SALWA RADIO - Menebar Salam, Menyebar Dakwah
Stay in touch with us:

Salafi Bukan Aliran Tertentu

3 years ago

Salafi Bukan Aliran Tertentu

Oleh : Ustadz dr. Raehanul Bahraen

 

Salafi Bukan Airan Tertentu

Tetapi Penisbatan Kepada Salaf 

(Rasulullah, Sahabat dan Generasi Terbaik)

 

ํ ฝSalafi bukanlah suatu aliran atau kelompok tertentu, akan tetapi salafi adalah penisbatan kepada para salaf yaitu Rasulullahshallallahu ‘alaihi wa sallam, sahabat, dan generasi terbaik yaitu Tabi’in dan Tabi'ut tabi’in.

 

Jadi apapun organisasi atau ormasnya, jika mereka bermanhaj (metodologi beragama) sesuai dengan pemahaman para salaf. Maka mereka semua adalah salafi. Ormas NU, ormas Muhammadiyah, organisasi A dan kelompok B, jika manhaj mereka mengikuti para salaf, maka mereka adalah salafi.

 

Bagi yang sudah belajar bahasa Arab tentu mereka paham. Bahwa kata “salaf” (ุณู„ู) jika ditambahkan huruf “ya nisbah” maka artinya adalah penisbatan. Sebagaimana kata yang sudah sering kita dengar “Islami” adalah penisbatan kepada Islam. Jadilah “pakaian Islami, akhlak Islami”.

 

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjelaskan bahwa beliau adalah “salaf”. Beliau berkata kepada putri beliau yaitu Fathimah:

 

ุงูุชู‘ูŽู‚ููŠู’ ุงู„ู„ู‡ูŽ ูˆูŽุงุตู’ุจูุฑููŠ ููŽุฅูู†ู‘ูŽ ู†ูุนู’ู…ูŽ ุงู„ุณู‘ูŽู„ูŽูู ุฃูŽู†ูŽุง ู„ูŽูƒู

“Bertakwalah kamu dan bersabarlah karena sesungguhnya sebaik-baik Salaf bagi kamu adalah aku”. 

(HR. Al-Bukhari dan Muslim)

 

Begitu juga Sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada putrinya yang hendak akan meninggal,

 

ุงูู„ู’ุญูŽู‚ููŠู’ ุจูุณูŽู„ูŽููู†ูŽุง ุงู„ุตู‘ูŽุงู„ูุญู ุนูุซู’ู…ูŽุงู†ูŽ ุจู’ู†ู ู…ูŽุธู’ุนููˆู’ู†ู.

“Susul-lah para salaf  (pendahulu)kita yang shalih, Utsman bin Mazh’un.” 

(HR ath Thabrani di dalam al Mu’jam al Ausath no. 5736)

 

Demikian juga dengan penyebutan “dakwah salafiyah”. Bagi yang sudah belajar bahasa Arab tentu paham. Artinya adalah dakwah menyeru kepada pemahaman para salaf dalam beragama.

 

Para salaf tersebut adalah generasi terbaik dalam Islam yang mana pemahaman agama mereka yang paling baik dan tentu harus kita ikuti. Sebagaimana sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam

 

ุฎูŽูŠู’ุฑููƒูู…ู’ ู‚ูŽุฑู’ู†ููŠุŒ ุซูู…ูŽู‘ ุงู„ูŽู‘ุฐููŠู†ูŽ ูŠูŽู„ููˆู†ูŽู‡ูู…ู’ุŒ ุซูู…ูŽู‘ ุงู„ูŽู‘ุฐููŠู†ูŽ ูŠูŽู„ููˆู†ูŽู‡ูู…ู’ ุŒ ุฅูู†ูŽู‘ ุจูŽุนู’ุฏูŽูƒูู…ู’ ู‚ูŽูˆู’ู…ู‹ุง ูŠูŽุฎููˆู†ููˆู†ูŽ ูˆูŽู„ุงูŽ ูŠูุคู’ุชูŽู…ูŽู†ููˆู†ูŽุŒ ูˆูŽูŠูŽุดู’ู‡ูŽุฏููˆู†ูŽ ูˆูŽู„ุงูŽ ูŠูุณู’ุชูŽุดู’ู‡ูŽุฏููˆู†ูŽุŒ ูˆูŽูŠูŽู†ู’ุฐูุฑููˆู†ูŽ ูˆูŽู„ุงูŽ ูŠูŽูููˆู†ูŽุŒ ูˆูŽูŠูŽุธู’ู‡ูŽุฑู ูููŠู‡ูู…ู ุงู„ุณูู‘ู…ูŽู†ู

