SALWA RADIO - Menebar Salam, Menyebar Dakwah
Stay in touch with us:

Untaian Nasehat - Kalbu oh Kalbu!!!

Ustadz Kholid Syamhudi, Lc - 8 years ago

Untaian Nasehat - Kalbu oh Kalbu!!!
Kalbu… Oh Kalbu!!!!
 
Perlu diketahui bersama bahwa Kalbu adalah sumber penalaran, tempat pertimbangan, tumbuhnya cinta dan benci, keimanan dan kekufuran, taubat dan keras kepala, ketenangan dan kegoncangan.
Kalbu juga menjadi sumber kebahagiaan, jika kita mampu membersihkannya dan menjadikannya sehat.
Namun sebaliknya merupakan sumber bencana jika menodainya dan membiarkannya sakit dan mengeras. Padahal Rasululloh pernah bersabda:

أَلَا وَإِنَّ فِي الْجَسَدِ مُضْغَةً إِذَا صَلُحَتْ صَلُحَ الْجَسَدُ كُلُّهُ وَإِذَا فَسَدَتْ فَسَدَ الْجَسَدُ كُلُّهُ أَلَا وَهِيَ الْقَلْبُ
 
Ketahuilah sesungguhnya dalam tubuh ada segumpal daging, apabila ia baik maka baiklah seluruh tubuh dan bila rusak maka rusaklah seluruh tubuh. Ketahuilah itu adalah kalbu. (HR Ibnu majah dengan sanad shohih)
Kalbu sangat berpengaruh terhadap semua aktifitas anggota tubuh lainnya, oleh karena itu, kalbu harus dijaga dan dirawat melebihi anggota tubuh lainnya. Apalagi dimasa kiwari ini, banyak penyakit yang menyerang kalbu dan kehidupannya yang membuat banyak dokter angkat tangan dalam mengobatinya.
 
Kerasnya Qalbu
Penyakit mengerasnya Qalbu seakan-akan seperti batu atau lebih keras lagi. Penyakit ini sudah lama menyerang manusia, sebagaimana difirmankan Allah ketika menyampaikan hal ini kepada bani Israil dalam firmanNya yang artinya: “Kemudian setelah itu hatimu menjadi keras seperti batu, bahkan lebih keras lagi. (QS al-Baqarah/2:74)
Hebatnya lagi penyakit ini tidak dirasakan banyak penderitanya, sehingga mereka tidak tahu kalau sudah terjangkiti penyakit berbahaya ini. Padahal para salaf sholeh dahulu menganggapnya sebagai penyakit yang sangat berat sekali.
Lihat yang diungkapkan tokoh tabi’in terkenal Maalik bin Dinaar : Tidak ada seorang hamba tertimpa hukuman yang lebih berat dari kerasnya kalbu (lihat al-Jaami’ Li Ahkaam al-Qu`aan, karya al-Qurthubi 15/216)
Kerasnya hati ini disifatkan para ulama dengan ungkapan hilangnya kelembutan, sifat rahmat dan kekhusu’an dari hati.
Ibnu al-Qayyim menjelaskan lebih detail lagi dengan menyatakan: Adapun kerasnya qalbu, maka ia adalah kekeringan dalam hati yang mencegahnya bereaksi, kekasaran yang mencegah qalbu terpengaruh dengan bencana dan musibah. Sehingga kalbu tidak terpengaruh dengan itu semua disebabkan kekasaran dan kerasnya, bukan karena kesabaran dan ketahanannya.
Hal ini terjadi karena kalbu ada tiga macam:
Pertama qalbu yang keras dan kasar seperti keadaan tangan yang kering dan kedua qalbu yang cair dan tipis sekali. Qalbu yang pertama tidak memiliki reaksi seperti keadaan batu dan yang kedua seperti air.
Kedua qalbu ini tidak baik. Qalbu yang sehat adalah qalbu yang halus, bersih dan kuat kokoh. Ia dapat melihat kebenaran dari kebatilan dengan sebab bersihnya dan tersentuh karena halusnya serta terjaga dan mampu memerangi musuhnya karena kuat dan kokohnya. (lihat ar-Ruh hlm. 241)
Perlu Diagnosa
Demikianlah hakekat kerasnya hati yang merusak akhlak dan keperibadian seorang muslim. Bila tidak terdeteksi secara dini bisa berakibat fatal membuatnya mati sebelum kematian jasadnya.
Tidak ada musibah yang lebih berat dari kematian kalbu. Oleh karena itu jiwa kita lebih butuh kepada kesehatan kalbu daripada kesehatan anggota tubuh yang lainnya.
Sebab bila anggota tubuh lainnya mati maka paling-paling hanya meninggalkan dunia fana ini, namun  bila kalbu kita mati maka kita telah mati sebelum kematian menjemput dan siksaan Allah l yang sangat pedih dan berat telah menunggu kita.
Oleh karenanya wajib bagi kita mengenal penyakit ini dan melakukan terapi penyembuhan kalbu kita bila sudah terinfeksi penyakit berbahaya ini.
Mari berintrospeksi diri mencapai ridho Allah. Kenalilah tanda-tandanya agar bisa segera berobat apabila terserang penyakit ini.
 
