SALWA RADIO - Menebar Salam, Menyebar Dakwah
Stay in touch with us:

Kaidah dan Faidah dari Kitab At Tadmuriyah

Ustadz Abu Yahya Badrusalam, Lc - 7 years ago

Kaidah dan Faidah dari Kitab At Tadmuriyah

Kaidah dan Faidah dari Kitab At Tadmuriyah karya Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah

1. Kewajiban hamba adalah menetapkan untuk Allah apa yang wajib ditetapkan berupa sifat-sifat yang sempurna. Dan meniadakan dariNya apa yang wajib ditiadakan berupa sifat yang kurang. Dan dalam hukum-hukumNya seorang hamba wajib menetapkan penciptaan dan perintahNya, ia wajib beriman kepada ciptaanNya yang mengandung kesempurnaan takdir dan kehendakNya. Dan ia menetapkan perintahNya yang mengandung penjelasan apa yang Allah cintai dan ridlai berupa perkataan dan perbuatan. Wajib beriman kepada syari'at dan qadarNya dengan keimanan yang selamat dari penyimpangan, dan ini mengandung tauhid dalam ibadah kepadaNya saja.

2. Allah mengutus Rasul-rasulNya dengan membawa penetapan terperinci dan peniadaan yang global, artinya mereka menetapkan sifat-sifat Allah secara terperinci dan meniadakan sifat-sifat yang tidak layak bagiNya (secara global), berupa tasybih dan tamtsil (menyerupakan Allah dengan makhlukNya).

3. Pembicaraan masalah sifat sama dengan pembicaraan masalah Dzat, sebagaimana Dzat Allah tidak serupa dengan dzat apapun, demikian pula sifatNya. Karena Allah tidak serupa dengan apapun dalam dzat, nama, sifat dan perbuatanNya. (Sebagai bantahan terhadap jahmiyah dan mu'tazilah yang menolak sifat Allah). 

4. Pembicaraan tentang sebagian sifat sama dengan sifat lainnya.

Penjelasan:
Ini sebagai bantahan untuk kaum asy 'ariyah yang hanya menetapkan 20 sifat dan menolak sifat lainnya seperti marah, ridla dsb.
Kita katakan kepada mereka: mengapa kalian menolak sifat marah?

Jawab mereka: karena marah adalah bergolaknya darah di hati, dan ini adalah sifat makhluk.

Kita katakan: bukankah kalian menetapkan sifat iradah? Padahal iradah adalah sifat makhluk juga?

Jawab mereka: iradah yang kami tetapkan sesuai dengan keagungan Allah dan tidak sama dengan iradah makhluk.

Kita katakan: demikian pula kami menetapkan marah yang sesuai dengan keagungan Allah, dan tidak sama dengan marahnya makhluk, karena penetapan sebagian sifat adalah sama dengan sifat lainnya.

5. Para imam salaf dan orang-orang yang mengikuti mereka mengimani apa yang Allah kabarkan tentang diriNya dan tentang hari akhirat, disertai keyakinan mereka perbedaan yang jelas antara apa yang ada di dunia dan apa yang ada di akhirat, maka perbedaan Allah dengan makhlukNya lebih besar lagi.

Syarah.
Maksudnya bahwa di surga ada nama-nama seperti di dunia, seperti ada pisang, delima, dan kesenangan lainnya. Namun hakikatnya berbeda, walaupun namanya sama yaitu sama-sama bernama pisang, namun bentuk dan rasanya jauh berbeda. Delima di dunia amat berbeda hakikatnya dengan delima di surga, walaupun namanya sama.

Maka perbedaan Allah dengan makhlukNya dari jenis ini bahkan lebih besar lagi, seperti disebutkan bahwa Allah punya tangan, dan manusia pun punya tangan, namun hakikat tangan Allah sangat jauh berbeda dengan hakikat tangan manusia, walaupun sama-sama bernama tangan.
Jadi persamaan nama tidak mengharuskan persamaan hakikatnya. Bila antara makhluk saja berbeda walaupun namanya sama, bagaimana antara Allah dan MakhlukNya?

6. Allah Ta'ala tidak boleh diberikan perumpamaan yang serupa dengan makhluk, karena Allah tidak ada yang menyerupaiNya, namun baginya permisalan yang lebih tinggi, maka tidak boleh menyamakan Allah dan makhlukNya dengan qiyas tamtsil, tidak juga qiyas syumul yang sama individunya, tapi digunakan permisalan yang lebih tinggi untukNya, yaitu semua sifat makhluk yang sempurna, maka Allah lebih berhak bersifat dgnnya, dan semua sifat yang tidak baik untuk makhluk, maka Allah lebih layak utk tidak memilikinya.

