SALWA RADIO - Menebar Salam, Menyebar Dakwah
Stay in touch with us:

Hak Allah dan Hamba-Nya (Edisi 2)

- 4 years ago

Hak Allah dan Hamba-Nya (Edisi 2)

Oleh : Ustadz Abdurrahman Thoyyib, Lc

(Pengajar STAI Ali Bin Abi Thalib)

 

HAK ALLAH DAN HAK HAMBA-NYA 

(Edisi 2)

 

2. Ucapan Mu’adz bin Jabal radhiyallahu 'anhu “Ketika aku dibonceng Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam”, Al-Hafidz (Ibnu Hajar Al-Asqalaani -pent) berkata dalam kitab Fathu Al-Baari Syarhu Shahih Al-Bukhari : الردف artinya adalah orang yang dibonceng di belakang orang yang berkendara dengan seijinnya.

3. Ucapan Mu’adz bin Jabal radhiyallahu 'anhu “Tidak ada penghalang antara aku dan beliau melainkan pelana”: berkata Al-Hafidz dalam kitab beliau Al-Fath: الرحل adalah batang kayu yang ditaruh di belakang pengendara untuk dia bersandar kepadanya. Hal ini disebutkan (oleh Mu’adz bin Jabal) untuk menjelaskan tentang kedekatan beliau (dengan Nabi) guna meyakinkan orang yang mendengar bahwa beliau betul-betul ingat apa yang beliau riwayatkan.

4. Ucapan Mu’adz bin Jabal radhiyallahu 'anhu: لبيك maksudnya adalah aku selalu memenuhi panggilanmu. Sebagaimana hal ini dikatakan oleh Al-Hafidz dalam kitabnya Al-Fath. Imam An-Nawawi berkata dalam syarahnya terhadap Shahih Muslim: Yang jelas bahwa maknanya adalah aku senantiasa memenuhi panggilanmu. 

5. Ucapan Mu’adz bin Jabal radhiyallahu 'anhu وسعديك : Imam An-Nawawi berkata: maknanya adalah aku selalu siap membantumu. Ucapan ini tidak dipergunakan kecuali bergandengan dengan لبيك.

6. Sabda Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam “Apakah engkau tahu hak Allah atas para hamba?” : Al-Hafidz berkata dalam kitab Al-Fath: “Hak itu adalah setiap yang pasti ada atau yang pasti akan ada. Ucapan yang benar dikatakan sebagai hak karena sesuai dengan kenyataan yang ada yang tidak diragukan lagi. Maka demikian pula dengan hak seseorang atas yang lainnya, jika memang tidak ada keraguan padanya. Adapun yang dimaksud dalam hadits di atas adalah hak yang dimiliki oleh Allah atas hamba-hamba-Nya yang menjadikan hal tersebut diwajibkan atas mereka”. Hal ini juga dikatakan oleh At-Taimi dalam At-Tahrir. Imam Al-Qurthubi berkata: “Hak Allah atas hamba-hamba-Nya adalah apa yang Allah janjikan kepada mereka dari pahala dan apa yang Dia lazimkan untuk mereka dari-Nya”. Syaikh Sulaiman bin Abdillah bin Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab berkata dalam kitabnya Taisiir Al-Aziiz Al-Hamiid: Sabda beliau “Apakah hak Allah atas hamba-hamba-Nya”: Pengajaran beliau ini dikemas dalam bentuk pertanyaan agar lebih mengena dalam jiwa dan lebih bisa dipahami oleh orang yang belajar. Karena sesungguhnya seseorang apabila dia ditanya tentang suatu permasalahan yang tidak dia ketahui kemudian dia diberitahu tentangnya setelah pertanyaan tersebut, maka hal ini lebih mudah untuk dipahami dan dihafalkan. Dan ini merupakan sebaik-baiknya pengajaran dan petunjuk beliau shallallahu 'alaihi wa sallam.

7. Sabda beliau shallallahu 'alaihi wa sallam “untuk mereka beribadah kepada Allah dan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu apapun”, Al-Hafidz berkata dalam Al-Fath: Yang dimaksud dengan ibadah adalah melaksanakan ketaatan dan meninggalkan kemaksiatan. Disebutkannya larangan berbuat syirik karena demi kesempurnaan tauhid. Hikmah disebutkannya larangan syirik setelah perintah bertauhid karena sebagian orang-orang kafir dahulu mengaku beribadah kepada Allah namun di waktu yang sama mereka juga beribadah kepada sesembahan-sesembahan yang lain. Maka Allah mensyaratkan bagi mereka untuk meninggalkan kesyirikan. Yaitu agar mereka ketika beribadah kepada Allah dalam keadaan tidak berbuat syirik kepada-Nya. Ibnu hibban berkata: Ibadah kepada Allah adalah mengikrarkan dengan lisan, membenarkan dalam hati dan mengamalkan dengan anggota badan. Oleh karena itulah, dalam jawaban Rasul shallallahu 'alaihi wa sallam dikatakan hak hamba apabila telah melaksanakan hal tersebut, dengan memakai ungkapan “melaksanakan” bukan “ mengatakan”.

8. Sabda beliau shallallahu 'alaihi wa sallam “Apakah engkau tahu hak Allah atas hamba-hamba-Nya jika melaksanakannya?” yaitu apabila telah melaksanakan hak Allah. 