Tanda-Tanda Kerasnya Hati
Hati yang keras memiliki tanda-tanda yang bisa dikenali, di antara yang terpenting sebagai berikut :
1. Malas Melakukan Ketaatan dan Amal Kebaikan. Kita lihat sekarang banyak sekali diantara kita yang malas sholat lima waktu berjamaah dengan alasan kesibukan dunia. Bahkan ada yang meninggalkan sholat jum’at tanpa udzur syar’i. Padahal Rasululloh shalallahu alaihi wasallam pernah bersabda:

لَيَنْتَهِيَنَّ أَقْوَامٌ عَنْ وَدْعِهِمْ الْجُمُعَاتِ أَوْ لَيَخْتِمَنَّ اللَّهُ عَلَى قُلُوبِهِمْ ثُمَّ لَيَكُونُنَّ مِنْ الْغَافِلِينَ
 
Hendaknya kaum tersebut berhenti meninggalkan shlat jum’at atau Allah akan keraskan hati mereka kemudian mereka menjadi orang-orang yang lalai. (HR Muslim)
Juga berapa banyak orang yang enggan berzakat dengan alasan banyak pengeluaran pribadi dan lainnya. Mereka lupa kalau hati mereka telah mengeras dan telah memiliki sifat-sifat munafiqin yang di jelaskan dalam firman-Nya, yang artinya, “Dan mereka tidak mengerjakan shalat, melainkan dengan malas dan tidak (pula) menafkahkan (harta) mereka, melainkan dengan rasa enggan.” (At-Taubah : 54)
 
2. Tidak Tersentuh Oleh Ayat-ayat Allah baik berupa  Al-Qur’an atau ayat kauniyah dan tidak dapat mengambil pelajaran darinya. Berapa banyak kita membaca al-Qur`aan bahkan mengkhatamkannya sekali atau dua kali namun qalbu kita tidak tersentuh dan bergetar sedikitpun. Berbeda dengan hati yang sehat dan lembut.
Ketika disampaikan ayat-ayat yang berkenaan dengan janji dan ancaman Allah, maka tidak terpengaruh sama sekali, tidak mau khusyu’ atau tunduk, dan juga lalai dari membaca al-Qur’an serta mendengarkannya, bahkan enggan dan berpaling darinya. Sedang kan Allah Subhannahu wa Ta’ala telah memperingatkan, artinya, “Maka beri peringatanlah dengan al-Qur’an orang yang takut kepada ancaman-Ku.” (Qaaf : 45)
Demikian juga Tidak Tersentuh dengan Ayat Kauniyah (tanda kebesaran Allah yg nampak dimuka bumi ini).
Tidak tergerak dengan adanya peristiwa-peristiwa yang dapat memberikan pelajaran, seperti kematian, sakit, bencana dan semisalnya. Dia memandang kematian atau orang yang sedang diusung ke kubur sebagai sesuatu yang tidak ada apa-apanya, padahal cukuplah kematian itu sebagai nasihat. “Dan tidakkah mereka (orang-orang munafik) memperhatikan bahwa mereka diuji sekali atau dua kali setiap tahun, kemudian mereka tidak (juga) bertaubat dan tidak (pula) mengambil pelajaran?” (At-Taubah :126)
Bila ada bencana yg dilihat hanya sebab2 ilmiyah dunia saja tanpa kembali kepada kekuasaan Allah dan peringatanNya.
 
