SALWA RADIO - Menebar Salam, Menyebar Dakwah
Stay in touch with us:

PENDIDIKAN ANAK DALAM AL QUR’AN DAN AS SUNNAH

Ustadz Ibnu Hibban - 1 month ago

PENDIDIKAN ANAK DALAM AL QUR’AN DAN AS SUNNAH

PENDIDIKAN ANAK DALAM AL QUR’AN DAN AS SUNNAH

Agama islam adalah agama yang sempurna, tidak ada satupun perkara dari sisi kehidupan manusia kecuali sudah dijelaskan oleh agama islam entah dalam bentuk pesan yang tersurat ( disebut secara langsung ) atau bahkan tersirat ( melalui isyarat-isyarat ilmiah ), termasuk diantaranya adalah apa yang selalu diharapkan oleh seorang yang sudah diamanahi oleh Allah putra-putri  yang akan menjadi pewaris abadi mereka di dunia dan akhirat.

Banyak diantara kaum muslimin beranggapan bahwa ilmu tentang pendidikan anak tidak banyak disebut atau disinggung dalam al qur’an ataupun sunnah, akan tetapi Anggapan ini adalah anggapan yang salah sekaligus melambangkkan jauhnya seseorang dari agama islam itu sendiri.

Dalam makalah ringkas ini, kami akan berusaha menyajikan kepada para pembaca perihal pesan-pesan pendidikan anak yang terdapat dalam Al-qur’an dan Assunnah

  1. Fitrah orang tua

Tidak dapat di pungkiri bahwa seseorang sudah terfitrah untuk mencintai putra-putri yang Allah jadikan amanah untuk mereka jaga, kadang atas nama cinta inilah seseorang rela melakukan apa saja untuk kepentingan putra-putri mereka, bahkan ada dintara mereka yang menjadi lalai atas nama cinta yang mereka usung, Allah Azza Wajalla berfirman :

الْمَالُ وَالْبَنُونَ زِينَةُ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَالْبَاقِيَاتُ الصَّالِحَاتُ خَيْرٌ عِنْدَ رَبِّكَ ثَوَابًا وَخَيْرٌ أَمَلًا ( الكهف : 46 )

Artinya: harta dan anak-anak adalah perhiasan kehidupan dunia, tetapi amalan amalan yang kekal dan saleh lebih baik pahalanya di sisi Allah serta lebih baik untuk menjadi  harapan.

  1. Memulai proses pendidikan

Ketika kita berbicara atau bertanya tentang awal dari sebuah fase pendidikan anak, dalam arti kapan seorang anak berhak mendapatkan pendidikan dari orang tua, beragam jawaban akan kita dapatkan, ada yang mengatakan sejah usia pra sekolah, ada yang mengatakan semasa kandungan, atau bahkan ada yang beranggapan biarkan seorang anak mengexplore lingkungan sekitarnya untuk mendapatkan pendidikan yang layak, mungkin hal ini terjadi karena pengaruh teori serta sistem pendidikan yang diusung dunia barat atau dunia modern tanpa melihat pada hakikat kesempurnaan islam.

Ketika kita melihat kembali, ternyata islam memiliki pandangan yang jauh lebih sempurna untuk dijadikan acuan pendidikan anak, bagaimana tidak, karena islam mengarahkan kita memberikan hak pendidikan jauh sebelum sang buah hati terlahir di dunia, sejenak kita melihat proses demi proses pendidikan yang islam arahkan untuk kita pelajari bersama.

  1. fase pembangunan karakter orang tua

dalam sebuah ayat Allah Azza Wa jalla berfirman :

الْخَبِيثَاتُ لِلْخَبِيثِينَ وَالْخَبِيثُونَ لِلْخَبِيثَاتِ وَالطَّيِّبَاتُ لِلطَّيِّبِينَ وَالطَّيِّبُونَ لِلطَّيِّبَاتِ ....... ( النور 26 )

Artinya: wanita yang keji untuk laki-laki yang keji dan laki-laki yang keji untuk wanita yang keji pula, dan wanita yang baik untuk laki-laki yang baik dan laki-laki yang baik untuk wanita yang baik.

