SALWA RADIO - Menebar Salam, Menyebar Dakwah
Stay in touch with us:

Ribakah Menggunakan Uang Kertas?

Ustadz Dr. Arifin Badri, MA - 6 days ago

Ribakah Menggunakan Uang Kertas?

Oleh Ustadz DR. Muhammad Arifin Badri

RIBAKAH MENGGUNAKAN UANG KERTAS ?


Saudaraku! Sebagai seorang yang taat beragama, pasti anda penasaran, ingin tahu, apakan uang kertas juga memiliki konsekwensi hukum riba sebagaimana yang berlaku pada uang dinar dan dirham?

Untuk mengobati rasa penasaran anda, seyogyanya anda terlebih dahulu mengetahui alasan ( 'illah ) berlakunya hukum riba pada dinar dan dirham. Dengan demikian, selanjutnya anda dapat menganalogikan uang kertas dengan uang dinar dan dirham.

Ulama' ahli fiqih, selain penganut mazhab Zhahiry memiliki dua pendapat dalam masalah ini:

➖Pendapat Pertama:
Alasan ('illah) berlakunya hukum riba pada emas dan perak ialah karena keduanya ditimbang. Dengan demikian, setiap komoditi yang diperjual belikan dengan ditimbang, bila dibarterkan dengan barang yang sama, maka berlaku padanya hukum riba perniagaan.
Ini adalah pendapat mazhab Hanafi dan salah satu riwayat dalam mazhab Hambaly.( )
Akan tetapi pendapat ini kurang akurat, dikarenakan para ulama' telah menyepakati bolehnya menggunakan dinar dan dirham untuk membeli barang lain selain keduanya yang perjual-belikan dengan ditimbang. Baik jual-beli dilakukan dengan cara tunai atau terhutang, dan baik dalam timbangan yang sama atau berbeda.
(Majmu' Fatawa Ibnu Taimiyyah 29/471)

➖Pendapat kedua :
Alasan berlakunya riba pada emas dan perak karena keduanya adalah alat transaksi, dan standar nilai harta kekayaan. Ini adalah pendapat kebanyakan ulama', sejak dahulu hingga sekarang.( )

Pendapat kedua inilah yang lebih kuat dan selaras dengan berbagai dalil-dalil yang ada dalam permasalahan ini. Hadits berikut adalah satu dari sekian banyak dalil yang menguatkan pendapat ini :

عن عبادة بن الصامت - قال: (نهى رسول الله - أن يباع الذهب بالذهب تبره وعينه إلا وزنا بوزن والفضة بالفضة تبرها وعينها إلا مثلا بمثل ... فمن زاد أو إزداد فقد أربى. رواه النَّسائي والطَّحاوي والدَّارقطني والبيهقي وصححه الألباني

"Rasulullah - melarang barter emas dengan emas, baik yang berupa batangan atau berupa mata uang dinar melainkan dengan cara sama timbangannya, dan barter perak dengan perak, baik yang berupa batangan atau berupa mata uang dirham melainkan dengan cara sama timbangannya. Dan barang siapa yang menambah atau meminta tambahan, maka ia telah berbuat riba."
Riwayat An Nasa'i, At Thohawi, Ad Daraquthny, Al Baihaqy dan dinyatakan sebagai hadits shahih oleh Al Albany.

Imam An Nawawi berkata :
"Kebanyakan ulama' mazhab As Syafi'i berkata: Alasan berlakunya hukum riba pada keduanya (emas dan perak) ialah karena keduanya dapat dijadikan sebagai alat transaksi yang berlaku luas. Dan bila engkau mau engkau boleh berkata: alasannya ialah karena keduanya adalah bahan baku alat transaksi yang berlaku luas. Dengan demikian, kedua ungkapan ini mencakup emas dan perak yang berupa batangan, mata uang, perhiasan, serta perabot yang terbuat dari keduanya."
(Raudhatut Thalibin oleh An Nawawi 3/378)

Dengan demikian, dapat ditarik kesimpulan, peranan emas dan perak sebagai alat taransaksi atau bahan dasar alat transaksi menjadi alasan keduanya mendapatkan perlakuan khusus; dipungut zakat dan belaku hukum riba. Bila demikian adanya, maka mata uang kertas yang telah menggantikan peranan dinar dan dirham, sudah sepantasnya mendapatkan perlakuan yang sama. Alasannya, karena umat manusia, termasuk umat Islam telah menjadikannya sebagai alat transaksi dan penyimpan harta kekayaan.

