SALWA RADIO - Menebar Salam, Menyebar Dakwah
Stay in touch with us:

Larangan Mengharap Kematian dan Menyerahkannya Kepada Allah

Ustadz dr. Raehanul Bahraen - 5 years ago

Larangan Mengharap Kematian dan Menyerahkannya Kepada Allah

 

Berdoa Minta Kematian Ketika Sakit

 

Ketika sakit berat atau mengalami kesengsaraan, bisa jadi beberapa orang yang kurang kuat imannya mengharapkan bahkan bedoa lebih baik ia mati dibandingkan hidup dengan keadaan seperti ini. Bahkan ada yang sampai bunuh diri karena tidak sanggup menanggung beban. Hal ini tidak selayaknya dilakukan oleh seorang muslim baik ketika sakit ataupun keadaan yang lainnya.

 

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

 

لَا يَتَمَنَّى أَحَدُكُمْ الْمَوْتَ وَلَا يَدْعُ بِهِ مِنْ قَبْلِ أَنْ يَأْتِيَهُ إِنَّهُ إِذَا مَاتَ أَحَدُكُمْ انْقَطَعَ عَمَلُهُ وَإِنَّهُ لَا يَزِيدُ الْمُؤْمِنَ عُمْرُهُ إِلَّا خَيْرًا

 

“Janganlah seseorang mengharapkan kematian dan janganlah dia berdoa untuk mati sebelum datang waktunya. Karena orang yang mati itu amalnya akan terputus, sedangkan umur seorang mukmin tidak akan bertambah melainkan menambah kebaikan.”[1]

 

Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Ustaimin rahimahullah menjelaskan,

 

والنهي هنا للتحريم؛ لأن تمني الموت فيه شيء من عدم الرضا بقضاء الله، والمؤمن يجب عليه الصبر

 

“Larangan di sini adalah haram (bukan makruh, pent), karena berangan-angan agar mati adalah perbuatan tidak ridha dengan takdir Allah. Seorang mukmin wajib bersabar dengan takdir Allah.”[2]

 

Yang benar, jika menyerahkannya kepada Allah. Kita berdoa sebagaimana yang diajarkan berikut ini.

 

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

 

لَا يَتَمَنَّيَنَّ أَحَدُكُمْ الْمَوْتَ لِضُرٍّ نَزَلَ بِهِ فَإِنْ كَانَ لَا بُدَّ مُتَمَنِّيًا فَلْيَقُلْ

 

“Janganlah seseorang di antara kalian mengharapkan kematian karena tertimpa kesengsaraan. Kalaupun terpaksa ia mengharapkannya, maka hendaknya dia berdoa,

 

اللَّهُمَّ أَحْيِنِي مَا كَانَتْ الْحَيَاةُ خَيْرًا لِي وَتَوَفَّنِي إِذَا كَانَتْ الْوَفَاةُ خَيْرًا لِي

 

“Ya Allah, berilah aku kehidupan apabila kehidupan tersebut memang lebih baik bagiku dan matikanlah aku apabila kematian tersebut memang lebih baik untukku.”[3]

 

Hendaknya seseorang jangan berangan-angan kematian dan berpikir jangan dengan ucapan “seandainya” untuk berangan-angan menentang takdir Allah.

 

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

 

احْرِصْ عَلَى مَا يَنْفَعُكَ وَاسْتَعِنْ بِاللهِ وَلاَ تَعْجِزْ، وَإِنْ أَصَابَكَ شَيْءٌ فَلاَ تَقُلْ: لَوْ أَنِّي فَعَلْتُ كَانَ كَذَا وَكَذَا؛ وَلَكِنْ قُلْ: قَدَرُ اللهِ وَمَا شَاءَ فَعَلَ؛ فَإِنَّ لَوْ تَفْتَحُ عَمَلَ الشَّيْطَانِ

 

“Bersungguh-sungguhlah engkau dalam melakukan apa yang bermanfaat untuk dirimu, mintalah pertolongan kepada Allah, dan jangan malas. Apabila engkau tertimpa musibah, janganlah engkau mengatakan, ‘Seandainya aku berbuat demikian, tentu akan demikian dan demikian.’ Akan tetapi, katakanlah, ‘Ini adalah takdir Allah dan apa yang Allah kehendaki pasti akan terjadi.’ Adapun kata ‘seandainya’ akan membuka pintu bagi setan (agar engkau tidak menerima takdir).”[4]