Sekilas ayat ini memang menjelaskan tentang dengan siapa seseorang akan dipertemukan secara hukum normal, laki-laki yang baik akan selalu sesuai dan nyaman berkumpul dengan wanita yang baik begitu juga sebaliknya, akan tetapi satu pesan tersirat pendidikan dalam ayat ini adalah: ketika seorang ingin merajut mimpi untuk mendapatkan wanita yang salehah, agar dapat memberikan anak keturunannya pendidikan yang baik dan saleh, maka hendaknya seseorang membangun dalam diri pribadinya tanda-tanda serta karakter kesalehan terlebih dahulu sebagai langkah awal dalam pencapaian impian tersebut.

  1. Fase pemilihan pasangan hidup

Setelah seorang memaksimalkan usaha dalam membangun karakter terbaik pada dirinya, langkah berikutnya yang mesti dia jalani untuk mempersiapkan wadah pendidikan yang baik untuk putera-puterinya adalah memilik pasangan hidup dengan kriteria yang di tetapkan oleh agama, dalam sebuah hadist disebutkan :

عن أبي هريرة - رضي الله عنه - قال: قال رسول الله - صلى الله عليه وسلم -: ((تُنْكَحُ الْمَرْأَةُ لِأَرْبَعٍ: لِمَالِهَا، وَلِحَسَبِهَا، وَجَمَالِهَا، وَلِدِينِهَا، فَاظْفَرْ بِذَاتِ الدِّينِ تَرِبَتْ يَدَاكَ ( رواه البخاري )

Artinya: dari Abu Hurairah radiallohu anhu beliau berkata: bahwasanya Rasulullah sallallohu alaihi wasallam bersabda: seorang wanita di nikahi atas dasar empat perkara ( kriteria ), atas dasar hartanya, keturunan dan sifat baiknya, kecantikannya, serta agamanya, maka beruntunglah bagi mereka – yang menikahi wanita – karena agamanya. ( Hr. Al bukhari )

Secara kasat mata hadist ini hanya mengarahkan kita pada kriteria calon pendamping hidup yang ideal untuk kita pilih, tapi pesan pendidikan yang ada dalam hadist ini sangatlah besar, karena seorang wanita yang taat beragama dan salihah pasti menginginkan masa depan terbaik untuk putera-puterinya, merekapun terus berusaha menanamkan nilai-nilai luhur kebajikan dengan landasan agama untuk menjadi generasi saleh dan salehah yang memberi warna terbaik untuk generasi umat.

  1. Fase awal  pasca pernikahan

Isyarat pendidikan dalam agama islam tidak terhenti begitu saja ketika seorang sudah mendapatkan pasangan hidup untuk menjalani biduk rumah tangga, masih banyak lagi detai-detail langkah yang mesti di ikhtiarkan untuk mendapatkan generasi emas umat yang penuh keberkahan, sebagai contoh sederhana adalah bagaimana Rasulullah mengajarkan kita dalam hal memberi hak batin untuk seorang wanita, yang tidak lain hal itu merupakan ikhtiar seorang manusia mendapatkan keturunan, Rasulullah sallallohu alaihi wasallam bersabda:

عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا، قَالَ: قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: " لَوْ أَنَّ أَحَدَهُمْ إِذَا أَرَادَ أَنْ يَأْتِيَ أَهْلَهُ قَالَ: بِاسْمِ اللَّهِ، اللَّهُمَّ جَنِّبْنَا الشَّيْطَانَ، وَجَنِّبِ الشَّيْطَانَ مَا رَزَقْتَنَا، فَإِنَّهُ إِنْ يُقَدَّرْ بَيْنَهُمَا وَلَدٌ فِي ذَلِكَ لَمْ يَضُرَّهُ شَيْطَانٌ أَبَدًا ( رواه البخاري ومسلم )

