SALWA RADIO - Menebar Salam, Menyebar Dakwah
Stay in touch with us:

Bimbingan Haji (11 - Bagian Akhir) Pada Musim Haji 1440H

Ustadz DR Abdullah Roy,MA - 2 weeks ago

Bimbingan Haji (11 - Bagian Akhir) Pada Musim Haji 1440H

BIMBINGAN SINGKAT AMALAN HAJI (11 - Bagian Akhir)

(PADA MUSIM HAJI 1440H)

Melempar Jamrah, hari Rabu tanggal 13 Dzulhijjah dan Thawâf Wadâ'

1. Waktu melempar Jamrah pada tanggal 13 Dzulhijjah dimulai setelah tergelincirnya matahari (datang waktu shalât Zhuhur) dan selesai saat terbenam matahari (datang waktu shalât Maghrib), dan tidak sah bila melemparnya setelah Maghrib.

2. Jama’ah haji tidak ada kewajiban melakukan shalat Jum’at. Bila di Minâ maka mereka melakukan shalat Zhuhur dua rakaat di waktu Zhuhur. Dan bila jamaah haji shalat Jum’at bersama orang-orang yang diwajibkan shalat Jum’at –seperti shalat Jum’at di Masjidil Haram- sah shalat Jum’atnya dan tidak perlu dia shalat Zhuhur.

3. Apabila sudah menyelesaikan semua amalan hajinya maka sebelum meninggalkan Mekkah, menjelang pulang DIWAJIBKAN Thawâf Wadâ' bagi semua jama'ah haji kecuali wanita yang haidh/nifas.

Berkata Ibnu ‘Abbâs radhiyallâhu ‘anhumâ:

أُمِرَ النَّاسُ أَنْ يَكُونَ آخِرُ عَهْدِهِمْ بِالْبَيْتِ ، إِلاَّ أَنَّهُ خُفِّفَ عَنِ الْحَائِضِ

“Manusia diperintahkan (oleh Rasulullâh shallallâhu ‘alaihi wa sallam) supaya amalan yang terakhir mereka (sebelum meninggalkan Mekkah) adalah thawaf di rumah Allah, tetapi hal ini diringankan bagi wanita haidh”
(Muttafaqun ‘alaihi)

4. Bila tinggal di Mekkah setelah Thawâf Wadâ' dalam waktu yang lama maka diharuskan mengulangi Thawâf Wadâ'nya.

5. Tidak masalah setelah Thawâf Wadâ' melakukan perkara yang berkaitan dengan safar seperti menunggu teman serombongan, atau membeli bekal bepergian atau datangnya waktu shalat fardhu.

6. Bagi jamaah haji yang ingin keluar sementara dari kota Mekkah kemudian kembali lagi ke Mekkah, seperti orang yang ingin ke Jeddah karena satu keperluan maka dalam keadaan seperti ini sebagian ulama mengharuskan Thawâf Wadâ' sebelum meninggalkan Mekkah karena dia dianggap berpisah dengan Mekkah meskipun hanya sebentar.

Berkata An Nawawi (wafat 676H termasuk ulama besar dalam madzhab Asy Syafii) rahimahullâh:

وَالصحيحُ المشهورُ أنه يتوجَّهَ على من أراد مسافةَ القصْر ودونها، سواءٌ كانت مسافةً بعيدةً أم قريبةً لعموم الأحاديث

“Dan pendapat yang shahih lagi masyhur bahwa ( Thawaf Wada’ ) diharuskan bagi orang yang ingin (meninggalkan Mekkah) pada jarak yang boleh seseorang mengqashar dan yang lebih dekat daripada itu, sama saja apakah jaraknya jauh atau dekat, karena keumuman hadits-hadits”
(Al Majmuu’ Syarh Al Muhadzdzab 8/256)

Berkata Syeikh Abdul Aziz bin Bâz (wafat tahun 1420H, mufti Kerajaan Saudi Arabia terdahulu) rahimahullâh:

