SALWA RADIO - Menebar Salam, Menyebar Dakwah
Stay in touch with us:

Jika Calon Pangeranku Tidak Seperti Sulaiman

Ustadz Abu Fairuz Ahmad, MA - 1 year ago

Jika Calon Pangeranku Tidak Seperti Sulaiman

Mendapatkan suami yang bertakwa, berilmu, ganteng, kaya, dan berpangkat?? 

Semua orang mau. 

Namun sayangnya tidak semua yang kita mau dapat dicapai.


Terkadang kita dihadapkan pada sosok calon yang hebat ilmunya, namun tidak kaya. Kadang dahsyat kekayaannya tapi tidak ganteng. Terkadang luar biasa kegantengannya tapi miskin...dstnya. 

Itulah realita hidup.


Mau mencari sosok seperti Nabi Sulaiman yang Rasul, ganteng, gagah, berkedudukan, sholeh, berkuasa dan kaya raya...itu hanya mimpi bung !! 

Sejarah dan sosok seperti Nabi Sulaiman itu "limited edition" dan tidak akan berulang.


Jadi jika tidak terkumpul semua kriteria ideal di atas, apakah berarti anda tidak akan menikah wahai akhwat..?? Membiarkan diri jadi perawan tua..?? 

Mustahil.


"Bagaimana jika ia kaya tetapi tidak perduli dengan agama"? Jawabnya ambil saja orang seperti Qarun jadi suami, maka bisa dipastikan engkau akan "buntung", bukan beruntung.


"Meskipun tidak sholat dan faham tauhid..tetapi jabatan dan kekuasaannya hebat lho....sayang lamarannya ditolak". 

Katakan pada wanita seperti ini : "Kau tunggu saja orang seperti Haman dan Firaun untuk mempersunting dirimu, dijamin engkau pasti celaka".


"Tapi kan bisa didakwahi, semoga ia bisa berubah". Katakan: "Mengapa mengambil resiko besar mengharapkan sesuatu yang tidak jelas, sementara agama mengajarkan agar kita memilih sesuatu yang yakin dan meninggalkan sesuatu yang samar-samar, alih-alih mau merubah calon suamimu...eh, malah bisa-bisa engkau yang terjerumus ikut hawa nafsunya. Sebab pepatah Arab mengatakan : 


"الصاحب ساحب"


"Sahabat itu akan menarik sahabatnya". 


"Jika ada yang datang ingin melamar diriku, agama dan akhlaknya terlihat baik, tetapi ia tidak begitu tampan, terkesan kere, tidak punya mobil, tidak punya rumah, tidak memiliki pekerjaan yang menjanjikan, apakah layak kuterima"?


Katakan: "Ya..mengapa tidak. Bukankah agama dan akhlak adalah merupakan dua kriteria ideal yang pernah digambarkan Rasulullah dalam sabdanya:


إذا جاءكم من ترضون دينه وخلقه فزوجوه إلا تفعلوه تكن فتنة في الأرض وفساد كبير


“Jika datang kepada kalian seorang lelaki yang kalian ridhai agama dan akhlaknya, maka nikahkanlah ia. Jika tidak, maka akan terjadi fitnah di muka bumi dan kerusakan yang besar.” 

(HR. Tirmidzi. Al Albani berkata dalam Adh Dho’ifah bahwa hadits ini hasan lighoirihi)


Adapun ekonominya belum mapan, bukan perkara permanen, boleh saja karena ketakwaannya dan keuletannya ia berhasil memperbaiki ekonominya dan Allah memberikan baginya kecukupan, sebaliknya konglomerat yang akan menjemputmu bisa saja menjadi bangkrut, "gulung tikar" dan sang pejabat menjadi melarat ketangkap KPK dan di"sekolahkan" ke bui.


"Bagaimana bila calon yang datang itu tidak dapat memenuhi keinginan keluargaku untuk biaya perhelatan dan uang hantaran, apakah harus ku tolak?"


Jawabnya: "Jangan...selama bisa kau pastikan agama dan akhlaknya baik..sebab jika kau tolak, boleh jadi -karena menyelisihi sunnah Rasulmu mempermudah urusan pernikahan- engkau "kualat" mendapatkan jodoh yang fasiq dan muncullah kerusakan di bumi. 


Suami yang fasiq dikhawatirkan akan menyeretmu pada kefasiqan, akan menzalimimu, bahkan akan menyia-nyiakanmu."


Bukankah Rasulullah pernah menikahkan seorang pemuda dengan mahar hanyalah mengajarkan istrinya beberapa surat saja dari Hafalan yang ia miliki?


Pernah ditanyakan pada Syeikh Muhammad bin Sholeh Al-Utsaimin tentang hukum menuntut mahar yang banyak dari calon suami. Maka beliau menjawab:


فأجاب رحمه الله تعالى: أقول لا شك أن المغالاة في مهور النساء خلاف السنة وأن السنة في المهور تخفيفها وكلما كان النكاح أيسر مؤونة كان أعظم بركة والمغالاة في مهور النساء نهى عنها الخليفة الراشد عمر بن الخطاب رضي الله عنه فقال رضي الله عنه (يا أيها الناس لا تغلو في صُدُق النساء -يعني مهورهن- فإنه لو كان ذلك مكرمة أو تقوى لكان أولى الناس بها رسول الله صلى الله عليه وسلم) 


"Tidak diragukan lagi bahwa meninggikan mahar adalah perkara yang menyelisihi sunnah, sunnah dalam mahar adalah meringankannya, setiap kali urusan pernikahan dimudahkan, maka akan semangkin besar keberkahannya. 

Umar bin Khattab pernah melarang para wali meninggikan mahar, ia berkata:

"Wahai manusia janganlah kalian meninggikan mahar wanita, sebab jika ialah standar kemulian ataupun ketakwaan maka Rasulullah lah yang paling berhak melakukannya".


Ketika ditanyakan kepada beliau bahwa tujuan orang tua wanita meninggikan mahar untuk meninggikan harkat dan martabatnya di hadapan masyarakat, bahwa putri dan keluarganya bukan orang sembarangan, dan calon menantunya juga bukan orang sembarangan...


Maka beliau menjawab yang intinya bahwa itu adalah pandangan keliru dan menunjukkan dangkalnya kepribadian, seharusnya wali wanita hendaklah menunjukkan kepada manusia bahwa martabat dan kedudukan seseorang diangkat di tengah-tengah masyarakat dengan menjalankan sunnah Nabinya.


Nah, para akhwat sekalian...jika mau menjadi bidadari bukanlah dengan menunggu jodoh ahli dunia dan pemilik gemerlapnya...


Bukan pula menanti sang pangeran sekelas Nabi Sulaiman...


Tunggulah jemputan sang pangeran yang baik agama dan akhlaknya..niscaya dirimu tidak disia-siakannya dan pasti dapat membimbingmu jalan ke surga.


Karimun-Tjg. Buton, 19 Ramdhan 1436 / 6 Juli 2015


Abu Fairuz.


___

📱 Dipost Ustadz Abu Fairuz, MA -hafizhahullah- 19 Ramadhan 1436 / 6 Juli 2015


Silakan login untuk menulis komentar.

ARTIKEL TERKAIT

© 2017 - Www.SalamDakwah.Com