SALWA RADIO - Menebar Salam, Menyebar Dakwah
Stay in touch with us:

Bolehkah Orang Yang Sedang Junub atau Haid Berdiam Di Masjid ?

Ustadz Abdullah Taslim MA - 3 years ago

Bolehkah Orang Yang Sedang Junub atau Haid Berdiam Di Masjid ?

 

بسم الله الرحمن الرحيPerbedaan pendapat para ulama Ahlus Sunnah dalam masalah ini

 

Dalam masalah boleh atau tidaknya orang yang sedang junub atau haidh berdiam/menetap di masjid, ada perbedaan pendapat di kalangan para ulama Ahlus Sunnah.

 

A. Mayoritas ulama berpendapat bahwa ini tidak diperbolehkan, kecuali kalau hanya sekedar lewat di masjid, maka ini diperbolehkan, adapun berdiam/menetap di masjid maka tidak diperbolehkan [3].

 

B. Para ulama yang lain membolehkannya dengan syarat menjaga agar najis tidak sampai jatuh dan mengotori masjid. Di antara mereka adalah Imam Ahmad bin Hambal dan al-Muzani, sebagimana penjelasan Imam al-Bagawi dalam kitab “Syarhus Sunnah” (2/46) [4].

Pendapat inilah yang dikuatkan oleh Imam Ibnu Hazm, Ibnul Mundzir dan Syaikh al-Albani.

 

C. Ada pendapat lain yang dinisbatkan kepada Imam Ahmad bin Hambal dan Ishaq bin Rahuyah, yaitu bolehnya orang yang sedang junub berdiam di masjid setelah dia berwudhu seperti wudhu untuk shalat [5].

 

Dalil-dalil yang mereka kemukakan

 

A. Adapun dalil-dalil yang dikemukakan oleh para ulama yang tidak membolehkan orang yang sedang junub atau haidh berdiam/menetap di masjid adalah sebagai berikut:

 

1-Firman Allah :

 

{يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لا تَقْرَبُوا الصَّلاةَ وَأَنْتُمْ سُكَارَى حَتَّى تَعْلَمُوا مَا تَقُولُونَ وَلا جُنُبًا إِلا عَابِرِي سَبِيلٍ حَتَّى تَغْتَسِلُوا. وَإِنْ كُنْتُمْ مَرْضَى أَوْ عَلَى سَفَرٍ أَوْ جَاءَ أَحَدٌ مِنْكُمْ مِنَ الْغَائِطِ أَوْ لامَسْتُمُ النِّسَاءَ فَلَمْ تَجِدُوا مَاءً فَتَيَمَّمُوا صَعِيدًا طَيِّبًا فَامْسَحُوا بِوُجُوهِكُمْ وَأَيْدِيكُمْ. إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَفُوًّا غَفُورًا}

 

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu shalat, sedang kamu dalam keadaan mabuk, sehingga kamu mengerti apa yang kamu ucapkan, dan (jangan pula hampiri masjid) dedang kamu dalam keadaan junub, terkecuali sekedar lewat saja, sampai kamu mandi. Dan jika kamu sakit atau sedang dalam perjalanan atau kembali dari tempat buang air atau kamu telah menyentuh (mengumpuli) perempuan (istrimu), kemudian kamu tidak mendapat air, maka bertayamumlah kamu dengan tanah yang baik (suci); sapulah mukamu dan tanganmu. Sesungguhnya Allah Maha Pema’af lagi Maha Pengampun” (QS. an-Nisaa’ : 43).

 

Imam Ibnu Katsir menukil ucapan Shahabat ‘Abdullah bin ‘Abbas tentang makna ayat di atas: “…(jangan pula hampiri masjid) sedang kamu dalam keadaan junub, terkecuali sekedar lewat saja…”, beliau berkata: “Janganlah kamu masuk ke dalam masjid dalam keadaan kamu sedang junub, kecuali hanya (sekedar) lewat (melintas) dan tidak duduk (menetap)” [6].