Artinya: Dari sahabat ibnu Abbas Radhiallohu anhu beliau berkata: bahwasanya Nabi Sallallohu alaihi wasalam bersabda: ketika seorang diantara kalian ingin menggauli istrinya, hendaknya dia berdoa: dengan menyebut nama Allah, jauhkanlah kami dari syaitan, jauhkan pula (keturunan) yang Engkau anugerahkan kepada kami dari syaitan, seandainya Allah benar-benar mentaqdirkan untuk mereka keturunan karena sebab hal itu, niscaya anak itu tidak akan pernah di celakai oleh syaitan ( Hr. Al bukhari )

Hadis ini  tidak hanya mengarahkan kita kepada etika suami istri dlam hak dan kewajiban, melainkan yang lebih besar dari itu adalah terdapat pesan pendidikan untuk menghindarkan keturunan generasi penerus umat dari perangkap-perangkap syaitan, yang bisa menjadikan mereka salah satu sebab petaka umat yang mendatangkan kerusakan-kerusakan moral.

  1. Fase awal pasca kelahiran

Dalam fase ini ada beberapa amalan yang Allah anjurkan untuk dilakukan orang tua yang telah dikaruniai buah hati, sejuta pesan tersirat dalam anjuran-anjuran tersebut, dan salah satu diantara yang tidak tersembunyi adalah pesan pendidikan dalam pembentukan karakter yang kuat dan berakhlak mulia, diantara amalan-amalan tersebut adalah :

  • Tahnik ( memberi sang buah hati kurma sebagai keberkahan pertama yang di konsumsi )

عن أبي موسى - رضي الله عنه - قال: وُلد لي غلامٌ، فأتيت به النبي - صلى الله عليه وسلم - فسمَّاه إبراهيم، فحنَّكه بتمرٍ، ودعا له بالبركة، ودفعه إليَّ... ( رواه البخاري )

Artinya: Dari Abu Musa Radhiallohu anhu beliau berkata: aku dikaruniai seorang anak, maka akupun membawanya ke Rasulullah sallallohu alaihi wasallam, beliaupun memberinya nama Ibrahim, kemudian menyapihnya kurma, dan mendoakan keberkahan untuknya serta memberikannya kepadaku. (Hr. Al Bukhari )

  • Memberi nama dengan makna-makna yang baik, Rasulullah sallallahu alaihi wasallam bersabda :

عن ابن عمر رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا، قال: قال رسول الله - صلى الله عليه وسلم -: ((إنَّ أحبَّ أسمائكم إلى الله: عبد الله، وعبد الرحمن))، ( رواه مسلم )

Artinya: dari Ibnu Umar Radhiallohu anhu beliau berkata: bahwasanya Rasulullah sallallohu alaihi wasallam bersabda: sesungguhnya diantara nama-nama yang dicintai Allah Allah Abdullah dan Abdurrahman ( Hr. Muslim )

  • Menyembelih hewan aqiqah, Rasulullah sallallohu alaihi wasallam besabda:

عن سمرة بن جُندبٍ - رضي الله عنه -، عن النبي - صلى الله عليه وسلم  أنه قال: كل غُلَام رهينةٌ بعقيقته، تذبح عَنهُ يَوْم سابعه، وَيُسَمَّى فِيهِ، ويُحلقُ رَأسُهُ ( رواه أحمد وأبو داود والترمذي )

Artinya: dari Samuran bin Jundab Radhiallohu anhu, Dari Nabi Sallallohu alaihi wasallam beliau bersabda: setiap anak tergadai dengan aqiqahnya, disembelih untuknya dihari ketujuh, diberi nama saat itu, dan dicukur rambutnya ( H. Ahmad, Abu Daud, dan At-Tirmidzi )

Tampak jelas pesan-pesan pendidikan dari sunnah-sunnah Rasulullah yang mesti dilakukan di fase awal seseorang dianugerahi keturunan oleh Allah Azza Wajalla, mulai dari pemberian kurma sebagai awal keberkahan untuk si buah hati, doa keberkahan, memberi nama dengan makna yang bagus, serta ungkapan syukur dengan aqiqah untuk memperoleh keberkahan.

