SALWA RADIO - Menebar Salam, Menyebar Dakwah
Stay in touch with us:

Bukan Wahabi, Tapi Pengikut Nabi !

4 years ago

Bukan Wahabi, Tapi Pengikut Nabi !

 BUKAN WAHHABI TAPI PENGIKUT NABI

 

Dewasa ini sering kita mendengar istilah atau kata wahhabi, kata ini sering muncul di tengah-tengah masyarakat, sehingga tidak jarang menimbulkan pro dan kontra serta gesekan di grass root (akar rumput), ada yang membencinya, ada yang mengaguminya, dan ada pula yang cuek dan tidak mau tau tentangnya, stigma jelek pun banyak disematkan pada golongan yang sering disebut dengan wahhabi ini, mulai dengan gelar radikal, teroris, garis keras, fundamentalis, mujassimah, takfiry,  dan seterusnya.

Akan tetapi kelompok yang sering disebut wahhabi ini menolak penamaan atau julukan “wahhabi” tersebut, mereka lebih sering menyebut dakwahnya dengan dakwah sunnah, atau dakwah salafiyah ahlussunnah wal-jama’ah.

Tulisan ini berusaha objektif dalam mencari dan memaparkan ciri-ciri kelompok yang sering di gelari dengan nama wahhabi tersebut, kemudian kita timbang sifat-sifat yang melekat pada kelompok tersebut dengan pemahaman ahlussunnah wal jamaa’ah yang bersumber dari al-Qur’an dan sunnah serta interpretasi yang benar dari ulama’ yang terbukti kredibilitasnya, dari kalangan sahabat, tabi’in, atau mereka yang datang setelahnya seperti  imam empat dan lain-lainnya.

Berikut sifat-sifat kelompok yang sering di sebut wahhabi dalam kacamata kebanyakan orang:

1.     Wahhabi adalah kelompok jenggotan (jama’ah jenggot).

Di antara ciri yang sering ditonjolkan dalam mensifati kelompok wahhabi adalah jenggot lebat dan panjang, sehingga kita sering menyaksikan setiap ada orang yang berjenggot langsung dikatakan : wahhabi.

Lantas, hal yang perlu kita timbang di sini adalah apa sih hukum memelihara jenggot? apakah ini doktrin wahhabi ataukah ini merupakan salah satu hal yang memiliki dasar hukum dalam Islam.

Berkenaan dengan memelihara jenggot, ada riwayat dari sahabat Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhuma bahwa rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

 أَحْفُوا الشَّوَارِبَ وَأَعْفُوا اللِّحَى

Potonglah kumis kalian dan peliharalah jenggot” [HR. Muslim no. 259].

Dalam riwayat lain:

«أَنْهَكُوا الشَّوارِبَ ، وأَعفُوا اللِّحى».

”Potong sampai habis kumis kalian dan peliharalah jenggot” [HR. Al-Bukhari no. 5554].

« جُزُّوا الشَّوَارِبَ وَأَرْخُوا اللِّحَى خَالِفُوا الْمَجُوسَ ».

”Potong/cukurlah kumis kalian dan panjangkanlah jenggot. Selisilah oleh kalian kaum Majusi” [HR. Muslim no. 260].

Hadits-hadits di atas sangat jelas mengandung perintah memanjangkan jenggot.

 

 

Lantas bagaimana hukum memelihara jenggot menurut ulama syafi’iyyah?