 

Bagi mereka yang merasa gundah gulana terhadap musibah yang terjadi. Sebaiknya yakin dengan takdir Allah, insyaAllah ada hikmahnya dan ada kebaikannya. Lebih baik ia membaca doa yang diajarkan dalam islam untuk menghilangkan gundah gulana dan tentu dengan berusaha meyakini takdir Allah yang terbaik

 

Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu berkata: “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Tidaklah seorang tertimpa rasa gundah, sedih, lalu ia mengucapkan:

 

اللَّهُمَّ إِنِّى عَبْدُكَ وَابْنُ عَبْدِكَ وَابْنُ أَمَتِكَ نَاصِيَتِى بِيَدِكَ مَاضٍ فِىَّ حُكْمُكَ عَدْلٌ فِىَّ قَضَاؤُكَ أَسْأَلُكَ بِكُلِّ اسْمٍ هُوَ لَكَ سَمَّيْتَ بِهِ نَفْسَكَ أَوْ عَلَّمْتَهُ أَحَداً مِنْ خَلْقِكَ أَوْ أَنْزَلْتَهُ فِى كِتَابِكَ أَوِ اسْتَأْثَرْتَ بِهِ فِى عِلْمِ الْغَيْبِ عِنْدَكَ أَنْ تَجْعَلَ الْقُرْآنَ رَبِيعَ قَلْبِى وَنُورَ صَدْرِى وَجَلاَءَ حُزْنِى وَذَهَابَ هَمِّى

 

(Wahai Allah, sesungguhnya aku ini adalah hamba-Mu dan anak dari hamba-Mu (yang lelaki) dan anak dari hamba-Mu (yang perempuan), takdirku di tangan-Mu, keputusan-Mu telah tetap padaku dan qadha-Mu adalah adil untukku, aku memohon kepada-Mu, dengan setiap nama yang Engkau miliki, yang telah Engkau beri nama dengannya diri-Mu atau yang telah Engkau ajarkan nama tersebut kepada siapapun dari makhluk-MU atau yang telah Engkau turunkan di dalam kitab (suci)-Mu atau yang telah Engkau simpan di dalam Imu gaib milik-Mu, jadikanlah Al Quran sebagai penyejuk hatiku, cahaya di dalam dadaku dan penghilang kesedihanku serta pelenyap kegundahanku.”[5]

 

Maka kegunadahan dan kesediahannya akan menjadi ketenangan dan kebahagiaan.

 

@Laboratorium Klinik RSUP DR. Sardjito, Yogyakarta tercinta

Penyusun: Raehanul Bahraen

28 Rabi'uts Tsani 1436 / 19 Januari 2015

 

[1] HR. Muslim no. 2682

 

[2] Syarah Riyaduh shalihin, sumber: http://www.ibnothaimeen.com/all/books/article_18213.shtml

 

[3] HR. Al-Bukhari no. 5671 dan Muslim no. 2680

 

[4]  HR. Muslim

 

[5] HR. Ahmad


Silakan login untuk menulis komentar.

ARTIKEL TERKAIT

Bersemilah Ramadhan
Bersemilah Ramadhan
Ustadz Armen Halim Naro Rahimahulloh - 6 years ago
Hukum Menerima Qurban Dari Non Muslim
Hukum Menerima Qurban Dari Non Muslim
Ustadz Ammi Nur Baits - 4 years ago
Sebab-sebab Kehidupan Hati
Sebab-sebab Kehidupan Hati
Ustadz Nuruddin Abu Faynan. Lc - 4 years ago
Siapa Dia ?
Siapa Dia ?
4 years ago
Syariat Khitan
Syariat Khitan
Redaksi SalamDakwah - 6 years ago
Iman, Syukur dan Taubat dengan 3 Anggota Tubuh
Iman, Syukur dan Taubat dengan 3 Anggota Tubuh
Redaksi SalamDakwah - 6 years ago
© 2020 - Www.SalamDakwah.Com