Logo

Mobile APP:

Stay in touch with us:

Islamic Calendar Widgets by Alhabib

TANYA USTADZ

Kaffarah Jima Pada Siang Hari Ramadhan, Bagaimana Hukum Istri?Bagaimana Bila Dibayar Uang?

Jum'at, 28 Juni 2013 , 13:57:59
Penanya : Ikhwan
Daerah Asal : Jakarta

Follow:

Assalamu alaikum warohmatullahi wabarokatuh,
Ustadz Hafidzohulloh,

Saya ingin bertanya
1. Bagaimana cara membayar fidyah untuk orang yang berhubungan badan dengan istri saat berpuasa romadhon karena saya tidak sanggup berpuasa 2 bulan berturut-turut.
2. Apakah istri saya juga harus membayar fidyah tersebut.
3. Bagaimana jika fidyah tersebut diganti dengan uang, berapa jumlah yang harus saya keluarkan dan dimana tempat yang cocok untuk memberikan uang tersebut.

Mohon kiranya Ustadz dapat memberikan jawaban atas pertanyaan ini secepatnya karena mendekati bulan puasa saya belum membayar kafarat apapun.

Jawab :


‎​وَعَلَيْكُمْ السَّلاَمُ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ


Berikut ini riwayat shahih terkait kaffarah mendatangi istri pada siang hari bulan Ramadhan:


أَنَّ أَبَا هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، قَالَ: بَيْنَمَا نَحْنُ جُلُوسٌ عِنْدَ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، إِذْ جَاءَهُ رَجُلٌ فَقَالَ: يَا رَسُولَ اللَّهِ هَلَكْتُ. قَالَ: «مَا لَكَ؟» قَالَ: وَقَعْتُ عَلَى امْرَأَتِي وَأَنَا صَائِمٌ، فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «هَلْ تَجِدُ رَقَبَةً تُعْتِقُهَا؟» قَالَ: لاَ، قَالَ: «فَهَلْ تَسْتَطِيعُ أَنْ تَصُومَ شَهْرَيْنِ مُتَتَابِعَيْنِ» ، قَالَ: لاَ، فَقَالَ: «فَهَلْ تَجِدُ إِطْعَامَ سِتِّينَ مِسْكِينًا» . قَالَ: لاَ، قَالَ: فَمَكَثَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَبَيْنَا نَحْنُ عَلَى ذَلِكَ أُتِيَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِعَرَقٍ فِيهَا تَمْرٌ - وَالعَرَقُ المِكْتَلُ - قَالَ: «أَيْنَ السَّائِلُ؟» فَقَالَ: أَنَا، قَالَ: «خُذْهَا، فَتَصَدَّقْ بِهِ» فَقَالَ الرَّجُلُ: أَعَلَى أَفْقَرَ مِنِّي يَا رَسُولَ اللَّهِ؟ فَوَاللَّهِ مَا بَيْنَ لاَبَتَيْهَا - يُرِيدُ الحَرَّتَيْنِ - أَهْلُ بَيْتٍ أَفْقَرُ مِنْ أَهْلِ بَيْتِي، فَضَحِكَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حَتَّى بَدَتْ أَنْيَابُهُ، ثُمَّ قَالَ: «أَطْعِمْهُ أَهْلَكَ»


Abu Hurairah radliallahu 'anhu berkata: "Ketika kami sedang duduk bermajelis bersama Nabi shallallahu 'alaihi wasallam tiba-tiba datang seorang laki-laki lalu berkata: "Wahai Rasulullah, binasalah aku". Beliau bertanya: "Ada apa denganmu?". Orang itu menjawab: "Aku telah berhubungan dengan isteriku sedangkan aku sedang berpuasa". Maka Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bertanya: "Apakah kamu memiliki budak untuk dibebaskan?". Orang itu menjawab: "Tidak". Lalu Beliau bertanya lagi: "Apakah kamu sanggup bila harus berpuasa selama dua bulan berturut-turut?". Orang itu menjawab: "Tidak". Lalu Beliau bertanya lagi: "Apakah kamu memiliki makanan untuk diberikan kepada enam puluh orang miskin?". Orang itu menjawab: "Tidak". Sejenak Nabi shallallahu 'alaihi wasallam terdiam. Ketika kami masih dalam keadaan tadi, Nabi shallallahu 'alaihi wasallam diberikan satu keranjang berisi kurma, lalu Beliau bertanya: "Mana orang yang bertanya tadi?". Orang itu menjawab: "Aku". Maka Beliau berkata: "Ambillah kurma ini lalu bershadaqahlah dengannya". Orang itu berkata: "Apakah ini diberikan kepada orang yang lebih fakir dariku wahai Rasulullah. Demi Allah? tidak ada keluarga yang tinggal diantara dua perbatasan, yang dia maksud adalah dua gurun pasir, yang lebih faqir daripada keluargaku". Mendengar itu Nabi shallallahu 'alaihi wasallam menjadi tertawa hingga tampak gigi seri Beliau. Kemudian Beliau berkata: "Kalau begitu berilah makan keluargamu dengan kurma ini. HR. Bukhari no.1936 dan Muslim no.1111

Ulama' menerangkan bahwa kaffarah tadi harus disertai dengan mengqadha' puasanya.

Adapun hukum istri yang didatangi maka perlu diperinci, syaikh Utsaimin mengatakan:
Apabila seorang wanita berudzur karena ketidaktahuan, lupa atau dipaksa maka wajib atasnya untuk mengqadha' tanpa membayar kaffarah...
Apabila ia taat maka wajib atasnya untuk mengqadha' dan membayar kaffarah (maksudnya hukumannya sama dengan hukuman laki-laki.pen)
Asy-Syarh Al-Mumti' Ala Zad Al-Mustaqni' 6/401

Apabila seseorang yang diwajibkan atasnya membayar kaffarah ingin melaksanakan bentuk ketiga maka ia tidak boleh menggantinya dengan uang. Komite Tetap Fatwa dan Riset Ilmiah Arab Saudi menerangkan:
Wajib mengeluarkan kaffarah sebagaimana nash yang ada dan tidak ada pada nash itu mengeluarkan uang, maka wajib melaksanakan sesuai perintah syariat. Fatawa Al-Lajnah Ad-Daimah II 9/246


وصلى الله على نبينا محمد وعلى آله وصحبه وسلم

Oleh : Redaksi salamdakwah.com
Sudah dibaca oleh 843 orang

Sharing: