SALWA RADIO - Menebar Salam, Menyebar Dakwah
Stay in touch with us:

Kaidah Fikih

Ustadz Abu Yahya Badrusalam, Lc - 3 years ago

Kaidah Fikih

Kaidah Fikih

 

Kaidah fikih :

ﺍﻟﻴﻘﻴﻦ ﻻ ﻳﺰﻭﻝ ﺑﺎﻟﺸﻚ

“Sesuatu yang meyakinkan tidak dapat hilang hanya dengan keraguan“

 

Makna kaidah di atas adalah:

 

“Bahwa suatu perkara yang diyakini telah terjadi tidak bisa dihilangkan kecuali dengan dalil yang pasti dan meyakinkan. Dengan kata lain, tidak bisa dihilangkan hanya dengan sebuah keraguan. Demikian pula sebaliknya, suatu perkara yang diyakini belum terjadi maka tidak bisa dihukumi telah terjadi kecuali dengan dalil yang meyakinkan pula.” 

( Al-Qowaid Al-Fiqhiyyah Al-Kubro oleh DR. Shalih bin Ghanim As-Sadlan hal.101)

 

Dalil kaidah.

 

diantaranya adalah Hadis Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam :

 

ﺇِﺫَﺍ ﻭَﺟَﺪَ ﺃَﺣَﺪُﻛُﻢْ ﻓِﻰ ﺑَﻄْﻨِﻪِ ﺷَﻴْﺌًﺎ ﻓَﺄَﺷْﻜَﻞَ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﺃَﺧَﺮَﺝَ ﻣِﻨْﻪُ ﺷَﻰْﺀٌ ﺃَﻡْ ﻻَ ﻓَﻼَ ﻳَﺨْﺮُﺟَﻦَّ ﻣِﻦَ ﺍﻟْﻤَﺴْﺠِﺪِ ﺣَﺘَّﻰ ﻳَﺴْﻤَﻊَ ﺻَﻮْﺗًﺎ ﺃَﻭْ ﻳَﺠِﺪَ ﺭِﻳﺤًﺎ ﺭﻭﺍﻩ ﻣﺴﻠﻢ

 

Artinya: “Apabila salah seorang dari kalian merasakan sesuatu dalam perutnya, kemudian dia kesulitan untuk memastikan apakah telah keluar sesuatu (kentut) atau belum, maka janganlah dia keluar dari masjid (membatalkan salatnya) hingga dia mendengar suara atau mencium bau.” 

(HR. Muslim: 362)

 

Contoh Penerapan Kaidah.

 

Sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya bahwa kaidah ini mencakup banyak sekali permasalahan syar’i, sangat sulit untuk menyebutkan tiap-tiap permasalahan tersebut. Cukup disebutkan sebagiannya saja sebagai contoh untuk memahami penerapan kaidah ini:

 

1. Apabila seseorang telah yakin bahwa sebuah pakaian terkena najis, akan tetapi dia tidak tahu dibagian mana dari pakaian tersebut yang terkena najis maka dia harus mencuci pakaian itu seluruhnya.

 

2. Apabila ada seseorang yang yakin bahwa dia telah berwudu, kemudian dia ragu apakah telah batal wudunya atau belum, maka dia tidak perlu berwudu lagi.

 

3. Dan begitu pula sebaliknya, apabila seseorang yakin bahwa wudunya telah batal, akan tetapi dia ragu apakah dia telah berwudu lagi atau belum, maka wajib baginya untuk berwudu lagi.

 

4. Barang siapa yang ragu dalam shalatnya apakah dia telah shalat tiga rakaat atau empat rakaat misalnya, maka dia harus mengikuti yang yakin, yaitu yang paling sedikit rakaatnya, yang mana dalam permasalah ini adalah tiga rakaat.

 

5. Begitu pula dalam permasalahan putaran tawaf, apabila dia ragu berapa kali dia telah berputar mengelilingi ka’bah apakah dua kali atau tiga kali, maka dia harus menganggap bahwa dia baru berputar dua kali, dan begitu seterusnya.

 

6. Barang siapa yang telah sah nikahnya, kemudian dia ragu apakah telah mentalak istrinya atau belum, maka pernikahannya tetap sah.

 

7. Apabila seorang istri ditinggal suaminya berpergian dalam jangka waktu yang lama, maka dia tetap dihukumi sebagai istri laki-laki tersebut dan tidak boleh baginya untuk menikah lagi. Karena yang yakin adalah bahwa sang suami pergi dalan keadaan hidup, maka tidak boleh menghukuminya telah meninggal kecuali dengan berita yang meyakinkan.