  1. Sekolah unggulan

Ketika seorang anak sudah mulai beranjak masuk usia sekolah, pada saat itulah para  orang tua akan mempersiapkan rencana dimana akan menyekolahkan putra-puteri mereka, sekolah dengan predikat unggulan menjadi magnet tersendiri bagi para orang tua untuk dijadikan wadah pendidikan berikutnya, dengan harapan sekolah tersebut bisa membangun karakter tangguh dan ilmiah, tapi itu sebenarnya satu faktor kecil dalam pembentukan karakter, karena justru faktor terbesar dari pembentukan karakter yang bisa memberikan pengaruh besar  adalah terletak pada orang tua, entah itu ke arah yang negatif atau positif, lihatlah apa yang disabdakan Rasulullah sallallohu alaihi wasallam:

مَا مِنْ مَوْلُودٍ إِلَّا يُولَدُ عَلَى الفِطْرَةِ، فَأَبَوَاهُ يُهَوِّدَانِهِ أَوْ يُنَصِّرَانِهِ، أَوْ يُمَجِّسَانِهِ...... ( رواه البخاري ومسلم )

Artinya: tidak ada seorangpun yang terlahir kecuali dalam keadaan fitrah ( yang suci ) maka kedua orang tuanya lah yang akan menjadikannya yahudi, nasrani, atau majusi.....( Hr. Al Bukhari dan muslim )

Artinya pengaruh terbesar yang bisa mengarahkan seorang anak entah ke arah yang baik atau buruk terletak pada lingkungan keluarga, tanpa menutup mata dengan adanya beberapa sekolah unggulan dan favorit yang bisa membantu para orang tua dalam mencapai cita-cita mereka untuk si buah hati yang mereka tidak mampu melakukannya, anak yang terlahir dalam keadaan fitrah akan terbawa dengan apa yang ada di keluarga. Apalah arti sebuah sekolah ketika lingkungan keluarga sangat tidak mendukung, bahkan cenderung lalai dari tanggung jawab dasar. Di sekolah sang anak diajarkan segala macam etika dan kebaikan, tapi di rumah cenderung dilalaikan bahkan sangat bertolak belakang dengan apa yang di dapatkan di lingkugan pendidikannya.

  1. Arahan, perintah dan larangan

Dalam memberikan pendidikan, seseorang tidak akan terlepas dari bagaimana cara dia memberikan arahan, perintah, dan larangan, semua membutuhkan cara dan waktu yang tepat, dengan harapan apa yang kita inginkan dari sebuah tujuan akan tercapai sesuai yang dikehendaki. Berikut beberapa contoh yang dapat kita ambil dari cara Rasulullah sallallohu alaihi wasallam dalam melakukan tiga hal tersebut.

  • Penuh kelembutan dan kasih sayang

 

عن عبد الله بن شداد بن الهاد عن أبيه قال: بينما رسول الله - صلى الله عليه وسلم -يصلي بالناس إذ جاءه الحسين فركب عنقه وهو ساجد، فأطال السجود بالناس، حتى ظنوا أنه قد حدث أمر، فلما قضى صلاته قالوا: قد أطلت السجود يا رسول الله، حتى ظننا أنه قد حدث أمر، فقال: ((إنَّ ابني قد ارْتَحَلني، فَكَرِهْتُ أَنْ أُعَجِّلَهُ حتى يَقْضِيَ حَاجَتَهُ ( رواه النسائي والبيهقي وصححه الألباني )

Artinya: dari Abdullah bin Syaddad bin Al Hadi  dari bapaknya beliau berkata: ketika Rasulullah sholat mengimami para sahabat, Al husain cucu beliau datang dan menaiki leher dan tengkuk beliau ketika beliau sedang bersujud, maka beliaupun memperlama sujudnya, sampai para sahabat mengira telah terjadi sesuatu, ketika sholat sudah selesai, merekapun berkata: Engkau telah memperlama sujud wahai Rasulullah, sampai kami mengira telah terjadi sesuatu, maka beliaupun bersabda: sesungguhnya putraku ( cucuku ) menunggangku, dan aku tidak mau menghalanginya sampai dia puas melakukannya. ( Hr. An nasa’i dan Al baihaqi dan dinyatakan shahih oleh al albani )

  • Waktu yang tepat

عن عبد الله بن عمرو بن العاص رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا قال: قال - صلى الله عليه وسلم -: ((مُرُوا أبْنَاءكم بالصَّلاةِ لسبعٍ، واضْرِبُوهُم عَلى تَرْكِها لِعَشْرٍ، وفرِّقُوا بَيْنهم في المضَاجِعِ ( رواه أحمد وأبو داود والبيهقي وصححه الألباني (

Artinya: dari Abdulah bin Amr bin Al ash Radhiallohu anhu beliau berkata: Rasulullah sallallohu alaihi wasallam bersabda: perintahkan anak-anak kalian untuk sholat ketika mereka berumur tujuh tahun, dan pukul lah mereka ketika meninggalkan saat berusia sepuluh tahun, dan pisahkan tempat tidur mereka ( dengan saudarinya ) ( Hr. Ahmad, Abu Daud , Al baihaqi dan dinyatakan shahih oleh Al albani )

  1. Hak pendidikan agama

Di antara hak pendidikan terbesar yang semestinya diberikan orang tua kepada anaknya adalah hak pendidikan agama, karena dengan memberikan pendidikan agama berarti seseorang telah mempersiapkan generasi terbaik umat dihadapan Allah dan juga  manusia, karena dengan bekal ilmu agama seorang anak akan tahu apa orientasi utamanya dalam hidup, dia juga tahu bagaimana semestinya bersikap terhadap segala hak dan kewajibannya, entah kepada Allah, dirinya sendiri atau lingkungan sosialnya, terlebih dalam banyak kesempatan Allah beserta Rasulnya selalu memuji mereka yang berilmu, serta membedakan antara mereka yang berilmu dengan mereka yang awam dengan agamanya, Allah Azza Wajalla berfirman :

قُلْ هَلْ يَسْتَوِي الَّذِينَ يَعْلَمُونَ وَالَّذِينَ لاَ يَعْلَمُونَ إِنَّمَا يَتَذَكَّرُ أُوْلُوا الأَلْبَاب   ( الزمر : 9 )

Artinya: apakah sama anatara mereka yang mengetahui ( berilmu ) dengan mereka yang tidak mengetahui, hanya orang yang berakallah yang dapat memahaminya ( Az zumar: 9 )

Dan sangat tidak dapat disembunyikan bagaimana hakikat kebanggan orang tua ketika memiki buah hati yang taat dalam agama, baik etikanya, serta dengan dengan alqur’an sebagai kitab sucinya.

  1. Hak mendapatkan arahan mengenai dampak sosial

Ada sebuah ungkapan yang menyatakan : " الصَّاحِبُ سَاحِبُ "   ( teman itu menyeret ), entah ke arah yang lebih baik atau sebaliknya, hal ini merupakan realita yang sudah tidak dapat dipungkiri, rusaknya seorang anak kadang tidak semata-mata karena kelalaian orang tua dalam mendidik, melainkan pengaruh buruk yang didapatkan dari lingkungan sosialnya yang lebih dominan, dalam sebuah hadist sangat jelas Rasulullah sallallohu alaihi wasallam menggambarkan dua sisi pengaruh lingkungan seorang anak, Rasululloh sallallohu alaihi wasallam bersabda:

مَثَلُ الْجَلِيسِ الصَّالِحِ وَالْجَلِيسِ السُّوْءِ كَمَثَلِ صَاحِبِ الْمِسْكِ وَكِيرِ الْحَدَّادِ، لَا يَعْدَمُكَ من صَاحِبِ الْمِسْكِ إِمَّا تَشْتَرِيهِ أو تَجِدُ رِيحَهُ، وَكِيرُ الْحَدَّادِ يُحْرِقُ بَدَنَكَ أو ثَوْبَكَ أو تَجِدُ منه رِيحًا خَبِيثَةً)) ( رواه البخاري )

Artinya: perumpamaan teman yang shalih dengan teman yang buruk adalah seumpama pedagang minyak wangi dan pandai besi, ada kemungkinan engkau membeli wewangian dari pedagang minyak wangi atau paling tidak engkau akan mendapat aroma wanginya saja, adapaun pandai besi kemungkinan akan membakar bajumu atau mendapatkan aroma yang tidak sedap ( Hr. Al bukhori )

Disini pern orang tua sangat diharapkan, memberi pandangan terhadap dampak sosial, memberikan arahan serta pandangan dalam memilih teman, seorang anak tidak dibiarkan begitu saja, bukannlah gambaran sebuah tekanan ketika seseorang bersikap protektif anaknya, karena jangan sampai kita merindukan sesuatu ketika sudah kehilangan.