 

Kemudian Imam Ibnu Katsir berkata: “Mayoritas dari para Imam (ulama) Ahlus Sunnah berargumentasi dengan ayat ini bahwa orang yang sedang junub diharamkan untuk berdiam/menetap di masjid, dan dibolehkan baginya untuk (sekedar) lewat (saja). Demikian pula (hukumnya) untuk orang yang sedang haidh dan nifas seperti itu” [7].

 

2-Atsar dari Yazid bin Abi Habib tentang sebab turunnya ayat di atas, bahwa beberapa Shahabat Anshar pintu-pintu rumah mereka (bersambung dengan) masjid. Ketika mereka sedang junub dan kehabisan air (untuk mandi janabah), mereka ingin mengambil air tapi tidak ada tempat lewat kecuali di masjid, maka Allah menurunkan firman-Nya: “…dan (jangan pula hampiri masjid) sedang kamu dalam keadaan junub, terkecuali sekedar lewat saja…” (QS. an-Nisaa’ : 43) [8].

 

3-Hadits riwayat ‘Aisyah bahwa Rasulullah bersabda: “Sesungguhnya aku tidak menghalalkan masjid bagi perempuan yang sedang haidh dan orang yang sedang junub” [9].

 

4-Hadits riwayat Ummu Salamah bahwa Rasulullah bersabda: “Sesungguhnya masjid tidak halal bagi orang yang sedang junub dan perempuan yang sedang haidh” [10].

 

5-Hadits riwayat ‘Aisyah bahwa Rasulullahbersabda kepadanya: “Berikanlah kepadaku al-khumrah (semacam sajadah kecil untuk alas sujud)!”. Maka aku berkata: Sesungguhnya aku sedang haidh. Lalu Rasulullah bersabda: “Sesungguhnya haidhmu bukanlah ada di tanganmu” [11].

 

Hadits ini menunjukkan bolehnya orang yang haidh, termasuk orang yang junub, untuk melewati masjid tapi tidak menetap di dalamnya [12].

 

6-Hadits riwayat Ummu ‘Athiyyah bahwa Rasulullah memerintahkan para wanita untuk keluar ketika hari raya ‘Idul fithr dan ‘Idul adhha, dan beliau bersabda: “Wanita-wanita yang sedang haidh hendaknya menjauhi mushalla (tempat shalat)” [13].

 

Hadits ini menunjukkan tidak bolehnya seorang wanita yang sedang haidh untuk berada/berdiam di mushalla (tempat shalat) ‘Idul fithr dan ‘Idul adhha, maka tentu saja hukumnya sama dengan masjid yang merupakan tempat shalat [14].

 

7-Hadits riwayat ‘Aisyah bahwa dia dalam keadaan haidh menyisir rambut Rasulullah yang berada di dalam masjid dari rumahnya yang berdampingan dengan masjid” [15].

 

B. Sedangkan para ulama yang membolehkannya beragumentasi dengan dalil-dalil sebagai berikut:

 

1-al-Bara-atul ashliyah (hukum asalnya tidak ada larangan dalam masalah ini), karena pada asalnya setiap muslim diperbolehkan untuk masuk dan shalat di mana saja, selama tidak ada larangan dalam syariat. Rasulullah bersabda: “Dijadikan bagiku (permukaan) bumi sebagai tempat shalat dan suci, maka siapapun dari umatku yang menjumpai waktu shalat hendaknya dia melaksanakan shalat tersebut (di manapun dia berada)” [16].

 

2-Hadits-hadits shahih yang menjelaskan bahwa Nabi membiarkan beberapa orang kafir/musyrik masuk ke masjid bahkan di antara mereka ada yang ditawan dengan diikat di tiang masjid [17], padahal tentu saja orang-orang musyrik tidak suci dan najis, sebagaimana firman Allah :

 

{يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنَّمَا الْمُشْرِكُونَ نَجَسٌ فَلا يَقْرَبُوا الْمَسْجِدَ الْحَرَامَ بَعْدَ عَامِهِمْ هَذَا}

 

“Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya orang-orang yang musyrik itu najis, maka janganlah mereka mendekati Masjidil Haram sesudah tahun ini” (QS. at-Taubah: 28).

