SALWA RADIO - Menebar Salam, Menyebar Dakwah
Stay in touch with us:

Tingkatan Hasad, Waspadalah!

4 years ago

Tingkatan Hasad, Waspadalah!

Oleh : Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal, M.Sc

 

Ada berbagai bentuk hasad dan urutannya yang kami sebutkan kali ini menunjukkan urutan dari yang paling parah hingga yang paling ringan, bahkan yang terakhir dibolehkan.

 

Merasa tidak suka terhadap nikmat yang ada pada orang lain, sudah disebut hasad oleh Ibnu Taimiyah, walau tidak menginginkan nikmat tersebut hilang. Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata,

 

الْحَسَدَ هُوَ الْبُغْضُ وَالْكَرَاهَةُ لِمَا يَرَاهُ مِنْ حُسْنِ حَالِ الْمَحْسُودِ

 

“Hasad adalah membenci dan tidak suka terhadap keadaan baik yang ada pada orang yang dihasad.”

(Majmu’ Al Fatawa, 10: 111)

 

Tingkatan hasad yang kami maksudkan di atas:

 

1- Berkeinginan nikmat yang ada pada orang lain hilang meski tidak berpindah padanya. Orang yang hasad lebih punya keinginan besar nikmat orang lain itu hilang, bukan bermaksud nikmat tersebut berpindah padanya.

 

Seharusnya setiap orang memperhatikan bahwa setiap nikmat sudah pas diberikan oleh Allah pada setiap makhluknya sehingga tak perlu iri dan hasad. 

Allah Ta’ala berfirman,

 

وَلَا تَتَمَنَّوْا مَا فَضَّلَ اللَّهُ بِهِ بَعْضَكُمْ عَلَى بَعْضٍ لِلرِّجَالِ نَصِيبٌ مِمَّا اكْتَسَبُوا وَلِلنِّسَاءِ نَصِيبٌ مِمَّا اكْتَسَبْنَ وَاسْأَلُوا اللَّهَ مِنْ فَضْلِهِ إِنَّ اللَّهَ كَانَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمًا

 

“Dan janganlah kamu iri hati terhadap apa yang dikaruniakan Allah kepada sebahagian kamu lebih banyak dari sebahagian yang lain. (Karena) bagi orang laki-laki ada bahagian dari pada apa yang mereka usahakan, dan bagi para wanita (pun) ada bahagian dari apa yang mereka usahakan, dan mohonlah kepada Allah sebagian dari karunia-Nya. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.” (QS. An Nisa’ : 32)

 

2- Berkeinginan nikmat yang ada pada orang lain hilang lalu berkeinginan nikmat tersebut berpindah padanya. Misalnya, ada wanita cantik yang sudah menjadi istri orang lain, ia punya hasad seandainya suaminya mati atau ia ditalak, lalu ingin menikahinya. Atau bisa jadi pula ada yang punya kekuasaan atau pemerintahan yang besar, ia sangat berharap seandainya raja atau penguasa tersebut mati saja biar kekuasaan tersebut berpindah padanya.

 

Tingkatan hasad kedua ini sama haramnya namun lebih ringan dari yang pertama.

 

3- Tidak punya maksud pada nikmat orang lain, namun ia ingin orang lain tetap dalam keadaannya yang miskin dan bodoh. Hasad seperti ini membuat seseorang akan mudah merendahkan dan meremehkan orang lain.

 

4- Tidak menginginkan nikmat orang lain hilang, namun ia ingin orang lain tetap sama dengannya. Jika keadaan orang lain lebih dari dirinya, barulah ia hasad dengan menginginkan nikmat orang lain hilang sehingga tetap sama dengannya. Yang tercela adalah keadaan kedua ketika menginginkan nikmat saudaranya itu hilang.

 

5- Menginginkan sama dengan orang lain tanpa menginginkan nikmat orang lain hilang. 

Inilah yang disebut dengan ghibthoh sebagaimana terdapat dalam hadits berikut.

 

Dari ‘Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

 

لاَ حَسَدَ إِلاَّ فِى اثْنَتَيْنِ رَجُلٌ آتَاهُ اللَّهُ مَالاً فَسُلِّطَ عَلَى هَلَكَتِهِ فِى الْحَقِّ ، وَرَجُلٌ آتَاهُ اللَّهُ الْحِكْمَةَ ، فَهْوَ يَقْضِى بِهَا وَيُعَلِّمُهَا

 

“Tidak boleh hasad (ghibtoh) kecuali pada dua orang, yaitu orang yang Allah anugerahkan padanya harta lalu ia infakkan pada jalan kebaikan dan orang yang Allah beri karunia ilmu (Al Qur’an dan As Sunnah), ia menunaikan dan mengajarkannya.” 

(HR. Bukhari no. 73 dan Muslim no. 816)

 

Inilah maksud berlomba-lomba dalam kebaikan,

 

وَفِي ذَلِكَ فَلْيَتَنَافَسِ الْمُتَنَافِسُونَ

 

“Dan untuk yang demikian itu hendaknya orang berlomba-lomba.” 

(QS. Al Muthoffifin: 26)

 

Hanya Allah yang memberi taufik dan hidayah.

 

Referensi:

Fiqhul Hasad, Syaikh Musthofa Al Adawi, terbitan Darus Sunnah, cetakan pertama, tahun 1415 H.

 

Selesai disusun di Kids Fun Piyungan saat liburan bersama santri Darush Sholihin, 10 Rabi’ul Akhir 1436 H / 31 Januari 2015

 

Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal


Silakan login untuk menulis komentar.

ARTIKEL TERKAIT

Mencium Tangan Seorang Alim
Mencium Tangan Seorang Alim
Ustadz Fadlan Fahamsyah. LC, MHI - 1 year ago
7 Amalan Yang Pahalanya Terus Mengalir
7 Amalan Yang Pahalanya Terus Mengalir
Ustadz Abu Qotadah - 5 years ago
Kelakuan Media yang Terus Mengorek Aib
Kelakuan Media yang Terus Mengorek Aib
Redaksi SalamDakwah - 5 years ago
Salah Satu Tips Berteman: Jangan Bermuka Dua
Salah Satu Tips Berteman: Jangan Bermuka Dua
Redaksi SalamDakwah - 5 years ago
Penyakit Umat-Umat Terdahulu
Penyakit Umat-Umat Terdahulu
Ustadz Fadlan Fahamsyah. LC, MHI - 10 months ago
Hujan Tak Selalu Menunggu Mendung
Hujan Tak Selalu Menunggu Mendung
Ustadz Hasan Al-Jaizy,Lc - 2 years ago
Sikap Imam Ahmad Terhadap Penguasa Zalim
Sikap Imam Ahmad Terhadap Penguasa Zalim
Ustadz Abdurrahman Thoyyib,Lc - 2 years ago
Doa Untuk yang Pulang Umroh
Doa Untuk yang Pulang Umroh
Ustadz Ammi Nur Baits - 3 years ago
© 2019 - Www.SalamDakwah.Com