SALWA RADIO - Menebar Salam, Menyebar Dakwah
Stay in touch with us:

Terlarangnya Terburu-Buru Dalam Berfatwa

Ustadz Kurnaedi Lc - 4 years ago

Terlarangnya Terburu-Buru Dalam Berfatwa

 بسم الله الرحمن الرحيم



Terlarangnya Tasarru’

(Terburu-buru Dalam Berfatwa)



Salah Satu Adab Bagi Thalibul Ilmi Dalam Berbicara Masalah Agama



Nabi Muhammad - shallallaahu 'alaihi wa sallam - Imamul Anbiya Suri Tauladan kita, beliau tidak berbicara kecuali dengan ilmu, ketika datang masalah padanya tentang suatu hal yang tidak beliau ketahui, maka beliau pun bertawaqquf (diam) sampai datang khabar dari Rabbnya.



Begitu juga Jibril Aminul Wahyi, dan Malaikat-Malaikat Allah tidak berbicara melainkan tentang apa yang mereka telah ilmui.



Al Imam Ahmad telah mengeluarkan dalam musnadnya dari Muhammad bin Jubair bin Muth‘im dari bapaknya bahwa ia mendatangi Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam dan berkata :



(( يَا رَسُولَ الله أيُّ البُلدَان شَرٌّ ؟ قَالَ : فَقَالَ : (( لَا أَدْرِي )) , فَلَمَّا أَتَاهُ جِبْرِيْلُ عَلَيْهِ السَّلَام , قَالَ : (( يَا جِبْرِيْلُ , أَيُّ البُلْدَانِ شَرٌّ ؟ )) قَالَ : لَا أَدْرِيْ حَتَّى أَسْأَلَ رَبِّي عَزَّ وَ جَلَّ , فَانْطَلَقَ جِبْرِيْلُ عَلَيْهِ السَّلَام , ثُمَّ مَكَثَ مَا شَاءَ الله أَنْ يَمكُثَ , ثُمَ جَاءَ فَقَالَ : يَا مُحَمَّدُ إِنَّكَ سَأَلْتَنِي : أَيُّ البُلْدَانِ شَرٌّ , فَقُلْتُ : لَا أَدْرِي , وَ إِنِّي سَأَلْتُ رَبِّي عَزَّ وَ جَلَّ : أَيُّ البُلْدَانِ شَرٌّ ؟ فَقَالَ : أَسْوَاقُهَا ))



“ Wahai Rasulullah, negeri (tempat) apa yang paling buruk ? Beliau menjawab : ((Aku tidak tahu)) ketika datang Jibril kepadanya, beliau - shallallaahu 'alaihi wa sallam - bertanya : “ Wahai Jibril, negeri (tempat) apa yang paling buruk ? ” beliau menjawab : “ Aku tidak tahu, sehingga aku tanyakan kepada Rabbku ‘Azza wa Jalla, kemudian Jibril pergi, kemudian tinggal sampai batas waktu yang dikehendaki Allah, kemudian ia (Jibril) datang : “ Wahai Muhammad, sesungguhnya engkau telah bertanya kepadaku : Negeri (tempat) apa yang paling jelek ? Aku pun menjawab : Saya tidak tahu, dan sesungguhnya aku bertanya kepada Rabbku ‘ Azza wa Jalla :Negeri (tempat) apa yang paling jelek ? Dia (Allah) menjawab : “ Yang paling jelek adalah pasar-pasarnya ”.



Syaikh Albaniy rahimahullah berkata : “ Hadits ini diriwayatkan (juga) oleh Al Hakim (2/6) dengan sanad yang hasan. (Lihat Sifatul Fatwa wal Mustafti, hal.9)



Sungguh alangkah tingginya ucapan ‘ Laa Adri ’ yang bermakna : Saya tidak tahu, lihatlah bagaimana Rasulullah dan Jibril ketika ditanya tentang sebuah masalah yang tidak diketahui, mereka menjawab Laa Adri.



Para malaikat makhluk-makhluk yang utama dan yang dimuliakan juga tidak mau melampaui batas dari ilmu mereka, ketika Allah bertanya kepada mereka, Allah berfirman :



(( أَنْبِئُونِي بِأَسْمَاءِ هَؤُلَاءِ إِنْ كُنْتُمْ صَادِقِينَ (31) قَالُوا سُبْحَانَكَ لَا عِلْمَ لَنَا إِلَّا مَا عَلَّمْتَنَا إِنَّكَ أَنْتَ الْعَلِيمُ الْحَكِيمُ (32) )) 



“ Sebutkan kepada-Ku nama semua (benda) ini, jika kamu yang benar ! ”. Mereka menjawab, “ Maha Suci Engkau, tidak ada yang kami ketahui selain apa yang telah Engkau ajarkan kepada kami. Sungguh Engkaulah Yang Maha Mengetahui, Maha Bijaksana. ” (QS. Al-Baqarah :31-32)



Akhlaq ini, pada zaman sekarang sangatlah mahal dan langka, jarang kita jumpai orang zaman sekarang yang apabila ditanya tentang sesuatu yang dia tidak ketahui, dia berkata “ Laa Adri ” padahal apa susahnya dan mudharatnya untuk berkata “Laa Adri” ? yang mana Imam dalam masalah ini adalah Rasulullah, Jibril, Malaikat Allah dan generasi As-Salaf Ash-Shalih, yang kita berbangga diri menisbatkan diri kita kepada mereka, mereka tidak bertele-tele dan menghias-hiasi diri dengan sesuatu yang tidak mereka miliki.



Imam Ayyub telah meriwayatkan dari Ibnu Abi Mulaikah, beliau berkata : “ Abu Bakar Ash-Shiddiq -radhiyallaahu 'anhu- pernah ditanya tentang sebuah ayat dan beliau menjawab : “ Bumi mana yang aku pijak ? Langit mana yang menaungiku ? Kemana aku harus pergi ? dan apa yang harus aku perbuat ? Apabila aku berkata tentang Kitabullah yang tidak sesuai dengan apa yang diinginkan (dimaksud) oleh Allah ”.



((Fadhlul Ilmi wa Adabu Thalabihi wa Thuruqu Tahshilihi wa Jam‘ihi hal.539)).



Ibnu Abbas dan Ibnu Mas’ud - radhiyallahu ‘anhum- berkata :



“ Barang siapa yang memberikan fatwa kepada manusia tentang seluruh masalah yang mereka tanyakan, maka ia adalah orang gila ”

(I’laamul Muwaqqi‘iin 2/184)



Ibnu Abi Laila -rahimahullah- pernah berkata :



“ Aku telah berjumpa dengan 120 sahabat Anshar dari para sahabat Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam yang mana salah satu dari mereka ditanya tentang sebuah masalah, kemudian ia menyerahkannya kepada yang lainnya, dan yang lainnya menyerahkan kepada yang lainnya (dan terus demikian) sampai masalah tersebut kembali kepada sahabat yang pertama kali ditanya.



(Fadhlul Ilmi hal.540)



Abu Hushain Al Asadi berkata : “ Sesungguhnya salah satu di antara kalian sanggup berfatwa tentang sebuah permasalahan yang seandainya masalah tersebut datang kepada Umar bin Khaththab niscaya beliau akan mengumpulkan Ahlu Badr (para sahabat yang pernah berperang dalam perang badar) untuk (membahas) masalah tersebut ”



(Sifatul Fatwa wal Mustafti hal.7)



Al Haitsam bin Jamiil -rahimahullah- berkata, “ Aku pernah menyaksikan Imam Malik ditanya tentang 48 masalah, maka dia berkata pada 32 dari masalah yang ditanyakan saya tidak tahu. Dan Imam Malik pernah berkata, “ Barang siapa yang menjawab tentang sebuah masalah, maka hendaknya sebelum menjawabnya dia membayangkan diri anda berdiri di antar surga dan neraka dan bagaimana keselamatannya di akhirat ini, kemudian baru dia menjawab



 

Tidak Ada yang Sepele Dalam Masalah Diin yang Agung Ini.



Hendaknya kita semua mengagungkan diin (agama) kita dan tidak menyepelekan permasalahan-permasalahan diin walaupun dianggap ringan oleh sebagian manusia, karena tidak ada masalah yang kecil atau sepele atau ringan dalam urusan diin kita yang agung ini, oleh karena itu hendaknya kita semua berhati-hati ketika berbicara tentang diin ini, jangan jadikan diin kita dan tentang hukum-hukumnya sebagai bahan candaan, karena permasalahan diin adalah perkara yang besar, hendaknya kita berilmu dulu sebelum berkata dan beramal, pernah suatu saat Imam Malik ditanya tentang suatu masalah, kemudian beliau menjawab “ Laa Adri (Aku tidak tahu) ”, kemudian dikatakan kepada beliau : Ini adalah masalah yang ringan dan mudah, maka beliau (Imam Malik) seketika itu pun marah seraya berkata : “ Tidak ada yang ringan dalam masalah ilmu, tidakkah engkau mendengar Firman Allah Ta‘ala :



 

(( إِنَّا سَنُلْقِي عَلَيْكَ قَوْلًا ثَقِيلًا (5) ))

“ Sesungguhnya Kami akan menurunkan perkataan yang berat kepadamu.” (QS. Al-Muzammil :5)



Ilmu itu semuanya tsaqil (berat), terlebih khusus tentang masalah yang akan ditanya tentangnya pada hari kiamat ”.

(Fadhul Ilmi hal.542)



Inilah wahai saudara-saudaraku beberapa nukilan dari sekian banyak perkataan Ulama tentang pengagungan mereka terhadap agama sekaligus menunjukkan tentang Wara dan kehati-hatian mereka dalam masalah fatwa dan berbicara tentang agama, mudah-mudahan kita dapat mencontoh mereka sehingga kita tidak memudah-mudahkan urusan diin kita ini.



Kemudian hendaknya kita semua menjadi penuntut ilmu yang baik, tidak bermain-main dalam masalah Agama dan hukumnya apalagi masalah itu menyangkut urusan yang sangat pelik dalam agama, marilah kita tinggalkan kesia-sian dalam hidup ini karena kita hidup di dunia sebentar, lebih baik kita habiskan waktu kita untuk membaca Al-Qur’an dan menghafalkannya dan duduk di majelis-majelis ilmu para Ulama atau Asaatidzah (para ustadz) yang sudah ma’ruf tentang Aqidah, Manhaj, dan Keilmuannya. Dan hendaknya kita mencari jalan keselamatan untuk diri kita di dunia dan di akhirat.



Untuk saudara-saudaraku di dunia maya ataupun nyata marilah kita tolong-menolong dalam kebaikan dan ketaqwaan dan janganlah tolong-menolong dalam perbuatan dosa dan permusuhan, tutuplah pintu-pintu penyimpangan apabila kita melihat ada penyimpangan dan kita sanggup untuk mencegahnya, kita semua akan dimintai pertanggung jawaban di hadapan Allah kelak, oleh karena itu jangan sampai ucapan, tulisan, dan perbuatan kita menjadi peluang terbukanya penyimpangan...



 

Malam Kamis, 8 Rabiul Awwal 1433 H / 1 Februari 2012 M



 

Al Faqiir ilaa ‘Afwi Rabbih Abu Ya’la Kurnaedi.

 


Silakan login untuk menulis komentar.

ARTIKEL TERKAIT

Wajib Tunduk Kepada Hukum Allah (Edisi 1)
Wajib Tunduk Kepada Hukum Allah (Edisi 1)
Ustadz Abdurrahman Thoyyib,Lc - 3 years ago
Adab & Akhlak
Adab & Akhlak
Redaksi SalamDakwah - 6 years ago
Indahnya Reuni
Indahnya Reuni
Ustadz Abu Fairuz Ahmad, MA - 2 years ago
Empat Pilar Kekufuran
Empat Pilar Kekufuran
Ustadz Aan Chandra Thalib,Lc - 4 years ago
Prinsip Agama Yang Tersingkir
Prinsip Agama Yang Tersingkir
Ustadz Zainal Abidin. Lc - 3 years ago
Bergaul Dengan Manusia Tanpa Rasa Sakit Hati ?
Bergaul Dengan Manusia Tanpa Rasa Sakit Hati ?
Ustadz Muflih Safitra, M.Sc - 3 years ago
Sudah Bergelar Profesor, Tapi Pendapatnya Jauh Dari Dalil ?!
Sudah Bergelar Profesor, Tapi Pendapatnya Jauh Dari Dalil ?!
Ustadz DR Musyaffa' Ad Dariny,MA - 2 years ago
© 2020 - Www.SalamDakwah.Com