SALWA RADIO - Menebar Salam, Menyebar Dakwah
Stay in touch with us:

Itikaf dan Sholat Tahiyatul Masjid Tidak Sah Kecuali Di Masjid Waqaf

Ustadz Zainal Abidin. Lc - 3 years ago

Itikaf dan Sholat Tahiyatul Masjid Tidak Sah Kecuali Di Masjid Waqaf

Oleh : Ustadz Zainal Abidin Syamsuddin, Lc

ITIKAF DAN SHALAT TAHIYATUL MASJID TIDAK SAH KECUALI DI MASJID WAQAF 

 

Masjid ialah suatu tempat yang disiapkan untuk shalat lima waktu secara permanen melalui akad waqaf.

 

والمكان يصير مسجدا : بالإذن العام للناس بالصلاة فيه ، سواء صرح بأنه وقف لله أو لم يصرح بذلك ، عند جمهور 

العلماء خلافا للشافعية .

Dan tempat bisa menjadi masjid menurut jumhur ulama, dengan cara adanya izin bagi umat manusia secara umum untuk melakukan shalat lima waktu di dalamnya baik ada ikrar waqaf secara terang-terangan atau tidak terang-terangan untuk diwakafkan.

(Maushu'ah Fiqhiyah 22/37)

 

Adapun status waqaf bisa didapatkan dengan ucapan yaitu berupa ikrar waqaf atau tindakan artinya tempat mana saja yang dibangun bangunan masjid yang disiapkan untuk shalat lima waktu secara permanen meskipun tidak secara terang-terangan adanya ikrar waqaf maka termasuk katagori masjid. Suatu contoh masyarakat secara sukarela membangun masjid di sebidang fasos komplek perumahan yang disiapkan untuk shalat lima waktu secara permanen maka disebut masjid waqaf yang sah untuk dipakai itikaf dan shalat tahiyatul masjid meskipun tidak ada ikrar secara lisan untuk diwakafkan. 

 

Ibnu Qudamah berkata, 

Waqaf bisa dinyatakan sah baik dengan ikrar ucapan atau tindakan yang menunjukkan kepada status waqaf. 

Contoh membangun sebuah masjid yang mengizinkan umat manusia untuk shalat di dalamnya atau kuburan yang mengizinkan penguburan mayat di situ karena secara uruf hal itu bisa dibenarkan dan tindakan tersebut bisa menunjukkan status waqaf maka dibolehkan cara waqaf demikian bahkan statusnya seperti ikrar dengan ucapan. 

(AL-Kafi 2/250) 

 

Masjid waqaf sudah keluar dari status kepemilikan karena akad waqaf sehingga tidak boleh dijual belikan.

 

Syekh Ibnu Utsaimin ditanya tentang perbedaan antara masjid dengan MUSALLAH ?

Maka beliau menjawab, 

Masjid dalam arti umum, adalah setiap permukaan bumi bisa disebut masjid, berdasarkan hadits telah dijadikan untukku setiap bumi bisa sebagai masjid dan bersuci.

Adapun secara arti khusus masjid adalah setiap tempat yang disiapkan untuk shalat (lima waktu) secara permanen dan dibangun secara khusus untuk tujuan itu baik dibangun dengan batu, tanah liat atau semen atau tidak ada bangunannya. 

Adapun tempat yang digunakan untuk shalat tapi tidak secara permanen namun hanya pada waktu tertentu secara kebetulan saja maka tidak bisa dikatakan masjid. 

Dalilnya kadang Rasulullah shalat Sunnah di rumah maka tidak serta merta rumahnya menjadi masjid. Begitu juga ketika diundang oleh Utban bin Malik untuk shalat di rumahnya agar tempat tersebut menjadi MUSALLAH untuk Utban maka tempat tersebut tidak bisa menjadi masjid. 

Jadi MUSALLAH adalah tempat yang tidak digunakan secara permanen untuk umat manusia secara umum dan tidak dikenal untuk shalat (lima waktu). 

Majmu Fatawa (12/394)

 

Jadi tempat-tempat umum seperti fasos atau yang lainnya di area perkantoran atau perumahan yang dibangun bangunan masjid secara permanen dan digunakan shalat lima waktu secara rutin dan terus-menerus maka disebut masjid waqaf dan sah digunakan untuk itikaf dan shalat tahiyatul masjid meskipun tidak ada ikrar waqaf secara ucapan. 

 

Wallahualam

 

Zainal Abidin Syamsuddin, L.c

 

____________________________________

Dipost Ustadz Zainal Abidin Syamsuddin, Lc -hafizhahullah- Sabtu 18 Rajab 1438 H / 15 April 2017

🌏 http://www.salamdakwah.com/artikel/4232-itikaf-dan-sholat-tahiyatul-masjid-tidak-sah-kecuali-di-masjid-waqaf


Silakan login untuk menulis komentar.

ARTIKEL TERKAIT

© 2020 - Www.SalamDakwah.Com