SALWA RADIO - Menebar Salam, Menyebar Dakwah
Stay in touch with us:

Akhlak Yang Mulia

Ustadz Askar Wardhana, Lc - 3 years ago

Akhlak Yang Mulia

Oleh : Ustadz Askar Wardhana, Lc

(Pengajar STAI Ali bin Abi Thalib Surabaya)

 

#Faidah

AKHLAK YANG MULIA

 

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda :

 

إِنَّمَا بُعِثْتُ لأُتَمِّمَ مَكَارِمَ الأَخْلاَقِ

"Aku hanyalah diutus untuk menyempurnakan akhlak yang mulia." 

[HR. al-Hakim di dalam al-Mustadrak, (2/613) dan al-Hakim berkata : shahih sesuai syarat Muslim, dan disetujui oleh al-Dhahaby]

 

Dari hadits tersebut kita mengetahui bahwa tidaklah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam diutus melainkan untuk menyempurnakan akhlak umatnya. 

 

Lalu apakah yang dimaksud dengan akhlak yang mulia? 

 

Di dalam hadits yang lain disebutkan :

 

الْبِرّ : حُسْن الْخُلُق

"Kebaikan yaitu Akhlak yang mulia." 

[HR. Muslim]

 

Sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tersebut menyatakan bahwa yang dimaksud dengan kebaikan adalah akhlak yang mulia. 

 

Kemudian apabila kita melihat di dalam Al-Qur’an, maka kita akan menjumpai Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala :

 

لَيْسَ الْبِرَّ أَنْ تُوَلُّوا وُجُوهَكُمْ قِبَلَ الْمَشْرِقِ وَالْمَغْرِبِ وَلَكِنَّ الْبِرَّ مَنْ آمَنَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ وَالْمَلَائِكَةِ وَالْكِتَابِ وَالنَّبِيِّينَ وَآتَى الْمَالَ عَلَى حُبِّهِ ذَوِي الْقُرْبَى وَالْيَتَامَى وَالْمَسَاكِينَ وَابْنَ السَّبِيلِ وَالسَّائِلِينَ وَفِي الرِّقَابِ وَأَقَامَ الصَّلَاةَ وَآتَى الزَّكَاةَ وَالْمُوفُونَ بِعَهْدِهِمْ إِذَا عَاهَدُوا وَالصَّابِرِينَ فِي الْبَأْسَاءِ وَالضَّرَّاءِ وَحِينَ الْبَأْسِ أُولَئِكَ الَّذِينَ صَدَقُوا وَأُولَئِكَ هُمُ الْمُتَّقُونَ

"Bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan barat itu suatu kebaikan, akan tetapi Sesungguhnya kebaikan itu ialah beriman kepada Allah, hari Kemudian, malaikat-malaikat, kitab-kitab, nabi-nabi dan memberikan harta yang dicintainya kepada kerabatnya, anak-anak yatim, orang-orang miskin, musafir (yang memerlukan pertolongan) dan orang-orang yang meminta-minta; dan (memerdekakan) hamba sahaya, mendirikan shalat, dan menunaikan zakat; dan orang-orang yang menepati janjinya apabila ia berjanji, dan orang-orang yang sabar dalam kesempitan, penderitaan dan dalam peperangan. Mereka itulah orang-orang yang benar (imannya); dan mereka itulah orang-orang yang bertakwa." 

[QS. Al-Baqarah: 177]

 

Di dalam ayat yang mulia ini disebut juga makna kebaikan, yaitu beriman kepada Allah, hari akhir dan seterusnya, juga memberikan harta, mendirikan shalat, menunaikan zakat, menepati janji, sabar dalam ujian. 

 

Maka apabila kita membuat rumus persamaan adalah sebagai berikut :

 

Kebaikan = akhlak yang mulia

Lalu, 

Kebaikan = beriman kepada Allah, hari Kemudian, malaikat-malaikat, kitab-kitab, nabi-nabi dan memberikan harta yang dicintainya kepada kerabatnya, anak-anak yatim, orang-orang miskin, musafir (yang memerlukan pertolongan) dan orang-orang yang meminta-minta; dan (memerdekakan) hamba sahaya, mendirikan shalat, dan menunaikan zakat; dan orang-orang yang menepati janjinya apabila ia berjanji, dan orang-orang yang sabar dalam kesempitan, penderitaan dan dalam peperangan.

Maka,

Akhlak yang mulia = beriman kepada Allah, hari Kemudian, malaikat-malaikat, kitab-kitab, nabi-nabi dan memberikan harta yang dicintainya kepada kerabatnya, anak-anak yatim, orang-orang miskin, musafir (yang memerlukan pertolongan) dan orang-orang yang meminta-minta; dan (memerdekakan) hamba sahaya, mendirikan shalat, dan menunaikan zakat; dan orang-orang yang menepati janjinya apabila ia berjanji, dan orang-orang yang sabar dalam kesempitan, penderitaan dan dalam peperangan.

 

Inilah yang dimaksud dengan akhlak yang mulia, yaitu mendahulukan pemenuhan kewajiban terhadap sang Khaliq untuk selanjutnya menjadi landasan dalam pemenuhan kewajiban terhadap sesama makhluk, keselarasan antara amal ibadah dan muamalah yang baik terhadap sesama yang berlandaskan iman dan Islam di dalam hati. 

 

Sehingga percuma jika kita berbuat baik terhadap sesama tapi akhlak kita buruk kepada Allah, karena hak Allah lebih besar dari hak siapapun di antara makhluk-Nya. 

Begitu pula ketika akhlak kita buruk terhadap sesama, maka hal tersebut bisa membahayakan akhirat kita. 

 

Namun tentu saja akhlak kita kepada Allah-lah yang paling utama kita dahulukan, karena Allah-lah Pencipta diri kita dan seluruh alam semesta. 

 

Caranya berakhlak kepada Allah adalah dengan kita beriman kepada Allah, beragama Islam, mentauhidkan Allah dalam segala bentuk ibadah, dan menjalankan perintah dan menjauhi larangan-Nya yang telah Allah turunkan melalui wahyu kepada Rasul-Nya. 

 

Inilah akhlak mulia yang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berusaha untuk mendidik umatnya diatasnya dalam rangka penyempurnaan akhlak yang mulia dalam diri setiap insan yang dirangkum dalam kalimat Laa ilaha illallah.

 

Mudah-mudahan Allah memberikan kepada kita akhlak yang mulia dan mematikan kita di atas kalimat tauhid..

 

Ustadz Askar Wardhana, Lc

_______________________________

Radio Suara Al-Iman 846 AM Surabaya, Arbi'a 21 Dzulqo'dah 1437 / 24 Agustus 2016


Silakan login untuk menulis komentar.

ARTIKEL TERKAIT

Yang Termahal
Yang Termahal
Ustadz Abu Fairuz Ahmad, MA - 3 years ago
Kesyirikan Di Dalam Game PUBG
Kesyirikan Di Dalam Game PUBG
Ustadz Muhammad Sulhan Jauhari,Lc MHI - 1 month ago
Harapan Kepada (Calon) Pemimpin
Harapan Kepada (Calon) Pemimpin
Redaksi SalamDakwah - 6 years ago
Pohon Yang Berbuah
Pohon Yang Berbuah
Ustadz Abu Fairuz Ahmad, MA - 3 years ago
© 2020 - Www.SalamDakwah.Com