SALWA RADIO - Menebar Salam, Menyebar Dakwah
Stay in touch with us:

Jual Barang Via Online

Ustadz Abu Riyadl Nurcholis Majid - 3 years ago

Jual Barang Via Online

Sebagian ummahat atau ikhwan jika berjualan via online maka jika ada yang pesan beli barang, maka cara yang mereka tempuh adalah sebagai berikut:


1. Pembeli bayar lewat transfer ke ikhwan atau akhwat yang jadi pedagang ini dengan sejumlah harga yang disepakati.

2. Pedagang langsung kontak ke distributor untuk order barang agar bisa dikirim ke alamat pembeli dgn rasa saling percaya akan amanah masing-masing.

3. Pedagang membayar harga kulak barang ke distributor.

4. Dapat untung deh..


Nah yang saya koreksi disini adalah.. Mengapa yang kirim ke pembeli secara langsung adalah distributor? 

Bahkan pedagang tersebut belum lihat barang yang dikirim. Gimana tuh kok jadi penjual... Itu makelar atau penjual? Kalo gitu dia telah menjual bukan barang dagangannya...


Kesimpulan:

Si pedagang telah menjual barang yg belum ia miliki secara utuh. Padahal syarat agar barang dimiliki secara utuh adalah barang tsb telah dibawa ke tempat kekuasaan miliknya, dgn bahasa lainnya adalah alqobdhu.


Dengan kata lain menjual barang yang belum ia kuasai.

Dalam sebuah hadits Rasulullah melarang para pedagang untuk menjual makanan sebelum para pedagang tsb membawanya ke tempat milik mereka (gudang/rumah/toko).


Berkata Ibnu Abas: 

"Hukum barang dagangan lain sama dgn makanan"


Dalil haramnya menjual barang sebelum ada serah terima [qabdh atau muqobadhah].


Misalnya kita kulakan suatu barang dari A lantas kita menjual barang tersebut sebelum ada serah terima barang antara A dengan kita.


« مَنِ ابْتَاعَ طَعَامًا فَلاَ يَبِعْهُ حَتَّى يَقْبِضَهُ »


Nabi bersabda, “Siapa saja yang membeli makanan atau bahan makanan maka janganlah dia menjual kembali sampai ada qabdh.” 

[HR. Bukhari dan Muslim dari Ibnu Umar]


فَإِنَّ رَسُولَ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم- نَهَى أَنْ تُبَاعَ السِّلَعُ حَيْثُ تُبْتَاعُ حَتَّى تَحُوزَهَا التُّجَّارُ إِلَى رِحَالِهِمْ.


Sesungguhnya Rasulullah melarang transaksi penjualan kembali barang dagangan di tempat terjadinya kulakan hingga para padagang membawa barang kulakannya ke kendaraan mereka masing masing. 

[HR. Abu Daud]


Menimbang dua hadits di atas maka tidak boleh bagi orang yang membeli suatu barang menjual kembali barang yang dia beli sampai terjadi qabdh sempurna [baca: qabdh dengan tindakan nyata].


___

📱 Dipost Ustadz Abu Riyadl, Lc -hafizhahullah- tgl 5 Dzulqo'dah 1436 / 20 Agustus 2015


Silakan login untuk menulis komentar.

ARTIKEL TERKAIT

Sosok Suami Terbaik
Sosok Suami Terbaik
Ustadz Abu Riyadl Nurcholis Majid Rahimahulloh - 6 years ago
Nasihat untuk Para Suami..
Nasihat untuk Para Suami..
Ustadz Abu Riyadl Nurcholis Majid Rahimahulloh - 7 years ago
Ingin Minum Telaga Nabi? Jagalah Dari Berbuat Bid'ah
Ingin Minum Telaga Nabi? Jagalah Dari Berbuat Bid'ah
Ustadz Abu Riyadl Nurcholis Majid - 2 years ago
Talangan Haji Dan Terhadap Fatwa Yang Menghalalkannya
Talangan Haji Dan Terhadap Fatwa Yang Menghalalkannya
Ustadz Abu Riyadl Nurcholis Majid - 5 years ago
Wahai Kaum Hawa
Wahai Kaum Hawa
Ustadz Abu Riyadl Nurcholis Majid - 5 years ago
Nasehat Kepada Para Pemilik Travel Haji dan Umroh
Nasehat Kepada Para Pemilik Travel Haji dan Umroh
Ustadz Abu Riyadl Nurcholis Majid - 4 years ago
Lebaran Ketupat (Hari Raya Abror)
Lebaran Ketupat (Hari Raya Abror)
Ustadz Abu Riyadl Nurcholis Majid - 4 years ago
Bagian 1 : Bijak Menuntut Ilmu
Bagian 1 : Bijak Menuntut Ilmu
Ustadz Abu Ja'far Cecep Rahmat,Lc - 1 year ago
Akhlak Baik
Akhlak Baik
Ustadz Abu Riyadl Nurcholis Majid - 5 years ago
© 2019 - Www.SalamDakwah.Com