 

8. Jika ada seseorang yang pergi meninggalkan kampung halamannya dalam keadaan sehat, akan tetapi setelah bertahun-tahun tidak kunjung pulang dan tidak diketahui kabarnya, maka dia tetap dihukumi sebagai orang yang hidup. Yang atas dasar ini tidak boleh diwarisi hartanya sampai datang kabar yang meyakinkan tentang hidup atau matinya.

 

9. Apabila seseorang yakin bahwa dirinya pernah berhutang, kemudian dia ragu apakah dia telah membayar hutang itu atau belum, maka wajib baginya untuk membayar hutang tersebut kecuali jika pihak yang menghutangi menyatakan bahwa dia telah membayar hutangnya.

 

***

 

Rambu rambu dalam mengamalkan kaidah fiqih:

 

yang haram menjadi boleh ketika darurat.

 

1. Kondisi bahaya besar itu telah benar-benar terjadi atau belum terjadi, namun diyakini atau diprediksi kuat akan terjadi.

 

Maknanya, sesuatu yang membahayakan lima pokok dasar –yang telah disinggung di atas- itu secara yakin atau prediksi kuat telah atau akan terjadi. Dimana kalau tidak menerjang yang haram, maka akan membinasakannya atau minimalnya mendekati kebinasaan.

Atas dasar ini, sesuatu yang hanya prasangka belaka atau masih diragukan, tidak bisa dijadikan dasar dalam menentukan kondisi darurat.

 

Dalil syarat ini:

 

Allah mencela prasangka, dalam firman-Nya:

ﺇِﻥَّ ﺑَﻌۡﺾَ ﭐﻟﻈَّﻦِّ ﺇِﺛۡﻢٌ۬ۖ

Sesungguhnya sebagian prasangka itu adalah dosa. 

(QS. Al-Hujurot [49]: 12)

 

Dalam suatu hadits diriwayatkan: Dari Abu Waqid al-Laitsi radhiyallahu ‘anhu berkata: Kami pernah bertanya pada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Wahai Rasulullah, kami berada di sebuah negeri yang terkena paceklik, maka bangkai apa yang halal untuk kami?” Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab: “Apabila kalian tidak menyiapkannya sebagai sarapan pagi atau makan sore, maka silakan memakannya.” 

(HR. Ahmad: 1600 dan dishahihkan oleh Hakim 4/125)

 

Kaidah umum dalam syari’at Islam, bahwa banyak hukum yang dikaitkan dengan kondisi yakin atau predikat kuat. Namun, jika hanya prasangka belaka maka sama sekali tidak digubris.

 

2. Tidak bisa dihilangkan dengan cara yang halal.

Maknanya bahwa bahaya itu tidak bisa dihilangkan kecuali dengan cara haram, dan tidak ada satu pun cara halal yang bisa mengatasinya. Namun, apabila ditemukan cara yang halal meskipun dengan kualitas di bawahnya, maka harus dan wajib menggunakan cara halal tersebut.

 

Dalil syarat ini, firman Allah Ta’ala:

ﻓَﭑﺗَّﻘُﻮﺍْ ﭐﻟﻠَّﻪَ ﻣَﺎ ﭐﺳۡﺘَﻄَﻌۡﺘُﻢۡ

Maka bertakwalah kamu kepada Allah menurut kesanggupanmu. (QS. At-Taghobun [64]:16)

 

Ayat ini menunjukkan bahwa seseorang harus mengerahkan apa yang dia mampu untuk bertaqwa pada Allah, dan dalam masalah ini untuk meninggalkan yang haram. Apabila ada cara yang dihalalkan maka sama sekali tidak boleh yang haram, dan tidak ada alasan darurat.

 

Dari Jabir bin Samuroh radhiyallahu ‘anhu bahwa ada seseorang yang tinggal di sebuah lembah bersama istri dan anaknya. Lalu ada seseorang yang berkata (kepadanya) : “Untaku hilang, jika engkau menemukannya maka ikatlah.” Dan laki-laki itupun menemukannya namun tidak menemukan pemiliknya. Lalu unta itu sakit. Istrinya berkata: “Sembelihlah ia.” Namun suaminya tidak mau, sehingga unta itu mati, lalu istrinya berkata: “Kulitilah sehingga kita bisa membuat dendeng dagingnya lalu kita makan.” Dia menjawab: “ Saya tidak akan melakukannya hingga saya bertanya pada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.”

 

Setelah ditanyakan kepada Rasulullah

shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau balik bertanya: “Apakah engkau memiliki lainnya?” Dia menjawab: “Tidak”. Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab: “Makanlah.” 

(Hasan. HR. Abu Dawud: 3816)

 

3. Ukuran melanggar larangan saat kondisi terpaksa itu harus dilakukan sekadarnya saja.

Maksudnya bolehnya melakukan yang terlarang saat kondisi darurat tersebut, hanya sekadar untuk menghilangkan bahaya yang menimpa dirinya saja. Jika bahaya tersebut sudah hilang maka tidak boleh lagi melakukannya. Allah berfirman:

ﻓَﻤَﻦِ ﭐﺿۡﻄُﺮَّ ﻏَﻴۡﺮَ ﺑَﺎﻍٍ۬ ﻭَﻟَﺎ ﻋَﺎﺩٍ۬ ﻓَﻠَﺎٓ ﺇِﺛۡﻢَ ﻋَﻠَﻴۡﻪِۚ ﺇِﻥَّ ﭐﻟﻠَّﻪَ ﻏَﻔُﻮﺭٌ۬ ﺭَّﺣِﻴﻢٌ

Barangsiapa dalam keadaan terpaksa [memakannya] sedang ia tidak menginginkannya dan tidak [pula] melampaui batas, maka tidak ada dosa baginya. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS.al-Baqarah [2]: 173)

 

Atas dasar ini, orang kelaparan yang kalau tidak makan bangkai akan meninggal dunia maka boleh makan sekadar untuk menyambung hidupnya saja. Tidak boleh sampai kenyang.

 

4. Waktu melanggar larangan saat kondisi darurat ini tidak boleh melebihi waktu darurat tersebut.

Artinnya, kalau kondisi itu sudah hilang maka tidak boleh lagi melakukan perkara terlarang tersebut. Itulah yang sering diistilahkan oleh para ulama dalam sebuah kaidah: “Apa yang boleh dilakukan karena ada udzur, maka akan batal apabila udzur itu sudah tidak ada.”

Contoh: Orang yang tidak menemukan air atau tidak bisa menggunakan air boleh bertayamum, namun kalau kemudian ada air maka tidak lagi tayamum dan harus berwudhu. Begitu pula jika sudah bisa menggunakan air, maka tidak boleh lagi bertayamum.

 

5. Melanggar sesuatu yang terlarang dalam kondisi darurat tersebut tidak akan menimbulkan bahaya yang lebih besar.

 

___

Ustadz Badru Salam, Lc 

Al Fawaid, 22 Maret 2016


Silakan login untuk menulis komentar.

ARTIKEL TERKAIT

Hukum Mujtahid
Hukum Mujtahid
Ustadz Abu Yahya Badrusalam, Lc - 5 years ago
Kapankah Dosa Kecil Menjadi Dosa Besar ?
Kapankah Dosa Kecil Menjadi Dosa Besar ?
Ustadz Abu Yahya Badrusalam, Lc - 3 years ago
4 Orang Yang Tidak Boleh Diambil Ilmunya
4 Orang Yang Tidak Boleh Diambil Ilmunya
Ustadz Abu Yahya Badrusalam, Lc - 5 years ago
Teman yang baik
Teman yang baik
Ustadz Abu Yahya Badrusalam, Lc - 6 years ago
Nasehat Ammar bin Yasir
Nasehat Ammar bin Yasir
Ustadz Abu Yahya Badrusalam, Lc - 5 years ago
Hasil Akhir Debat Terbuka
Hasil Akhir Debat Terbuka
Ustadz Abu Yahya Badrusalam, Lc - 5 years ago
Majelis Bangkai Keledai
Majelis Bangkai Keledai
Ustadz Abu Yahya Badrusalam, Lc - 6 days ago
Kunci Khusyu Dalam Sholat
Kunci Khusyu Dalam Sholat
Ustadz Abu Yahya Badrusalam, Lc - 4 years ago
Ikhlas dan Husnudzon
Ikhlas dan Husnudzon
Ustadz Abu Yahya Badrusalam, Lc - 5 years ago
Merata Dalam Wudhu
Merata Dalam Wudhu
Ustadz Abu Yahya Badrusalam, Lc - 4 years ago
© 2019 - Www.SalamDakwah.Com