SALWA RADIO - Menebar Salam, Menyebar Dakwah
Stay in touch with us:

Dosa Menggunakan Barang Curian


Akhwat (jambi)
6 years ago

السلامے عليكمے ورحمـۃ اللّـﮧ وبركاتـﮧ
Ustadz, ini ada pertanyaan di salah satu fanpage. Mohon bantu di jawab karena sampai saat ini belum ada yg menjawab pertanyaannya

assalamu'alaikum..
ini penting dalam hidup sy,mohon bantuanny.
saya ada pertanyaan yg barangkali disini sy akan tmukan jwbnnya.bagi saudara2 sesama muslim yg peduli dg pertanyaan ini, mohon bantuanny utk mcari jwbn dari pristiwa brikut/hal yg persis dg pristwa ini.
Pertanyaan sy akan sy ilustrasikan begini :

seseorang yg mencuri sebuah sendok(jelas mencuri adalah dosa), dan ia menggunakan sendok tsb untuk keperluan makan sehari2. Tiap hari ia makan menggunakan sendok tsb. Apakah dosa mencuri tadi dihitung juga ketika ia menggunakan sendok tsb utk makan?? Stiap ia makan mggunakan sendok tsb,apakah ia berdosa ?? Jika tetap berdosa, apa yg sebaiknya dilakukan org tsb thdp sendok itu agar ia terbebas dari dosa??

trima ksh sblmnya, mohon bantuannya.


شُـكْـرًا جزاك الله خيرا
Redaksi salamdakwah.com
6 years ago


وعليكم السلام ورحمة الله وبركاته

Bismillah washshalatu wassalamu 'ala Rasulillah.
Seseorang yang berdosa harus segera bertaubat, baik dosa itu dia lakukan dengan cara mendholimi dirinya sendiri dengan cara meninggalkan kewajiban yang Allah bebankan atau melakukan apa yang Allah larang (tanpa disertai kedholiman kepada yang lain) ataukah dosa itu dia lakukan dengan melakukan kedholiman kepada yang lain.

Apabila seseorang tahu dirinya berdosa namun ia enggan untuk bertaubat maka ia terancam adzab Allah ta'ala. Ada syarat-syarat yang harus dipenuhi oleh orang yang ingin bertaubat kepada Allah ta'ala dari dosa-dosanya. Berikut ini syarat-syarat taubat yang disebutkan oleh Ulama':
1. Ikhlas karena Allah ta’ala : maksudnya adalah karena takut kepada Allah ta’ala dan ingin mendekat kepadaNya

2. Menyesal atas perbuatan dosa yang telah dia perbuat sebelumnya.

3. Segera meninggalkan dosa tersebut dan tidak menunda-nundanya

4. Bertekad kuat untuk tidak kembali kepada dosa tersebut

5. Taubat itu dilaksanakan pada saat taubat masih diterima, yaitu sebelum ajal menjemput dan sebelum matahari terbit dari sebelah barat. Diterjemahkan secara bebas dari Asy-Syarh Al-Mumti’ Ala Zad Al-Mustaqni’ oleh syaikh Utsaimin 14/380

Apabila dosa itu berbentuk kedholiman kepada yang lain maka ada syarat lain yang harus dipenuhi yaitu meminta keridhoan dan kehalalan dari orang yang didholimi. Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda:

مَنْ كَانَتْ لَهُ مَظْلَمَةٌ لِأَخِيهِ مِنْ عِرْضِهِ أَوْ شَيْءٍ فَلْيَتَحَلَّلْهُ مِنْهُ الْيَوْمَ قَبْلَ أَنْ لَا يَكُونَ دِينَارٌ وَلَا دِرْهَمٌ ، إِنْ كَانَ لَهُ عَمَلٌ صَالِحٌ أُخِذَ مِنْهُ بِقَدْرِ مَظْلَمَتِهِ ، وَإِنْ لَمْ تَكُنْ لَهُ حَسَنَاتٌ أُخِذَ مِنْ سَيِّئَاتِ صَاحِبِهِ فَحُمِلَ عَلَيْهِ 

“Siapa yang berbuat kedzaliman kepada saudaranya baik dari sisi kehormatan atau sesuatu hal, maka mohonlah dihalalkan darinya sekarang (pada hari ini) sebelum tidak berguna lagi dinar dan dirham. Kalau dia mempunyai amal shaleh, maka akan diambil darinya sesuai dengan kadar kedzalimannya. Kalau tidak mempunyai kebaikan, maka keburukan orang tersebut akan diambil dan dibebankan kepadanya.” (HR. Bukhari, no. 2449)

Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam juga bersabda:

قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: " الظُّلْمُ ثَلَاثَةٌ: فَظُلْمٌ لَا يَتْرُكُهُ اللهُ، وَظُلْمٌ يُغْفَرُ، وَظُلْمٌ لَا يُغْفَرُ، فَأَمَّا الظُّلْمُ الَّذِي لَا يُغْفَرُ فَالشِّرْكُ لَا يَغْفِرُهُ اللهُ، وَأَمَّا الظُّلْمُ الَّذِي يُغْفَرُ فَظُلْمُ الْعَبْدِ فِيمَا بَيْنَهُ وَبَيْنَ رَبِّهِ، وَأَمَّا الظُّلْمُ الَّذِي لَا يُتْرَكُ فَظُلْمُ الْعِبَادِ فَيَقْتَصُّ اللهُ بَعْضَهُمْ مِنْ بَعْضٍ "

“Kedzaliman itu ada tiga; kedzaliman yang tidak akan Allah biarkan, kedzaliman yang akan dia ampuni, dan kezhaliman yang tidak akan dia ampuni. Adapun kedzaliman yang tidak Allah ampuni adalah syirik, itu tidak akan Allah ampuni. Adapun kedzaliman yang akan diampuni adalah kedhaliman hamba (terhadap dirinya sendiri) dalam perkara yang ada antara dirinya dan Rabb-nya. Adapun kedzaliman yang tidak akan Allah biarkan adalah kezhaliman sesama hamba hingga Alah akan mengqishah yang satu dengan yang lain.” Hilyatul auliya' wa Tabaqat al-Ashfiya' 6/309 . Hadits ini hasan menurut syaikh al-Albani, lih. Silsilah al-Ahadits ash-Shahihah 4/560

Apabila diperhatikan dengan seksama hadits di atas kita akan dapati bahwa kedholiman bisa menyengsarakan pelakunya di akhirat kelak, menyengsarakannya di kehidupan abadi mengingat kedholimannya dibayar dengan pahala yang ia perbuat di dunia atau ia akan menanggung dosa dari orang yang ia dholimi. Sungguh ini merupakan kesengsaraan dan kerugian yang nyata.

Dalam kasus pencurian, terjadi kedholiman terhadap pemilik barang dengan cara menghalangi pemilik barang untuk menggunakan barang miliknya yang sah. Cara bertaubat dari dosa ini adalah segera mengembalikan barang tersebut ke pemiliknya, bahkan seandainya pemilik barang tersebut adalah non muslim, barang tersebut juga harus dikembalikan selama ia bukanlah kafir yang diperangi.

Komite Tetap Riset Ilmiah dan Fatwa pernah ditanya:
Ayah saya bekerja di sebuah perusahaan kira-kira sejak tiga puluh tahun lalu, dan sekarang beliau sudah pensiun. Di perusahaan tersebut, ayah saya bekerja di bagian pertukangan dan pernah mengambil sebagian perkakas milik perusahaan tanpa sepengetahuan mereka serta menyimpannya di rumah. Barang-barang seperti palu, gergaji, bermacam jenis paku, dan banyak lagi yang lainnya, masih tersimpan di rumah kami sampai sekarang. Ayah saya menganggap bahwa tindakannya mengambil semua barang itu adalah halal karena mayoritas pekerja yang terkait dengan tempat itu beragama Yahudi yang terikat kontrak dengan perusahaan. Ayah saya yakin sekali bahwa hal itu tidak masalah. Syekh yang terhormat, mohon beri kami penjelasan segera tentang pertanyaan ini agar saya bisa merespon dan meyakinkannya dengan pendapat Anda.

Mereka menjawab:
Ayah Anda wajib mengembalikan semua alat pertukangan itu ke perusahaan, kecuali jika dia sudah mendapat izin. Pengembalian itu wajib dilakukan sekalipun mereka orang-orang kafir. Sebab, mereka telah meminta perlindungan di negara Islam, sehingga harta mereka pun menjadi terlindungi dengan kontrak keamanan tersebut. Harta mereka tidak boleh diambil dengan cara yang tidak benar.
Wabillahittaufiq, wa Shallallahu 'ala Nabiyyina Muhammad wa Alihi wa Shahbihi wa Sallam. Fatawa al-Lajnah ad-Daimah 12/36- 37 pertanyaan pertama dari fatwa no. 17681 .

Apabila tidak dimungkinkan mengembalikan barang tersebut ke pemilik maka segeralah mensedekahkan barang tersebut atas nama pemilik barang yang sah dan perbanyaklah berbuat kebaikan, semoga kebaikan-kebaikan itu bisa menghapus dosa yang telah diperbuat sebelumnya. Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda:

اتَّقِ اللَّهَ حَيْثُمَا كُنْتَ وَأَتْبِعِ السَّيِّئَةَ الْحَسَنَةَ تَمْحُهَا وَخَالِقِ النَّاسَ
بِخُلُقٍ حَسَنٍ.

“Bertakwalah kepada Allah di mana saja engkau berada. Ikutilah kejelekan dengan kebaikan niscaya ia akan menghapus kejelekan tersebut dan berakhlaklah kepada manusia dengan akhlak yang baik.” HR. Tirmidzi no.1987. Dihasankan oleh Al-Albani

والله تعالى أعلم بالحق والصواب
© 2020 - Www.SalamDakwah.Com