Logo

Mobile APP:

Stay in touch with us:

Islamic Calendar Widgets by Alhabib

TANYA USTADZ

hukum nikah wanita hamil karena zina

Rabu, 16 Mey 2012 , 19:00:58
Penanya : Ikhwan
Daerah Asal : selatpanjang

Follow:

Assalamualaikum wr wb. Ustadz, bagaimana hukum pernikahan yang calon wanitanya sudah hamil duluan sebelum akad baik dengan laki-laki yang telah menghamilinya maupun dengan laki-laki lain (bukan yang menghamilinya)?

1. Apakah pernikahan itu sah menurut Al-quran & Sunnah?

2. Apakah setelah akad pasangan tersebut halal melakukan hubungan suami istri?

3. Apakah perlu akad nikah ulang?

4. Apakah hukum menghadiri undangan pernikahan yang secara jelas kita tahu bahwa wanitanya telah hamil akibat zina?

Mohon jawabannya dengan dalil-dalil Al-quran, Sunnah & sirohnya. Jazakumullah. Wassalamu’alaikum.

Jawab :

Banyak terjadi perbedaan pendapat di kalangan ulama’ dalam masalah ini. Pendapat yang kuat adalah tidak sah pernikahan yang terjadi jika seorang laki-laki menikahi perempuan yang hamil karena zina, baik yang menikahinya itu laki-laki yang menzinahinya atau orang lain, berdasarkan nash-nash berikut:
1. Allah ta’ala berfirman:
... وَلا تَعْزِمُوا عُقْدَةَ النِّكَاحِ حَتَّى يَبْلُغَ الْكِتَابُ أَجَلَهُ ....(البقرة:٢٣٥)
dan janganlah kamu ber'azam (bertetap hati) untuk beraqad nikah, sebelum habis 'iddahnya.
Dalam ayat lain Allah ta’ala berfirman:
... وَأُولاتُ الأحْمَالِ أَجَلُهُنَّ أَنْ يَضَعْنَ حَمْلَهُنَّ .... (الطلاق:٤)
dan perempuan-perempuan yang hamil, waktu iddah mereka itu ialah sampai mereka melahirkan kandungannya
2. hadits Nabi shallallahu alaihi wa sallam:
«لَا يَحِلُّ لِامْرِئٍ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ أَنْ يَسْقِيَ مَاءَهُ زَرْعَ غَيْرِهِ»أخرجه أبو داود رقم 2158.حسنه الألباني
"Tidak halal bagi seseorang yang beriman kepada Allah dan hari akhir menyiramkan airnya di tanaman orang lain" maksudnya: mendatangi wanita-wanita hamil
3. hadits Nabi shallallahu alaihi wa sallam:
لَا تُوطَأُ حَامِلٌ حَتَّى تَضَعَ. أخرجه أبو داود رقم 2157.صححه الألباني
Orang yang hamil tidak boleh digauli sampai melahirkan.
seorang ulama' menafsirkan hadits ini dengan: wanita tawanan perang atau budak yang hamil dari suami pertama, dan hadits ini tidak melarang suami menggauli istrinya saat dia hamil.
ulama' juga ada yang menjadikan hadits ini untuk pelarangan menikahi wanita hamil secara umum
Tulisan ini disarikan dari Fatwa komite tetap untuk fatwa Arab Saudi di Fatawa yas’alunak 3/153.
Kalau mau menikahi wanita tersebut maka disyaratkan dua hal:
1. pezina laki-laki atau perempuan keduanya melakukan taubat nasuha
2. melakukan pernikahan setelah rahim si wanita kosong, dan dengan 1 kali haidh itu sudah menunjukkan kosongnya rahim wanita tersebut.
Lih. Majmu’ fatawa Ibnu Baz 21/206

Oleh : Redaksi Salam Dakwah
Sudah dibaca oleh 10532 orang

Sharing: