SALWA RADIO - Menebar Salam, Menyebar Dakwah
Stay in touch with us:

Hukum Takziyah (Melayat)

Ustadz Abu Riyadl Nurcholis Majid Rahimahulloh - 7 years ago

Hukum Takziyah (Melayat)

Hukum Takziyah (Melayat)

Hukum ta'ziyah adalah sunah

Sabda Rosulullah sholallahu alaihiwasalam..
مَنْ عَزَّى مُصَابًا فَلَهُ مِثْلُ أَجْرِهِ

Barangsiapa yang berta’ziyah kepada orang yang tertimpa musibah, maka baginya pahala seperti pahala yang didapat orang tersebut. [HR Tirmidzi 2/268. Kata beliau: “Hadits ini gharib. Sepanjang yang saya ketahui, hadits ini tidak marfu’ kecuali dari jalur ‘Adi bin ‘Ashim”; Ibnu Majah, 1/511]. (Ghorib=hadits yang diriwayatkan oleh satu orang, Tidak Marfu'=Riwayat tidak sampai ke Rosululloh)

Dalil lainnya, ‘Abdullah bin ‘Amr bin al Ash menceritakan, bahwa pada suatu ketika Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bertanya kepada Fathimah Radhiyallahu 'anha : “Wahai, Fathimah! Apa yang membuatmu keluar rumah?” Fathimah menjawab,”Aku berta’ziyah kepada keluarga yang ditinggal mati ini.” [HR Abu Dawud, 3/192].

HIKMAH TA’ZIYAH
Disamping pahala, juga terdapat kemaslahatan bagi kedua belah pihak . Antara lain :
- Meringankan beban musibah yang diderita oleh orang yang dilayat.
- Memotivasinya untuk terus bersabar menghadapi musibah, dan berharap pahala dari Allah Ta’ala.
- Memotivasinya untuk ridha dengan ketentuan atau qadar Allah Ta’ala, dan menyerahkannya kepada Allah.
- Mendo’akannya agar musibah tersebut diganti oleh Allah dengan sesuatu yang lebih baik.
- Melarangnya dari berbuat niyahah (meratap), memukul, atau merobek pakaian, dan lain sebagainya akibat musibah yang menimpanya.
- Mendo’akan mayit dengan kebaikan.
- Adanya pahala besar bagi orang yang berta’ziyah.

WAKTU TA’ZIYAH
Jumhur ulama memandang bahwa ta’ziyah diperbolehkan sebelum dan sesudah mayit dikebumikan.
Pendapat lainnya, dari Imam Tsauri, bahwa beliau memandang makruh ta’ziyah setelah mayitnya dikuburkan. Alasannya: setelah mayitnya dikuburkan, berarti masalahnya juga sudah selesai. Sedangkan ta’ziyah itu sendiri disyari’atkan guna menghibur agar orang yang tertimpa musibah agar bisa melupakannya.

PENDAPAT YG ROJIH (KUAT)adalah pendapat jumhur ulama. Alasannya, orang yang tertimpa musibah memerlukan penghibur untuk mengurangi beban musibah yang menghimpitnya. Penglipur ini tentu saja diperlukan, sekalipun mayitnya sudah dikuburkan. Bahkan ta’ziyah setelah mayit dikuburkan hukumnya lebih utama. Sebab, sebelumnya ia sibuk mengurus mayit. Dan orang yang tertimpa musibah merasa lebih kesepian dan sengsara karena betul-betul berpisah dengan si mayit stelah dikuburkan.

JANGKA WAKTU TA’ZIYAH

Ta’ziyah disyari’atkan dalam jangka waktu tiga hari setelah mayitnya dikebumikan. Jumlah tiga hari ini bukan pembatasan yang final, tetapi perkiraan saja (kurang lebihnya saja). Dan jumhur ulama menghukumi makruh, apabila ta’ziyah dilakukan lebih dari tiga hari . Ini berdasarkan sabda Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam.

لَا يَحِلُّ لِامْرَأَةٍ تُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ أَنْ تُحِدَّ عَلَى مَيِّتٍ فَوْقَ ثَلَاثِ أَيَّامٍ إِلَّا عَلَى زَوْجٍ فَإِنَّهَا تُحِدُّ عَلَيْهِ أَرْبَعَةَ أَشْهُرٍ وَعَشْرًا

Tidaklah dihalalkan bagi seorang wanita yang beriman kepada Allah dan hari Kiamat, untuk berkabung lebih dari tiga hari, terkecuali berkabung karena (ditinggal mati) suaminya, yaitu selama empat bulan sepuluh hari. [HR Bukhari, 2/78; Muslim, 4/202].

Alasan lainnya, setelah tiga hari, biasanya orang yang ditinggal mati, bisa kembali tenang. Maka, tidak perlu lagi untuk dibangkitkan kesedihannya dengan dilayat. Kendatipun begitu, jumhur ulama membuat pengecualian. Yaitu apabila orang yang hendak melayatnya, atau orang yang hendah dilayatnya (keluarga yang ditinggal mati) tidak ada dalam jangka waktu tiga hari tersebut.

Sebagian ulama mazhab Syafi’iyah dan Hanabilah membebaskannya begitu saja. Sampai kapan saja, tak ada pembatasan waktunya. Sebab, menurut mereka, tujuan dari ta’ziyah ini untuk mendo’akan, memotivasinya agar bersabar dan tidak melakukan ratapan, dan lain sebagainya. Tujuan ini tentu saja berlaku untuk jangka waktu yang lama.

Maka dari dua pendapat ini kita bisa sesuaikan bagaimana kondisi orang yg ditinggal mayit saja.

MENGULANG-ULANG TA’ZIYAH
Mengulang-ulang ta’ziyah, hukumnya dimakruhkan. Tidak boleh berta’ziyah di kuburan, apabila sebelumnya sudah melakukannya.
Hikmah sekaligus alasannya, karena tujuan dilakukannya ta’ziyah sudah dicapai pada ta’ziyah yang pertama kali, sehingga tidak perlu diulang lagi, supaya tidak membuat kesedihannya terus menghimpitnya.


Axvine
3 years ago

Assalamualaikum

Saya mau tanya, di daerah saya ada kebiasaan sebelum masuk rumah harus cuci kaki terlebih dahulu setelah pulang takziyah ataupun ziarah. Nah, itu ada hukumnya atau tidak dalam Islam?

Silakan login untuk menulis komentar.

ARTIKEL TERKAIT

Cara Evektif Menghadang Syiah
Cara Evektif Menghadang Syiah
Ustadz Abu Riyadl Nurcholis Majid - 5 years ago
Untukmu, Abi Tercinta
Untukmu, Abi Tercinta
Ustadz Abu Riyadl Nurcholis Majid Rahimahulloh - 7 years ago
Nama Kunyah (Julukan)
Nama Kunyah (Julukan)
Ustadz Abu Riyadl Nurcholis Majid - 5 years ago
Siapakah Yang Telah Meninggalkan Quran?
Siapakah Yang Telah Meninggalkan Quran?
Ustadz Abu Riyadl Nurcholis Majid - 4 years ago
Aku Sakit, Tapi Kamu Tidak Menjenguk-ku !
Aku Sakit, Tapi Kamu Tidak Menjenguk-ku !
Ustadz Abu Riyadl Nurcholis Majid - 4 years ago
Hitungan Hari: Kita Berjalan Menuju Ajal
Hitungan Hari: Kita Berjalan Menuju Ajal
Ustadz Abu Riyadl Nurcholis Majid - 5 years ago
Mengharapkan Ampunan tapi tanpa usaha, Apalah guna?
Mengharapkan Ampunan tapi tanpa usaha, Apalah guna?
Ustadz Abu Riyadl Nurcholis Majid - 6 years ago
Awas Bahaya Nifaq!
Awas Bahaya Nifaq!
Ustadz Abu Riyadl Nurcholis Majid Rahimahulloh - 7 years ago
7 Penyebab Doa Yang Tertolak
7 Penyebab Doa Yang Tertolak
Ustadz Abu Riyadl Nurcholis Majid - 5 years ago
Tiada Kematian Lagi
Tiada Kematian Lagi
Ustadz Abu Riyadl Nurcholis Majid Rahimahulloh - 6 years ago
© 2019 - Www.SalamDakwah.Com