Logo

Mobile APP:

Stay in touch with us:

Islamic Calendar Widgets by Alhabib

AKTUALITA - Ustadz Nuzul Dzikry

Kaidah-kaidah Beragama bagian 6

Jum'at, 11 November 2011 , 19:09:36
Oleh : Ustadz Muhammad Nuzul Dzikry, Lc

Follow:

 Kaidah keenam:
"Memulai dakwah sesuai dengan apa yang ALLAH dan Rasul-Nya dakwahkan pertama kali, mendahulukan hal-hal yang ALLAH dan Rasul-Nya dahulukan untuk didakwahkan dan mengakhirkan apa yang diakhirkan ALLAH dan Rasul-Nya, dan dengan inilah kemashlahatan dapat tercapai dan kemudharatan dapat dicegah dan dihilangkan"

Ini adalah lanjutan dari kaidah yang sebelumnya bahwa dakwah dilakukan secara bertahap, maka dari itu dakwah dimulai dari hal yang terpenting baru kemudian hal yang penting, seperti pada kaidah sebelumnya bahwa masalah akidah/tauhid adalah hal yang harus diprioritaskan dalam berdakwah.

Hal inilah yang dilakukan oleh Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam- dalam dakwah beliau, selama 13 tahun di Mekkah beliau mengajak manusia kepada tauhid yang benar, setelah itu baru kemudian beliau mengajarkan syari’at-syari’at islam yang lainnya.

Dan sebuah fakta yang menarik adalah ayat-ayat Makkiyah (yang turun sebelum hijrah) menitik beratkan permasalahan tauhid dan aqidah, sedangkan ayat-ayat Madaniyah (yang turun sesudah hijrah) secara umum berbicara tentang hukum dan perinciannya, halal dan haram, muamalat dan lain sebagainya.

Mari kita simak penuturan ibunda kita Aisyah –radhiyallahu ‘anha- (wanita yang paling alim ditengah-tangah umat islam):
“Surat yang pertama kali turun berbicara tentang surga dan neraka, sampai ketika manusia sudah yakin dengan keislamannya maka turunlah surat yang berbicara mengenai halal dan haram. Jika saja surat yang pertama kali turun tentang larangan minum khamr niscaya mereka akan mengatakan: “Kami tidak akan meninggalkan khamr selama-lamanya.” Dan jika saja surat yang pertama kali turun tentang larangan berzina niscaya mereka akan mengatakan: “Kami tidak akan meninggalkan zina selama-lamanya…" (HR. Bukhari)

Inipun wasiat Nabi saat melepas kepergian Mu’adz bin Jabal untuk berdakwah. Beliau memerintahkan Mu’adz untuk memulai dakwahnya dengan tauhid, lalu menegakkan shalat, kemudian membayar zakat.

Kaidah ini memiliki dalil dari Al Qur’an dan As Sunnah sebagaimana yang telah dijelaskan sebelumnya.

Contoh:
Jika engkau melihat seseorang melakukan kemaksiatan dan ia musyrik, apakah engkau akan mengatakan yang pertama kali kepada dia: “Shalatlah kamu, sedangkan ia musyrik?! “Berpuasalah, sedangkan ia musyrik?! atau engkau akan mengatakan: “Masuklah kamu ke dalam islam dan ucapkan dua kalimat syahadat! Lalu shalatlah serta berpuasalah di bulan ramadhan!”

Saya rasa kita sepakat untuk memilih cara yang kedua, kita memulainya dengan mengajak ia memeluk tauhid, lalu kemudian mengajaknya untuk mendirikan shalat dan syari’at-syari’at islam yang lainnya.

Bagaimana mungkin kita mendakwahkan dia untuk shalat sedangkan ia masih dalam keadaan musyrik?! Ia akan menolak secara spontan karena keimanan belum menyentuh hatinya. Kalaupun ia shalat maka shalatnya tidak akan diterima oleh ALLAH (QS. Azzumar : 65 ->  Dan sesungguhnya telah diwahyukan kepadamu dan kepada (nabi-nabi) yang sebelummu: "Jika kamu mempersekutukan (Rabb), niscaya akan hapuslah amalmu dan tentulah kamu termasuk orang-orang yang merugi).

Akhir kata, marilah kita menjadikan Rasulullah -shallallahu 'alaihi wa sallam- sebagai suri tauladan di setiap sendi kehidupan (QS. Al ahzab : 21 -> Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) ALLAH dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut ALLAH),
termasuk saat kita berdakwah, kita memulai dakwah kita sebagaimana Rasulullah memulai dakwahnya, karena beliau ma’sum, metode beliau adalah metode terbaik dan terbukti berhasil dalam memberikan hidayah kepada manusia.

Wallahu a’lam.

Sudah dibaca oleh 968 orang

Sharing:

comments powered by Disqus