Logo

Mobile APP:

Stay in touch with us:

Islamic Calendar Widgets by Alhabib

AKTUALITA - Ustadz M Wasitho

Hadits Palsu - Hadits tentang Keutamaan Surat-surat Al Quran

Kamis, 12 Januari 2012 , 08:43:32
Oleh : Ustadz Muhammad Wasitho Lc MA

Follow:

Hadits Tentang Keutamaan Surat-Surat al-Qur’an
 
Diriwayatkan dari Ubai bin Ka’ab radiyallahu anhu, bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Wahai Ubai, barangsiapa membaca Al-Fatihah ia diberi pahala seperti seorang membaca dua pertiga Al-Qur’an, dan akan diberi pahala seperti bersedekah kepada setiap orang mukmin dan mukminah. Barangsiapa membaca surat Ali ‘Imran maka dari tiap ayatnya ia akan mendapatkan keamanan (saat melalui) jembatan jahannam. Barangsiapa membaca surat An-Nisa’ maka ia akan diberi pahala seperti halnya sedekah kepada semua orang yang memperoleh harta warisan. Barangsiapa membaca surat Al-Maidah maka ia akan diberi pahala sepuluh kebaikan, dileburkan darinya sepuluh kejelekan dan diangkat martabatnya sepuluh derajat setara dengan jumlah semua orang Yahudi dan Nasrani, dan nafas di dunia. Barangsiapa membaca Al-An’am maka 70.000 malaikat akan bershalawat atasnya. Barangsiapa membaca surat Al-A’raf, Allah akan menjadikan penghalang antara dia dan iblis. Barangsiapa membaca surat Al-Anfal, aku akan memberi syafaat untuknya dan menjadi saksi baginya serta dia terbebas dari kemunafikan. Barangsiapa membaca surat Yunus akan diberi pahala sepuluh kebaikan yang setara dengan jumlah orang yang mendustakan Nabi Yunus dan yang membenarkannya, serta sebanyak orang-orang yang tenggelam bersama Fir’aun….”.dst.
Diriwayatkan Ibnul Jauzi dalam kitabnya Al-Maudhu’at (1/239-241).
 
Kepalsuan dapat diketahui dari beberapa sisi yaitu lemahnya sanad, lemahnya susunan bahasa serta makna hadits. Kelemahan sanad didapatkan dalam hadits ini tiga perawi yang diperbincangkan oleh para ulama hadits.
Pertama: Badi’ bin Hibban Abul Khalil. Dia seorang perawi hadits yang “Matruk” (ditinggalkan riwayat2nya), sebagaimana penilaian imam ad-Daruquthni.
Kedua: Makhlad bin ‘Abdul Wahid Abul Hudzail Al-‘Anbari Al-Bashri. Dia seorang perowi yg haditsnya sangat munkar. Ia bersendiri dalam periwayatan hadits-hadits munkar yang tidak ada kemiripan sedikitpun dengan hadits yg diriwayatkan oleh orang-orang yang terpercaya, sbgmn pnilaian ibnu hibban thdpnya.
Ketiga: ‘Ali bin Jud’a. Dia seorang yang dha’if (lemah).
Adapun kelemahan hadits ini ditinjau dari susunan bahasa dan maknanya yang sangat lemah. Mk sngat jelas skali bagi ulama hadits bahwa hadits tersebut bukanlah dari sabda Rasulullah, yang mana Allah telah anugerahkan kpd beliau kefasihan dan jawami’ul kalim (kalimat yg singkat tapi maknanya luas).
Ibnul Jauzi rahimahullah berkata: “Kandungan hadits ini nyata menunjukkan kepalsuannya. Di dalamnya dirinci penyebutan surat-surat dan disebutkan pada masing-masingnya pahala yang disesuaikan untuk tiap surat dengan bahasa yang tak berbobot dan sangat hambar. Tidak mungkin berasal dari ucapan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam.” (Al-Maudhu’at, 1/240).
Ibnul Jauzi berkata: “Hadits tentang fadhilah-fadhilah surat-surat (Al-Qur’an) in, adalah hadits palsu, tanpa keraguan ….” (Al-Maudhu’at, 1/240)
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata: “…hadits ini maudhu’ (palsu) menurut kesepakatan ahlul ilmi.” (Majmu’ Fatawa, 13/354)

 

Sudah dibaca oleh 685 orang

Sharing:

comments powered by Disqus