 

Maka kalau orang musyrik yang najis saja diperbolehkan masuk masjid, tentu seorang muslim lebih pantas lagi, karena dia tidak najis dalam semua keadaan, sebagaimana sabda Rasulullah : “Sesungguhnya orang mukmin tidak najis” [18].

 

3-Hadits riwayat ‘Aisyah tentang seorang budak perempuan milik sebuah qabilah ‘Arab, lalu mereka memerdekakannya, kemudian dia datang menemui Rasulullah dan masuk Islam… ‘Aisyah berkata: Dia memiliki sebuah kemah atau rumah kecil (untuk tempat tinggal) di dalam masjid [19].

 

Perempuan bekas budak ini tinggal di masjid dengan izin Rasulullah dan tentu saja dia akan mengalami haidh pada waktunya, tapi bersamaan dengan itu Rasulullah tidak melarangnya tinggal di masjid dan tidak memerintahkannya untuk keluar dari masjid ketika sedang haidh [20].

 

4-Hadits riwayat Abu Hurairah tentang seorang perempuan berkulit hitam yang selalu menyapu/membersihkan masjid, lalu dia meninggal dunia dan Rasulullah menanyakannya [21].

 

Perempuan ini tentu membersihkan masjid setiap hari, termasuk ketika dia sedang haidh, akan tetapi Rasulullah tidak melarangnya dan tidak memerintahkannya untuk keluar dari masjid ketika sedang haidh [22].

 

5-Hadits riwayat Abu Hurairah tentang beberapa orang Shahabat yang dikenal sebagai ‘Ahlush shaffah’, mereka tinggal dan tidur di dalam masjid atas izin Rasulullah [23]. Tentu saja mereka mengalami junub karena mimpi atau yang lainnya, tapi Rasulullah tidak melarang mereka dan tidak memerintahkan mereka untuk keluar dari masjid ketika sedang junub [24].

 

6-Hadits riwayat ‘Aisyah bahwa ketika dia mendapat haidh sewaktu sedang haji bersama Rasulullah, maka beliau bersabda kepadanya: “Lakukanlah apa yang dilakukan oleh orang yang berhaji, kecuali thawaf di ka’bah jangan kamu lakukan sampai kamu suci (dan mandi besar)” [25].

 

Dalam hadits ini Rasulullah hanya melarangnya melakukan thawaf ketika sedang haidh dan membolehkan yang selainnya, termasuk menetap di dalam masjid [26].

 

7-Atsar riwayat Nafi’ bahwa ‘Abdullah bin ‘Umar selalu tidur di masjid Nabi ketika dia masih muda dan bujang belum berkeluarga” [27].

 

C. Adapun pendapat ketiga yang dinisbatkan kepada Imam Ahmad bin Hambal dan Ishaq bin Rahuyah, berargumentasi dengan perbuatan para Shahabat yang diriwayatkan dalam sebuah atsar yang shahih.

 

Imam Ibnu Katsir berkata: “Imam Ahmad berpendapat bahwa orang yang sedang junub jika dia berwudhu maka boleh dia menetap di masjid, karena atsar yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad dan Sa’id bin Manshur dalam “as-Sunan” dengan sanad yang shahih, bahwa para Shahabat dulu melakukan hal itu. Imam Sa’id bin Manshur meriwayatkan dengan sanadnya dari ‘Atha’ bin Yasar dia berkata: “Aku melihat beberapa orang Shahabat Rasulullah duduk di masjid dalam keadaan mereka sedang junub, jika mereka telah berwudhu seperti wudhu ketika shalat”. Sanad hadits ini (shahih) sesuai dengan syarat Imam Muslim, wallahu a’lam” [28].

