SALWA RADIO - Menebar Salam, Menyebar Dakwah
Stay in touch with us:

Lebaran Ketupat (Hari Raya Abror)

Ustadz Abu Riyadl Nurcholis Majid - 4 years ago

Lebaran Ketupat (Hari Raya Abror)

 

Bakdo kupat.. 

Lebaran ketupat dalam timbangan Islam.

 

Setelah orang-orang menyelesaikan puasa bulan Ramadhan dan mereka berbuka pada hari pertama bulan Syawwal -yaitu hari raya (iedul) fitri- mereka mulai berpuasa enam hari pertama dari bulan Syawwal dan pada hari kedelapan mereka membuat hari raya yang mereka namakan iedul abrar (biasanya dikenal dengan hari raya Ketupat)

 

Ini dia antara perkara yang diada-adakan (bid’ah) pada bulan Syawwal adalah bid’ah hari raya Al Abrar (orang-orang baik) (atau dikenal dengan hari raya Ketupat, pent), yaitu hari kedelapan Syawwal.

 

Syaikhul Islam lbnu Taimiyah –Rahimahullah- berkata: “Adapun membuat musim tertentu selain musim yang disyariatkan seperti sebagian malam bulan Rabi’ul Awwal yang disebut malam maulid, atau sebagian malam bulan Rajab, tanggal 18 Dzulhijjah, Jum’at pertama bulan Rajab, atau tanggal 8 Syawwal yang orang-orang jahil menamakannya dengan hari raya Al Abrar (hari raya Ketupat); maka itu semua adalah bid’ah yang tidak disunnahkan dan tidak dilakukan oleh para salaf. Wallahu Subhanahu wata’ala a’lam.

 

Peringatan hari raya ini terkadang dilakukan di salah satu masjid yang terkenal, para wanitapun berikhtilat (bercampur) dengan laki-laki, mereka bersalam-salaman dan mengucapkan lafadz-lafadz jahiliyyah tatkala berjabatan tangan, kemudian mereka pergi ke tempat dibuatnya sebagian makanan khusus untuk perayaan itu. 

(Lihat : As Sunan wal mubtadi’at al muta’alliqah bil adzkar wassholawat karya Muhammad bin Abdis Salam As Syaqiriy hal. 166)

 

Adapun di negara kita biasa membuat ketupat.. dan kadang diiringi saling berkunjumg ke karib kerabat yang ketika hari raya tidak berkunjung.

 

Sesungguhnya penamaan hari raya abror (yaitu iedul abrar) mengandung konskwensi bahwa orang yang tidak puasa enam hari dari syawwal maka bukan termasuk orang baik, demikian ini adalah keliru. Karena orang yang telah menunaikan kewajibannya maka dia, tanpa diragukan adalah orang yang baik walaupun tentunya sebagian orang kebaikannya ada yang lebih sempurna dari yang lain.

 

(Syarhul Mumti’ Karya As Syaikh Ibnu Utsaimin jilid 6 bab shaum Tathawwu’)

 

Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda,

 

إِنَّ لِكُلِّ قَوْمٍ عِيدًا وَهَذَا عِيدُنَا

 

“Sesungguhnya setiap kaum memiliki hari raya, dan ini adalah hari raya kita.” 

[HR. Al-Bukhari dan Muslim dari Ummul Mukminin Aisyah radhiyallahu ’anha]

 

Sahabat yang Mulia Anas bin Malik radhiyallahu ’anhu berkata,

 

قَدِمَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- الْمَدِينَةَ وَلَهُمْ يَوْمَانِ يَلْعَبُونَ فِيهِمَا فَقَالَ مَا هَذَانِ الْيَوْمَانِ قَالُوا كُنَّا نَلْعَبُ فِيهِمَا فِى الْجَاهِلِيَّةِ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- إِنَّ اللَّهَ قَدْ أَبْدَلَكُمْ بِهِمَا خَيْرًا مِنْهُمَا يَوْمَ الأَضْحَى وَيَوْمَ الْفِطْرِ

 

“Ketika Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam mendatangi kota Madinah, para sahabat memiliki dua hari raya yang padanya mereka bersenang-senang. Maka beliau bersabda: 

Dua hari apa ini? Mereka menjawab: Dua hari yang sudah biasa kami bersenang-senang padanya di masa Jahiliyah. Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda: Sesungguhnya Allah telah mengganti kedua hari tersebut dengan dua hari yang lebih baik, yaitu idul adha dan idul fitri.” 

