SALWA RADIO - Menebar Salam, Menyebar Dakwah
Stay in touch with us:

Qanaah sifat Muslim Terpuji

Ustadz Kholid Syamhudi, Lc - 7 years ago

Qanaah sifat Muslim Terpuji

Tidak dapat dipungkiri saat ini kita hidup dalam era modern yang lazim disebut Digital Life. Segala kebutuhan dan kepentingan hajat hidup hampir semua dapat dikerjakan hanya dengan menekan digit. Mulai dari kebutuhan primer hingga kebutuhan pelengkap. Bayangkan saja bila kita memasak nasi. Cukup  hanya sekali tekan tombol cooking setelah beras dicuci dan dimasukkan ke dalam Rice cooker, niscaya beberapa saat kemudian beraspun berubah menjadi nasi hangat yang siap dinikmati bersama keluarga. 
Akankah kehidupan yang serba digital membuat kita semakin banyak keinginan dan semakin tama’ kepada kehidupan dunia ini? Memang tidak bisa dipungkiri kecintaan dan sikap rakus akan muncul dihati kita semua. 
orang yang haus terhadap dunia, selalu ingin memperbanyak harta dengan rakus tamak, terbiasa mengeluh, dan selalu meminta.Sesungguhnya sikap pasrah terhadap sifat tamak (rakus) tidak ada akhirnya apabila seseorang melepaskan tali kendali nafsu syahwatnya. 

Disebutkan dalam hadits:


إِنَّ هذَا اْلمَالَ خَضِرَةٌ حُلْوَةٌ, فَمَنْ أَخَذَهَا بِسَخَاوَةِ نَفْسٍ بُوْرِكَ لَهُ فِيْهِ, وَمَنْ أَخَذَهُ بِإِشْرَافِ نَفْسٍ لَمْ يُبَارَكْ لَهُ فِيْهِ, كاَلَّذِي يَأْكُلُ وَلاَ يَشْبَعُ


"Sesungguhnya harta ini berwarna hijau serta manis, maka barangsiapa yang mengambilnya dengan kemurahan jiwa niscaya diberikan berkah baginya pada harta itu. Dan barangsiapa mengambilnya dengan nafsu serakah niscaya tidak diberikan berkah baginya pada harta itu, seperti orang yang makan dan tidak pernah kenyang…"

Sifat tamak menguasai orang-orang yang melakukan persaingan dalam urusan dunia dan perhiasannya, yang selalu memperhatikan orang-orang yang di atas mereka. Imam an-Nawawi rahimahullah memberikan alasan terhadap hal itu dengan katanya: 'Karena apabila manusia melihat kepada orang yang diberikan karunia dalam perkara dunia, nafsunya menuntut seperti hal itu dan menganggap kecil/remeh nikmat Allah I yang ada padanya, ingin bertambah, supaya bisa menyusul dengan hal itu atau mendekatinya, inilah realita mayoritas manusia…'

Fenomena ini sangat nampak jelas dikehidupan kita dewasa ini. Akankah kita sebagai seorang muslim enggan selamat dan bahagia didunia dan akherat nanti. 

Orang beriman merasa senang dan puas menerima rezeki yang telah dikaruniakan Allah kepadanya, serta merasa bersyukur atas rezeki yang diterimanya. Makan dengan apa adanya akan terasa nikmat tiada terhingga jika dilandasi dengan qana’ah dan syukur. Sebab, pada saat seperti itu ia tidak pernah memikirkan apa yang tidak ada di hadapannya. Justru, ia akan berusaha untuk membagi kenikmatan yang diterimanya itu dengan keluarga, kerabat, teman atau pun tetangganya.

Namun hendaklah kita tidak salah pengertian tentang makna dan arti qana`ah, bukanlah qana`ah merasa senang dengan segala kekurangan dan kehidupan yang rendah, lemah semangat dan kemauan untuk mencapai cita-cita yang lebih tinggi, mati keinginan untuk mencapai kemajuan moril dan materil, atau kelesuan untuk membebaskan diri dari kelaparan, kemiskinan dan kesengsaraan. Meski demikian, orang-orang yang memiliki sikap qana’ah tidak berarti menerima nasib begitu saja tanpa ikhtiar. Orang yang hidup qana’ah bisa saja memiliki harta yang sangat banyak, namun bukan untuk menumpuk kekayaan.

Kekayaan dan dunia yang dimilikinya, dibatasi dengan rambu-rambu Allah. Dengan demikian, apa pun yang dimilikinya tak pernah melalaikan dari mengingat Sang Maha Pemberi Rezeki. Sebaliknya, kenikmatan yang ia dapatkan justru menambah sikap qana’ah-nya dan mempertebal rasa syukurnya.

Iman memberikan kepada manusia kepuasan akan apa yang diberikan Allah, dalam hal-hal yang tidak bisa kita merubahnya atau kesanggupan untuk mencapainya, biar dengan usaha dan tipu daya manapun. Apalagi dalam masa kesusahan dan kesulitan yang menimpa perorangan dan masyarakat, qana`ah memberikan pertolongan bagi ketentraman dan perdamaian dalam jiwa.

Jasa keimanan ini sangat besar dalam membatasi jiwa manusia dari memperturutkan loba yang tidak berkesudahan, tidak cukup dengan sedikit, tidak puas dengan yang banyak, tidak memadai dengan yang halal dan wajar, sehingga senantiasa dalam keadaan tidak puas, haus dan berkeluh kesah. Maka timbullah cara-cara pencarian rezeki di luar batas hukum dan kemanusiaan, hanya berpedoman asal dapat, tidak perduli bahaya bagi diri dan masyarakat. Naudzubillah min dzalik


Silakan login untuk menulis komentar.

ARTIKEL TERKAIT

Qanaah sifat Muslim Terpuji
Qanaah sifat Muslim Terpuji
Ustadz Kholid Syamhudi, Lc - 7 years ago
Kiat Sabar Menurut Ulama
Kiat Sabar Menurut Ulama
Ustadz Kholid Syamhudi, Lc - 4 years ago
Jangan Mudah Menghukumi Seseorang
Jangan Mudah Menghukumi Seseorang
Ustadz Kholid Syamhudi, Lc - 6 years ago
Manusia dan Ilmu TIDAK TAHU
Manusia dan Ilmu TIDAK TAHU
Ustadz Kholid Syamhudi, Lc - 6 years ago
Pengaruh Perbaikan Jiwa
Pengaruh Perbaikan Jiwa
Ustadz Kholid Syamhudi, Lc - 6 years ago
Jalan Menuju Allah
Jalan Menuju Allah
Ustadz Kholid Syamhudi, Lc - 4 years ago
Keberangkatan Rosululloh Hijrah ke Madinah Seri-1
Keberangkatan Rosululloh Hijrah ke Madinah Seri-1
Ustadz Kholid Syamhudi, Lc - 7 years ago
Kisah Hijrah Ummul Mukminin Ummu Salamah
Kisah Hijrah Ummul Mukminin Ummu Salamah
Ustadz Kholid Syamhudi, Lc - 7 years ago
Takwa
Takwa
Ustadz Kholid Syamhudi, Lc - 5 years ago
Kesalahan-kesalahan Seputar Berbuka Puasa
Kesalahan-kesalahan Seputar Berbuka Puasa
Ustadz Kholid Syamhudi, Lc - 7 years ago
© 2019 - Www.SalamDakwah.Com