3. Berlebihan Mencintai Dunia dan Melupakan Akhirat. Himmah (cita2 dan semangat) dan segala keinginannya tertumpu untuk urusan dunia semata. Segala sesuatu ditimbang dari sisi dunia dan materi. Cinta, benci dan hubungan dengan sesama manusia hanya untuk urusan dunia saja. Ujungnya, jadilah dia seorang yang dengki, egois dan individualis, bakhil dan tamak terhadap dunia. Klo memberi harta dunia dicintai bila tidak maka maaf tidak bisa dicintai. Demikianlah orang-orang yang keras hatinya cenderung cinta dunia dan takut mati. Semoga kita dihindari dari hal ini dan disucikan Allah qalbu2 kita dgn berusaha memperbanyak amal shalih.
 
4. Kurang Mengagungkan Allah. Sehingga hilang rasa cemburu dalam hati, kekuatan iman melemah, tidak marah ketika larangan Allah diterjang, serta tidak mengingkari kemungkaran. Tidak mengenal yang ma’ruf serta tidak peduli terhadap segala kemaksiatan dan dosa. Bila hal ini dibiarkan bisa mematikan hati kita.
 
5. Kegersangan Hati. Kesempitan dada, mengalami kegoncangan, tidak pernah merasakan ketenangan dan kedamaian sama sekali. Hatinya gersang terus-menerus dan selalu gundah terhadap segala sesuatu.
 
6. Kemaksiatan Berantai. Termasuk fenomena kerasnya hati adalah lahirnya kemaksiatan baru akibat dari kemaksiatan yang telah dilakukan sebelumnya, sehingga menjadi sebuah lingkaran setan yang sangat sulit bagi seseorang untuk melepaskan diri.
 
Sebab-Sebab Kerasnya Hati
Di antara faktor kerasnya hati, yang penting untuk kita ketahui yaitu:
1. Ketergantungan Hati kepada Dunia serta Melupakan Akhirat. Kalau hati sudah keterlaluan mencintai dunia melebihi akhirat, maka hati tergantung terhadapnya, sehingga lambat laun keimanan menjadi lemah dan akhirnya merasa berat untuk menjalankan ibadah. Kesenangannya hanya kepada urusan dunia belaka, akhirat terabaikan dan bahkan ter-lupakan. Hatinya lalai mengingat maut, maka jadilah dia orang yang panjang angan-angan.
Seorang salaf berkata, “Tidak ada seorang hamba, kecuali dia mempunyai dua mata di wajahnya untuk memandang seluruh urusan dunia, dan mempunyai dua mata di hati untuk melihat seluruh perkara akhirat. Jika Allah menghendaki kebaikan seorang hamba, maka Dia membuka kedua mata hatinya dan jika Dia menghendaki selain itu (keburukan), maka dia biarkan si hamba sedemikian rupa (tidak mampu melihat dengan mata hati), lalu dia membaca ayat, “Maka apakah mereka tidak memperhatikan al-Qur’an ataukah hati mereka terkunci.” (Muhammad : 24)
 
2. Lalai. Lalai merupakan penyakit yang berbahaya apabila telah menjalar di dalam hati dan bersarang di dalam jiwa. Karena akan berakibat anggota badan saling mendukung untuk menutup pintu hidayah, sehingga hati akhirnya menjadi terkunci. Allah berfirman, “Mereka itulah orang-orang yang hati, pendengaran dan penglihatannya telah dikunci mati oleh Allah, dan mereka itu lah orang-orang yang lalai” (QS.16:108)
Allah Subhannahu wa Ta’ala memberitahukan, bahwa orang yang lalai adalah mereka yang memiliki hati keras membatu, tidak mau lembut dan lunak, tidak mempan dengan berbagai nasehat. Dia bagai batu atau bahkan lebih keras lagi, karena mereka punya mata, namun tak mampu melihat kebenaran dan hakikat setiap perkara. Tidak mampu membedakan antara yang bermanfaat dan membahayakan. Mereka juga memiliki telinga, namun hanya digunakan untuk mendengarkan berbagai bentuk kebatilan, kedustaan dan kesia-siaan. Tidak pernah digunakan untuk mendengarkan al-haq dari Kitabullah dan Sunnah Rasul Shalallaahu alaihi wasalam (Periksa QS. Al A’raf 179)
 