“Generasi terbaik adalah generasi di zamanku, kemudian generasisetelahnya (tabi’in), kemudian generasi setelahnya (tabi’ut tabi’in).

(HR. Bukhari 2651 dan Muslim 6638)

 

Jadi jika ada ungkapan “saya keluar dari salafi”, tentu  belum memahami benar istilah ini dan semoga mereka yang berkata demikian bisa memahami dan mendapatkan kebaikan yang banyak. 

 

Kenapa sih kok ada istilah salafi?

 

Sumbernya dari hadits bahwa umat akan terpecah belah menjadi beberapa 73 golongan (aliran) semunya akan masuk neraka (tidak kekal) kecuali satu yang selamat.

 

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

 

ุณูŽุชูŽูู’ุชูŽุฑูู‚ู ุฃูู…ู‘ูŽุชููŠ ุนูŽู„ูŽู‰ ุซูŽู„ุงูŽุซูŽุฉู ูˆูŽุณูŽุจู’ุนููŠู†ูŽ ู…ูู„ู‘ูŽุฉู‹ุŒ ูƒูู„ู‘ูู‡ูู…ู’ ูููŠ ุงู„ู†ู‘ูŽุงุฑู ุฅูู„ุงู‘ูŽ ูˆูŽุงุญูุฏูŽุฉู‹. ู‚ููŠู„ูŽ: ู…ูŽู†ู’ ู‡ููŠูŽ ูŠูŽุง ุฑูŽุณููˆู„ูŽ ุงู„ู‘ูŽู‡ู„ูุŸ ู‚ูŽุงู„ูŽ: ู…ูŽุง ุฃูŽู†ูŽุง ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ู ูˆูŽุฃูŽุตู’ุญูŽุงุจููŠู’

“Umatku akan terpecah belah menjadi 73 golongan. Semuanya masuk neraka, kecuali satu golongan. Beliau ditanya, ‘Siapakah dia wahai Rasulullah?’ Beliau menjawab, ‘(Golongan) yang berada di atas jalan hidup (manhaj) yang aku dan para sahabatku berada’.”

(HR. At-Tirmidzi )

 

Nah, satu yang selamat inilah yang dimaksudkan oleh para ulama. Berdasarkan penelitian para ulama nama satu kelompok ini ada banyak misalnya Firqotun najiyyah, Ahlus sunnah wal jamaah, ahlul Hadits, Salafi dan lain-lain.

 

Dahulunya para ulama mengenalkan dan mempopulerkan istilah ahli hadits atau ahlus sunnah wal jamaah. Akan tetapi tatkala semua pihak dan aliran yang menyimpang juga mengaku bahwa mereka adalah ahlus sunnah wal jamaah, maka para ulama belakangan mempopulerkan istilah “salafi”.

 

Akan tetapi saat inipun cukup banyak yang mengaku salafi tetapi akhlak, agama dan kepribadian mereka tidak sesuai dengan akhlak dan agama para salaf.

 

Tidak heran ada yang berkomentar “salafi itu aliran keras dan maunya memang sendiri saja”

bisa jadi karena ulah “oknum” tetapi jangan digeneralisir. Padahal para salaf mengajarkan agar dakwah itu hukum asalnya lembut, menghindari debat kusir walaupun kita menang secara ilmu, murah senyum dan berwajah ceria, serta menginginkan kebaikan kepada saudaranya.