Tidak heran bila badan-badan fiqih internasional zaman sekarang memutuskan bahwa mata uang kertas yang berlaku saat ini berlaku padanya hukum riba dan wajib dikeluarkan zakatnya bila telah mencapai batas nishab, dan lain sebagainya.

Al Majma' Al Fiqhi Al Islami, badan fiqih dibawah naungan Rabithah Alam Islami (Muslim World league) pada sidangnya yang ke-5 tahun 1402 H memutuskan bahwa uang kertas memiliki konsekwensi hukum seperti yang berlaku pada mata uang dinar dan dirham, dengan alasan:
1. Alasan berlakunya hukum riba pada dinar dan dirham adalah karena keduanya sebagai alat transaksi.
2. Uang kertas telah menjadi alat transaksi dan pembayaran yang diterima oleh seluruh lapisan masyarakat, dan alat penyimpana harta kekayaan mereka. Walaupun nilai uang kertas terletak pada faktor luar, atau bersifat ekstrinsik, yaitu pada kepercayaan masyarakat dan bukan pada bahan bakunya.
3. Mata uang dinar dan dirham tidak lagi digunakan oleh masyarakat.

Sebagai konsekwensi langsung keputusan ini, maka :
1- Berlaku padanya hukum riba.
2- Berlaku hukum wajib zakat padanya.
3- Boleh untuk dijadikan sebagai modal dalam perserikatan dagang, pemesanan dan lainnya.
(Qararat Al Majma' Al Fiqhi Al Islami 99-101)

Keputusan yang sama juga diambil oleh Majma' Al Fiqh Al Islami di bawah organisasi OKI. Berikut nukilan keputusan yang saya maksudkan:
"Keputusan no: 21 (9/3)
Perihal : Hukum Uang Kertas Dan Perubahan Kurs Mata Uang.
Sesungguhnya rapat pleno Majma' Al Fiqih Al Islami Ad Dauly yang ke-3, dan yang berlangsung di Amman, Ibu Kota Kerajaan Jordania Al Hasyimiyah, sejak tanggal 8 s/d 13 Safar 1407 H, bertepatan dengan 11 s/d 16 Oktober 1986 M, setelah menelaah seluruh lembar kerja yang diajukan kepada anggota Majma' Al Fiqih tentang hukum uang kertas dan perubahan krus mata uang, memutuskan:

Pertama berkaitan dengan uang kertas:
Uang kertas memainkan peranan sebagai mata uang yang sebenarnya. Berbagai karakter mata uang sepenuhnya terdapat pada uang kertas. Dan seluruh hukum yang berlaku pada (uang) emas dan perak berlaku pada uang kertas, dimulai dari hukum riba, zakat, salam (pemesanan dengan pembayaran tunai), dan seluruh hukum-hukum terkait dengan keduanya.

Kedua, berkaitan dengan perubahan nilai tukar mata uang:
Pengambilan keputusan terkait masalah ini ditunda hingga seluruh aspek terkait dengannya benar-benar dikaji dengan tuntas, untuk seterusnya diambil keputusan pada rapat pleno ke-4. Wallahul Muwaffiq".
(Majalah Majma' Al Fiqhi, edisi 3, juz3, hal:1650 & edisi 5, juz3, hal:1609).

Saudaraku! Diantara sikap bijak yang semestinya tercermin selalu pada diri setiap muslim ialah mendudukkan setiap masalah pada tempat dan dalam porsi yang benar. Permasalahan uang kertas atau emas hanyalah sebatas alat transaksi, dan telah terbukti dengan meyakinkan bahwa Islam tidak terlalu menyoal masalah alat transaksi. Islam lebih menekankan pada metode penggunaan alat transaksi. Karenanya, penekanan berbagai dalil yang ada dalam fiqih mu'amalah pada metode transaksi jauh melebihi penekanannya pada alat dan obyek transaksi.

Karenanya, sudah sepantasnya bila perhatian umat islam saat ini pada metode perniagaan mereka melebihi perhatiannya kepada obyek dan alat perniagaan mereka. Karena hukum asal pada alat dan obyek perniagaan adalah halal. Bila anda mencermati dengan seksama berbagai alat dan obyek niaga yang diharamkan dalam Islam begitu sedikit bila dibanding dengan metode niaga yang diharamkan.

Sebagaimana sudah sepantasnya bila umat Islam dan umat manusia seluruhnya bahu-membahu mengembalikan mata uang kepada kegunaan asalnya, yaitu sebagai alat niaga dan bukan sebagai obyek niaga. Hanya dengan cara inilah, perekonomian umat manusia dapat stabil dan benar-benar adil. Dan berbagai guncangan dan krisis ekonomi global dapat dihindarkan serta kejahatan para spekulan dapat ditanggulangi.

Akan tetapi selama mata uang umat manusia tetap dijadilan sebagai obyek niaga, -walaupun mereka telah kembali kepada dinar dan dirham- layaknya komoditi perniagaan lainnya, maka berbagai petaka dan krisis perekonomian, akan terus membayang-bayangi kehidupan umat manusia, sebagai hukuman terhadap praktek riba.

Semoga pemaparan singkat ini bermanfat bagi saya dan saudaraku sekalian, bila ada kebenaran maka itu adalah karunia Allah, dan bila ada kekurangan maka itu adalah bukti akan kebodohan diri saya sendiri. Wallahu a'alam bisshawab

________________________________
Dipost Ustadz DR. Muhammad Arifin Badri -hafizhahullah- Ahad 23 Shofar 1439 H / 12 November 2017

http://www.salamdakwah.com/artikel/4556-ribakah-menggunakan-uang-kertas


Silakan login untuk menulis komentar.

ARTIKEL TERKAIT

Saudaraku Salafy! Jangan Bermain Api
Saudaraku Salafy! Jangan Bermain Api
Ustadz Dr. Arifin Badri, MA - 6 days ago
Gerhana Panumbra.
Gerhana Panumbra.
Ustadz Dr. Arifin Badri, MA - 1 year ago
Miliki Pesugihan Yang Cepat Bikin Sugih
Miliki Pesugihan Yang Cepat Bikin Sugih
Ustadz Dr. Arifin Badri, MA - 1 year ago
Banyak Beristighfar Untuk Mencegah Datangnya Penyakit
Banyak Beristighfar Untuk Mencegah Datangnya Penyakit
Ustadz Dr. Arifin Badri, MA - 3 years ago
Berapa Jumlah Kekayaan Anda Hari Ini ?
Berapa Jumlah Kekayaan Anda Hari Ini ?
Ustadz Dr. Arifin Badri, MA - 7 months ago
Jalan Pintas Jadi Kaya
Jalan Pintas Jadi Kaya
Ustadz Dr. Arifin Badri, MA - 7 months ago
Dakwah Tuh Ternyata Berat Sekali
Dakwah Tuh Ternyata Berat Sekali
Ustadz Dr. Arifin Badri, MA - 8 months ago
Buang Jauh-Jauh Rasa Takut Kepada Selain Allah
Buang Jauh-Jauh Rasa Takut Kepada Selain Allah
Ustadz Dr. Arifin Badri, MA - 7 months ago
Waah, Tambah Muda Saja Anda!
Waah, Tambah Muda Saja Anda!
Ustadz Dr. Arifin Badri, MA - 3 years ago
Tahukah Anda?
Tahukah Anda?
Ustadz Dr. Arifin Badri, MA - 3 years ago
© 2017 - Www.SalamDakwah.Com