SALWA RADIO - Menebar Salam, Menyebar Dakwah
Stay in touch with us:

Enam Perkara yang Harus Diwaspadai bagian 3

Ustadz Abu Yahya Badrusalam, Lc - 7 years ago

Enam Perkara yang Harus Diwaspadai bagian 3

 

Enam Perkara yang Harus Diwaspadai bagian 3
 
3.      Jual Beli Hukum
Yang dimaksud dengan jual beli hukum adalah suap-menyuap agar seorang hakim tidak menghukumi dengan hukum yang adil, dan ini adalah dosa yang besar dan mendatangkan laknat Allah Ta’ala. Karena kewajiban hakim adalah menghukumi manusia dengan ‘adil sesuai dengan Alquran dan sunah, maka jika hukum dapat dibeli dengan uang, akan hancurlah negeri dan binasalah manusia, kebatilan akan merajalela dan berakhir dengan datangnya adzab Allah ‘Azza wa Jalla.
Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam telah melaknat orang yang memberi uang suap dan yang menerimanya, beliau bersabda,
لَعَنَ اللَّهُ الرَّاشِيَ وَالْمُرْتَشِيَ فِي الْحُكْمِ
Semoga Allah melaknat orang yang menyuap dan menerima uang suap dalam hukum.” (HR Ahmad dan lainnya)[1]
            Hadis ini tegas melarang risywah (suap menyuap) dan pelakunya berhak mendapatkan laknat dari Allah Ta’ala, karena keduanya saling tolong-menolong dalam dosa dan permusuhan. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata[2], “Oleh karena itu, para ulama berkata, ‘Siapa saja yang memberikan hadiah untuk pejabat negara dengan tujuan agar ia melakukan sesuatu yang tidak boleh, maka ia adalah haram bagi orang yang memberikan hadiah dan yang diberi hadiah dan ini termasuk risywah (suap menyuap) yang disabdakan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam
لَعَنَ اللهُ الرَّاشِى وَالْمُرْتَشِى
Allah melaknat yang menyuap dan yang disuap.” (HR Ahmad)[3]
            Adapun jika ia memberi hadiah untuk menghindari kezalimannya atau memberikan kepadanya haknya yang wajib, maka hadiah tersebut haram bagi orang yang menerimanya saja, dan boleh bagi orang yang memberinya, sebagaimana Nabi shallallahu ‘alaihi wasallambersabda:
إِنِّيْ لَأُعْطِى أَحَدَهُمْ الْعَطِيَّةَ فَيَخْرُجُ بِهَا يَتَأَبَّطُهَا نَارًا. قِيْلَ يَا رَسُوْلَ اللهِ فَلِمَ تُعْطِيْهِمْ؟ قَالَ : يَأْبُوْنَ إِلاَّ أَنْ يَسْأَلُوْنِيْ وَيَأْبَى اللهُ لِيَ الْبُخْلَ
Sesungguhnya Aku memberikan kepada salah seorang dari mereka pemberian, maka ia keluar sambil membawa Neraka di ketiaknya”. Dikatakan,”Wahai Rosulullah, mengapa engkau memberinya? Beliau bersabda: “Mereka terus menerus minta kepadaku dan Allah tidak menyukai aku bakhil.” (HR Ahmad)[4]
            Dan yang masuk dalam masalah ini adalah yang disebut dengan hadaya al ‘Ummaal(hadiah untuk pejabat/ uang pelicin) dalam hadis berikut ini:
اسْتَعْمَلَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَجُلًا مِنْ بَنِي أَسْدٍ يُقَالُ لَهُ ابْنُ الْأُتَبِيَّةِ عَلَى صَدَقَةٍ فَلَمَّا قَدِمَ قَالَ هَذَا لَكُمْ وَهَذَا أُهْدِيَ لِي فَقَامَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَى الْمِنْبَرِ قَالَ سُفْيَانُ أَيْضًا فَصَعِدَ الْمِنْبَرَ فَحَمِدَ اللَّهَ وَأَثْنَى عَلَيْهِ ثُمَّ قَالَ مَا بَالُ الْعَامِلِ نَبْعَثُهُ فَيَأْتِي يَقُولُ هَذَا لَكَ وَهَذَا لِي فَهَلَّا جَلَسَ فِي بَيْتِ أَبِيهِ وَأُمِّهِ فَيَنْظُرُ أَيُهْدَى لَهُ أَمْ لَا وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ لَا يَأْتِي بِشَيْءٍ إِلَّا جَاءَ بِهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ يَحْمِلُهُ عَلَى رَقَبَتِهِ إِنْ كَانَ بَعِيرًا لَهُ رُغَاءٌ أَوْ بَقَرَةً لَهَا خُوَارٌ أَوْ شَاةً تَيْعَرُ ثُمَّ رَفَعَ يَدَيْهِ حَتَّى رَأَيْنَا عُفْرَتَيْ إِبْطَيْهِ أَلَا هَلْ بَلَّغْتُ ثَلَاثًا
“Nabi shallalahu ‘alaihi wasallam menugaskan seseorang dari Bani Asad yang bernama Ibnul Lutbiyyah untuk mengambil sedekah, ketika ia telah kembali ia berkata, “Ini untuk kamu dan ini hadiah untukku.”
Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berdiri di atas mimbar, lalu memuji Allah Subhanahu wa Ta’ala dan menyanjung-Nya, kemudian bersabda, “Ada apa dengan seorang pegawai yang kami utus?” Lalu ia datang dan berkata, “Ini untukmu dan ini untukku.” “Mengapa ia tidak duduk sajadi rumah ayah dan ibunya untuk melihat apakah akan diberikan hadiah untuknya atau tidak?! Demi Dzat yang diriku berada di Tangan-Nya, tidaklah ia datang membawa sesuatu kecuali ia akan datang pada hari kiamat sambil membawanya di atas lehernya, berupa sesuatu yang bersuara (rugha), sapi yang berkoar dan kambing yang mengembik. Kemudian beliau mengangkat kedua tangannya sehingga kami melihat putihnya ketiak beliau seraya bersabda, “Bukankah aku telah menyampaikannya?” 3x. (HR Bukhari dan Muslim).
Bersambung insya Allah