Syarah:
Maksud permisalan yang lebih tinggi seperti kita katakan: manusia yang melihat lebih sempurna dari manusia yang buta. Maka Allah lebih layak untuk bersifat dengannya.
Namun ini disyaratkan harus sempurna dari seluruh sisinya, karena sesuatu yg sempurna utk makhluk, belum tentu sempurna untuk Allah.

Seperti manusia yang punya anak lebih sempurna dari manusia yang mandul, sifat seperti ini tidak sempurna bagi Allah, karena manusia butuh kepada anak, sedanngkan Allah tidak membutuhkan apapun.

Qiyas tamtsil seperti perkataan jahmiyah: kalau Allah bersemayam di atas, berarti Allah membutuhkan tempat. Ini adalah qiyas yang batil.

Sedangkan qiyas syumul seperti perkataan mereka: semua yang berada di tempat adalah makhluk, maka jika Allah berada di atas arasy berarti Allah berada di tempat, dan ini sifat makhluk. Inipun qiyas yang bathil. Karena Allah tidak serupa dengan makhluk.

7. Selayaknya untuk diketahui, bahwa sebatas peniadaan tidak memberikan kesempurnaan dan tidak juga pujian, kecuali apabila mengandung penetapan.

Syarah:
Meniadakan sifat belum tentu memuji seperti: kamu tidak jelek, tidak berarti cakep. Atau kamu tidak pendek bukan berarti tinggi dst.

Manhaj al qur'an adalah meniadakaan dari Allah suatu sifat yang kurang untuk menunjukkan sifat kebalikannya yang sempurna. Seperti firmanNya: "Allah tidak serupa dengan sesuatupun". Peniadaan keserupaan Allah dengan makhlukNya, menghasilkan sifat yang maha sempurna.

Juga seperti firmanNya: "Dia tidak ditimpa kantuk tidak juga tidur". Karena sifat kantuk dan tidur menenjukkan kepada kelemahan, maka Allah tiadakan untuk menunjukkan kesempurnaan kekuatan Allah.

Oleh karena itu, al Qur'an lebih banyak menetapkan sifat dari pada meniadakan sifat, karena sebatas peniadaan tidak memberikan makna sempurna kecuali bila mengandung penetapan kebalikannya yang sempurna.

Wallohualam Bishowab


Silakan login untuk menulis komentar.

ARTIKEL TERKAIT

Itikaf Semalam Mencari Lailatul Qodar
Itikaf Semalam Mencari Lailatul Qodar
Ustadz Abu Yahya Badrusalam, Lc - 5 years ago
Sunnah Yang Ditinggalkan: Masuk Shaff Sambil Ruku
Sunnah Yang Ditinggalkan: Masuk Shaff Sambil Ruku
Ustadz Abu Yahya Badrusalam, Lc - 3 years ago
10 Penyakit dalam Menuntut Ilmu
10 Penyakit dalam Menuntut Ilmu
Ustadz Abu Yahya Badrusalam, Lc - 8 years ago
Kunci Kusyu dalam Shalat
Kunci Kusyu dalam Shalat
Ustadz Abu Yahya Badrusalam, Lc - 7 years ago
Kunci Khusyu Dalam Sholat
Kunci Khusyu Dalam Sholat
Ustadz Abu Yahya Badrusalam, Lc - 5 years ago
Kapan Berdoa Sahur
Kapan Berdoa Sahur
Ustadz Abu Yahya Badrusalam, Lc - 6 years ago
Mau Jadi Pemimpin??
Mau Jadi Pemimpin??
Ustadz Abu Yahya Badrusalam, Lc - 6 years ago
Memvonis dengan konsekuensi perkataan
Memvonis dengan konsekuensi perkataan
Ustadz Abu Yahya Badrusalam, Lc - 8 years ago
Bab Pembatal-pembatal wudhu
Bab Pembatal-pembatal wudhu
Ustadz Abu Yahya Badrusalam, Lc - 8 years ago
Siapa Abdul Qadir Al-Jailani?
Siapa Abdul Qadir Al-Jailani?
Ustadz Abu Yahya Badrusalam, Lc - 4 years ago
© 2020 - Www.SalamDakwah.Com