[HR. Abu Daud, Shahih Abi Daud]

 

Dua hadits di atas menununjukkan bahwa penentuan hari raya harus berdasarkan dalil, hari raya apa pun yang tidak berdasarkan dalil maka termasuk bid’ah, mengada-ada dalam agama. Dan diantara hari raya bid’ah tersebut adalah hari raya orang-orang baik (Al-Abror), yang dikenal di negeri kita dengan istilah “Hari Raya Ketupat”.

 

Hari raya ini awalnya dikhususkan bagi mereka yang berpuasa sunnah 6 hari di bulan Syawwal, walau di hari-hari ini, puasa sunnah tersebut sudah hampir dilupakan dan tidak diamalkan, namun hari raya bid’ahnya tetap dirayakan, bahkan disertai dengan berbagai kemungkaran, seperti nyanyian dan musik, bercampur baur dan bersalam-salaman antara laki-laki dan wanita, dan lain-lain. Demikianlah, apabila bid’ah diada-adakan, maka sunnah akan hilang.

 

Al-Imam Hasan bin ‘Athiyyah rahimahullah berkata,

 

ما ابتدع قوم بدعة في دينهم إلا نزع الله عنهم من سنتهم مثلها ثم لا يعيدها إليهم إلى يوم القيامة

 

“Tidaklah suatu kaum berbuat bid’ah dalam agama, kecuali Allah akan mengangkat sunnah yang semisalnya dari mereka, dan tidak mengembalikannya sampai hari kiamat.”

[Al-Hilyah, 6/73]

 

Kesimpulan...

Hari raya ketupat atau hari raya abror merupakan hari raya yang tidak diridhoi oleh Nabi kita shalallahu 'alaihi wasalam...

 

___

📱 Dipost Ustadz Abu Riyadl, Lc -hafizhahullah- tgl 8 Syawal 1436 / 24 Juli 2015


Silakan login untuk menulis komentar.

ARTIKEL TERKAIT

Makna Tawadhu Dan Cara Menghilangkan Kesombongan
Makna Tawadhu Dan Cara Menghilangkan Kesombongan
Ustadz Abu Riyadl Nurcholis Majid - 3 years ago
Faedah Membaca Al Quran
Faedah Membaca Al Quran
Ustadz Abu Riyadl Nurcholis Majid - 5 years ago
Hamba Yang Tersembunyi
Hamba Yang Tersembunyi
Ustadz Abu Riyadl Nurcholis Majid - 5 years ago
Diantara Jenis Wanita Yang Bodoh
Diantara Jenis Wanita Yang Bodoh
Ustadz Abu Riyadl Nurcholis Majid - 3 years ago
Nasihat Imam Syafi'i Untuk Penuntut Ilmu
Nasihat Imam Syafi'i Untuk Penuntut Ilmu
Ustadz Abu Riyadl Nurcholis Majid - 2 years ago
Wahai Kaum Hawa
Wahai Kaum Hawa
Ustadz Abu Riyadl Nurcholis Majid - 6 years ago
Doa Malaikat Di Waktu Subuh
Doa Malaikat Di Waktu Subuh
Ustadz Abu Riyadl Nurcholis Majid - 5 years ago
Orang Yang Engkau Pilih Untuk Berteman dan Bersedekah
Orang Yang Engkau Pilih Untuk Berteman dan Bersedekah
Ustadz Abu Riyadl Nurcholis Majid - 5 years ago
Doa Galau
Doa Galau
Ustadz Abu Riyadl Nurcholis Majid - 4 years ago
Cara Beriman dengan Takdir
Cara Beriman dengan Takdir
Ustadz Abu Riyadl Nurcholis Majid Rahimahulloh - 7 years ago
© 2019 - Www.SalamDakwah.Com