Al-Imam asy-Syafi’i rahimahullah sebagai tokoh sentral madzhab syafi’iyyah telah melarang untuk memotong jenggot, hal ini sebagaimana yang dituturkan imam Ibnu Rif’ah, beliau berkata:

إِنَّ الشَّافِعِي قَدْ نَصَّ فِي الأُمِّ عَلَى تَحْرِيْمِ حَلْقِ اللِّحْيَةِ

Sungguh Imam Syafi’i telah menegaskan dalam kitabnya Al-Umm, tentang haramnya menggundul jenggot.[1]

Hal senada juga dituturkan al-Imam an-Nawawi asy-Syafi’i, beliau berkata:

والمخْتَارُ تَرْكُ اللِّحْيَةِ عَلَى حَالِهَا وَأَلَّا يَتَعَرَّضُ لَهَا بِتَقْصِيْرِ شَيْءٍ أَصْلًا

"Pendapat yang terpilih adalah membiarkan jenggot apa adanya, dan tidak memendekkannya sama sekali"[2]

Setelah melihat beberapa dalil dan pendapat ulama’ di atas bisa kita simpulkan bahwa memelihara jenggot adalah salah satu ajaran islam, yang hendaknya seorang muslim berkomitmen untuk menjalankannya, dalil di atas juga menggugurkan pandangan orang awam yang mengatakan bahwa memelihara jenggot adalah doktrin wahhabi, tentunya anggapan seperti ini tidaklah benar, akan tetapi yang benar adalah salah satu ajaran nabi dan para ulama’. Sehingga bisa dikatakan bahwa yang memelihara jenggot bukanlah wahhabi akan tetapi pengikut nabi.

2.     Wahhabi adalah kelompok celana cingkrang

Di antara ciri wahhabi menurut sebagian kalangan adalah mereka yang mengenakan celana atau gamis di atas mata kaki (cingkrang).

 Bagaimana islam mendudukkan masalah ini?

Dalam kaca mata syariat, menjulurkan pakaian di atas mata kaki disebut dengan isbal, dan dalam hal ini terdapat hadits dari Abu Huroiroh radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَا أَسْفَلَ مِنَ الْكَعْبَيْنِ مِنَ الإِزَارِ فَفِى النَّارِ

Kain yang berada di bawah mata kaki itu berada di neraka.” (HR. Bukhari no. 5787)

Bagaimana hukum isbal (menjulurkan pakaian di bawah mata kaki) menurut ulama syafi’iyyah?

Al-Imam Ibnu Hajar Al-Asqalani asy-Syafi’i rahimahullah berkata:

وَحَاصِلُهُ: أَنَّ الإِسْبَالَ يَسْتَلْزِمُ جرَّ الثّوْبِ، وَجَرُّ الثَّوْبِ يَسْتَلْزِمُ الخُيَلَاءَ، وَلَوْ لَمْ يَقْصُدْ اللَّابِسُ الخُيَلَاء، وَيُؤَيِّدهُ: مَا أَخْرَجَهُ أَحْمَدُ بنُ مَنِيعٍ مِنْ وَجْهٍ آخَرَ عَنِ ابْنِ: ( وَإَيّاكَ وَجَرّ الإِزَارِ؛ فَإِنَّ جَرَّ الإِزَارِ مِنَ المخِيْلَةِ

“Kesimpulannya, isbal itu pasti menjulurkan pakaian. Sedangkan menjulurkan pakaian di bawah mata kaki itu melazimkan kesombongan, walaupun si pemakai tidak bermaksud sombong. Dikuatkan lagi dengan riwayat dari  Ahmad bin Mani’ dengan sanad lain dari Ibnu Umar. Di dalam hadits tersebut dikatakan ‘Jauhilah perbuatan menjulurkan pakaian, karena menjulurkan pakaian itu adalah kesombongan‘” [3]

Jika demikian keadaannya, berarti celana cingkrang bukanlah ciri wahhabi akan tetapi ciri pengikut nabi.

3.     Wahhabi dikatakan anti Ziarah Kubur

  Dahulu rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melarang ziarah kubur dikarenakan dekatnya kaum muslimin dari zaman kejahiliyaan, rasulullah takut kuburan ini dijadikan wasilah menuju kesyirikan sehingga beliau melarang ziarah kubur. Kemudian dengan bertambahnya pemahaman keIslaman para sahabat di masa itu maka rasulullah mengizinkan dilaksanakannya ziarah kubur bahkan menjadikannya termasuk bagian dari syari’at Islam dengan tujuan ziarah tersebut untuk mengingatkan yang masih hidup akan kematian dan kehidupan akherat.

