Logo

Mobile APP:

Stay in touch with us:

Islamic Calendar Widgets by Alhabib

TANYA USTADZ

Zakat Fitrah dan Fidyah Dengan Uang?Apakah Boleh Membayar Fidyah Orang Tua?

Sabtu, 20 Juli 2013 , 13:03:36
Penanya : Akhwat
Daerah Asal : Bandung

Follow:

السلام عليكم ,Usatadz
Ana mau tanya:
1.Bolehkah Zakat fitrah dan Fidyah dibayar dengan uang?
2.Bolehkah anak membayarkan fidyah orang tua yg sudah uzur dan tidak sanggup lagi berpuasa? (Orang tua ana setiap bulan dapat pensiun janda)

Mohon jawabannya ustadz, شُكْرًا كَثِيرً
WWasaalamualaikum waramatulloh

Jawab :


وعليكم السلام ورحمة الله وبركاته


1. Berikut ini dua fatwa terkait pertanyaan yang dilontarkan:
- Komite Tetap Riset Ilmiah dan Fatwa di Arab Saudi memberikan keterangan berikut:
Tidak boleh membayarkan uang sebagai ganti makanan dalam urusan zakat fitrah, sebab Nabi shallallahu alaihi wa sallam memerintahkan supaya makanan yang dikeluarkan untuk zakat fitrah, dan ukurannya adalah 1 sha', ini menunjukkan penentuan makanan dan tidak sahnya mengeluarkan nominal. Orang fakir bisa menjualnya setelah ia menerima makanan, untuk kemudian ia memanfaatkan hasil penjualan dalam memenuhi kebutuhannya. Fatawa al-Lajnah ad-Daimah II 8/261 no.5

- Berikut ini kami bawakan keterangan syaikh Utsaimin rahimahullah:
Apa yang disebutkan dalam Nash dengan lafadh Makanan atau memberi makan maka uang tidak bisa menggantikannya, oleh karena itu orang tua yang wajib memberi makan orang miskin sebagai pengganti puasa maka tidak boleh mengeluarkan uang sebagai pengganti memberi makan.

Seandainya ia mengeluarkan uang nilainya10 kali lipat lebih besar dari nilai makanan yang seharusnya diberikan maka ini tidak cukup (sah.pent) karena ini menyimpang dari Nash....Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda:


مَنْ عَمِلَ عَمَلًا لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَد


Barang siapa mengerjakan suatu amalan yang tidak ada perintah kami maka dia tertolak. HR. Bukhari dan Muslim no.1718.
Majmu' Fatawa wa Rasail Al-Utsaimin 19/117

2. Apabila orang yang diwajibkan untuk membayar fidyah tidak memiliki kemampuan membayar fidyah maka kewajiban itu telah gugur, akan tetapi bila ada orang lain yang ingin membayar fidyah atas nama orang yang tidak mampu itu maka itu dibolehkan. dalilnya adalah:


أَنَّ أَبَا هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، قَالَ: بَيْنَمَا نَحْنُ جُلُوسٌ عِنْدَ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، إِذْ جَاءَهُ رَجُلٌ فَقَالَ: يَا رَسُولَ اللَّهِ هَلَكْتُ. قَالَ: «مَا لَكَ؟» قَالَ: وَقَعْتُ عَلَى امْرَأَتِي وَأَنَا صَائِمٌ، فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «هَلْ تَجِدُ رَقَبَةً تُعْتِقُهَا؟» قَالَ: لاَ، قَالَ: «فَهَلْ تَسْتَطِيعُ أَنْ تَصُومَ شَهْرَيْنِ مُتَتَابِعَيْنِ» ، قَالَ: لاَ، فَقَالَ: «فَهَلْ تَجِدُ إِطْعَامَ سِتِّينَ مِسْكِينًا» . قَالَ: لاَ، قَالَ: فَمَكَثَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَبَيْنَا نَحْنُ عَلَى ذَلِكَ أُتِيَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِعَرَقٍ فِيهَا تَمْرٌ - وَالعَرَقُ المِكْتَلُ - قَالَ: «أَيْنَ السَّائِلُ؟» فَقَالَ: أَنَا، قَالَ: «خُذْهَا، فَتَصَدَّقْ بِهِ» فَقَالَ الرَّجُلُ: أَعَلَى أَفْقَرَ مِنِّي يَا رَسُولَ اللَّهِ؟ فَوَاللَّهِ مَا بَيْنَ لاَبَتَيْهَا - يُرِيدُ الحَرَّتَيْنِ - أَهْلُ بَيْتٍ أَفْقَرُ مِنْ أَهْلِ بَيْتِي، فَضَحِكَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حَتَّى بَدَتْ أَنْيَابُهُ، ثُمَّ قَالَ: «أَطْعِمْهُ أَهْلَكَ»


Abu Hurairah radliallahu 'anhu berkata: "Ketika kami sedang duduk bermajelis bersama Nabi shallallahu 'alaihi wasallam tiba-tiba datang seorang laki-laki lalu berkata: "Wahai Rasulullah, binasalah aku". Beliau bertanya: "Ada apa denganmu?". Orang itu menjawab: "Aku telah berhubungan dengan isteriku sedangkan aku sedang berpuasa". Maka Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bertanya: "Apakah kamu memiliki budak untuk dibebaskan?". Orang itu menjawab: "Tidak". Lalu Beliau bertanya lagi: "Apakah kamu sanggup bila harus berpuasa selama dua bulan berturut-turut?". Orang itu menjawab: "Tidak". Lalu Beliau bertanya lagi: "Apakah kamu memiliki makanan untuk diberikan kepada enam puluh orang miskin?". Orang itu menjawab: "Tidak". Sejenak Nabi shallallahu 'alaihi wasallam terdiam. Ketika kami masih dalam keadaan tadi, Nabi shallallahu 'alaihi wasallam diberikan satu keranjang berisi kurma, lalu Beliau bertanya: "Mana orang yang bertanya tadi?". Orang itu menjawab: "Aku". Maka Beliau berkata: "Ambillah kurma ini lalu bershadaqahlah dengannya". Orang itu berkata: "Apakah ini diberikan kepada orang yang lebih fakir dariku wahai Rasulullah. Demi Allah? tidak ada keluarga yang tinggal diantara dua perbatasan, yang dia maksud adalah dua gurun pasir, yang lebih faqir daripada keluargaku". Mendengar itu Nabi shallallahu 'alaihi wasallam menjadi tertawa hingga tampak gigi seri Beliau. Kemudian Beliau berkata: "Kalau begitu berilah makan keluargamu dengan kurma ini. HR. Bukhari no.1936 dan Muslim no.1111


وبالله التوفيق

Oleh : Redaksi salamdakwah.com
Sudah dibaca oleh 959 orang

Sharing: