SALWA RADIO - Menebar Salam, Menyebar Dakwah
Stay in touch with us:

Buah Pahit Kesombongan (Bagian Terakhir)

5 years ago

Buah Pahit Kesombongan (Bagian Terakhir)

BUAH PAHIT KESOMBONGAN 

[Bagian Ketiga (Terakhir)]

 

Pada dua tulisan sebelumnya telah diketengahkan beberapa kisah orang-orang yang sombong terhadap sunnah. Berikut beberapa kisah lainnya. Semoga menjadi pelajaran bagi kita semua.

 

(1). Rupa Berubah Keledai

 

Ibnu Hajar rahimahullah pernah menyampaikan cerita tentang sebagian penuntut ilmu, bahwasanya ada di antara mereka yang melakukan perjalanan ke Damaskus untuk menimba hadis dari seorang Syaikh tersohor yang ada di kota itu. Ia pun belajar dan membacakan beberapa hadis di hadapan Syaikh tersebut. Akan tetapi Syaikh itu selalu membatasi antara diri dengan murid-muridnya dengan sebuah tabir, sehingga mereka tidak dapat melihat wajahnya secara langsung.

 

Ketika seorang murid tersebut telah lama mengambil ilmu darinya dan ia mengetahui betapa antusias murid yang satu ini, akhirnya ia membuka tabir agar muridnya itu dapat melihat wajahnya. 

(Setelah dibuka) ternyata rupa Syaikhnya berwujud keledai.

 

Kemudian Syaikh tersebut berkata seraya menasihati: "Berhati-hatilah wahai muridku dari mendahului imam (dalam salat), karena aku pernah membaca sebuah hadis dan aku menganggap hal itu tidak mungkin terjadi. Lalu aku pun mendahului imam dan ternyata wajahku berubah seperti yang engkau lihat sekarang ini. 

[al-Qaul al-Mubin fi Akhta' al-Mushallin, Masyhur Hasan Alu Salman]

 

Hadis yang dimaksud berbunyi: 

 

أَمَا يَخْشَى الَّذِي يَرْفَعُ رَأْسَهُ قَبْلَ الإِمَامِ أَنْ يُحَوِّلَ اللَّهُ رَأْسَهُ رَأْسَ حِمَارٍ

 

“Tidakkah takut orang yang mengangkat kepalanya sebelum imam, Allah akan merubah kepalanya menjadi kepala keledai?! 

(HR. al-Bukhari dan Muslim)

 

Semoga Allah merahmati Syaikh dan mengampuni dosanya. Meskipun ia pernah meragukan sebuah hadis Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam, namun alhamdulillah ia bertaubat kepada Allah dan menasihati murid-muridnya agar tidak meragukan, melecehkan atau menentang sunnah yang datang dari beliau shallallahu 'alaihi wa sallam.

 

(2). Akibat Menyindir Rasulullah  

 

Kisah yang lain lagi diceritakan oleh Syaikh Ahmad Muhammad Syakir rahimahullah dalam kitabnya Kalimat al-Haq. Ia berkata: "Bahwasanya Raja Fuad (Mesir) akan melaksanakan shalat di masjid Abidin. Lalu diundanglah Syaikh Muhammad al-Mahdi, karena dia adalah seorang khatib yang pandai berbicara, dan raja Fuad senang menjadi makmum di belakangnya. Menteri Waqaf pun telah menunjuknya sebagai khatib di masjid itu. Peristiwa itu bertepatan dengan datangnya Toha Husain yang baru saja merampungkan pendidikan S3 jurusan Sastra di Perancis. Raja Fuad adalah orang yang memberikan bea siswa kepadanya dan mengirimnya untuk belajar di Prancis. 

 

Kemudian Muhammad al-Mahdi ingin menyanjung raja Fuad yang telah memuliakan seorang yang buta, yakni Toha Husain. Ia berkata:

 

مَا عَبَسَ وَ لاَ تَوَلَّى لَمَّا جَاءَهُ الأَعْمَى

 

Dia (raja Fuad) tidak bermuka masam dan tidak berpaling tatkala seorang buta datang kepadanya.

 

Dia berucap demikian dengan maksud untuk menyindir Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam, yang mana Allah 'azza wa jalla berfirman: 

عَبَسَ وَ تَوَلَّى أَنْ جَاءَهُ الأَعْمَى

 

“Dia (Muhammad) bermuka masam dan berpaling. Karena telah datang seorang buta kepadanya.” 