        Hal di atas sebagaimana yang disebutkan dalam riwayat Buraidah Ibnul Hushaib radhiyallahu ‘anhu,  Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِنِّي كُنْتُ نَهَيْتُكُمْ عَنْ زِيَارَةِ الْقُبُورِ فَزُورُوهَا فَإِنَّهَا تُذَكِّرُكُمُ الْآخِرَةَ  

Sesungguhnya Dahulu Aku pernah melarang kalian berziarah kubur, maka sekarang berziarahlah kalian ke kubur karena itu akan mengingatkan kamu terhadap hari akhirat.  (HR. Muslim no.977dan Ahmad: 1173 Dishohihkan oleh al- Albani dalam Silsilah Shohihah 2/545).

Apakah kelompok yang dikatakan wahhabi ini anti ziarah kubur?

Penulis kitab Muhammad Bin Abdul Wahhab Mushlihun Mazhlum Muftara Alaihi menuturkan bahwa Syekh muhammad bin Abdil Wahhab rahimahullah dan pengikutnya bukanlah orang yang anti ziarah kubur, bila mana ziarah tersebut dilakukan sesuai dengan tuntunan islam yaitu untuk mendoakan ahli kubur dan untuk mengingat kematian dan hari akherat. Hanya saja beliau mengingkari terjadinya penyimpangan dalam ritual ziarah kubur tersebut, seperti: berdoa dan meminta kepada ahli kubur.[4]

Beliau dan pengikutnya juga mengingkari adanya bangunan atau kubah-kubah di atas kuburan, hal tersebut berdasarkan pada hadits dari Jabir bin ‘Abdillah radliyallaahu ‘anhu berkata :

نَهَى رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْ يُجَصَّصَ الْقَبْرُ، وَأَنْ يُقْعَدَ عَلَيْهِ، وَأَنْ يُبْنَى عَلَيْهِ

“Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam telah melarang kubur untuk dikapur, diduduki, dan dibangun sesuatu di atasnya”. (HR.  Muslim no. 970, Abu Dawud no. 3225)

Bahkan rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan Ali Bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu untuk meratakan kuburan yang ditinggikan dan diagungkan, hal itu sebagaimana riwayat berikut ini:

عَنْ أَبِي الْهَيَّاجِ الْأَسَدِيِّ، قَالَ: قَالَ لِي عَلِيُّ بْنُ أَبِي طَالِبٍ: " أَلَا أَبْعَثُكَ عَلَى مَا بَعَثَنِي عَلَيْهِ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْ لَا تَدَعَ تِمْثَالًا إِلَّا طَمَسْتَهُ، وَلَا قَبْرًا مُشْرِفًا إِلَّا سَوَّيْتَهُ "

 

Dari Abul-Hayyaj Al-Asadi, ia berkata : ‘Ali bin Abi Thaalib pernah berkata kepadaku : “Maukah engkau aku utus sebagaimana Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam telah mengutusku ? Hendaklah engkau tidak meninggalkan gambar-gambar kecuali engkau hapus dan jangan pula kamu meninggalkan kuburan yang ditinggikan kecuali kamu ratakan” HR. Muslim no. 9690).