3. Kawan yang Buruk. Ini juga merupakan salah satu sebab terbesar yang mempengaruhi kerasnya hati seseorang. Orang yang hidupnya di tengah gelombang kemaksiatan dan kemungkaran, bergaul dengan manusia yang banyak berku-bang dalam dosa, banyak bergurau dan tertawa tanpa batas, banyak mendengar musik dan menghabiskan hari-harinya untuk film, maka sangat memungkinkan akan terpengaruh oleh kondisi tersebut.
 
4. Terbiasa dengan Kemaksiatan dan Kemungkaran. Dosa merupakan penghalang seseorang untuk sampai kepada Allah. Ia merupakan pembegal perjalanan menuju kepada-Nya serta membalikkan arah perjalanan yang lurus. Kemaksiatan meskipun kecil, terkadang memicu terjadinya bentuk kemaksiatan lain yang lebih besar dari yang pertama, sehingga semakin hari semakin bertumpuk tanpa terasa. Dianggapnya hal itu biasa-biasa saja, padahal satu persatu kemaksiatan tersebut masuk ke dalam hati, sehingga menjadi sebuah ketergantungan yang amat berat untuk dilepaskan. Maka melemahlah kebesaran dan keagungan Allah di dalam hati, dan melemah pula jalannya hati menuju Allah dan kampung akhirat, sehingga menjadi terhalang dan bahkan terhenti tak mampu lagi bergerak menuju Allah.
 
5. Melupakan Maut, Sakarat, Kubur dan Kedahsyatannya. Termasuk seluruh perkara akhirat baik berupa adzab, nikmat, timbangan amal, mahsyar, shirath, Surga dan Neraka, semua telah hilang dari ingatan dan hatinya.
 
6. Melakukan Perusak Hati. Yang merusak hati sebagaimana dikatakan Imam Ibnul Qayyim ada lima perkara, yaitu banyak bergaul dengan sembarang orang, panjang angan-angan, bergantung kepada selain Allah, berlebihan makan dan berlebihan tidur.
Setelah tau sebabnya, Lalu apa solusinya?
 
Solusi dan terapi qalbu yang keras
Hati yang lembut dan lunak merupakan nikmat Allah yang sangat besar, karena dia mampu menerima dan menyerap segala yang datang dari Allah. Allah mengancam orang yang berhati keras melalui firman-Nya, “Maka kecelakaan yang besarlah bagi mereka yang membatu hatinya untuk mengingat Allah.Mereka itu dalam kesesatan yang nyata. (Az-Zumar: 22)
Di antara hal-hal yang dapat membantu menghilangkan kerasnya hati dan menjadikannya lunak, lembut dan terbuka untuk menerima kebenaran dari Allah yakni:
1. Ma’rifat (mengenal) Allah. Siapa yang kenal Allah, maka hatinya pasti akan lunak dan lembut, dan siapa yang jahil terhadap-Nya, maka akan keras hatinya. Semakin bodoh seseorang terhadap Allah, maka akan semakin berani melanggar batasan-Nya. Dan semakin seseorang berfikir tentang Allah, maka semakin sadar akan kebesaran Allah, keluasan nikmat serta kekuasaan Nya.
 
2. Mengingat Maut. Pertanyaan kubur, kegelapannya, sempit dan sepinya, juga penderitaan menjelang sakaratul maut termasuk ke dalam mengingat maut. Memperhatikan pula orang-orang yang telah mendekati kematian dan menghadiri jenazah. Hal itu dapat membangunkan ketertiduran hati kita, dan mengingatkan dari keterlenaan. Sa’id bin Jubair berkata, “Seandainya mengingat mati lepas dari hatiku, maka aku takut kalau akan merusak hatiku.”
 
