SALWA RADIO - Menebar Salam, Menyebar Dakwah
Stay in touch with us:

Hak Allah dan Hamba-Nya (Edisi 1)

- 1 year ago

Hak Allah dan Hamba-Nya (Edisi 1)

Oleh : Ustadz Abdurrahman Thoyyib, Lc

(Pengajar STAI Ali Bin Abi Thalib Surabaya)

 

HAK ALLAH DAN HAK HAMBA-NYA 

(Edisi 1)

 

قال الإمام البخاري رحمه الله في (كتاب الرقاق) من صحيحه:

حدثنا هدبة بن خالد حدثنا همام حدثنا قتادة حدثنا أنس بن مالك عن معاذ بن جبل رضي الله عنه قال: بينا أنا رديف النبي صلى الله عليه وسلم ليس بيني وبينه إلا آخرة الرحل فقال:" يا معاذ "، قلت: لبيك يا رسول الله وسعديك، ثم سار ساعة ثم قال: " يا معاذ "، قلت: لبيك رسول الله وسعديك، ثم سار ساعة ثم قال:" يا معاذ بن جبل "، قلت: لبيك رسول الله وسعديك، قال: " هل تدري ما حق الله على عباده "؟ قلت: الله ورسوله أعلم، قال:" حق الله على عباده أن يعبدوه ولا يشركوا به شيئاً "، ثم سار ساعة ثم قال:" يا معاذ بن جبل "، قلت: لبيك رسول الله وسعديك، قال:" هل تدري ما حق العباد على الله إذا فعلوه "؟ قلت: الله ورسوله أعلم، قال:" حق العباد على الله أن لا يعذبهم ".

Imam Bukhari rahimahullahu berkata dalam kitab Ar-Riqaq dalam Shahihnya: 

Menceritakan kepada kami Hudbah bin Khalid (dia berkata): Menceritakan kepada kami Qatadah (dia berkata): Menceritakan kepada kami Anas bin Malik dari Mu’adz bin Jabal radhiyallahu 'anhu , dia berkata: Ketika aku dibonceng Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam dan tidak ada penghalang antara aku dan beliau melainkan pelana. Kemudian beliau berkata: Wahai Mu’adz, Aku menjawab: Aku penuhi panggilanmu –wahai Rasulullah- dan aku selalu siap membantumu. Lalu beliau berjalan sesaat, kemudian berkata: Wahai Mu’adz, Aku menjawab: Aku penuhi panggilanmu –wahai Rasulullah- dan aku selalu siap membantumu. Lalu beliau melanjutkan perjalanan, kemudian berkata: Wahai Mu’adz bin Jabal, Aku menjawab: aku penuhi panggilanmu –wahai Rasulullah- dan aku selalu siap membantumu. Beliau berkata: Apakah engkau tahu hak Allah atas hamba-hamba-Nya? Aku menjawab: Allah dan Rasul-Nya yang lebih mengetahui. Beliau bersabda: Hak Allah atas hamba-hamba-Nya adalah untuk mereka beribadah kepada-Nya dan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu apapun. Lalu beliau berjalan sesaat, kemudian berkata: Wahai Mu’adz bin Jabal, Aku menjawab: Aku penuhi panggilanmu –wahai Rasulullah- dan aku siap membantumu. Beliau berkata: Apakah engkau tahu hak hamba atas Allah apabila mereka telah melaksanakannya? Aku menjawab: Allah dan Rasul-Nya yang lebih mengetahui. Beliau bersabda: Hak hamba atas Allah adalah Dia tidak mengadzab mereka.

 

Penjelasan Hadits:

1. Hadits ini merupakan hadits pertama yang disebutkan oleh Syaikhul Islam Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullahu dalam kitab beliau yaitu Kitab At-Tauhid alladzi huwa haqqullahi ‘ala al-‘abiid (kitab Tauhid yang merupakan hak Allah atas para hamba). Yang demikian itu, karena hadits ini dengan jelas menerangkan hak Allah atas hamba-hamba-Nya. Yaitu dalam sabda beliau “Hak Allah atas hamba-hamba-Nya adalah untuk mereka beribadah kepada-Nya dan tidak menyekutukan dengan-Nya sesuatu apapun”. Hak yang dijelaskan oleh Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam di dalam hadits ini mencakup An-Nafyu/peniadaan dan Al-Itsbat/penetapan yang terkandung di dalam kalimat tauhid لا إله إلا الله. Sabda beliau “untuk mereka beribadah kepada-Nya” adalah penetapan dan sabda beliau “dan tidak menyekutukan dengan-Nya sesuatu apapun” adalah peniadaan. Maksudnya adalah menafikan semua ibadah kepada selain Allah dan menetapkan bahwa ibadah hanya untuk-Nya semata tidak ada sekutu bagi-Nya. Sebagaimana Allah Ta'ala Maha Esa dalam masalah menciptakan, mengadakan, menghidupkan, dan mematikan. Maka wajib untuk diesakan pula dalam masalah ibadah hanya untuk-Nya tiada sekutu bagi-Nya. Penetapan dan peniadaan yang terkandung dalam sabda beliau shallallahu 'alaihi wa sallam yang merupakan hak Allah atas hamba-hamban-Nya ini banyak juga disebutkan dalam banyak ayat yang dibawakan oleh Syaikhul Islam Muhammad bin Abdil Wahhab dalam kitabnya tersebut sebelum menyebutkan hadits di atas. Diantara ayat-ayat tersebut adalah firman-Nya:

وَلَقَدۡ بَعَثۡنَا فِى ڪُلِّ أُمَّةٍ۬ رَّسُولاً أَنِ ٱعۡبُدُواْ ٱللَّهَ وَٱجۡتَنِبُواْ ٱلطَّـٰغُوتَ‌ۖ

"Dan sesungguhnya Kami telah mengutus Rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): "Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah Thaghut itu". 

