SALWA RADIO - Menebar Salam, Menyebar Dakwah
Stay in touch with us:

Bersedekah Itu Menyelamatkan

- 1 month ago

Bersedekah Itu Menyelamatkan

Dishare Oleh Ustadz Fariq Gasim Anuz

BERSEDEKAH ITU MENYELAMATKAN
(Kisah nyata dari Damaskus, Suriah)

Disampaikan Oleh Asy-Syaikh Ali Ath-Thanthawi -Rahimahullah-


Berikut ini adalah kisah nyata yang terjadi pada tahun tahun tujuh puluhan yang lalu di Damaskus, ibukota Suriah.

Seorang pengusaha besar ditimpa penyakit kanker ganas yang belum ada obatnya!.

Ketika itu, beliau segera memilih untuk berobat ke Amerika, di rumah sakit terbaik di sana..
Setelah menjalani semua pemeriksaan menyeluruh yang teliti di sana, tim dokter ahli di sana berkesimpulan bahwa kanker telah menjalar ke seluruh tubuhnya dan sudah tidak bisa lagi disembuhkan..

Mereka bersepakat untuk menyampaikan kepada keluarga pasien dengan sejelas jelasnya bahwa usia pasien ini tinggal beberapa hari lagi, bahkan tidak lebih dari satu bulan; dan sebaiknya kembali ke Damaskus untuk menerima kematiannya di tengah keluarganya.. Pasien diizinkan untuk makan dan minum apa saja yang ia inginkan..

Beliau pulang ke Damaskus pada saat batas akhir dari usianya -sebagaimana yang diperkirakan oleh tim dokter ahli- tinggal dua puluh hari lagi..

Pada hari itu baru saja hujan reda, beliau merasa nafasnya sesak, lalu beliau merasa ingin menghirup udara segar, beliau pun keluar dari rumah, berjalan kaki sendirian, tak jelas hendak kemana, sampai beliau merasa sedikit lelah, beliau pun duduk di trotoar..

Tak jauh dari tempatnya duduk, beliau melihat seorang perempuan muda sedang berbincang dengan seorang pemuda tampan yang terlihat macho dan terlihat kaya.. Keduanya nampak tidak peduli dengan kehadirannya duduk di trotoar itu..
Sayup sayup beliau mendengarkan pemuda itu menawar "tarif" yang diminta oleh perempuan cantik itu..
Astaghfirullah..

Perempuan itu menjelaskan bahwa ia sangat butuh uang untuk mengontrak rumah dan memberi makan putera puterinya, karena mereka baru saja diusir dari rumah kontrakan mereka karena tidak sanggup membayar kontrakan mereka tepat waktu..

Tapi pemuda itu tetap tidak setuju dengan "tarif" yang diminta ibu muda itu, karena dia mau lebih murah lagi.. Karena keduanya tidak bersepakat, maka pemuda itu pergi meninggalkannya..

Setelah itu, beliau mendekati ibu muda tersebut, ternyata ibu itu meneteskan air mata kesedihan karena pahitnya kehidupan ini..

🗨️⁩ "Maaf Anakku, Saya mendengar sepintas pembicaraanmu tadi. Sebenarnya, apa yang terjadi?. Apa yang memaksamu melakukan pekerjaan yang sangat hina ini?".

Ibu muda itu menoleh kepadanya lalu tertunduk malu:
"Anak anakku sekarang tinggal di taman saat ini, kami baru saja diusir oleh pemilik rumah kontrakan. Suamiku di penjara, tak ada kabar. Kami tidak punya keluarga di sini.
Saya bersumpah demi Allah, baru kali ini saya akan mencoba melakukan dosa ini karena sangat terpaksa.. Saya telah berusaha berbagai cara untuk bekerja yang halal, tapi belum berhasil.. Bahkan usaha yang haram ini pun tidak berhasil"..
Air matanya semakin deras..

🗨️⁩ "Dengarkanlah wahai Putriku. Kalau saya membiayai hidupmu dan anak anakmu, apa yang akan kau berikan kepadaku?".

"Saya akan berikan apa saja yang Bapak minta dariku".

🗨️⁩ "Saya hanya minta satu hal saja!.
Jangan jual dirimu Nak dengan perbuatan haram itu, seumur hidupmu!.
In sya Allah, saya akan membiayai kebutuhan hidupmu sekeluarga!".

"Tentu saya sangat setuju dan sangat senang sekali".

🗨️⁩ "Apa jaminan bahwa kamu akan menepati janjimu?".

"Apakah Bapak menerima bahwa hanya Allah yang menjaminku?".
"Saya bersumpah demi Allah yang mendengar ucapan kita saat ini, bahwa saya akan memenuhi janjiku ini seumur hidupku".
"Saya bersyukur kepada Allah yang telah mengirim Bapak kepada saya pada saat yang sangat tepat ini".

🗨️⁩ "Yah, kita telah bersepakat. Allah menjadi saksi kita. Kasih saya alamat kontrakanmu itu -yang kamu diusir dari situ-. Kembalilah ke sana bersama anak anakmu. Saya segera ke sana hari ini"..

Ia pulang ke rumahnya, lalu ia bersegera ke ruang kerjanya. Ia menulis surat wasiat singkat berikut ini:

"Anak anakku tercinta..
Wasiatku untukmu semua:
Berikanlah santunan bulanan ke ibu penghuni kontrakan di alamat berikut ini, dalam jumlah yang cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup lima orang. Lakukan itu seumur hidupmu semua. Mohon laksanakanlah wasiatku ini".