 

 

Pendapat Imam syafi’i dalam masalah bangunan di atas kuburan

Al-Imam Asy-Syafi’iy rahimahullah berkata :

وَأُحِبُّ أَنْ لاَ يُبْنَى وَلَا يُجَصَّصَ فَإِنَّ ذَلِكَ يُشْبِهُ الزِّيْنَةَ وَالخُيَلَاءَ وَلَيْسَ الموْتُ مَوْضِعَ وَاحِدٍ مِنْهُمَا وَلَمْ أَرَ قُبُورَ المهَاجِرِيْنَ وَالاَنْصَارَ مُجَصَّصَةً ...... وَقَدْ رَأَيْتُ مِنَ الوُلَاةِ مَنْ يَهْدِمُ بِمَكّةَ مَا يُبْنَى فِيْهَا فَلَمْ أَرَ الفُقَهَاءَ يَعِيْبُونَ ذَلِكَ

“Dan aku senang jika kubur tidak dibangun dan tidak dikapur/disemen, karena hal itu menyerupai perhiasan dan kesombongan. Orang yang mati bukanlah tempat untuk salah satu di antara keduanya. Dan aku pun tidak pernah melihat kubur orang-orang Muhaajiriin dan Anshaar dikapur..... Dan aku telah melihat para penguasa meruntuhkan bangunan yang dibangun di atas kubur di Makkah, dan aku tidak melihat para fuqahaa’ mencela perbuatan tersebut[5]

Al-Imam an-Nawawi berkata:

وَاتَّفَقَتْ نُصُوصُ الشَّافِعِيِّ وَالْأَصْحَابِ عَلَى كَرَاهَةِ بِنَاءِ مَسْجِدٍ عَلَى الْقَبْرِ سَوَاءٌ كَانَ الْمَيِّتُ مَشْهُورًا بِالصَّلَاحِ أَوْ غَيْرِهِ لِعُمُومِ الْأَحَادِيثِ

“Nash-nash dari imam Asy-Syaafi’iy dan para pengikutnya telah sepakat tentang dibencinya membangun masjid di atas kubur. Sama saja, apakah si mayit masyhur dengan keshalihannya ataupun tidak berdasarkan keumuman hadits-haditsnya[6]

 

      Ibnu Hazm rahimahullah yang bermadzhab dhohiry berkata :

مَسْأَلَةٌ: وَلاَ يَحِلُّ أَنْ يُبْنَى الْقَبْرُ, وَلاَ أَنْ يُجَصَّصَ, وَلاَ أَنْ يُزَادَ عَلَى تُرَابِهِ شَيْءٌ, وَيُهْدَمُ كُلُّ ذَلِكَ

“Permasalahan : Dan tidak dihalalkan kubur untuk dibangun, dikapur/disemen, dan ditambahi sesuatu pada tanahnya. Dan semuanya itu (bangunan, semenan, dan tanah tambahan) mesti dirobohkan” [Al-Muhallaa, 5/133].

Dan pendapat di atas merupakan madzab imam empat, tidak hanya syafi’iyyah saja, akan tetapi ini juga pendapat hanafiyah, malikiyah dan juga hanabilah.

            Pendek kata dari pemaparan di atas, bahwa tuduhan bahwa wahhabi anti ziarah kubur tidaklah benar, hanya saja mereka mengingkari penyimpangan yang terjadi di saat ziarah kubur,  di antaranya adalah meminta dan berdoa kepada ahli kubur, shalat menghadap kuburan, meninggikan kuburan dan juga penyimpangan-penyimpangan lainnya, yang mana larangan  tersebut  berdasarkan hadits nabi dan juga pemahaman imam-imam ahlussunnah wal jama’ah.

4.     Wahhabi dikatakan tidak mencintai nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam

Di antaran ciri yang sering dialamatkan kepada kelompok yang disebut wahhabi adalah mereka tidak mencintai nabi dan juga keluarga nabi, hal ini di karenakan mereka tidak mau mengadakan shalawat berjamaa’ah, tidak mau merayakan perayaan maulid nabi dan seterusnya. Sehingga dengan itu semua, kelompok wahhabi dianggap melecehkan dan tidak menyanjung rasulullah shallallahu alaihi wasallam.