 

Tidak heran ada yang berkomentar “salafi itu gampang membid’ahkan, mengkafirkan, dikit-dikit bid’ah”

bisa jadi karena ulah “oknum” tetapi jangan digeneralisir. Padahal para salaf mengajarkan agar tidak sembarangan membi’dahkan dan mengkafirkan. Kehormatan seorang muslim itu tinggi. Jika benar dia itu adalah bid’ah dan syirik, maka pelakunya belum tentu dicap ahli bid’ah dan ahli kesyirikan karena bisa jadi ada udzur syar’i. Kalaupun iya, mereka melakukan, maka ada caranya menyampaikan, tentu dengan seni berdakwah bukan sembarangan.

 

Ingat, para salaf mengajarkan, dakwah adalah menginginkan kebaikan kepada saudaranya, caranya harus baik dan lembut dan tepat keadaan. Jika dakwah diterima Alhamdulillah, jika ditolak maka mereka didoakan serta tidak boleh dimusuhi karena mereka adalah saudara kita dan memiliki hak-hak persaudaraan seIslam. 

 

Ulama sejak dahulu sudah menggunakan Istilah “salaf”

 

Kata “salaf” bukanlah kata-kata yang baru ulama sejak dahulu sudah menggunakannya. Bahkan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagaimana pada hadits yang kami bawakan di awal.

 

Berikut kami nukil perkataan ulama-ulama sejak zaman dahulu yang sudah dikenal oleh kita:

 

1.Imam Asy-Syafi’i rahimahullah (wafat 204 H)

 

ูˆุฃุนุฑู ุญู‚ ุงู„ุณู„ู ุงู„ุฐูŠู† ุงุฎุชุงุฑู‡ู… ุงู„ู„ู‡ ุชุนุงู„ู‰ ู„ุตุญุจุฉ ู†ุจูŠู‡ ุตู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ูŠู‡ ูˆุณู„ู…ุŒ ูˆุงู„ุฃุฎุฐ ุจูุถุงุฆู„ู‡ู…ุŒ ูˆุงู…ุณูƒ ุนู…ุง ุดุฌุฑ ุจูŠู†ู‡ู… ุตุบูŠุฑู‡ ูˆูƒุจูŠุฑู‡

“Dan aku mengakui hak para salaf yang telah dipilih oleh Allah untuk menemani Nabi-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan memegang dengan keutamaan-keutamaan mereka, dan aku menahan diri dari perkara yang mereka percekcokan baik yang kecil atau besar.” 

(Al-Amru bi-ittiba’, As-Suyuthiy)

 

2. Ahli tafsir Ibnu Katsir rahimahullah

 

ูˆุฃู…ุง ู‚ูˆู„ู‡ ุชุนุงู„ู‰: { ุซูู…ู‘ูŽ ุงุณู’ุชูŽูˆูŽู‰ ุนูŽู„ูŽู‰ ุงู„ู’ุนูŽุฑู’ุดู } ูู„ู„ู†ุงุณ ููŠ ู‡ุฐุง ุงู„ู…ู‚ุงู… ู…ู‚ุงู„ุงุช ูƒุซูŠุฑุฉ ุฌุฏุงุŒ ู„ูŠุณ ู‡ุฐุง ู…ูˆุถุน ุจุณุทู‡ุงุŒ ูˆุฅู†ู…ุง ูŠูุณู„ูƒ ููŠ ู‡ุฐุง ุงู„ู…ู‚ุงู… ู…ุฐู‡ุจ ุงู„ุณู„ู ุงู„ุตุงู„ุญ: ู…ุงู„ูƒุŒ ูˆุงู„ุฃูˆุฒุงุนูŠุŒ ูˆุงู„ุซูˆุฑูŠูˆุงู„ู„ูŠุซ ุจู† ุณุนุฏุŒ ูˆุงู„ุดุงูุนูŠุŒ ูˆุฃุญู…ุฏ ุจู† ุญู†ุจู„ุŒ ูˆุฅุณุญุงู‚ ุจู† ุฑุงู‡ูˆูŠู‡ ูˆุบูŠุฑู‡ู…ุŒ ู…ู† ุฃุฆู…ุฉ ุงู„ู…ุณู„ู…ูŠู† ู‚ุฏูŠู…ุง ูˆุญุฏูŠุซุงุŒ ูˆู‡ูˆ ุฅู…ุฑุงุฑู‡ุง ูƒู…ุง ุฌุงุกุช ู…ู† ุบูŠุฑ ุชูƒูŠูŠู ูˆู„ุง ุชุดุจูŠู‡ ูˆู„ุง ุชุนุทูŠู„

