SALWA RADIO - Menebar Salam, Menyebar Dakwah
Stay in touch with us:

Jangan Sembarangan Memilih Teman! (Bagian 3-4)

5 years ago

Jangan Sembarangan Memilih Teman! (Bagian 3-4)

Oleh : Ustadz Abu Ihsan dan Ustadzah Ummu Ihsan

 

JANGAN SEMBARANGAN MEMILIH TEMAN! (Bagian 3)

Oleh : Ustadz Abu Ihsan dan Ustadzah Ummu Ihsan

 

Ambillah teman dari kalangan ahli ilmu atau penuntut ilmu dan jangan berteman dengan pecinta dunia yang lalai menuntut ilmu, menganggap remeh ilmu, ahlinya dan majelisnya!

 

Sebaiknya kita mencari teman dari kalangan orang-orang berilmu dan zuhud, karena duduk bersama mereka bagaikan mengkonsumsi makanan yang bergizi.

 

Salah seorang ahli hikmah berkata kepada anaknya, "Wahai anakku dekatlah dengan para ulama dan merapatlah kepada mereka. Sesungguhnya hati akan hidup dengan ilmu sebagaimana bumi yang mati akan hidup dengan air hujan."

 

Dalam sebuah atsar mauquf disebutkan:

 

"Jadilah seorang 'alim, atau seorang penuntut ilmu, atau seorang mustami' (hadirin), atau pecinta mereka (simpatisan) dan janganlah menjadi yang kelima, niscaya kamu binasa."

 

'Atha bin Muslim berkata, Mis'ar berkata kepadaku, "Engkau tambahkan yang kelima, namun mereka tidak ada di kalangan kami." 

Ia berkata, "Yang kelima adalah engkau membenci ilmu dan ahli ilmu."

 

Para ulama salaf mengatakan, 

"Maha suci Allah, Allah telah menjadikan bagi mereka jalan keluar. Yakni tidak ada yang keluar dari empat golongan yang pertama dan terpuji itu kecuali golongan kelima yang binasa. Yaitu orang yang bukan 'alin, bukan penuntut ilmu, bukan mustami' dan bukan juga pecinta ahli imu. Dialah orang yang binasa. Sebab barangsiapa membenci ahli ilmu, berarti ia menyukai kebinasaan mereka. Barangsiapa menyukai kebinasaan ahli ilmu berarti ia suka bila cahaya Allah di muka bumi padam sehingga muncullah perbuatan maksiat dan kerusakan. 

Dan dikhawatirkan tidak akan diangkat satu amalan pun kepada Allah!! Sebagaimana yang dikatakan oleh Sufyan ats Tsauri dan para ulama Salaf lainnya.

 

Bila kita berteman dengan ahli ilmu dan penuntut ilmu lambat laun kita akan terbiasa mengikuti majelis ilmu dan tidak canggung lagi. Di samping itu kita akan mendapatkan banyak sekali faedah dari mereka. Bahkan kita dapat bertanya kepada mereka tentang perkara-perkara agama kita.

 

Adapun berteman dengan pecinta dunia akan membuat hati sempit. Lambat laun kita pun akan terkena penyakit wahn... Ya penyakit cinta dunia. Sehingga materilah yang menjadi ukuran satu-satunya. Kesuksesan dan kebahagiaan diukur dengan materi yang dimiliki...

 

[Indahnya Mencintai Karena Allah karya Ustadz Abu Ihsan dan Ustadzah Ummu Ihsan]

 

__________________

Via, Ummu Naf'an

Dipost: 8 Jumadats Tsaniyah 1436 / 29 Maret 2015

 

---

 

JANGAN SEMBARANGAN MEMILIH TEMAN! (Bagian 4)

Oleh : Ustadzah Ummu Ihsan dan Ustadz Abu Ihsan

 

Janganlah pula berteman dengan pelaku bid’ah!

 

Pelaku bid’ah akan melemparkan syubhat-syubhat kepada kita dan terkadang tanpa sadar syubhat itu sudah meracuni pikiran kita.

 

Hati manusia sangat lemah. Sedangkan syubhat-syubhat itu menyambar dan menyerang sasarannya dengan cepat.

Ibnul Qayyim rahimahullah mengatakan, 

“Bergaul dengannya seperti racun. Jika badan dapat beradaptasi dengan racun itu, maka akan menjadi penawar. Namun jika tidak bisa beradaptasi duka cita tidak akan ditolak. Betapa banyak jenis manusia seperti ini! Semoga Allah tidak memperbanyak mereka. MEREKA ADALAH AHLI BID’AH dan kesesatan. Mereka suka menghalangi manusia dari Sunnah Rasulullaah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan menginginkannya bengkok sehingga mereka menjadikan bid’ah sebagai sunnah dan menjadikan sunnah sebagai bid’ah, perkara ma’ruf menjadi mungkar dan perkara mungkar menjadi ma’ruf.

 

Jika kita sedang bersama mereka dengan memurnikan Tauhid, mereka mengatakan, ‘Kamu menghina para wali dan orang shalih!’

 

Jika kita berusaha memurnikan kesetiaan kepada Rasulullaah shallallahu ‘alaihi wa sallam mereka mengatakan, 

‘Kamu mengenyampingkan para imam yang menjadi panutan!”

 

Jika kita mensifati Allah dengan sifat-sifat yang telah disebutkan Allah dan RasulNya tanpa lebih dan kurang mereka mengatakan, ‘Kamu termasuk orang-orang yang menyerupakan Allah Azza wa jalla dengan makhluk.’

 

Jika kita memerintahkan perkara yang ma’ruf sebagaimana yang diperintahkan oleh Allah dan RasulNya, mereka mengatakan, ‘Kamu suka membuat fitnah.’

 

Jika kita mengamalkan sunnah Nabi dan meninggalkan perkara yang menyimpang darinya, mereka mengatakan, 

‘Kamu termasuk ahli bid’ah yang menyesatkan.’

 

Jika kita menuju Allah dan meninggalkan mereka dengan bangkai kehidupan dunia, mereka mengatakan, ‘Kamu adalah orang yang kacau pikirannya.’

 

Kita meninggalkan sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang telah kita jalankan maka kita termasuk orang yang merugi di sisi Allah dan dalam pandangan mereka engkau adalah orang munafik.

 

Oleh karena itu kita harus berpegang teguh dalam mencari keridhaan Allah sekalipun membuat mereka marah. Kita tidak perlu sibuk dan risau dengan celaan orang-orang yang suka mencela. Kemarahan mereka berarti kesempurnaan kita yang sebenarnya.” (Badaai’ul Fawaaid III/404)

 

[Indahnya Mencintai karena Allah karya Ustadzah Ummu Ihsan dan Ustadz Abu Ihsan]

 

__________________

Via, Ummu Naf'an

Dipost: 9 Jumadats Tsaniyah 1436 / 30 Maret 2015

 

 


Silakan login untuk menulis komentar.
© 2020 - Www.SalamDakwah.Com