Akan tetapi anggapan ini tidaklah benar karena kelompok yang dijuluki wahhabi ini mereka mencintai nabi, hal ini sebagaimana yang dijelaskan oleh syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah yang mana, orang-orang menisbatkan kelompok ini kepada namanya.

Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah mencantumkan dalam kitab at-Tauhid bahwa Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

« لاَ يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى أَكُونَ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِنْ وَلَدِهِ وَوَالِدِهِ وَالنَّاسِ أَجْمَعِينَ ».

 “Salah seorang dari kalian tidak dianggap beriman hingga aku (Nabi Muhammad shallallahu ‘alaih wasllam) lebih dia cintai daripada orang tua dan anak-anaknya serta seluruh manusia” (Muttafaq Alaihi)

Pencantuman hadits di atas menunjukkan pemahaman beliau akan wajibnya mengedepankan kecintaan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam atas kecintaan kepada diri sendiri, keluarga dan harta bendanya.

Hal tersebut ditegaskan oleh syaikh Abdullah bin Muhammad al-Ghunaiman rahimahullah selaku pensyarah fathul majid syarh kitab tauhid, beliau berkata: 

مَحَبَّةُ الرّسُوْلِ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلّمْ فَرْضُ عَيْنٍ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ وَمُسْلِمَةٍ، أَنْ يَكُونَ الرّسُولُ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلّمْ أَحَبّ إِلَيْهِ مِنْ جَمِيعِ مَنْ فِي الدُّنْيَا،

Mencintai rasulullah shallallahun’alaihi wasallam hukumnya fardhu ‘ain atas setiap muslim laki-laki dan perempuan, dan hendaknya rasulullah lebih ia cintai dari pada seluruh manusia yang ada di dunia.[7]

 Hanya saja kelompok yang dikatakan wahhabi ini mencintai nabi dengan cara yang diajarkan nabi, menghidupkan ajarannya, mengikuti sunnah-sunnahnya dan tidak mengada-adakan hal baru dalam urusan agamanya.

Rasulullah shallallahun’alaihi wasallam bersabda:

مَنْ عَمِلَ عَمَلاً لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ

“Barangsiapa melakukan suatu amalan yang tidak berdasarkan ajaran kami, maka amalan tersebut tertolak.” (HR. Muslim no. 1718).

 

5.     Wahhabi dikatakan memiliki faham mujassimah dan musyabbihah

 

Banyak orang yang menisbatkan dirinya kepada ilmu telah menuduh kelompok yang dinamakan wahhabi ini memiliki ideologi tajsim wa tasbih fi sifatillah (bahwa Allah memiliki anggota tubuh seperti anggota tubuh manusia).

 

 

Apakah benar  tuduhan tersebut?

 

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah sebagai seorang yang sering disebut sebagai tokoh inspirator gerakan wahhabi oleh musuh-musuh dakwah, beliau berkata:

 

 “Manhaj Salaf dan para Imam Ahlus Sunnah mengimani Tauhid al-Asma’ wash Shifat dengan menetapkan apa-apa yang telah Allah tetapkan atas Diri-Nya dan telah ditetapkan Rasul-Nya Shallallahu ‘alaihi wa sallam bagi-Nya, tanpa tahrif (pengubahan) dan ta’thil [meniadakan] serta tanpa takyif [membagaimanakan] dan tamtsil [menyerupakan]. Menetapkan tanpa tamtsil, menyucikan tanpa ta’thil, menetapkan semua Sifat-Sifat Allah dan menafikan persamaan Sifat-Sifat Allah dengan makhluk-Nya.”

 

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

 

لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ ۖ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ

 

Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan-Nya. Dan Dia-lah Yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” [Asy-Syuura: 11]

Lafazh ayat لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَىْءٌ “Tidak ada yang serupa dengan-Nya,” merupakan bantahan kepada golongan yang menyamakan Sifat-Sifat Allah dengan makhluk-Nya.

Sedangkan lafazh ayat وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ “Dan Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat,” adalah bantahan kepada orang-orang yang menafikan (mengingkari) Sifat-Sifat Allah. [8]

 

I’tiqad Ahlus Sunnah dalam masalah Sifat Allah Subhanahu wa Ta’ala didasari atas dua prinsip:

 

Pertama: Bahwasanya Allah Subhanahu wa Ta’ala wajib disucikan dari semua nama dan sifat kekurangan secara mutlak, seperti miskin, fakir, tidur, lemah, bodoh, mati, dan lainnya.

 

Kedua: Allah mempunyai nama dan sifat yang sempurna yang tidak ada kekurangan sedikit pun juga, tidak ada sesuatu pun dari makhluk yang menyamai Sifat-Sifat Allah.”

 

Penjelasan di atas secara tegas membantah anggapan bahwa kelompok yang disebut Wahhabi bermadzhab tajsim dan tasybih akan tetapi pendapat mereka adalah sebagaima pendapat para salaf ahlussunnah wal jama’ah.

 

6.     Wahhabi memiliki madzhab baru yang menyelisihi madzhab empat

Banyak kalangan yang tidak faham menuduh bahwa kelompok wahhabi hendak membuat madzhab sendiri yang keluar dari madzhab ahlus-sunnah wal-jama’ah, kelompok wahhabi dikatakan berusaha untuk meniadakan madzhab-madzhab yang sudah ada.

Benarkah tuduhan ini?

Syaikh Sulaiman bin Sahman murid dari syekh Abdurrahman bin Hasan (cucu syekh Muhammad bin Abdil Wahhab rahimahumullah) beliau berkata: ‘Adapun madzhab kami adalah madzhab Imam Ahmad bin Hanbal Imam Ahlus sunnah wal jama’ah, dan apabila telah jelas bagi kami hadits yang shahih dari rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam maka kami mengamalkannya, dan kami tidak mendahulukan perkataan siapapun atas perkataan rasulullah, siapapun orangnya”.[9]

Perkataan syekh di atas telah menggugurkan para pendengki yang menyebut bahwa kelompok yang dikatakan wahhabi merupakan aliran baru dalam Islam, akan tetapi yang benar adalah bahwa mereka bermadzhab hambali meskipun mereka tidak fanatik sempit terhadap Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah.

Penutup

Pernyataan dan pemaparan singkat di atas otomatis atau paling tidak menggugurkan opini sebagian orang yang menganggap bahwa kelompok yang dinamakan wahhabi ini merupakan kelompok baru yang keluar dari Ahlussunnah wal jama’ah, kelompok yang sesat dan seterusnya, tentunya hal tersebut tidaklah benar akan tetapi kalau kita mau menelisik dan memahami permasalahan ini dengan benar, adil, amanah, jujur dan objektif maka kita akan tahu bahwa mereka BUKANLAH WAHHABI akan  tetapi justru merekalah PENGIKUT NABI YANG SEJATI salafiyuun Ahlussunnah wal jama’ah al-firqotun Najiyah.

Masih banyak hal-hal miring dan prasangka-prasnagka negatif yang disematkan pada kelompok salafiyah ahlussunnah wal jama’ah ini, akan tetapi pada pembahasan kali ini kita cukupkan sampai di sini dan insya Allah akan kita kupas kembali tuduhan-tuduahn miring pada dakwah yang penuh berkah ini pada edisi yang akan datang insya Allah.

            Wa shallahu ‘ala nabiyyina Muhammad wa ‘ala alihi washohbihi ajmain, wal hamdulillahi rabbil ‘alamin.

Oleh : Ustadz Fadlan Fahamsyah, LC, MA 

Referensi:

1.      Mas’ud An-Nadawi, Muhammamd bin Abdul Wahhab muslihun mazhlummuftara ‘alaihi (Riyadh: Wizarah Syu’un al-Islamiyah, 1420 H).

