SALWA RADIO - Menebar Salam, Menyebar Dakwah
Stay in touch with us:

Bidah Dalam Pakaian

5 years ago

Bidah Dalam Pakaian

Oleh : Ustadz Aris Munandar, MA

 

Berpakaian untuk menutupi aurat adalah sebuah kewajiban dalam Islam. Buka-buka aurat dalam al Quran disebut sebagai fahisyah atau perbuatan keji. Akan tetapi Allah dan rasul-Nya tidaklah menentukan model pakaian tertentu yang seharusnya dikenakan oleh seorang muslim secara umum atau pun muslim yang taat semisal da'i, ustadz dan kyai secara khusus. Dalam masalah berpakaian Islam hanya memberikan batasan dan kriteria pakaian yang boleh dikenakan oleh seorang muslim semisal menutup bagian tubuh yang harus ditutup (baca: aurat), tidak ketat press body, tidak transparan, tidak menyerupai model pakaian khas orang kafir atau pun lawan jenis. Yang Nabi tuntunkan dalam berpakaian adalah mengikuti model pakaian yang familiar dan berkembang di masyarakat selama hal tersebut tidak bertentangan dengan ketentuan syariat. Model pakaian yang paling jamak di masyarakat Nabi pada saat itu adalah izar dan rida’. 

Izar adalah semisal pakaian yang dipakai untuk menutupi bagian bawah badan sebagaimana yang dipakai oleh seorang laki-laki yang dalam kondisi ihram karena haji atau pun umrah. Sedangkan rida’ adalah pakaian untuk menutupi bagian atas badan sebagaimana yang dipakai oleh laki-laki yang dalam kondisi ihram karena haji atau pun umrah. Nabi juga sering memakai sorban karena itulah model pakaian populer di kala itu untuk menutupi kepala.

 

Jika demikian lantas bagaimana dengan sikap sebagian orang yang menjadikan model pakaian tertentu sebagai pakaian khas orang ‘ngaji’, anak masjid atau da'i, ustadz atau kyai? 

Di masyarakat kita ada yang menjadikan model sorban khas Yaman sebagai pakaian khas orang taat. 

Ada yang menjadikan jubah khas Pakistan sebagaimana pakaian yang paling nyunnah. 

Ada yang menjadikan baju koko sebagai pakaian khas anak ‘masjid’. Ada yang menjadikan ghutrah, pakaian penutup kepala khas Saudi saat ini sebagai pakaian khas penuntut ilmu. Ada juga yang menjadikan sorban hijau sebagai pakaian khas kyai atau ulama.

 

Sebagai jawaban untuk pertanyaan pertanyaan di atas adalah sangat baik kita renungkan perkataan Ibnu Taimiyyah sebagai berikut ini:

 

فلزوم زي معين من اللباس سواء كان مباحا أو مكروه بحيث يجعل دينا ومستحبا وشعارا لأهل الدين هو من البدع

 

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah mengatakan, 

“Selalu memakai model pakaian tertentu baik status hukum untuk model pakaian tersebut mubah atau makruh sehingga model pakaian tersebut menjadi bagian dari agama, dianjurkan untuk dipakai dan menjadi simbol orang-orang yang taat adalah bagian dari bid’ah”.

 

(al Istiqomah karya Ibnu Taimiyyah hal 260)

 

_________________________________

Dipost oleh Ustadz Aris Munandar, MA -hafidzahullah- tgl 4 Rabi'uts Tsani 1436 / 25 Januari 2015


Silakan login untuk menulis komentar.

ARTIKEL TERKAIT

Adab-adab Dalam Melihat Calon Istri (Nadzar)
Adab-adab Dalam Melihat Calon Istri (Nadzar)
Ustadz Ammi Nur Baits - 4 years ago
Teguhlah, Jangan Goyah
Teguhlah, Jangan Goyah
Ustadz DR Musyaffa' Ad Dariny,MA - 4 years ago
Pesan dan Wasiat Untuk Para Pendidik
Pesan dan Wasiat Untuk Para Pendidik
Ustadz Zainal Abidin. Lc - 3 years ago
Akhi... Bukan urusanmu...
Akhi... Bukan urusanmu...
Ustadz Abu Fairuz Ahmad, MA - 5 years ago
Murid Durhaka
Murid Durhaka
Ustadz Abu Fairuz Ahmad, MA - 4 years ago
Jika Datang Pria Melamarmu
Jika Datang Pria Melamarmu
Ustadzah Ummu Faynan,Lc - 4 years ago
© 2020 - Www.SalamDakwah.Com