Setelah itu, beliau ke supermarket membeli banyak sekali sembako, peralatan dapur, peralatan mandi dan cuci, alat tulis, mainan anak anak, permen, biskuit dan sebagainya, sampai memenuhi mobilnya, seluruhnya beliau antarkan sendiri ke rumah kontrakan ibu muda itu.
Sebelum meninggalkan rumah itu, beliau bertemu dengan pemilik rumah, melunasi semua tunggakan kontrakannya; bahkan membayar lunas biaya kontrakan untuk tiga tahun yang akan datang!..
Tidak hanya itu..
Beliau juga mendatangi pemilik toko tempat ibu ini berutang sembako selama ini, beliau lunasi semua utangnya..
Itu juga yang beliau lakukan terhadap penjual daging tempat ibu itu berutang selama ini, beliau lunasi juga..
Semua utang ibu itu beliau bayarkan dan lunaskan..


Beliau pulang ke rumahnya dalam kebahagiaan yang luar biasa..
Beliau lupa bahwa hari kematiannya semakin dekat, yaitu akhir bulan itu -sebagaimana yang telah ditetapkan oleh tim dokter di Amerika-.

Akhir bulan pun tiba..
Inilah hari kematian yang telah diperkirakan itu..
Ternyata pada hari itu beliau tidak wafat..
Esok harinya, adalah hari pertama pada bulan berjalan, beliau segera ke rumah ibu itu untuk menyerahkan secara langsung santunan bulanannya.. Beliau tidak berlama lama di sana. Beliau cepat pulang..

Hari demi hari berlalu..
Beliau belum wafat..
Beliau selalu mempersiapkan diri untuk wafat yang terbaik..
Bulan berganti bulan..
Setiap hari pertama di awal bulan, beliau sendiri yang membawakan santunan bulanan ke ibu muda itu..
Tahun berganti tahun..
Beliau tetap mempertahankan persiapan terbaik beliau untuk wafat yang terbaik..
Wasiat beliau masih tersimpan rapi di berangkas yang berisi uang, emas, perhiasan, surat tanah, surat surat penting lainnya..
Tahun demi tahun berlalu, sampai lebih dari DUA PULUH TAHUN..
Selalu dalam kondisi iman yang optimal..
Selalu bahagia dengan amal ibadah..
Selalu tersenyum..
Kebiasaan mengantar langsung santunan bulanan itu tak pernah terlambat walau satu hari sekalipun!!..

Pada subuh itu, pada saat beliau sedang shalat subuh dengan khusyu' yang beliau selalu biasakan, dengan ketenangan yang sempurna, Allah memanggil beliau kembali ke hadiratNya pada saat beliau sedang sujud!!.
Allahu Akbar!!.
Alangkah indah kematian beliau!!.

Setelah berlalu beberapa hari dari kematian beliau, putera puteri beliau berkumpul untuk bersama sama melihat isi berangkas..
Mereka mendapatkan surat wasiat Bapak mereka, terdapat di bagian paling atas di dalam berangkas..
Kakak sulung mereka mengatakan:
"Astaghfirullah, kita telah terlambat tujuh hari dari awal bulan, yang semestinya kita membawakan santunan bulanan ke ibu itu pada awal bulan".

Mereka bersegera mengantarkan uang santunan bulanan ke alamat ibu itu..
Setelah pintu diketuk, ibu itu membuka pintu, lalu amplop itu diserahkan mewakili Bapak mereka, disertai permohonan maaf atas keterlambatan mereka selama tujuh hari..
Ibu itu menangis tersedu sedu, kemudian mengatakan:
"Saya berterima kasih kepadamu semua dan kepada Bapakmu..
Sampaikan salam hormatku kepada Bapakmu..
Saya akan selalu mengingat jasa beliau kepadaku sekeluarga..
Seumur hidupku saya akan selalu mendo'akan kebaikan untuk beliau sekeluarga..
Dengan segala hormat, saya sarankan, sebaiknya Bapakmu membantu orang lain lagi yang lebih sulit hidupnya dari kami, karena sejak tujuh hari yang lalu, putera sulungku telah menerima gaji pertamanya di tempat kerjanya"..

Alangkah terkejutnya ibu itu setelah diberitahu bahwa Bapak mereka telah wafat tepat tujuh hari yang lalu..
Lalu pecahlah tangis mereka bersama sama, sambil terus mendo'akan kebaikan untuk Bapak mereka..

➖➖➖

Pelajaran dan Pesan:
Demikianlah perdagangan dengan Allah..
Melalui harta.. Melalui ilmu.. Melalui da'wah.. Melalui Akhlak Mulia..

Pemberian Allah sangat besar.. Sangat luas.. Tak terbatas.. Mengangkat musibah.. Menyembuhkan dari penyakit.. Memenuhi semua kebutuhan.. Yang paling utama ialah: MEMBERATKAN TIMBANGAN KEBAIKAN di hari Akhirat nanti!!.

Bersama kita terus berbuat baik.. Bersama kita selalu berbagi kebaikan.. Dengan keinginan untuk mendapatkan balasan kebaikan dari Allah.. Dengan keyakinan yang utuh bahwa kita PASTI mendapatkan balasan kebaikan itu di Akhirat dan di dunia ini.

Diterjemahkan oleh:
Muzakkir M. Arif

(Berbagi tulisan yang baik, adalah bagian dari perdagangan mulia dengan Allah yang Maha Pemurah)

_____________________________________
http://www.salamdakwah.com/artikel/4752-bersedekah-itu-menyelamatkan


Jonhar SR
1 month ago

Terimakasih Telah Berbagi Kisah.

Jazakallahu khairan katsiran telah berbagi kisah mulia yang menggugah ini.

Silakan login untuk menulis komentar.
© 2022 - Www.SalamDakwah.Com