(QS. An-Nahl : 36)

 

Firman Allah “Sembahlah Allah (saja)” adalah penetapan dan hal ini semakna dengan إلا الله dan firman-Nya “dan jauhilah thaghut itu” adalah peniadaan yang semakna dengan لا إله . 

Dan peniadaan dan penetapan ini terangkai di dalam makna لا إله إلا الله yaitu kalimat ikhlas. 

Diantara ayat-ayat tersebut juga adalah firman Allah:

أَلَّا تَعۡبُدُوٓاْ إِلَّآ إِيَّاهُ

"Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia." 

(QS. Al-Isra’ : 23)

 

Ayat ini juga bermakna sama dengan لا إله إلا الله. 

 

Diantara ayat-ayat tersebut juga adalah firman Allah:

۞ وَٱعۡبُدُواْ ٱللَّهَ وَلَا تُشۡرِكُواْ بِهِۦ شَيۡـًٔ۬ا‌

"Dan sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatupun." 

(QS.An-Nisa’ : 36)

 

 “Dan sembahlah Allah” ini adalah penetapan, sedangkan “dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatupun” adalah peniadaan. Inilah makna لا إله إلا الله. Adapun kata-kata “sesuatupun” ini bermakna larangan menyekutukan Allah dengan segala apapun (baik dengan malaikat, nabi, wali, batu, kuburan, pepohonan dan lain sebagainya). Dan agar seorang hamba hanya menyerahkan ibadah kepada-Nya saja, tiada sekutu bagi-Nya. 

 

Dan diantara ayat-ayat tersebut juga adalah firman-Nya:

۞ قُلۡ تَعَالَوۡاْ أَتۡلُ مَا حَرَّمَ رَبُّڪُمۡ عَلَيۡڪُمۡ‌ۖ أَلَّا تُشۡرِكُواْ بِهِۦ شَيۡـًٔ۬ا‌ۖ

Katakanlah: "Marilah kubacakan apa yang diharamkan atas kamu oleh Tuhanmu Yaitu: janganlah kamu mempersekutukan sesuatu dengan Dia." 

(QS. Al-An’aam : 151)

 

Maknanya adalah serahkan ibadah hanya kepada-Nya saja dan jangan engkau menjadikan sekutu bagi-Nya dalam ibadah. Ayat di atas diakhiri dengan firman-Nya:

وَأَنَّ هَـٰذَا صِرَٲطِى مُسۡتَقِيمً۬ا فَٱتَّبِعُوهُ‌ۖ وَلَا تَتَّبِعُواْ ٱلسُّبُلَ فَتَفَرَّقَ بِكُمۡ عَن سَبِيلِهِۦ‌ۚ ذَٲلِكُمۡ وَصَّٮٰكُم بِهِۦ لَعَلَّڪُمۡ تَتَّقُونَ 

"Dan bahwa (yang Kami perintahkan ini) adalah jalanKu yang lurus, Maka ikutilah Dia, dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu mencerai beraikan kamu dari jalanNya. yang demikian itu diperintahkan Allah agar kamu bertakwa." 

(QS. Al-An’aam : 153) 

 

Firman-Nya “Maka ikutilah dia” adalah penetapan dan firman-Nya “dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan yang lain” adalah larangan yang bermakna peniadaan. Inilah makna لا إله إلا الله. Adapun ayat yang dijadikan sebagai pembuka oleh Syaikhul Islam Muhammad bin Abdul Wahhab dalam karyanya yang agung tersebut tentang tauhidullah adalah firman-Nya:

وَمَا خَلَقۡتُ ٱلۡجِنَّ وَٱلۡإِنسَ إِلَّا لِيَعۡبُدُونِ

"Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku." 

(QS. Adz-Dzariyaat : 56) 

 

Ayat ini menjelaskan tentang hikmah diciptakannya jin dan manusia yaitu untuk beribadah hanya kepada Allah semata dan menyerahkan semua bentuk ibadah kepada-Nya serta tidak memalingkannya kepada sesuatu apapun.

 

BERSAMBUNG..

 

---------------------------

* Diterjemahkan dan diringkas oleh Abu Nafisah Abdurrahman Thayib dari Kutub Wa Rasaail Abdul Muhsin bin Hamd Al-‘Abbad Al-Badr Jilid 2 hal. 220-232.

 

________________________________

Dipost Ustadz Abdurrahman Thoyyib, Lc -hafidzahullah- Khamis 8 Syaban 1438 H / 4 Mei 2017

🌏 http://www.salamdakwah.com/artikel/4261-hak-allah-dan-hamba-nya


Silakan login untuk menulis komentar.
© 2019 - Www.SalamDakwah.Com