SALWA RADIO - Menebar Salam, Menyebar Dakwah
Stay in touch with us:

Nabi Saja Ada Yang Tidak Punya Follower

4 years ago

Nabi Saja Ada Yang Tidak Punya Follower

Oleh: Ustadz dr. Raehanul Bahraen

 

“MasyaAllah, pasti Ustadz tenar ni, followernya banyak sekali”

 

“Ini baru ustadz yang bener, followernya aja segitu banyaknya”

 

Sebagian (kecil) ustadz dan aktifis dakwah ada yang tujuan utamanya adalah menjadi terkenal dan mengumpulkan massa, pengikut atau follower. Tentunya agar lebih mudah menggandeng follower dan meraih massa dengan cepat harus tahu apa yang “diinginkan oleh pasar”. Karenanya tidak heran kalau ustadz yang agak laku sekarang adalah:

 

– ustadz yang bisa melucu, kalau bisa melawak yang membuat terpingkal-pingkal walaupun wibawa jatuh

 

- ustadz yang bisa nyanyi juga kalau perlu

 

- ustadz yang, ehem agak ganteng dan muka menjual sedikit

 

- ustadz yang doyan cerita-cerita yang membuat takjub, merasa aneh, pintar memotivasi walaupun bahannya ceramah tidak Islami

 

- dll

 

Dan yang perlu kita perhatikan bersama adalah, keberhasilan dakwah bukan dengan banyaknya pengikut atau banyaknya yang berhasil kita dakwahi. Akan tetapi bukan berarti juga ustadz atau aktifis dakwah yang banyak diikuti adalah sesat. Akan tetapi cara dan niatnya yang perlu diperhatikan.

 

Berikut sedikit pembahasan mengenai hal ini.

 

Ada nabi yang tidak punya follower/pengikut sama sekali

 

Keberhasilan dakwah bukan dilihat dari banyaknya pengikut, jika tolak ukurnya adalah keberhasilan dalam segi jumlah, maka nabi yang hanya punya pengikut satu orang atau tidak punya pengikut sama sekali bisa dibilang dakwahnya gagal.

 

Rasulullah shallallahu alaihi wa sallampernah bersabda,

 

مَا صُدِّقَ نَبِيٌّ (مِنَ الأَنْبِيَاءِ) مَا صُدِّقْتُ، إِنَّ مِنَ الأَنْبِيَاءِ مَنْ لَمْ يُصَدِّقْهُ مِنْ أُمَّتِهِ إِلاَّ رَجُلٌ وَاحِدٌ

 

“Tidaklah seorang Nabi (dari para Nabi) dibenarkan sebagaimana aku dibenarkan, sesungguhnya diantara para Nabi ada yang tidak dibenarkan oleh ummatnya kecuali hanya oleh satu orang.”[1]

 

Bahkan ada yang tidak punya pengikut sama sekali.

 

Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

 

…عرضت علي الأمم، فرأيت النبي و معه الرهط، والنبي و معه الرجل والرجلان والنبي ليس معه أحد

 

“Diperlihatkan kepadaku umat-umat, lalu aku melihat seorang Nabi bersamanya ar-rahth (sekelompok orang yang terdiri dari 3-10 orang), dan seorang Nabi bersamanya seorang dan dua orang, dan seorang Nabi tidak ada bersamanya seorangpun…..”.[2]

 

Syaikh Al-Albani rahimahullah berkata,

 

وفي الحديث دليل واضح على أن كثرة الأتباع وقلتهم ، ليست معيارا لمعرفة كون الداعية على حق أو باطل ، فهؤلاء الأنبياء عليهم الصلاة والسلام مع كون دعوتهم واحدة ، ودينهم واحدا ، فقد اختلفوا من حيث عدد أتباعهم قلة وكثرة

 

“Kandungan hadits menunjukkan dalil yang tegas bahwa banyak dna sedikitnya pengikut bukanlah tolak ukur untuk mengetahui apakah seorang dai di atas kebenaran atau di atas kebatilan. Mereka para nabi saja, dawakh dan agama mereka satu (sama), akan tetapi berbeda dalam jumlah pengikut mereka.”[3]

 

Banyaknya jumlah bukanlah tolak ukur kebenaran

 

Bahkan jumlah yang banyak dan kata-kata banyak dalam syariat mayoritasnya kurang baik. Jika kita mengikuti kebanyakan manusia  maka kita bisa “terpleset”.

 

Allah Ta’ala berfirman :

 

وَمَا أَكْثَرُ النَّاسِ وَلَوْ حَرَصْتَ بِمُؤْمِنِينَ

 

“Dan tidaklah kebanyakan manusia itu beriman, walaupun kamu sangat menginginkannya”(QS. Yusuf : 103)

 

Dan firman Allah Ta’ala,

 

وَ إْن تُطِعْ أَكْثَرَ مَنْ فِي الأَرْضِ يُضِلُّوْكَ عَنْ سَبِيْلِ اللهِ

 

“Dan jika kamu menuruti kebanyakan orang di muka bumi Ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah “. (Al An’am : 116).

 

Ibnu Katsir rahimahullah berkata menafsirkan,

 

يخبر تعالى عن حال أكثر أهل الأرض من بني آدم أنه الضلال، كما قال تعالى: {ولقد ضل قبلهم أكثر الأولين} [الصافات: 71]

 

“Allah memberitakan bawah keadaan mayoritas penduduk bumi dari anak Adam adalah dalam kesesatan (tidak mendapat petunjuk yang benar) sebagaimana pula firman Allah “Sungguh Telah sesat juga kebanyakn orang sebelum kalian” (as-Shaffat: 71)”[4]

 

Demikian semoga bermanfaat

 

@gedung Radiopoetro, FK UGM, Yogyakarta tercinta

5/5/2014

Dishare ulang oleh Ustadz dr. Raehanul Bahraen -hafidzahullah- tgl 11 Rabi'uts Tsani 1436 / 1 Februari 2015

 

[1] as-Silsilah ash-Shahihah 1/684

 

[2] HR. Bukhari dan Muslim

 

[3] as-Silsilah ash-Shahihah 1/684

 

[4] Tafsir Ibni Katsir 3/322, Darut Thayyibah, 1420 H, syamilah


Silakan login untuk menulis komentar.
© 2019 - Www.SalamDakwah.Com