SALWA RADIO - Menebar Salam, Menyebar Dakwah
Stay in touch with us:

Ditawari Untuk Menikah Dengan Janda Kaya


Ikhwan
3 years ago

Assalamu, alaikum.
Ana seorang pemuda yang ingin menikah,
Namun ana bingung ada seorang janda anak 1, kaya, yang menawarkan diri nya untuk di nikahi,

Dan dia berniat umroh,namun dia belum mempunyai mahrom, dia ingin saya menjadi mahrom nya.

Bagai mana sikap ana,apakah ini termasuk tawaran yang mulia.

Syukron
Redaksi salamdakwah.com
3 years ago


وعليكم السلام ورحمة الله وبركاته

Kami di sini ingin lebih menyoroti terkait menikahi janda dan terkait kegiatan penawaran seorang wanita untuk menikahinya. Secara umum seorang laki-laki dianjurkan oleh Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam untuk menikah dengan seorang gadis namun menikahi seorang janda bisa jadi lebih afdhal bila ada faktor-faktor yang mendukungnya. Syaikh Utsaimin rahimahullah menerangkan,"
Ucapannya : al-Bikru maksudnya adalah perempuan yang belum pernah menikah sebelumnya, Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda kepada Jabir bin Abdillah radhiyallahu anhuma ketika beliau bertanya kepada Jabir:
"Apakah engkau telah menikah?" Ya, beliau bertanya lagi, "apakah istrimu gadis atau janda", Jabir menjawab, "janda" beliau, kenapa engkau tidak memilih gadis Kenapa tidak dengan seorang gadis, agar kamu bisa bercumbu rayu dengannya dan dia bisa bercumbu rayu denganmu?

Menikahi gadis lebih afdhal sebab:
- ia belum ada hasrat terhadap laki-laki sebelum dia.
- hatinya juga belum terkait dengan salah seorang laki-laki lain sebelumnya. - - laki-laki yang akan dinikahi adalah laki-laki pertama yang berhubungan dengannya sehingga perempuan ini lebih terikat dengannya

Namun kadang seseorang memilih janda karena beberapa alasan seperti yang dilakukan oleh Jabir bin Abdillah radhiyallahu anhuma, dia memilih janda sebagai istrinya sebab ayah nya Abdullah bin Haram radhiyallahu anhu syahid di medan perang Uhud, dia meninggalkan beberapa putri yang perlu untuk diurus, seandainya ia menikah dengan perawan niscaya istrinya belum bisa untuk melayani saudari-saudarinya dan belum bisa memberi mereka makan oleh karena itu dia memilih seorang janda sebagai pendamping untuk mengurusi saudari-saudarinya.

Oleh karena itu ketika Jabir radhiyallahu anhu memberitahukannya kepada Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam Beliau shallallahu alaihi wa sallam tidak mengingkarinya, apabila seseorang memilih janda untuk tujuan-tujuan lain maka itu bisa menjadi lebih utama. Dalam kisah ini ada dalil dipertimbangkannya faktor-faktor, dan pengutamaannya kembali ke pertimbangan-pertimbangan tersebut sebagaimana telah disebutkan. Asy-Syarh al-Mumti' ala Zad al-Mustaqni' 12/15-16

Berikut ini salah satu matan dari hadits yang disebutkan oleh syaikh Utsaimin rahimahullah,"

، عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللهِ، أَنَّ عَبْدَ اللهِ هَلَكَ، وَتَرَكَ تِسْعَ بَنَاتٍ - أَوْ قَالَ سَبْعَ - فَتَزَوَّجْتُ امْرَأَةً ثَيِّبًا، فَقَالَ لِي رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «يَا جَابِرُ، تَزَوَّجْتَ؟» قَالَ: قُلْتُ: نَعَمْ، قَالَ: «فَبِكْرٌ، أَمْ ثَيِّبٌ؟» قَالَ: قُلْتُ: بَلْ ثَيِّبٌ يَا رَسُولَ اللهِ، قَالَ: «فَهَلَّا جَارِيَةً تُلَاعِبُهَا وَتُلَاعِبُكَ» ، أَوْ قَالَ: «تُضَاحِكُهَا وَتُضَاحِكُكَ» ، قَالَ: قُلْتُ لَهُ: إِنَّ عَبْدَ اللهِ هَلَكَ، وَتَرَكَ تِسْعَ بَنَاتٍ - أَوْ سَبْعَ -، وَإِنِّي كَرِهْتُ أَنْ آتِيَهُنَّ أَوْ أَجِيئَهُنَّ بِمِثْلِهِنَّ، فَأَحْبَبْتُ أَنْ أَجِيءَ بِامْرَأَةٍ تَقُومُ عَلَيْهِنَّ، وَتُصْلِحُهُنَّ، قَالَ: «فَبَارَكَ اللهُ لَكَ» أَوْ قَالَ لِي خَيْرًا،