 

Pendapat yang lebih kuat dan alasannya

 

Pendapat yang rajih (lebih kuat) adalah pendapat kedua yang membolehkan orang yang sedang junub atau haidh untuk masuk masjid dan menetap di dalamnya dengan syarat menjaga agar najis tidak sampai jatuh dan mengotori masjid. Pendapat ini lebih kuat karena dalil-dalil yang mereka jadikan sebagai argumentasi adalah dalil-dalil yang shahih dan jelas maknanya menunjukkan kebolehan hal ini.

 

Sedangkan pendapat pertama yang melarang orang yang sedang junub atau haidh untuk masuk masjid, ini adalah pendapat yang lemah, karena dalil-dalil yang mereka jadikan sebagai argumentasi adalah dalil-dalil yang lemah dan tertolak, sedangkan dalil mereka yang shahih tidak jelas menunjukkan makna larangan ini, sebagaimana yang akan kami jelaskan, insyaAllah.

 

Adapun jawaban dan sanggahan rinci terhadap dalil-dalil pendapat pertama yang melarang hal ini adalah sebagai berikut:

 

1-Firman Allah dalam QS. an-Nisaa’ : 43, penafsiran dari Ibnu ‘Abbas yang dinukil oleh Imam Ibnu Katsir di atas sanadnya lemah sehingga tidak boleh dinisbatkan kepada Ibnu ‘Abbas .

 

Atsar ini dikeluarkan oleh Imam Ibnu Jarir (4/97) dan al-Baihaqi (2/443) dengan sanad mereka berdua dari Ibnu ‘Abbas. Dalam sanadnya ada rawi yang bernama Abu Ja’far ar-Razi, Imam Ahmad berkata tentangnya: “Dia tidak kuat dalam (meriwayatkan) hadits”. Imam Yahya bin Ma’in berkata: “Haditsnya ditulis, tapi dia selalu keliru (dalam meriwayatkan hadits)”. Imam Abu Zur’ah ar-Razi berkata: “Dia syaikh yang banyak keliru” [29].

 

Ada riwayat lain dari Ibnu ‘Abbas yang semakna dengan atsar di atas, akan tetapi sanadnya sangat lemah. Dikeluarkan oleh Imam Ibnu Jarir (4/97), dalam sanadnya ada rawi yang bernama Nahsyal bin Sa’id al-Wardani, dia ditinggalkan (riwayatnya karena kelemahannya yang fatal), bahkan Imam Ishaq bin Rahuyah mendustakannya [30].

 

Demikian pula penafsiran dari Shahabat lain, ‘Abdullah bin Mas’ud yang semakna dengan penafsiran di atas, sanadnya lemah. Dikeluarkan oleh Imam Ibnu Jarir (4/97) dan al-Baihaqi (2/443) dengan sanad yang terputus antara ‘Abu ‘Ubaidah bin Abdullah bin Mas’ud dan bapaknya, karena dia tidak pernah mendengar riwayat dari bapaknya, yaitu Abdullah bin Mas’ud [31].

 

Juga penafsiran dari Shahabat Anas bin Malik yang semakna dengan penafsiran di atas, sanadnya lemah. Dikeluarkan oleh Imam al-Baihaqi (2/443), dalam sanadnya ada dua rawi yang lemah, yaitu salm bin Qais al-‘Alawi dan al-Hasan bin Abi Ja’far al-Jufri [32].

 

Seperti itu juga penafsiran dari Shahabat Jabir bin ‘Abdillah yang semakna dengan penafsiran di atas, sanadnya lemah. Dikeluarkan oleh Imam ad-Darimi dalam kitab “as-Sunan” (1/281) dan Imam al-Baihaqi (2/443). Sanad riwayat ini ada kelemahan padanya, karena ada rawi yang bernama Ibnu Abi Laila, dia buruk hafalannya dan ada tadlis (penyamaran riwayat) dari Abu az-Zubair al-Makki [33].