[1] Dikeluarkan oleh Ahmad no 9019, At Tirmidzi (no 1337) dan dishahihkan oleh Syaikh Al Bani dalam silsilah dla’ifah (3/382).
[2] Majmu’ fatawa 31/286.
[3] Ahmad dalam musnadnya 2/387 no 9011. Dan dishahihkan oleh Syaikh Al Bani di dalam shahih Jami’ shogier no 5093..
[4] Ahmad dalam musnadnya 3 / 4 no 11017, dan dishahihkan oleh Syaikh Al Bani dalam shahih targhib wattarhib no 815.

Silakan login untuk menulis komentar.

ARTIKEL TERKAIT

Agar Tidur menjadi Pahala
Agar Tidur menjadi Pahala
Ustadz Abu Yahya Badrusalam, Lc - 6 years ago
3 Manfaat Menundukkan Pandangan
3 Manfaat Menundukkan Pandangan
Ustadz Abu Yahya Badrusalam, Lc - 5 years ago
Sendiri di Belakang Shaff
Sendiri di Belakang Shaff
Ustadz Abu Yahya Badrusalam, Lc - 3 years ago
Safari ke Kuburan para Wali
Safari ke Kuburan para Wali
Ustadz Abu Yahya Badrusalam, Lc - 6 years ago
Sifat dan Keistimewaan Jalan Kebenaran
Sifat dan Keistimewaan Jalan Kebenaran
Ustadz Abu Yahya Badrusalam, Lc - 7 years ago
Walaupun Tidak Wajib
Walaupun Tidak Wajib
Ustadz Abu Yahya Badrusalam, Lc - 4 years ago
Embun Pagi
Embun Pagi
Ustadz Abu Yahya Badrusalam, Lc - 5 years ago
Berakal
Berakal
Ustadz Abu Yahya Badrusalam, Lc - 5 years ago
© 2019 - Www.SalamDakwah.Com