9. Sabda beliau shallallahu 'alaihi wa sallam “Hak hamba atas Allah adalah Dia tidak mengadzab mereka” Al-Hafidz berkata dalam Al-Fath: Al-Qurthubi berkata: “Hak hamba atas Allah adalah apa yang Allah janjikan kepada mereka dari pahala dan balasan dan hal itu pasti Allah tepati. Dan firman Allah pasti benar tidak mungkin dusta dalam hal kabar berita dan tidak mungkin ada pengingkaran dalam janji-Nya”. Syaikh Sulaiman bin Abdillah berkata dalam Taisir Al-Aziz Al-Hamid: Hak hamba atas Allah maknanya adalah sesuatu yang pasti terjadi dan tidak mungkin meleset karena Allah telah berjanji kepada mereka sebagai balasan atas ketauhidan mereka kepada-Nya. Janji Allah itu benar dan tidak mungkin Allah mengingkari janji-Nya. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata sebagaimana (yang dinukil) dalam kitab Taisir Al-Aziz Al-Hamid: “Keberadaan orang yang taat berhak mendapat pahala itu adalah atas karunia dan keutamaan (dari-Nya) bukan suatu kelaziman timbal balik seperti hubungan seseorang dengan yang lainnya. Ada sebagian orang yang berpendapat bahwa tidak ada maknanya ucapan keberhakan tersebut melainkan Allah mengabarkan tentangnya dan janji Allah itu benar. Akan tetapi kebanyakan orang menetapkan keberhakan yang lebih dari itu, sebagaimana yang telah disebutkan dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah. Allah berfirman:

وَكَانَ حَقًّا عَلَيۡنَا نَصۡرُ ٱلۡمُؤۡمِنِينَ

Dan Kami selalu berkewajiban menolong orang-orang yang beriman. 

(QS. Ar-Ruum : 47)

 

Akan tetapi Ahlussunnah mengatakan bahwa Allah lah yang menetapkan bagi diri-Nya kasih sayang (kepada hamba-hamba-Nya) dan Dialah yang mewajibkan hak tersebut atas diri-Nya, bukan makhluk yang mewajibkan atas-Nya. Adapun kelompok Mu’tazilah mereka menyangka bahwa makhluklah yang mewajibkan atas Allah dengan mengqiyaskan hal tersebut kepada makhluk. Dan (kata mereka) bahwa manusia itulah yang menjadikan diri mereka taat kepada-Nya dan bukan Dia yang menjadikan mereka taat kepada-Nya. Dan bahwasanya merekalah yang memang berhak mendapat pahala bukan Allah yang mewajibkannya, mereka tersesat dalam hal ini”.

 

10 Buah yang bisa dipetik dari hadits di atas:

A. Penjelasan tentang hak Allah atas hamba-hamba-Nya.

B. Penjelasan tentang hak hamba atas Allah.

C. Bolehnya memboncengkan seseorang di atas hewan tunggangan jika sanggup/kuat.

D. Keutamaan Mu’adz bin Jabal radhiyallahu 'anhu.

E. Ketawadhu’an Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam yang menaiki hewan tunggangan dan menbonceng Mu’adz bin Jabal radhiyallahu 'anhu.

F. Pedoman tentang metode yang bermanfaat dalam pendidikan/pengajaran yaitu pengajaran yang dikemas dalam bentuk pertanyaan agar lebih mengena dalam jiwa dan lebih mudah untuk dipahami oleh orang yang belajar.

G. Pengulangan pertanyaan untuk menekankan pentingnya apa yang akan disampaikan oleh seorang guru.

H. Kebaikan adab Mu’adz bin Jabal radhiyallahu 'anhu kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam.

I. Jika seseorang ditanya tentang sesuatu yang tidak dia ketahui maka hendaklah dia menyerahkan ilmunya kepada yang mengetahui. Dan ini lebih utama daripada mengatakan “saya tidak tahu”. Karena kata-kata “Allah yang lebih mengetahui” mencakup makna “saya tidak tahu” dan sekaligus ada bentuk pujian kepada Allah Ta'ala.

 

 SELESAI.

 

----------------

* Diterjemahkan dan diringkas oleh Abu Nafisah Abdurrahman Thayib dari Kutub Wa Rasaail Abdul Muhsin bin Hamd Al-‘Abbad Al-Badr Jilid 2 hal. 220-232.

 

________________________________

Dipost Ustadz Abdurrahman Thoyyib, Lc -hafizhahullah- Jumu'ah 8 Rajab 1438 H / 5 Mei 2017

🌏 http://www.salamdakwah.com/artikel/4266-hak-allah-dan-hamba-nya-edisi-2


Silakan login untuk menulis komentar.

ARTIKEL TERKAIT

Mengejar Bangkai
Mengejar Bangkai
Ustadz Abu Fairuz Ahmad, MA - 5 years ago
Pintu Surga Mana Yang Akan Kita Lalui ?
Pintu Surga Mana Yang Akan Kita Lalui ?
Ustadz Abu Islama Imanudin Lc - 4 years ago
(1) Ramadhan adalah Bulan Ketakwaan
(1) Ramadhan adalah Bulan Ketakwaan
Ustadz DR. Muhammad Nur Ihsan - 4 years ago
Pantaskah Kita Cemberut
Pantaskah Kita Cemberut
Ustadz Maududi Lc - 6 years ago
Penghimpitan Di Alam Kubur
Penghimpitan Di Alam Kubur
Ustadz Yulian Purnama - 1 month ago
Syair Mengingat Akhirat
Syair Mengingat Akhirat
Ustadz Abu Fairuz Ahmad, MA - 5 years ago
Apa Boleh Menyebut Sahabat Nabi Dengan Sayyiduna?
Apa Boleh Menyebut Sahabat Nabi Dengan Sayyiduna?
Ustadz Fadlan Fahamsyah. LC, MHI - 1 year ago
© 2021 - Www.SalamDakwah.Com