 “Sedangkan firman Allah Ta’ala: ‘Kemudian Dia istiwa’ di atas ‘Arsy’, maka orang-orang dalam masalah ini mempunyai pendapat yang sangat banyak. Dan ini bukanlah tempat untuk menjabarkannya. Pendapat  inilah yang ditempuh oleh mazhabnya As-Salaf As-Shalih yaitu Imam Malik, Al-Auza’i, Sufyan Ats-Tsauri, Al-Laits bin Sa’ad, Asy-Syafi’i, Ahmad bin Hambal, Ishaq bin Rohuyah dan imam-imam kaum muslimin baik yang dahulu dan sekarang, yakni membiarkannya tanpa takyif, tasybih dan ta’thil.

(Tafsir Ibnu Katsir 3/426-427, syamilah)

 

3. Imam An-Nawawi rahimahullah berkata

 

ูˆูŽุงุญู’ุชูŽุฌู‘ูŽ ุงู„ุดู‘ูŽุงููุนููŠู‘ู – ุฑุญู…ู‡ ุงู„ู„ู‡ – ุจูู…ูŽุง ุฑูŽูˆูŽู‰ ุนูŽู…ู’ุฑููˆ ุจู’ู†ู ุฏููŠู†ูŽุงุฑูุนู† ุงุจู† ุนู…ุฑ ุฑุถูŠ ุงู„ู„ู‡ ุนู†ู‡ู…ุง ุฃูŽู†ู‘ูŽู‡ู ูƒูŽุฑูู‡ูŽ ุฃูŽู†ู’ ูŠูŽุฏู‘ูŽู‡ูู†ูŽ ูููŠ ุนูŽุธู’ู…ู ูููŠู„ู ู„ูุฃูŽู†ู‘ูŽู‡ู ู…ูŽูŠู’ุชูŽุฉูŒุŒ ูˆุงู„ุณู„ู ูŠุทู„ู‚ูˆู† ุงู„ูƒุฑุงู‡ุฉ ูˆ ูŠุฑูŠุฏูˆู† ุจู‡ุง ุงู„ุชุญุฑูŠู…

“Imam Asy-Syafii rahimahullah berhujjah dengan yang diriwayatkan oleh Amr bin Dinar dari Ibnu Umar radhiallahu 'anhuma bahwa beliau memakruhkan memakai minyak pada tulang gajah, karena itu bangkai. Dan Ulama salaf memberikan istilah dengan makruh sedangkan maksud mereka adalah pengharaman.” 

(Al-Majmu’ 1/127)

 

Demikian semoga bermanfaat

 

@Markaz YPIA, Yogyakarta tercinta

 

Penyusun:  Raehanul Bahraen

 

___

Repost: 22/3/15


Silakan login untuk menulis komentar.

ARTIKEL TERKAIT

Cara Kirim Salam dan Cara Menjawabnya
Cara Kirim Salam dan Cara Menjawabnya
Ustadz Ammi Nur Baits - 2 years ago
Apakah Benar Mandi Hujan Hukumnya Sunnah?
Apakah Benar Mandi Hujan Hukumnya Sunnah?
Dokter Raehanul Bahraen - 4 years ago
Al Quran, Kitab Yang Allah Berkahi
Al Quran, Kitab Yang Allah Berkahi
Ustadz DR Musyaffa' Ad Dariny,MA - 2 years ago
Mahalnya Istiqomah
Mahalnya Istiqomah
Redaksi SalamDakwah - 5 years ago
Cinta dan Rindu
Cinta dan Rindu
Ustadz Abu Fairuz Ahmad, MA - 11 months ago
Musibah Umat Paling Berat
Musibah Umat Paling Berat
Ustadz Zainal Abidin. Lc - 1 year ago
Hikayat Rumput
Hikayat Rumput
3 years ago
Sholat Jamaah
Sholat Jamaah
Redaksi SalamDakwah - 5 years ago
© 2019 - Www.SalamDakwah.Com