2.      Abdurrahman bin 'Umar Baa 'Alawi; Bugyatul Mustarsyidin (Beirut: Daarul Fikir,tt).

3.      Abu Zakariya Yahya bin saraf an-Nawawi, Al-Minhaaj Syarah Shohih Muslim, (Beirut: Daarul Ihya at-turats, 1392 H).

4.      Al-Imam Ibnu Hajar al-Asqolany; Fathul Baari, (Beirut: Dar al-Ma’rifah, 1379).

5.       Al-Imam Muhammad bin Idris Asy-Syafi’i, al-Umm bab maa yakuunu ba’dad dafni (Beirut: Dar al-Ma’rifah: 1393 H), 1/227 diakses via al-Maktabah as-Syamilah isdar III.

6.      Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, Minhaajus Sunnah (Muassasah Qurthubah), tahqiq Dr. Muhammad Rasyad Salim

7.       DLL

Ustadz Fadlan Fahamsyah, LC, MA

 

 

 

 

 



[1] Lihat; Abdurrahman bin 'Umar Baa 'Alawi; Bugyatul Mustarsyidin (Beirut: Daarul Fikir,tt) hal 20.

[2] Abu Zakariya Yahya bin saraf an-Nawawi, Al-Minhaaj Syarah Shohih Muslim, (Beirut: Daarul Ihya at-turats, 1392 H)

3/151, hadits no: 260)

 

 

[3]Al-Imam Ibnu Hajar al-Asqolany; Fathul Baari, (Beirut: Dar al-Ma’rifah, 1379) 10/264.

[4] Lihat: Mas’ud An-Nadawi, Muhammamd bin Abdul Wahhab muslihun mazhlummuftara ‘alaihi (Riyadh: Wizarah Syu’un al-Islamiyah, 1420 H), 188

[5] Al-Imam Muhammad bin Idris Asy-Syafi’i, al-Umm bab maa yakuunu ba’dad dafni (Beirut: Dar al-Ma’rifah: 1393 H), 1/227 diakses via al-Maktabah as-Syamilah isdar III.

[6] Al-Imam Abu Zakariya bin Syaraf an-Nawai, Majmu’ syarh al-Muhadzdzab, Bab ta’ziyah wal buka’ ‘alal mayyit; Vol. 5, hal. 316

[7] Abdullah bin Muhammad al-Ghunaiman , Syarah Fathul Majid Syarh Kitab Tauhid, teks diambil dari http://audio.islamweb.net/audio/Fulltxt.php?audioid=139937 diakses pada 20-mei-2015.

[8] Lihat Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, Minhaajus Sunnah (Muassasah Qurthubah), tahqiq Dr. Muhammad Rasyad Salim. : Vol. II, hal: 111, 523

[9] Sulaiman bin Sahman, Majmu’atul Hadiyyah as-Sunniyah hal 99, dinukil oleh Mas’ud An-Nadawi, Muhammamd bin Abdul Wahhab muslihun mazhlummuftara ‘alaihi (Riyadh: Wizarah Syu’un al-Islamiyah, 1420 H), 167-177.

 


Silakan login untuk menulis komentar.

ARTIKEL TERKAIT

Indahnya Persahabatan
Indahnya Persahabatan
Ustadz Aan Chandra Thalib,Lc - 4 years ago
Keep Smiling
Keep Smiling
5 years ago
Renungan Bagi Penuntut Ilmu
Renungan Bagi Penuntut Ilmu
Ustadz Aan Chandra Thalib,Lc - 4 years ago
Adab Dulu Sebelum Ilmu
Adab Dulu Sebelum Ilmu
Ustadz Abu Fairuz Ahmad, MA - 4 years ago
Makna Tadabbur Al-Quran
Makna Tadabbur Al-Quran
Redaksi salamdakwah.com - 7 years ago
© 2020 - Www.SalamDakwah.Com