وأما مَنْ خَرج إليها لحاجة وقصدُه الرجوعُ إلى مكة؛ لأنها مَحَلُّ إقامتِه أيام الحج، فهذا فيه نَظَرٌ وشبهةٌ، والأقربُ أنه لا ينبغي له الخروجُ إلا بِوَداع عملاً بعموم الحديث المذكور، ويكفيه هذا الوداعُ عن وداع آخر إذا أراد الخروجَ إليها مرة أخرى؛ لكونه قد أتى بالوداع المأمور به، لكن إذا أراد الخروجَ إلى بلاده فالأحوطُ له أن يودِّع مرة أخرى للشك في إجزاءِ الوداع الأول

“Dan adapun orang yang keluar menuju Jeddah karena satu keperluan, dan maksudnya adalah kembali ke Mekkah karena tempat tinggalnya selama haji di Mekkah, maka ini perlu dilihat kembali dan disini ada kerancuan.
Dan pendapat yang lebih mendekati kebenaran bahwa orang tersebut tidak keluar (dari Mekkah) kecuali melakukan Thawâf Wadâ' dulu, karena mengamalkan keumuman hadits, dan Thawâf Wadâ' ini sudah mencukupi dari Wada’ yang lain ketika akan meninggalkan Mekkah lagi (setelah itu), karena dia sudah melakukan Thawâf Wadâ' yang diperintahkan.
Tapi kalau dia ingin pulang ke negaranya maka yang lebih berhati-hati adalah melakukan Thawâf Wadâ' lagi, yang demikian karena keraguan pada keabsahan Wada’ yang pertama”
(Majmuu’ Fatâwa Syeikh Abdulaziz bin Bâz 17/ 396-397)

7. Yang afdhal adalah memisahkan antara Thawâf Ifâdhah dan Thawâf Wadâ', yaitu melakukan Thawâf Ifâdhah terlebih dahulu kemudian Sa'i haji (bagi yang belum), baru setelah itu Thawâf Wadâ' menjelang pulang.

Namun bagi yang mengakhirkan Thawâf Ifâdhah menjelang pulang maka cukup Thawâf sekali, dan ini sudah mencukupi dari Thawâf Wadâ', dan tidak masalah sa'i haji yang dilakukan setelah Thawâf Ifâdah tersebut karena sa'i ini mengikuti Thawâf .

Akhirnya, saya berdoa semoga Allâh menerima ibadah haji saudara sekalian, menjadikannya haji yang mabrûr, serta mengampuni dosa saudara sekalian.

Saya mohon maaf atas segala kekurangan.
Dan sebagaimana Allâh telah mengumpulkan kita dalam ketaatan kepada-Nya di dunia, kita berharap semoga Allâh mempertemukan kita dan mengumpulkan kita di dalam surga-Nya.

Wassalâmu'alaikum warahmatullâhi wabarakâtuhu.


[Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A; Pengajar Kajian Berbahasa Indonesia di Masjid Nabawi 2013-2017 M, no hp: (+6281386535957)]

Tsulasa 12 Dzulhijjah 1440 / 13 Agustus 2019

_______________________________________________________


Silakan login untuk menulis komentar.

ARTIKEL TERKAIT

Renungan Pagi: Kisah Secangkir Kopi
Renungan Pagi: Kisah Secangkir Kopi
Ustadz Abdullah Zein Lc MA - 4 years ago
Ahlan Wa Sahlan Ya Ramadhan....
Ahlan Wa Sahlan Ya Ramadhan....
Ustadz Fachruddin Nu'man, Lc - 4 years ago
Nikmat Dzikir
Nikmat Dzikir
Ustadz Askar Wardhana, Lc - 3 years ago
Namimah
Namimah
Redaksi SalamDakwah - 5 years ago
Al Quds Bukan Milik Trump!
Al Quds Bukan Milik Trump!
Ustadz Abu Ubaidah As-Sidawi - 1 year ago
Memberi Pinjaman
Memberi Pinjaman
Ustadz DR Musyaffa' Ad Dariny,MA - 2 months ago
Ucapan Selamat Untuk Kaum Muslimin Atas Datangnya Bulan Ramadhan
Ucapan Selamat Untuk Kaum Muslimin Atas Datangnya Bulan Ramadhan
Ustadz DR Musyaffa' Ad Dariny,MA - 2 years ago
Sudahkah Mulai Puasa Syaban?
Sudahkah Mulai Puasa Syaban?
Redaksi SalamDakwah - 5 years ago
© 2019 - Www.SalamDakwah.Com