(QS. 'Abasa: 1-2)

 

Jika demikian, maka sikap Raja Fuad lebih utama dari pada sikap Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam di mata khatib yang telah menjual agamanya dengan harga murah dan segelintir logam dirham ini.

 

Pada waktu itu Syaikh Muhammad Syakir rahimahullah, ayah Syaikh Ahmad Syakir ada di sana, ia bekerja sebagai wakil di masjid al-Azhar. Ia bangkit dan berkata: "Wahai sekalian manusia, shalat kalian batal dan khatib kafir, maka itu ulangilah shalat kalian."

 

Hal itu mengakibatkan sedikit kegaduhan dan keributan. Namun Raja Fuad hanya diam saja. Setelah itu Syaikh Muhammad pergi ke istana Abidin dengan membawa fatwa untuk raja dan memerintahkannya untuk mengulangi shalat zuhur.

 

Namun Muhammad al-Mahdi adalah orang yang memiliki banyak pembela dan penasihat. Mereka menyuruhnya untuk melayangkan surat gugatan kepada hakim atas pencemaran nama baik yang dilakukan oleh Syaikh Muhammad Syakir. 

 

Sedangkan Syaikh Muhammad Syakir mengirim surat kepada para orientalis asing yang memiliki ilmu dan pengalaman atas kandungan makna ungkapan-ungkapan berbahasa Arab. Di dalam surat itu ia bertanya, apakah ucapan khatib -Muhammad al-Mahdi- ini mengandung sindiran terhadap Nabi mulia shallallahu 'alaihi wa sallam atau tidak? Sengaja beliau tidak pergi datang kepada ulama al-Azhar agar tidak dikatakan beliau mencari dukungan dari mereka (sebab beliau merupakan ulama al-Azhar). Tatkala diketahui bahwa kasus ini akan berbuntut fitnah dan khatib itu pasti kalah di pengadilan, maka para penasihat melarang Muhammad al-Mahdi untuk melanjutkan kasus itu ke pengadilan.

 

(Ketika bercerita kisah ini) Syaikh Muhammad Syakir bersumpah dengan nama Allah dan berkata: "Sungguh, aku melihat kejadian ini dengan kedua mataku, dan waktu telah lama berlalu dari orang ini (Muhammad al-Mahdi), yang mana dahulu ia termasuk khatib besar kota Mesir yang begitu masyhur, sampai-sampai raja Fuad semangat untuk shalat di belakangnya, sungguh aku telah melihatnya begitu hina, ia menjadi tukang bersih-bersih dan penitipan alas kaki di salah satu masjid. Aku sengaja bersembunyi darinya -karena dia mengenalku dan aku pun mengenalnya- agar dia tidak melihatku. Aku tidak merasa iba dengannya, sebab dia tidak layak mendapatkan rasa iba dariku."

 

Sungguh Allah telah menyegerakan baginya balasan buruk di dunia sebelum di akhirat. Kita berlindung kepada Allah dari dicampakkan oleh-Nya."

 

Bagian Indonesia

ICC DAMMAM KSA

 

______________________

Diposting oleh Ustadz Muhammad Sulhan, Lc, MHI -hafizhahullah- di Dammam,Saudi tgl 30 Shafar 1436 / 23 Des 2014


Silakan login untuk menulis komentar.

ARTIKEL TERKAIT

Kapan Seseorang Bisa Keluar Dari Manhaj Salaf?
Kapan Seseorang Bisa Keluar Dari Manhaj Salaf?
Ustadz Abdurrahman Thoyyib,Lc - 2 years ago
Bolehkah Membayar Zakat Untuk Palestina?
Bolehkah Membayar Zakat Untuk Palestina?
Redaksi SalamDakwah - 5 years ago
Hujan Yang Dirindukan
Hujan Yang Dirindukan
Ustadz Abu Ubaidah As-Sidawi - 3 months ago
Ajarkan Bahasa Arab Pada Anak
Ajarkan Bahasa Arab Pada Anak
Ustadz Abdullah Zein Lc MA - 4 years ago
Racun Takabbur (Sombong)
Racun Takabbur (Sombong)
Ustadz Nuruddin Abu Faynan. Lc - 3 years ago
Jarak Yang Tidak Boleh Kita Lalui Di Depan Orang Yang Sedang Shalat
Jarak Yang Tidak Boleh Kita Lalui Di Depan Orang Yang Sedang Shalat
Ustadz DR Musyaffa' Ad Dariny,MA - 3 years ago
© 2020 - Www.SalamDakwah.Com