakannya dengan selain namanya." (HR. Ahmad, Abu

Daud, dan Ibnu Majah; dinilai sahih oleh Al-Albani)



Dalam riwayat yang lain, Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,



ليشربن ناس من أمتي الخمر . يسمونها بغير اسمها . يعزف على رءوسهم

بالمعازف والمغنيات يخسف الله بهم الأرض . ويجعل منهم القردة والخنازير

"Sungguh, akan ada sekelompok manusia di kalangan umatku yang meminum

khamar dan mereka menamakannya dengan selain namannya, sambil

ditabuhnya alat-alat musik di dekatnya, kemudian Allah menenggelamkan

(sebagian) mereka ke bumi, dan sebagian lagi dikutuk menjadi kera dan

babi." (HR. Ibnu Majah; dinilai sahih oleh Al-Albani)



Semua orang paham bahwa maksiat itu jelek. Semua orang paham bahwa

barang haram itu tidak boleh dikonsumsi. Karena itu, kita tidak jumpai

ada dukun yang mempromosikan dirinya dengan nama “dukun” atau

“penyihir”. Demikian pula, kita tidak jumpai ada minuman keras yang

diiklankan dengan nama “khamar”, namun mereka gunakan nama yang sangat

indah: bir (dalam bahasa Arab: البِرّ, artinya: 'berbakti' atau

'berbuat baik').



Pada kasus yang sama, ketika banyak orang mulai sadar akan haramnya

riba (baca: bunga), mereka gunakan nama “ujrah” (dalam bahasa Arab:

أجرة, artinya 'upah') untuk menyebut “bunga pinjaman”, dan “bagi

hasil” untuk menyebut “bunga tabungan”.



Hilah (kamuflase kemaksiatan)



Permasalahan akan lebih ringan, ketika perbuatan maksiat itu dilakukan

tanpa diiringi dengan hilah (trik untuk menghalalkan perkara yang

haram). Ketika orang yang melakukan perbuatan maksiat itu tahu bahwa

yang dia lakukan adalah kemaksiatan, masih ada peluang baginya untuk

bertobat. Karena itu, balasan bagi orang yang melakukan hilah lebih

berat dibandingkan kemaksiatan yang tidak disertai dengan hilah. Saat

menjelaskan hadits dari Abu Malik Al-Asy'ari di atas, Al-Hafizh Ibnu

Hajar Al-Asqalani mengatakan,



في هذا الحديث وعيد شديد على من يتحيل في تحليل ما يحرم بتغيير اسمه

"Pada hadits ini terdapat ancaman keras bagi orang yang melakukan

rekayasa untuk menghalalkan hal-hal yang telah Allah haramkan dengan

cara mengubah namanya." (Fathul Bari, 10:56)



Bahkan, di antara sebab siksaan yang diberikan kepada orang Yahudi

adalah kebiasaan mereka melakukan hilah untuk menghalalkan sesuatu

yang Allah haramkan. Allah berfirman,



وَلَقَدْ عَلِمْتُمُ الَّذِينَ اعْتَدَوْا مِنْكُمْ فِي السَّبْت

فَقُلْنَا لَهُمْ كُونُوا قِرَدَةً خَاسِئِينَ

“Sungguh, kalian telah mengetahui tentang orang-orang yang melampaui

batas di hari Sabtu. Maka, kami firmankan, 'Jadilah kalian kera yang

hina!'” (QS. Al-Baqarah:65)



Hukuman ini diberikan oleh Allah ketika mereka melakukan hilah untuk

melanggar hal yang Allah larang. Ibnu Katsir mengatakan, “Ayat ini

menceritakan tentang penduduk kampung yang durhaka terhadap aturan

Allah dan melanggar perjanjian dengan-Nya, di saat Allah memerintahkan

mereka agar mengagungkan hari Sabtu sebagai waktu beribadah (sehingga

mereka dilarang untuk menangkap ikan). Akan tetapi, mereka melakukan

hilah dengan menangkap ikan di hari Sabtu, (yaitu dengan cara)

memasang jaring dan perangkap ikan di hari Jumat. Ketika hari Sabtu,

banyak ikan-ikan yang berdatangan dan masuk dalam perangkap mereka.

