SALWA RADIO - Menebar Salam, Menyebar Dakwah
Stay in touch with us:

Kapankah Dosa Kecil Menjadi Dosa Besar ?

Ustadz Abu Yahya Badrusalam, Lc - 4 years ago

Kapankah Dosa Kecil Menjadi Dosa Besar ?

Oleh : Ustadz Badru Salam, Lc

 

Kapankah dosa kecil menjadi dosa besar?

 

Dosa kecil menjadi dosa besar pada lima keadaan berikut ini:

 

1. Terus menerus.

melakukan dosa kecil secara terus menerus menjadikannya besar.

Allah Ta’ala berfirman,

 

وَالَّذِينَ إِذَا فَعَلُوا فَاحِشَةً أَوْ ظَلَمُوا أَنْفُسَهُمْ ذَكَرُوا اللَّهَ فَاسْتَغْفَرُوا لِذُنُوبِهِمْ وَمَنْ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلَّا اللَّهُ وَلَمْ يُصِرُّوا عَلَى مَا فَعَلُوا وَهُمْ يَعْلَمُونَ

 

“Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri, mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka. Dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain dari pada Allah? Dan mereka tidak terus menerus melakukan perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengetahui.” 

(QS. Ali ‘Imraan [3]: 135)

 

2. Meremehkan dosa.

Disebutkan hadits dalam Shahih Bukhari,

 

عَنْ أَنَسٍ – رضى الله عنه – قَالَ إِنَّكُمْ لَتَعْمَلُونَ أَعْمَالاً هِىَ أَدَقُّ فِى أَعْيُنِكُمْ مِنَ الشَّعَرِ ، إِنْ كُنَّا نَعُدُّهَا عَلَى عَهْدِ النَّبِىِّ – صلى الله عليه وسلم – الْمُوبِقَاتِ

 

Dari Anas radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, “Sesungguhnya kalian melakukan suatu amalan dan menyangka bahwa itu lebih tipis dari rambut. Namun kami menganggapnya di masa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai sesuatu yang membinasakan.” 

(HR. Bukhari no. 6492)

 

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

 

إِنَّ المُؤْمِنَ يَرَى ذُنُوبَهُ كَأَنَّهُ قَاعِدٌ تَحْتَ جَبَلٍ يَخَافُ أَنْ يَقَعَ عَلَيْهِ، وَإِنَّ الفَاجِرَ يَرَى ذُنُوبَهُ كَذُبَابٍ مَرَّ عَلَى أَنْفِهِ

 

“Sesungguhnya orang yang beriman melihat dosa-dosanya seperti ketika duduk di bawah gunung, dia takut kalau gunung tersebut jatuh menimpanya. Adapun orang yang fajir melihat dosa-dosanya seperti seekor lalat yang lewat (terbang) di depan hidungnya.” 

(HR. Bukhari no. 6308)

 

3. Merasa gembira dengan dosa.

Merasa gembira dengan dosa menyebabkan pelakunya tidak bertaubat dan terus menerus melakukannya. Bahkan ketika ia terluput dari dosa, ia akan merasa sedih.

Padahal kata Rasulullah:

Barang siapa yang merasa gembira dengan kebaikannya dan merasa sedih dengan keburukannya maka ia adalah mukmin. 

HR Ahmad

 

4. Terang-terangan berbuat dosa.

 

عن سالم بن عبد اللّه قال: سمعت أبا هريرة يقول سمعت رسول اللّه صلّى اللّه عليه وسلّم- يقول: كلّ أمّتي معافى إلّا المجاهرين، وإنّ من المجاهرة أن يعمل الرّجل باللّيل عملا، ثمّ يصبح وقد ستره اللّه فيقول: يا فلان عملت البارحة كذا وكذا، وقد بات يستره ربّه، ويصبح يكشف ستر اللّه عنه

 

Dari Salim bin Abdullah, dia berkata, Aku mendengar Abu Hurairah radhiyallahu ’anhu bercerita bahwa beliau pernah mendengar Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda, ‘Setiap umatku akan mendapat ampunan, kecuali mujahirin (orang-orang yang terang-terangan berbuat dosa). Dan yang termasuk terang-terangan berbuat dosa adalah seseorang berbuat (dosa) pada malam hari, kemudian pada pagi hari dia menceritakannya, padahal Allah telah menutupi perbuatannya tersebut, yang mana dia berkata, ‘Hai Fulan, tadi malam aku telah berbuat begini dan begitu.’ Sebenarnya pada malam hari Rabb-nya telah menutupi perbuatannya itu, tetapi pada pagi harinya dia menyingkap perbuatannya sendiri yang telah ditutupi oleh Allah tersebut.” 

HR Bukhari dan Muslim

 

5. yang melakukannya adalah seorang pemuka yang diikuti.

 

مَنْ سَنَّ فِي الإِسْلاَمِ سُنَّةً حَسَنَةً فَلَهُ أَجْرُهَا وَأَجْرُ مَنْ عَمِلَ بِهَا بَعْدَهُ مِنْ غَيْرِ أَنْ يُنْقَصَ مِنْ أُجُوِْرِهمْ شَيْءٌ. وَمَنْ سَنَّ فِي الإِسْلاَمِ سُنَّةً سَيِّئَةً كَانَ عَلَيْهِ وِزْرُهَا وَوِزْرُ مَنْ عَمِلَ بِهَا مِنْ بَعْدِهِ مِنْ غَيْرِ أَنْ يُنْقَصَ مِنْ أَوْزَارِهِمْ شَيْءٌ.

 

“Barangsiapa mencontohkan suatu perbuatan baik di dalam Islam, maka ia akan memperoleh pahalanya dan pahala orang-orang yang mengamalkannya setelahnya dikurangi sedikitpun dari pahala mereka. Dan barang siapa mencontohkan suatu perbuatan buruk di dalam Islam, maka ia akan memperoleh dosanya dan dosa orang-orang yang mengamalkannya setelahnya tanpa dikurangi sedikitpun dari dosa mereka.”

HR Muslim

 

___

Dipost Ustadz Badru Salam, Lc -hafizhahullah- tgl 26 Rabiul Awal 1437 / 7 Januari 2016


Silakan login untuk menulis komentar.

ARTIKEL TERKAIT

Syarat Masjid Untuk Itikaf
Syarat Masjid Untuk Itikaf
Ustadz Abu Yahya Badrusalam, Lc - 3 years ago
Istinsar Bangun Tidur
Istinsar Bangun Tidur
Ustadz Abu Yahya Badrusalam, Lc - 5 years ago
Tak Terasa Batal...
Tak Terasa Batal...
Ustadz Abu Yahya Badrusalam, Lc - 3 years ago
Jalan Menuju Allah
Jalan Menuju Allah
Ustadz Abu Yahya Badrusalam, Lc - 5 years ago
Embun Pagi: Orang-orang Yang Diharamkan Atas Api Neraka
Embun Pagi: Orang-orang Yang Diharamkan Atas Api Neraka
Ustadz Abu Yahya Badrusalam, Lc - 5 years ago
Untuk Siapa
Untuk Siapa
Ustadz Abu Yahya Badrusalam, Lc - 6 years ago
Salah Terjemah
Salah Terjemah
Ustadz Abu Yahya Badrusalam, Lc - 6 years ago
Marah Rahmat
Marah Rahmat
Ustadz Abu Yahya Badrusalam, Lc - 6 years ago
Bidadari Surga
Bidadari Surga
Ustadz Abu Yahya Badrusalam, Lc - 3 years ago
Diantara Perangai Jahiliyah
Diantara Perangai Jahiliyah
Ustadz Abu Yahya Badrusalam, Lc - 6 years ago
© 2020 - Www.SalamDakwah.Com