 

Bahkan ada penafsiran lain dari Ibnu ‘Abbas dengan sanad yang shahih dan berbeda dengan penafsiran di atas. Dikeluarkan oleh Imam Ibnu Jarir (4/97) dengan sanad yang shahih. Demikian pula penafsiran dari Shahabat lain, ‘Ali bin Abi Thalib yang semakna, juga dikeluarkan oleh Imam Ibnu Jarir (4/97) dengan sanad yang shahih.

 

Kedua Shahabat ini menyebutkan bahwa makna ’Aabiru sabiil dalam ayat tersebut bukanlah “orang yang lewat di masjid/melintasi masjid”, tapi maknanya adalah “musafir/orang yang sedang melakukan perjalanan”.

 

Maka makna ayat di atas dengan penafsiran ini adalah: “… Janganlah kamu mendekati (melaksanakan) shalat sedang kamu dalam keadaan junub, kecuali jika kamu sedang melakukan perjalanan (musafir) dan tidak ada air untuk berwudhu, maka bertayamumlah lalu laksanakan shalat" [34].

 

Penafsiran ini dinukil oleh Imam Ibnu Jarir ath-Thabari dengan sanad-sanad beliau dari ‘Ali bin Abi Thalib, Ibnu ‘Abbas, Mujahid bin Jabr al-Makki, Sa’id bin Jubair dan lain-lain [35].

 

Penafsiran inilah yang dipilih dan dikuatkan oleh Imam Ahmad bin Hambal, Imam al-Bagawi berkata: “Imam Ahmad dan al-Muzani membolehkan orang yang sedang junub untuk berdiam di masjid. Imam Ahmad melemahkan hadits (yang melarang hal ini) karena rawinya (yang bernama) Aflat tidak dikenal, dan beliau mentakwilkan/menafsirkn ayat (di atas) bahwa (makna) ’Aabirii sabiil mereka adalah orang-orang yang sedang safar (melakukan perjalanan) ketika sedang junub, maka mereka (boleh) bertayammum (ketika tidak mendapatkan air untuk berwudhu) dan melaksanakan shalat. Penafsiran ini diriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas” [36].

 

2-Atsar dari Yazid bin Abi Habib tentang sebab turunnya ayat di atas adalah riwayat yang lemah karena sanadnya terputus. Yazid bin Abi Habib al-Mishri meskipun dia terpercaya, tapi dia selalu meriwayatkan secara mursal (tidak bersambung di akhir sanad) [37].

 

Syaikh al-Albani berkata: “Riwayat ini berpenyakit (lemah) karena mursal (tidak bersambung di akhir sanad), maka keadaannya tidaklah menyenangkan” [38].

 

3- dan 4-Hadits riwayat ‘Aisyah dan Ummu Salamah tentang tidak halalnya masjid bagi orang yang sedang junub dan haidh.

 

Kedua hadits ini adalah argumentasi terkuat yang dijadikan sandaran pendapat ini, tapi hadits ini kenyataannya adalah satu hadits dengan sanad yang bertemu pada seorang rawi, sehingga merupakan kesalahan besar jika dianggap sebagai dua hadits yang berbeda [39].

 

Kedua riwayat hadits ini bertemu pada rawi yang bernama Jasrah bintu Dajjajah, karena buruknya hafalannya sehingga dia guncang dalam meriwayatkan hadits ini, kadang dia meriwayatkan dari ‘Aisyah dan kadang dari Ummu Salamah.

 

Maka hadits ini derajatnya sangat lemah karena dua sebab kelemahan:

 

– al-Idhthirab (rawi yang guncang/tidak tetap) dalam meriwayatkannya, karena ini menunjukkan ketidaktelitian dan kelemahan hafalan rawi ini

 

– rawi ini yang bernama Jasrah bintu Dajjajah tidak dikuatkan oleh seorangpun yang bisa dijadikan sebagai sandaran, bahkan Imam al-Bukhari melemahkan riwayatnya dan berkata: “Dia punya beberapa (riwayat) yang aneh (lemah)” [40].

 

Oleh karena itu, sejumlah ulama Ahli hadits menegaskan kelemahan hadits ini, seperti Imam Ahmad, al-Baihaqi, al-Khaththabi, ‘Abdul Haq al-Isbili, Ibnu Hazm dan Syaikh al-Albani [41].

 

Imam al-Khaththabi berkata: “Mereka (para ulama Ahli hadits) melemahkan hadits ini” [42].

 

Kemudian ada dua riwayat lain yang semakna dengan hadits ini, akan tetapi riwayat yang pertama sangat lemah karena ada rawi yang matruk (ditinggalkan riwayatnya karena kelemahannya yang fatal) dan riwayat yang kedua palsu karena ada rawi yang kadzdzab (selalu berdusta).

Maka kedua riwayat ini sama sekali tidak bisa mendukung dan menguatkan hadits di atas.

 

5-, 6- dan 7-Ketiga hadits ini adalah hadits yang shahih, akan tetapi tidak bisa dijadikan sebagai sandaran untuk mendukung pendapat ini, karena maknanya mengandung banyak kemungkinan, sehingga tidak bisa dijadikan sebagai argumentasi yang jelas dan tegas [43].

 

Imam an-Nawawi menyebutkan makna hadits riwayat ‘Aisyah dalam poin ke-5: “Sesungguhnya najis yang harus dihindarkan dari masjid, yaitu darah haidh, tidak ada di tanganmu” [44].

 

Ini menunjukkan bahwa jika seorang perempuan yang sedang haidh bisa menjaga najis tersebut supaya tidak jatuh dan mengotori masjid, maka dia boleh duduk dan berdiam di masjid.

 

Adapun hadits dalam poin ke-6 maka ada kemungkinan lain dari maknanya, yaitu: “Wanita-wanita yang sedang haidh hendaknya menjauhi shalat ‘id karena memang wanita yang sedang haidh tidak boleh melaksanakan shalat. Bahkan makna inilah yang ditegaskan dalam lafzh yang terdapat dalam “Shahih Muslim” (no. 890): “…Adapun wanita-wanita yang sedang haidh maka mereka menjauhi (tidak melaksanakan) shalat, tapi mereka ikut menyaksikan kebaikan (pada hari raya) dan do’a kaum muslimin”.

 

Sedangkan hadits dalam poin ke-8 tentang ‘Aisyah yang menyisir rambut Rasulullah yang berada di dalam masjid dari rumahnya, maka ada kemungkinan Rasulullah melarang ‘Aisyah masuk ke masjid bukan karena haidh, tapi karena banyak laki-laki atau alasan lainnya [45].

 

Kesimpulan akhir

 

Tidak ada satupun dalil shahih dan tegas, dari al-Qur’an maupun hadits Rasulullah , yang melarang orang yang sedang junub atau haidh untuk masuk dan berdiam di masjid, maka hakum asalnya hal ini diperbolehkan bagi setiap orang yang beriman, laki-laki maupun perempuan [46], sebagaimana dalam dalil-dalil pendapat yang membolehkan hal ini yang telah kami sebutkan sebelumnya.

 

Apalagi sabda Rasulullah yang mengaskan hal ini: “Sesungguhnya orang mukmin tidak najis” [47].

 

Maka Pendapat yang rajih (lebih kuat) adalah bolehnya orang yang sedang junub atau haidh untuk maauk masjid dan menetap di dalamnya, dengan syarat dia wajib menjaga agar najis tidak sampai jatuh dan mengotori masjid.

 

Pendapat inilah yang dikuatkan oleh Imam Ahmad bin Hambal dan al-Muzani, murid utama Imam asy-Syafi’i, sebagaimana yang telah kami nukilkan sebelumnya. Juga dikuatkan oleh Imam Ibnu Hazm [48], Ibnul Mundzir dan Syaikh al-Albani.

 

Imam al-Qurthubi berkata: “Sekelompok dari para ulama membolehkan orang yang junub untuk masuk (dan menetap) di masjid. Sebagian dari mereka berargumentasi dengan sabda Rasulullah : “Sesungguhnya orang mukmin tidak najis” [49]. Imam Ibnul Mundzir berkata: Pendapat inilah yang kami ucapkan (kuatkan)” [50].

 

Adapun pendapat yang ketiga yaitu bolehnya orang yang sedang junub berdiam di masjid setelah dia berwudhu seperti wudhu untuk shalat, maka dalil yang mereka kemukakan adalah hadits yang shahih, akan tetapi berwudhu di sini adalah lebih utama dan bukanlah wajib.

 

Syaikh al-Albani berkata: “Bisa jadi berwudhu (bagi orang yang junub atau haidh sebelum masuk masjid) dianjurkan (lebih utama), karena ini merupakan perbuatan para Shahabat, wallahu a’lam [51].

 

وصلى الله وسلم وبارك على نبينا محمد وآله وصحبه أجمعين، وآخر دعوانا أن الحمد لله رب العالمين

 

Kota Kendari, 13 Sya’ban 1436H

 

Abdullah bin Taslim al-Buthoni

 

1 Dinukil dan dibenarkan penisbatannya kepada Imam Malik oleh Imam Ibnu ‘Abdil Hadi dan Syaikh al-Albani (Lihat: “Shifatu shalaatin Nabiy ” (hlmn. 49).

 

2 Dinukil oleh Imam Ibnul Qayyim dalam “I’laamul muwaqqi’iin” (2/282) dan “Madaarijus saalikiin” (2/335).

 

3 Lihat kitab “Taudhiihul ahkaam min buluugil maraam” (1/403).

 

4 Dinukil oleh Syaikh al-Albani dalam kitab “Tamaamul minnah” (hlmn 119).

 

5 Lihat kitab “’Aunul Ma’buud” (1/269) dan “ats-Tsamrul mustathaab” (hlmn 11).

 

6 Kitab “Tafsir Ibni Katsir” (1/665).

 

7 Kitab “Tafsir Ibni Katsir” (1/665).

 

8 Dikeluarkan oleh Imam Ibnu Jarir ath-Thabari dalam tafsir beliau (4/97).

 

9 HR Abu Dawud (no. 232), Ishaq bin Rahuyah dalam “al-Musnad” (no. 1783), Ibnu Khuzaimah (2/284) dan al-Baihaqi (2/442).

 

10 HR Ibnu Majah (no. 645).

 

11 HSR Muslim (no. 298).

 

12 Lihat kitab “’Aunul Ma’buud” (1/269).

 

13 HSR al-Bukhari (1/123) dan Muslim (no. 890).

 

14 Lihat kitab “Syarhu shahiihi Muslim” (6/179).

 

15 HSR al-Bukhari (1/114).

 

16 HSR al-Bukhari (1/176) dan Muslim (no. 1764).

 

17 Misalnya dalam HSR al-Bukhari (1/123) dan Muslim (no. 890).

 

18 HSR al-Bukhari (1/109). Lihat kitab “Tafsir al-Qurthubi” (5/192) dan “Shahih fiqhis sunnah” (1/185-186).

 

19 HSR al-Bukhari (1/168).

 

20 Lihat kitab “Shahih fiqhis sunnah” (1/186).

 

21 HSR al-Bukhari (1/176) dan Muslim (no. 956).

 

22 Lihat kitab “Shahih fiqhis sunnah” (1/186).

 

23 HSR al-Bukhari (5/2370).

 

24 Lihat kitab “Shahih fiqhis sunnah” (1/186).

 

25 HSR al-Bukhari (1/117) dan Muslim (no. 1211).

 

26 Lihat kitab “Shahih fiqhis sunnah” (1/187).

 

27 HSR al-Bukhari (1/169).

 

28 Kitab “Tafsir Ibni Katsir” (1/665).

 

29 Semua dinukil oleh Imam Ibnu Hajar dalam kitab “Tahdziibut tahdziib” (12/59).

 

