SALWA RADIO - Menebar Salam, Menyebar Dakwah
Stay in touch with us:

(Cara) Meredam Marah

4 years ago

(Cara) Meredam Marah

Alhamdulillah, wassholatu wassalamu ala Rosulillah, wa ba'du;

 

Amarah dan kemurkaan merupakan celah kelemahan suatu jiwa, yang akan digunakan oleh setan untuk menguasai tubuh manusia, sehingga sekiranya kita mengetahui peredam dan penawar kemarahan merupakan sesuatu yang lazim, dan diantara cara untuk meredam amarah diantaranya sebagai berikut :

 

*1. Mengetahui keutamaan meredam amarah.

 

Sekiranya kita mengetahui keutamaan sesuatu maka niscaya akan mempermudah untuk mengapai nya.

Diriwayatkan dari Sahlin ibnu Mu'adz ibnu Anas dari ayahnya, bahwa Rosulillah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda, "Barang siapa yang mampu menahan amarahnya sedangkan dirinya mampu untuk melakukannya, niscaya Dia akan dipanggil Allah Ta'ala kelak hari kiamat di hadapan seluruh para makhluk untuk diberikan kesempatan untuk memilih bidadari yang ia kehendaki". (HR. Abu Dawud dan Tirmidzi)

 

Dari sahabat Abdullah bin Umar mengatakan, bahwa Rosulillah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda, "Tidaklah seorang hamba menahan sesuatu yang akan mendapatkan pahala besar disisi Allah Ta'ala dari menahan amarahnya karena semata mata mencari ridho Allah Ta'ala". (HR. Ibnu Majah)

 

*2. Menjauhi perkara yang dapat mendatangkan kemarahan dan berusaha untuk mencegahnya.

 

Diriwayatkan dari sahabat Abu Hurairah radhiyallahu anhu, ia berkata, suatu hari seseorang datang kepada Nabi Shallallahu alaihi wa sallam untuk meminta wasiat, maka Nabi Shallallahu alaihi wa sallam bersabda, "Janganlah kamu marah". Dan wasiat ini diulang berkali kali diucapkan Nabi Shallallahu alaihi wa sallam, "Janganlah kamu marah". (HR. Bukhary)

 

Imam Ibu Rojab rahimahullah berkata, "Wasiat Nabi Shallallahu alaihi wa sallam kepada orang tersebut memiliki dua makna:

 

Yang pertama, maknanya adalah perintah agar menjaga perilaku yang baik, seperti pemurah, dermawan, santun, menjaga rasa malu, rendah hati dan tawadhu' , menahan diri dari amarah, memaafkan kesalahan, bermuka ceria, dan semisalnya. ...dari akhlak dan perangai yang terpuji, sekiranya seseorang memiliki perangai tersebut dan menjadi kebiasaan rutin, niscaya dia akan dapat meredam amarah dan dampak negatif darinya.

 

Yang kedua, maknanya adalah tidak melakukan aktivitas yang timbul dari kemarahan, sehingga ia mengekang diri dan bermujahadah untuk meninggalkan kemarahan.

 

*3. Berlindung kepada Allah Ta'ala dari godaan setan yang terkutuk.

 

Sesungguhnya setan adalah sumber keburukan dan petaka, sehingga kita diperintahkan oleh Allah Ta'ala agar berlindung dari keburukannya. 

Allah Ta'ala berfirman, 

(Artinya) "Dan jika kamu ditimpa sesuatu godaan syaitan maka berlindunglah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui". (QS. Al-A'rof: 200)

 

Diriwayatkan dari sahabat Sulaiman ibnu Dhurod radhiyallahu anhu berkata, suatu hari ada dua orang saling mencaci maki dihadapan Rosulillah Shallallahu alaihi wa sallam yang keduanya merah kedua matanya dan tegang urat sarafnya, maka Nabi Shallallahu alaihi wa sallam bersabda, "Sesungguhnya aku mengetahui suatu kalimat sekiranya ia mengucapkan kalimat tersebut niscaya akan lenyap apa yang ada pada dirinya, yaitu kalimat " أعوذ بالله من الشيطان الرجيم ". (HR. Bukhary dan Muslim)

 

*4. Diam ketika marah dan menjaga lisan.

 

Diriwayatkan dari sahabat Abdullah bin Abbas radhiyallahu anhuma, ia berkata, bahwa Rosulillah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda, "Jika seandainya engkau marah, maka diamlah, jika seandainya engkau marah, maka diamlah, jika sekiranya engkau marah, maka diamlah". (HR. Ahmad dan Bukhary dalam adabul mufrod)

 

*5. Merubah posisi.

 

Diriwayatkan dari sahabat Abu Dzar radhiyallahu anhu berkata, bersabda Rosulillah Shallallahu alaihi wa sallam, "Jika sekiranya kalian marah dan dalam keadaan berdiri, maka hendaknya ia duduk, jika amarahnya belum hilang, maka hendaknya ia berbaring". (HR. Abu Dawud)

 

*6. Mengetahui akibat buruk dari dampak kemarahan.

 

Seseorang bisa jadi mendapatkan kerugian yang besar ketika ia tidak dapat meredam waktu amarahnya menghampirinya, betapa banyak terjadi perceraian antara pasangan suami istri akibat marah, seseorang terpisahkan antara orang tua dan anak, hilangnya hak-hak manusia. 

Maka barangsiapa yang mengetahui dampak negatif dan keburukan yang timbul dari kemarahan, niscaya ia akan berusaha untuk menahan angkara murkanya.

 

Rochmad Supriyadi 

 

____________________

Dipost oleh Ust Rochmad Supriyadi, Lc hafidzahullah tgl 12 Shafar 1436 / 5 Des 2014


Silakan login untuk menulis komentar.
© 2019 - Www.SalamDakwah.Com