SALWA RADIO - Menebar Salam, Menyebar Dakwah
Stay in touch with us:

Bank Syariat dalam Kritikan

Ustadz Kholid Syamhudi, Lc - 7 years ago

Bank Syariat dalam Kritikan

Dewasa ini semarak penggunaan kata syari’at dalam kalangan muslimin dinegara ini. Pantas untuk disyukuri karena secara langsung atau tidak telah menunjukkan semangat kaum muslimin untuk kembali merujuk agamanya. Namun juga harus diperhatikan dan disadari jangan sampai hal ini hanya sebagai nama dan jargon semata tanpa kesesuaian dengan syari’at yang suci dan mulia ini. Karena itulah perlu adanya upaya meluruskan istilah dan nama syari’at tersebut agar benar-benar mewakili syari’at islam yang menjadi rahmat bagi alam semesta. Diantara nama dan istilah ini adalah perbankan syari’ah atau bank syari’at yang didefinisikan dengan insitusi atau lembaga yang melakukan aktivitas langsung perbankan diatas asas dasar islam dan kaedah-kaedah fikihnya.  Institusi ini mulai merata dan menampakkan jati dirinya ditengah-tengah banyaknya bank-bank konvensional dinegara ini. 

Realita Pahit Praktek Ribawi

Sudah dimaklumi dalam syari’at islam bahwa riba adalah sesuatu yang diharamkan, namun ironisnya didapatkan banyak sekali kaum muslimin menggandrunginya. Bahkan kita dapati jaringan ribawi ini telah tersebar dalam kehidupan masyarakat umum seperti tersebarnya pembuluh darah dalam tubuh manusia sehingga merusak tatanan masyarakat islam dan merusak keindahan islam dimata pemeluknya. Tidak hanya sebatas ini saja bahkan banyak kaum muslimin berkeyakinan dan memandang praktek ribawi adalah satu-satunya cara menumbuhkan per-ekonomian Negara dan masyarakatnya. Demikianlah sisa implikasi buruk penjajahan yang telah menanamkan kedalam Negara jajahannya muamalah ribawiyah ini, sebab system ribawi ini masuk kedalam Negara-negara islam melalui tangan dan jerih payah mereka.

Kaum muslimin akhirnya mengimport system ini dari Negara kafir yang menjajahnya baik Negara barat atau timur dan melupakan system per-ekonomian islam. Hendaknya mereka mengetahui bahwa Negara kafir tidak pernah peduli pada pertumbuhan keagamaan dan memisah agama dari kehidupan ekonomi. Sebab mereka tidak memiliki timbangan akhlak bahkan yang kuat dan kayalah yang akan berkuasa walaupun mereka mendapatkannya dengan bantuan orang-orang fakir dan miskin. Sedangkan islam menginginkan satu system ekonomi yang adil sehingga yang kuat tidak menindas yang lemah dan yang kaya tidak menjajah yang miskin. Juga agar harta tidak hanya berputar pada orang-orang kaya saja sehingga menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba. Allah berfirman:
Dan Allah telah menhalalkan jual beli dan mengharamkan Riba (QS. 2:275)
Tentunya syari’at islam memiliki system ekonomi yang bebas dari riba dan tidak memiliki ketergantungan kepadanya dalam menumbuhkan tingkat per-ekonomian
, kemasyarakatan dan kemanusiaan.

Kita yakini dengan pasti adanya system ekonomi islam yang bebas dari riba baik dalam bidang perbankan atau yang lebih bersifat umum lainnya. Karenanya sudah menjadi kewajiban bagi kaum muslimin untuk meneliti dan mempelajari tatanan system tersebut yang tidak bertentangan dan menyimpang dari syari’at islam yang sempurna nan suci. 
Bersama jalannya waktu banyak orang yang sadar akan realita pahit praktek ribawi ini. Krisis dan keguncangan ekonomi duniapun tidak dapat dielakkan kembali sehingga orangpun berfikir solusi atas hal ini.

Beberapa riset penelitian membuktikan bahwa orang yang berhutang dengan bunga riba akan sulit atau membutuhkan waktu yang lama sekali untuk melunasi hutang dan bunganya tersebut dan kenyataan umumnya mereka tidak mampu melunasinya. Hal ini akhirnya memaksa mereka untuk melepas atau menjual harta miliknya yang menjadi sebab peminjaman hutang tersebut. Ini untuk dikeluarkan pada kemaslahatan produksi ditambah lagi pengaruh bunga hutang tersebut dalam meninggikan biaya produksi yang berlanjut pada kenaikan harga.  Sebab perusahaan yang mengambil hutang ribawi akan memasukkan nilai bunga hutang tersebut yang membuat  naik biaya produksinya sehingga otomatis menaikkan harganya lebih tinggi.

Terbukti bahwa krisis-krisis yang menimpa per-ekonomian dunia umumnya muncul dari hutang-hutang yang menumpuk atas perusahaan-perusahaan. Ini diketahui Negara-negara besar modern sehingga mereka terpaksa mengambil langkah pembatasan prosentase ribanya. Namun hal ini belum bisa mengurangi bahaya riba.


Silakan login untuk menulis komentar.

ARTIKEL TERKAIT

Kapan dikatakan Sabar
Kapan dikatakan Sabar
Ustadz Kholid Syamhudi, Lc - 7 years ago
Keberangkatan Rosululloh Hijrah ke Madinah Seri-2
Keberangkatan Rosululloh Hijrah ke Madinah Seri-2
Ustadz Kholid Syamhudi, Lc - 7 years ago
Qanaah sifat Muslim Terpuji
Qanaah sifat Muslim Terpuji
Ustadz Kholid Syamhudi, Lc - 7 years ago
Amalan dan Hukum Sekitar Ramadhan Seri 2
Amalan dan Hukum Sekitar Ramadhan Seri 2
Ustadz Kholid Syamhudi, Lc - 7 years ago
Sahabat dan Tabiin Berargumentasi Dengan Manhaj Salaf
Sahabat dan Tabiin Berargumentasi Dengan Manhaj Salaf
Ustadz Kholid Syamhudi, Lc - 7 years ago
Kisah Hijrah Ummul Mukminin Ummu Salamah
Kisah Hijrah Ummul Mukminin Ummu Salamah
Ustadz Kholid Syamhudi, Lc - 7 years ago
Tanda Bahagia
Tanda Bahagia
Ustadz Kholid Syamhudi, Lc - 7 years ago
Untaian Nasehat - Jadilah Orang Asing di Dunia
Untaian Nasehat - Jadilah Orang Asing di Dunia
Ustadz Kholid Syamhudi, Lc - 7 years ago
Kajian Tematik - Seri keutamaan dan amalan Muharram
Kajian Tematik - Seri keutamaan dan amalan Muharram
Ustadz Kholid Syamhudi, Lc - 7 years ago
© 2019 - Www.SalamDakwah.Com