30 Sebagaimana ucapan Imam Ibnu Hajar dalam “Taqriibut tahdziib” (hlmn 566).

 

31 Sebagaimana ucapan Imam Ibnu Hajar dalam “Taqriibut tahdziib” (hlmn 656).

 

32 Keduanya dinyatakan lemah oleh Imam Ibnu Hajar dalam “Taqriibut tahdziib” (hlmn 246 dan 159).

 

33 Lihat keterangan Syaikh al-lbani dalam kitab “ats-Tsamrul mustathaab fi fiqhis sunnati wal kitaab” (hlmn 754)

 

34 Lihat ucapan Shahabat ‘Ali bin Abi Thalib yang dinukil oleh Imam Ibnu Jarir ath-Thabari dalam tafsir beliau (4/97).

 

35 Dikeluarkan oleh Imam Ibnu Jarir ath-Thabari dalam tafsir beliau (4/97).

 

36 Dinukil dari kitab “Syarhus sunnah” (2/46) oleh syaikh al-Albani dalam kitab “Tamaamul minnah” (hlmn. 119).

 

37 Lihat keterangan Imam Ibnu Hajar dalam kitab “Taqriibut tahdziib” (hlmn. 600).

 

38 Kitab “Tamaamul minnah” (hlmn 119).

 

39 Lihat kitab “Tamaamul minnah” (hlmn 118).

 

40 Kitab “at-Taariikh al-Kabiir” (2/67).

 

41 Lihat kitab “Tamaamul minnah” (hlmn 118-119).

 

42 Dinukil oleh Imam Ibnu Hajar dalam “Tahdziibut tahdziib” (1/320).

 

43 Lihat kitab “Shahih fiqhis sunnah” (1/185-187).

 

44 Kitab “Syarhu shahih Muslim” (3/208-209).

 

45 Lihat kitab “Shahih fiqhis sunnah” (1/185).

 

46 Lihat kitab “Tamaamul minnah” (hlmn 119).

 

47 HSR al-Bukhari (1/109).

 

48 Kitab “al-Muhalla bil aatsaar” (2/186).

 

49 HSR al-Bukhari (1/109).

 

50 Kitab “Tafsir al-Qurthubi” (5/192).

 

51 Kitab “ats-Tsamrul mustathaab fi fiqhis sunnati wal kitaab” (hlmn 754)

 


Silakan login untuk menulis komentar.

ARTIKEL TERKAIT

Ritual Di Bulan Rajab
Ritual Di Bulan Rajab
Ustadz Abdurrahman Thoyyib,Lc - 1 year ago
Mari Perbanyak Istighfar
Mari Perbanyak Istighfar
Redaksi SalamDakwah - 4 years ago
Tidak Ada Kemaksiatan Yang Berdiri Sendiri
Tidak Ada Kemaksiatan Yang Berdiri Sendiri
Ustadz Fadlan Fahamsyah. LC, MHI - 1 year ago
Persatuan & Perpecahan
Persatuan & Perpecahan
Redaksi SalamDakwah - 4 years ago
Surat Terbuka Untuk Sang Senior
Surat Terbuka Untuk Sang Senior
Ustadz Abdullah Taslim MA - 4 years ago
Wasiat Emas Syaikh Abdul Qadir Jailani Rahimahullah
Wasiat Emas Syaikh Abdul Qadir Jailani Rahimahullah
Ustadz Amir As-Soronji,Lc - 1 year ago
Mati Kanker Termasuk Mati Syahid?
Mati Kanker Termasuk Mati Syahid?
Ustadz Ammi Nur Baits - 3 years ago
Wahai Salafi Sejati, Bersabarlah!
Wahai Salafi Sejati, Bersabarlah!
Ustadz Abdurrahman Thoyyib,Lc - 1 year ago
Jangan Dekati Fitnah
Jangan Dekati Fitnah
Ustadz Abu Zubair Al Hawary. Lc - 4 years ago
© 2019 - Www.SalamDakwah.Com