  1. Orang tua adalah teman yang baik

Fenomena yang tidak sedikit terjadi ketika seorang anak sudah mulai beranjak dewasa maka dengan itu dia semakin menjauh dari orang tuanya, entah apa sebabnya, akan tetapi hal ini sangat buruk akibatnya, karena ketika seorang anak sudah mulai menjauh dari orang tuanya atau merasa canggung untuk sekedar bisa berbagi cerita dengan mereka, maka dengan ini counter terhadap pengaruh buruk lingkungan sosial akan semakin melemah, bagaimana tidak, karena dengan menjauhnya sang anak , berarti secara otomatis orang tua akan menjadi tidak banyak tahu tentang keadaan serta perkembangan sang anak, gambaran yang sangat indah disebutkan di dalam alqur’an, yaitu ketika Allah menyebutkan indahnya hubugan yang  terjadi antara luqman dengan anaknya, Allah Azza wajalla berfirman:

وَإِذْ قَالَ لُقْمَانُ لابْنِهِ وَهُوَ يَعِظُهُ يَا بُنَيَّ لاَ تُشْرِكْ بِاللَّهِ إِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيم ( لقمان 13 )

Artinya: dan Luqman berkata kepada anaknya ketika menasehatinya : wahai anakku, janganlah engkau mensekutukan Allah, sesungguhnya kesyirikan itu adalah kezhaliman yang sangat besar ( Luqman : 9 )

Bahkan tidak hanya ini, ada beberapa wejangan nasihat lain yang diberikan Luqman kepada anaknya yang sebagian besarnya menyangkut etika seorang hamba dengan lingkungan sosialnya, dan ini dalam satu waktu melambangkan kedekatan Luqman dengan anaknya serta keberhasilannya menjadi tempat yang sangat nyaman untuk berbagi.

  1. Kembali pada konsep keimanan

Sebagai orang tua yang selalu mengharapkan terbaik untuk putera puterinya, kita hanya bisa berusaha dan memaksimalkan ikhtiar, semua akan kembali pada apa-apa yang Allah kehendaki untuk kita, kita hanya bisa bersyukur ketika itu kebaikan, dan mengambil hikmah dari segala ujian, sebesar apapun cinta dan usaha seorang untuk buah hatinya, hal itu tidak serta merta menjadi indikator sebuah pencapaian, kita mesti beriman bahwa segala taqdir di tangan Allah Azza Wajalla, baik atupun buruk menurut mata telanjang kita, Allah Azza Wajalla berfirman :

إِنَّكَ لاَ تَهْدِي مَنْ أَحْبَبْتَ وَلَكِنَّ اللَّهَ يَهْدِي مَن يَشَاء وَهُوَ أَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِين ( القصص : 56 )

Artinya: sesungguhnya engkau tidak dapat memberi hidayah ( taufiq ) kepada orang- orang yang engkau cintai, akan tetapi Allah memberi hidayah ( taufiq ) kepada siapa saja yang di kehendaki-Nya, dan Dia lebih mengetahui orang-orang yang mau menerima petunjuk ( al qashash : 56 )

Dan seperti itulah awal dan akhir segala sesuatu, seseorng hanya bisa memaksimalkan usaha dan doa, keputusan akhir hanya di tangan Allah Azza Wajalla, semoga Allah selalu mempermudah kita untuk bisa menjaga amanat Allah dengan memberi pendidikan terbaik untuk putera putri kita, dan mereka dijadika sebagai perhiasan dunia serta kebanggan kita kelak di akhirat.

والله تعالى أعلم بالصواب

 

 

 


Silakan login untuk menulis komentar.
© 2017 - Www.SalamDakwah.Com