"Dari Jabir bin Abdullah dia berkata; Bahwasanya Abdullah telah meninggal dunia dan meninggalkan sembilan anak perempuan, atau dia berkata; Tujuh. Lantas saya menikah dengan seorang janda. Kemudian Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bertanya kepadaku: "Wahai Jabir, apakah kamu sudah menikah? Dia (Jabir) berkata; Saya menjawab; Ya. Beliau bertanya kembali: "Dengan seorang gadis atau janda?" Dia (Jabir) berkata; Saya menjawab; Dengan seorang janda, wahai Rasulullah! Beliau bersabda: "Kenapa tidak dengan seorang gadis, agar kamu bisa bercumbu rayu dengannya dan dia bisa bercumbu rayu denganmu? -Atau beliau bersabda: - Kamu bisa bersenda gurau dengannya dan dia bisa bersenda gurau denganmu?" Dia (Jabir) berkata; Saya berkata; Sesungguhnya Abdullah (ayah Jabir) telah meninggal dunia dengan meninggalkan sembilan anak perempuan atau tujuh anak perempuan, dan saya tidak suka jika saya menikah dengan orang yang sepadan dengan mereka, namun saya lebih suka menikah dengan wanita yang bisa mengurus mereka dan bisa membuat mereka baik. Maka Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda kepadaku: "Semoga Allah memberkahimu." atau beliau mendo'akan kebaikan kepadaku". (HR. Bukhari no.5367 dan Muslim, no.715, lafadz ini adalah lafadz Muslim)

Terkait seorang wanita menawarkan diri untuk dinikahi maka itu menurut sebagian Ulama' dibolehkan bila laki-laki itu adalah laki-laki yang sholeh dan si wanita berharap atsar kesolehannya dalam rumah tangga. Imam Bukhari meriwayatkan:

حَدَّثَنَا عَلِيُّ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ، حَدَّثَنَا مَرْحُومُ بْنُ عَبْدِ العَزِيزِ بْنِ مِهْرَانَ، قَالَ: سَمِعْتُ ثَابِتًا البُنَانِيَّ، قَالَ: كُنْتُ عِنْدَ أَنَسٍ وَعِنْدَهُ ابْنَةٌ لَهُ، قَالَ أَنَسٌ: جَاءَتِ امْرَأَةٌ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ تَعْرِضُ عَلَيْهِ نَفْسَهَا، قَالَتْ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، أَلَكَ بِي حَاجَةٌ؟ " فَقَالَتْ بِنْتُ أَنَسٍ: مَا أَقَلَّ حَيَاءَهَا، وَا سَوْأَتَاهْ وَا سَوْأَتَاهْ، قَالَ: «هِيَ خَيْرٌ مِنْكِ، رَغِبَتْ فِي النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَعَرَضَتْ عَلَيْهِ نَفْسَهَا»

Telah menceritakan kepada kami Ali bin Abdullah, Telah menceritakan kepada kami Marhum bin Abdul Aziz bin Mihran ia berkata: Aku mendengar Tsabit al Bunaniy berkata: Aku pernah berada di tempat Anas, sedang di dekat beliau ada putrinya. Anas berkata: “Ada seorang wanita datang kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu menawarkan dirinya kepada beliau. Wanita itu berkata: “Wahai Rasulullah, adakah anda menginginkanku? Lalu putri Anas pun berkomentar: “Alangkah sedikit rasa malunya, alangkah buruknya, buruk. Anas berkata: “Wanita itu lebih baik daripada kamu, ia menyukai Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, hingga ia menawarkan dirinya pada beliau. HR. Bukhari no. 5120 dan yang lainnya.

Al-Hafidz Ibnu Hajar al-Asqalani menerangkan:
Ibnu al-Munayyir berkata di “al-Hasyiah”: Termasuk isyarat-isyarat halus dari imam Bukhari bahwasanya ketika beliau mengetahui kekhususan kisah wanita yang menyerahkan dirinya ke Nabi shallallahu alaihi wa sallam beliau mengambil istinbath dari hadits tersebut untuk hukum yang tidak ada kekhususannya yaitu bolehnya seorang wanita menawarkan dirinya (untuk dinikahi) kepada laki-laki sholeh demi mengharapkan keshalihannya. Itu dibolehkan bagi wanita tersebut...

Pada dua hadits tersebut: yakni hadits Sahl dan hadits Anas keduanya terkait dengan wanita yang menawarkan dirinya kepada Nabi shallallahu alaihi wa sallam: terdapat hukum bolehnya menawarkan diri untuk dinikahi kepada laki-laki, bolehnya memberitahukan keinginannya menjadikan dia pasangan, ini bukanlah suatu kesalahan. Bagi laki-laki yang ditawari oleh seorang wanita tersebut boleh menerima atau tidak, namun selayaknya dia tidak terang-terangan menolak tapi cukup dengan diam. Fath al-Bari 9/175

Semoga Allah ta'ala memudahkan penanya dan para pemuda kaum muslimin untuk memperoleh pasangan hidup yang terbaik menurut Allah ta'ala baginya.

والله تعالى أعلم بالحق والصواب
© 2018 - Www.SalamDakwah.Com