Malam harinya (setelah berlalunya hari Sabtu), mereka mengambil

ikan-ikan itu. Karena perbuatan mereka ini, Allah mengubah mereka

menjadi kera.” (Tafsir Ibnu Katsir, 1:228)



Inti pelanggaran penduduk kampung Yahudi ini adalah perbuatan hilah

yang mereka lakukan, dalam rangka melanggar aturan Allah. Ini

merupakan beberapa hikmah sehingga Allah mengubah mereka menjadi kera;

kera merupakan binatang yang paling mirip dengan manusia. Sebagaimana

yang dikatakan oleh Ibnu Katsir, “Dengan menimbang bahwa perbuatan dan

hilah yang mereka lakukan itu bentuknya mirip dengan kebenaran secara

zahir (yang nampak) namun aslinya bertolak belakang dengan kebenaran

secara batin (tidak nampak), maka balasan yang mereka terima itu

sejenis dengan amalnya (yaitu diubah menjadi hewan yang mirip dengan

manusia).” (Tafsir Ibnu Katsir, 1:228)



Kaidah penting dalam memahami istilah



Berdasarkan hadits Abu Malik Al-Asy'ari di atas dan beberapa hadis

yang semakna, para ulama menetapkan sebuah kaidah:



الأسماء لا تغير الحقيقة والحكم

“Perubahan nama tidak mengubah hakikat dan hukum.”



Inilah kaidah yang selayaknya kita pegang dalam memahami berbagai

fenomena baru. Lebih-lebih, terkait dengan aturan halal-haram. Betapa

banyak orang yang berupaya untuk berusaha menghalalkan sesuatu yang

Allah haramkan.



Di antara sikap yang tepat, terkait muamalah, jangan sungkan-sungkan

untuk menanyakan setiap transaksi baru kepada ahlinya. Setidaknya, ini

bisa menjadi langkah hati-hati bagi kita dalam bermuamalah.



Transaksi sosial bukan untuk mencari keuntungan



Di bagian akhir diskusi yang tidak seimbang antara saya dengan Sang

Bapak, ada bagian penting untuk kita perhatikan, “Kalau itu dilarang,

terus, dari mana bank dapat uang?”



Saudaraku, kaum muslimin, patut untuk kita pahami bahwa transaksi

keuangan yang kita lakukan secara umum bisa kita kelompokkan menjadi

dua:



Pertama: Transaksi mu'awwadhat (komersial). Misalnya: jual beli,

sewa-menyewa, permodalan, dan yang lainnya. Untuk transaksi model

pertama ini, kita diperkenankan mengambil keuntungan sesuai dengan

yang kita inginkan.



Kedua: Transaksi tabarru'at (sosial). Misalnya: utang-piutang atau

pinjam-meminjam. Dalam transaksi yang murni untuk maksud sosial, para

ulama menyepakati terlarangnya mengambil keuntungan dari salah satu

pihak. Hal ini berdasarkan riwayat dari Fudhalah bin Ubaid radhiallahu

'anhu, bahwa beliau mengatakan,



كل قرض جر منفعة فهو ربا

“Setiap piutang yang memberikan keuntungan maka (keuntungan) itu adalah riba.”



Keuntungan yang dimaksud dalam riwayat di atas mencakup semua bentuk

keuntungan, bahkan sampai bentuk keuntungan pelayanan. Diriwayatkan

dari Anas bin Malik radhiallahu 'anhu,



إذا أقرض أحدكم قرضا فأهدى له أو حمله على الدابة فلا يركبها ولا يقبله

“Apabila kalian mengutangkan sesuatu kepada orang lain, kemudian

(orang yang berutang) memberi hadiah kepada yang mengutangi atau

memberi layanan berupa naik kendaraannya (dengan gratis), janganlah

menaikinya dan jangan menerimanya.” (HR. Ibnu Majah; hadits ini

memiliki beberapa penguat)



Dalam riwayat yang lain, dari Abdullah bin Sallam, bahwa beliau

mengatakan, “Apabila kamu mengutangi orang lain, kemudian orang yang

diutangi memberikan fasilitas membawakan jerami, gandum, atau pakan

ternak maka janganlah menerimanya, karena itu riba.” (HR. Bukhari)



Ketika seseorang tidak sanggup melakukan transaksi sosial tanpa

keuntungan, sebaiknya dia tidak coba-coba memaksa dirinya untuk

melakukannya, karena justru dia akan terjerumus ke dalam perbuatan

dosa yang lebih besar.



Semoga Allah menyelamatkan kita dari jaring-jaring riba. Amin.



***



Penulis: Ust. Ammi Nur Baits, S.T.





Artikel www.pengusahamuslim.com
Silakan Login untuk menulis komentar.

FORUM TERKAIT

© 2020 - Www.SalamDakwah.Com