SALWA RADIO - Menebar Salam, Menyebar Dakwah
Stay in touch with us:

Apakah Jeddah Sebagai Miqat Untuk Memulai Ihram ?

Ustadz Fuad Baraba Lc - 3 years ago

Apakah Jeddah Sebagai Miqat Untuk Memulai Ihram ?

Oleh : Ustadzah Ari Mardiah Joban | Ustadz Fuad Hamzah Baraba', Lc

 

Apakah Jeddah sebagai miqat untuk memulai ihram?

 

Alhamdulillah, segala puji milik Allah semata. Shalawat dan salam semoga dicurahkan kepada Nabi yang tiada Nabi sesudahnya. Waba'du:

 

Sungguh al-Lajnah ad-Daimah Lil buhutsil 'Ilmiyah Wal Ifta telah mempelajari surat yang ditujukan kepada Syaikh yang dihormati selaku mufti 'am. Surat tersebut diserahkan kepada al-Lajnah ad-Daimah Lil buhutsil 'Ilmiyah Wal Ifta yang mendapat amanah umum dari Hai'ah Kibaril Ulama dengan no.3990 tanggal 16 Rajab 1417H. Pengirim surat mengajukan pertanyaan sebagai berikut:

 

Soal:

Saya ingin mengetahui pendapat syaikh mengenai tulisan Adnan 'Ar'ur dalam sebuah buku saku yang berjudul "Dalil-dalil yang menetepkan bahwa Jeddah termasuk miqat", dan keterangan syaikh mengenai masalah ini. Semoga Allah memberi taufiq kepada syaikh untuk meraih berbagai kebaikan.

 

Jawab:

Setelah al-Lajnah ad-Daimah Lil buhutsil 'Ilmiyah Wal Ifta melakukan pengkajian dan penelitian. Maka al-Lajnah ad-Daimah Lil buhutsil 'Ilmiyah Wal Ifta mengeluarkan keterangan sebagai berikut: Telah diedarkan penjelasan dari samahatusy syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz (mufti 'am) mengenai pertanyaan di atas sebagai berikut:

 

Alhamdulillah, segala puji hanya milik Allah Rabb semesta alam. Shalawat dan salam semoga dicurahkan kepada Nabi kita Muhammad Shallahu 'alaihi wasallam, keluarga dan sahabat beliau. Wa ba'du:

 

Sesungguhnya Rasulullah Shallahu 'alaihi wasallam telah menjelaskan miqat-miqat untuk memulai ihram, yang mana orang yang ingin haji atau umrah tidak boleh melewatinya tanpa berihram.

Yaitu:

 

1) Dzul Khulaifah (Bir 'Ali) penduduk Madinah dan bagi orang yang melewatinya.

2) Juhfah bagi penduduk Syam, Mesir, Maroko dan bagi orang yang melewatinya.

3) Yalamlan (Sa'diyah) bagi penduduk Yaman dan bagi orang yang melewatinya.

4) Dzatu 'Irq bagi penduduk Irak dan bagi orang yang melewatinya.

5) Qarnul Manazil bagi penduduk Nejed, Thaif bagi orang yang melewatinya.

 

Sedangkan penduduk yang tempat tinggalnya berada di kawasan miqat dekat kota Makkah, maka mereka memulai ihram dari rumahnya, sehingga penduduk Makkah memulai ihram haji dari Makkah, sedangkan ihram untuk umrah, mereka memulai ihram dari tempat yang dekat dengan tanah halal, sebagaimana penduduk asli Jeddah dan yang muqim di Jeddah, mereka harus memulai ihram dari Jeddah bila mereka hendak menunaikan haji dan umrah.Barangsiapa yang datang ke Makkah melalui salah satu dari lima miqat di atas tanpa berniat mengerjakan haji dan umrah, maka menurut pendapat yang shahih dia tidak harus memulai ihram. Akan tetapi apabila di tengah perjalanan, setelah melewati salah satu dari lima miqat itu muncul keinginan untuk mengerjakan haji atau umrah, maka hendaklah dia memulai ihram dari tempat dimana dia berniat haji atau umrah. Kecuali dia niat umrah ketika sedang berada di kawasan Makkah, maka dia harus keluar ke daerah yang dekat ke tanah halal (sebagaimana telah dijelaskan).

 

Ihram wajib dimulai dari miqat-miqat ini oleh orang yang hendak haji atau umrah yang melaluinya, atau yang sejajar dengannya, baik melalui darat, laut ataupun udara.Yang wajib disebarluaskan penjelasan ini, bahwa telah terbit dari sebagian saudara belakangan ini buku saku yang berjudul " Adillatul Itsbat Anna Jaddah Miqat (Dalil-Dalil Yang menetapkan bahwa Jeddah adalah salah satu miqat) " yang berusaha mencoba menetapkan miqat baru sebagai tambahan terhadap lima miqat yang telah ditetapkan Rasulullah Shallahu 'alaihi wasallam; karena Adnan (penulis buku saku tersebut) menduga bahwa Jeddah sebagai miqat bagi jama'ah haji yang menggunakan pesawat yang akan mendarat di bandara Jeddah, atau bagi jama'ah haji yang datang ke sana melalui jalur darat maupun laut. Maka setiap jama'ah haji dari mereka diharuskan menunda permulaan ihramnya hingga tiba di Jeddah dan mereka harus memulai ihram darinya. Karena menurut dugaan penulis buku saku tersebut bahwa Jeddah sejajar dengan dua miqat, yaitu Yalamlam dan Juhfah.