3. Berziarah Kubur dan Memikirkan Penghuninya. Bagaimana mereka yang telah ditimbun tanah, bagaimana mereka dulu makan, minum dan berpakaian dan kini telah hancur di dalam kubur, mereka tinggalkan segala yang dimiliki, harta, kekuasaan maupun keluarga, lalu ingat dan berfikir, bahwa sebentar lagi dia juga akan mengalami hal yang sama.
 
4. Memperhatikan Ayat-ayat Al- Qur’an. Memikirkan ancaman dan janjinya, perintah dan larangannya. Karena dengan memikirkan kandungannya, maka hati akan tunduk, iman akan bergerak mendorong untuk berjalan menuju Rabbnya, hati menjadi lunak dan takut kepada Allah.
 
5. Mengingat Akhirat dan Kiamat. Huru-hara dan kedahsyatannya, Surga dengan kenimatannya, neraka dengan penderitaannya yang disediakan bagi para pelaku dosa dan kemaksiatan.
 
6. Memperbanyak Dzikir dan Istighfar. Dzikir dapat melunakan hati yang keras. Karena itu selayaknya seorang hamba mengobati hatinya dengan berdzikir kepada Allah, sebab ketika kelalaian bertambah, maka kekerasan hati makin memuncak pula.
 
7. Mendatangi Orang Shalih dan Bergaul dengan Mereka. Orang shaleh akan memberikan semangat ketika kita lemah, mengingatkan ketika lupa, dan memberikan jalan ketika kita bingung dan pertemuan dengan mereka akan membantu kita dalam melakukan ketaatan kepada Allah.
 
8. Berjuang, Introspeksi dan Melihat Kekurangan Diri. Manusia, jika tidak mau berjuang, introspeksi dan melihat kekurangan diri, maka dia tidak tahu, bahwa dirinya sakit dan banyak kekurangan. Jika dia tidak merasa sakit atau punya kekurangan, maka bagaimana mungkin dia akan memperbaiki diri atau berobat?
Wallahu a’lam, semoga Allah Subhannahu wa Ta’ala melunakkan hati kita semua untuk menerima dan menjalankan kebenaran, amin ya Rabbal ‘alamin.
 
Sumber : Kutaib “Limadza Taqsu Qulubuna” Al-Qism al-Ilmi Darul Wathan.

Silakan login untuk menulis komentar.

ARTIKEL TERKAIT

Harta Di Akherat
Harta Di Akherat
Ustadz Kholid Syamhudi, Lc - 7 years ago
Keutamaan Silaturahmi
Keutamaan Silaturahmi
Ustadz Kholid Syamhudi, Lc - 7 years ago
Takwa
Takwa
Ustadz Kholid Syamhudi, Lc - 5 years ago
Amalan dan Hukum Sekitar Ramadhan Seri 4
Amalan dan Hukum Sekitar Ramadhan Seri 4
Ustadz Kholid Syamhudi, Lc - 7 years ago
Menghadapi Fitnah
Menghadapi Fitnah
Ustadz Kholid Syamhudi, Lc - 7 years ago
Doa Penyejuk Hati
Doa Penyejuk Hati
Ustadz Kholid Syamhudi, Lc - 6 years ago
Manusia dan Ilmu TIDAK TAHU
Manusia dan Ilmu TIDAK TAHU
Ustadz Kholid Syamhudi, Lc - 6 years ago
Sebab Kebaikan
Sebab Kebaikan
Ustadz Kholid Syamhudi, Lc - 6 years ago
Amalan dan Hukum Sekitar Ramadhan Seri 7
Amalan dan Hukum Sekitar Ramadhan Seri 7
Ustadz Kholid Syamhudi, Lc - 7 years ago
Berbakti Kepada Orang Tua
Berbakti Kepada Orang Tua
Ustadz Kholid Syamhudi, Lc - 7 years ago
© 2019 - Www.SalamDakwah.Com