 

Dugaan ini adalah kesalahan fatal yang dapat diketahui oleh setiap orang yang mempunyai mata hati dan pengetahuan tentang sejarah; karena Jeddah berada di dalam kawasan miqat. Dan orang yang hendak haji atau umrah yang datang kesana harus melalui salah satu dari miqat lima miqat yang telah ditetapkan Rasulullah Shallahu 'alaihi wasallam baik melalui darat, laut maupun udara, maka mereka tidak boleh melaluinya kecuali dengan berihram. Karena Nabi Shallallahu 'alaihi wasallam telah menetapkan lima miqat tersebut dengan Sabdanya: "Miqat-miqat itu untuk penduduk setempat dan untuk orang yang melewatinya selain mereka dari kalangan orang-orang yang hendak menunaikan haji dan umrah"

(HR. Al-Bukhari no: 1524)

 

Oleh karena itu, tidak boleh bagi orang yang hendak haji atau umrah melewati miqat-miqat tersebut menuju Jeddah tanpa berihram dan memulai ihram dari sana; karena letak Jeddah berada di dalam kawasan miqat.

 

Tatkala sebagian ulama beberapa tahun terakhir ini tergesa-gesa memutuskan sesuatu sebagaimana yang dilakukan penulis buku saku ini yang mengeluarkan fatwa bahwa Jeddah sebagai miqat bagi orang yang melewati Jeddah, maka Hai'ah Kibaril Ulama (Majlis Ulama Besar) mengeluarkan keputusan yang membatalkan kesimpulan yang penuh praduga dan kebohongan ini. 

 

Keputusan Hai'ah Kibaril Ulama ini sebagai berikut:

 

Setelah mengamati dan mencermati dalil-dali dan penjelasan para ulama perihal miqat makani serta setelah mendiskusikan persoalan ini dari berbagai sisi, maka secara aklamasi anggota Majlis menetapkan:

1) Sesungguhnya fatwa yang dikeluarkan secara khusus yang membolehkan Jeddah sebagai miqat bagi orang yang menggunakan pesawat udara dan kapal laut adalah fatwa bathil. Karena fatwa tersebut tidak mengacu kepada nash dari al-Quran dan sunnah Rasulullah Shallahu 'alaihi wasallam ataupun kepada ijma' generasi salaf (terdahulu). Dan tiada seorangpun dari kalangan ulama muslimin yang patut dijadikan rujukan pendapat mereka yang berfatwa demikian.

2) Tidak boleh bagi orang yang hendak haji atau umrah melewati salah satu dari miqat makani ini atau sejajar dengannya, baik yang melalui udara, darat maupun laut tanpa memulai ihram darinya, sebagaimana hal ini diperkuat oleh banyak dalil, dan sebagaimana yang telah ditetapkan oleh para ulama. Sebagai kewajiban menasehati ikhlas karena Allah kepada seluruh hamba-Nya. Saya memandang bahwa saya dan anggota al-Lajnah ad-Daimah Lil buhutsil 'Ilmiyah Wal Ifta merasa terpanggil untuk mengeluarkan penjelasan ini, agar tiada seorangpun yang terpengaruh oleh buku saku ini. Selesai.

Allah Ta'ala yang memberi taufiq. Shalawat dan salam semoga dicurahkan kepada Nabi kita Muhammad Shallallahu 'alaihi wasallam, keluarga dan sahabat beliau.

Al-Lajnah ad-Daimah Lil buhutsil 'Ilmiyah Wal Ifta. Fatwa no:19210 tanggal 2 Dzul Qa'dah 1417H 

Sumber: Kitab Fatwa Ulama al Balad al Haram, Bab Haji pasal ke tiga

 

Al-Faqir ila 'afwillah: Ari Mardiah Joban.

 

_______

Dipost Ustadzah Ari Mardiah Joban, Khamis 15 Dzulqo'dah 1437 / 18 Agustus 2016


Silakan login untuk menulis komentar.

ARTIKEL TERKAIT

Tanda Kemunafikan
Tanda Kemunafikan
Ustadz Fuad Baraba Lc - 3 years ago
Faedah Dalam Surat Yusuf
Faedah Dalam Surat Yusuf
Ustadz Fuad Baraba Lc - 3 years ago
Bersyukur Dalam Setiap Keadaan
Bersyukur Dalam Setiap Keadaan
Ustadz Fuad Baraba Lc - 4 years ago
4 Janji Allah Dalam Al Quran
4 Janji Allah Dalam Al Quran
Ustadz Fuad Baraba Lc - 5 years ago
Jangan Meniup Minuman
Jangan Meniup Minuman
Ustadz Fuad Baraba Lc - 4 years ago
Keutamaan Dzikir Ketika Keluar Rumah
Keutamaan Dzikir Ketika Keluar Rumah
Ustadz Fuad Baraba Lc - 5 years ago
Doa Pelebur Dosa
Doa Pelebur Dosa
Ustadz Fuad Baraba Lc - 4 years ago
Nikmat Akal Sehat
Nikmat Akal Sehat
Ustadz Fuad Baraba Lc - 5 years ago
© 2019 - Www.SalamDakwah.Com